NovelToon NovelToon
Jalan Pulang

Jalan Pulang

Status: tamat
Genre:Romantis / Supernatural / Spiritual / Kriminal / Tamat
Popularitas:210.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: azhar muhammad

Novel ini berkisah tentang pencarian seseorang dalam menemukan Tuhan-nya. Seorang tersebut adalah mantan seorang preman kawakan.
Namanya Hazri. Pemuda asal Jombang, Jawa Timur, itu merantau ke Jogja hanya untuk menuntut ilmu. Tapi, nasib membawanya menjadi ketua geng preman kelas atas ternama di Jogja, Kopen.
Kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Hazri membuatnya disegani. Sebagai ketua geng Hazri pun akrab dengan kehidupan super keras dan kejam.
Suatu ketika, ia terpaksa membunuh seorang anggota geng di Jepang. Hal itu membuatnya harus menjalani pelarian selama berbulan-bulan. Dan, selama perjalanan itulah, perjalanan Hazri dalam mencari Tuhan pun dimulai. Dari sekedar risih tidak sholat sedangkan yang lain sholat, Hazri pun mulai menjalankan ibadah wajib tersebut.
Lantas bagaimana kisah selanjutnya? Putus asakah Hazri dalam mencari Tuhan-nya? Bagaimana pula dengan nasib geng Kopen dan anak buahnya?
Simaklah perjalanan sang tokoh dan pergolakan psikologinya. Selamat membaca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon azhar muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. esekusi 1

Akhirnya sampai juga mereka ditempat yang dituju. Kawasan Tidar. Rumah berdinding bilik bambu di tengah kebun rambutan itu tampak sepi dan sunyi tapi nampak lampu menyala redup di dalamnya. Ada mobil Panther yang terpakir di bawah pohon rambutan, agak di belakang. Hazri pun parkir di sebelahnya. Udara dingin terasa menusuk tulang. Romi juga baru tahu kalau ada tempat dingin di Magelang yang umumnya dikenal berhawa panas. Mereka berdua turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tersebut.

Simon menyambut kedatangan mereka dibarengi kelima Baret dengan sikap hormat ala militernya. Di tengah ruangan tampak Day duduk di kursi kayu, kedua tangan dan kakinya terikat, matanya ditutup dengan kain,  sementara mulutnya dilakban. Hazri meraih kursi yang lain, menyeretnya ke dekat Day, lalu duduk berhadapan dengannya. Romi, Simon, dan para Baret beranjak ke pinggir memberi ruang kepada mereka berdua. Hazri menarik kain yang menutupi mata dan membuka lakban dari mulut Day.

“Mister Haraday Susoku, apa kabar?” sapa Hazri.

Day menggeleng-geleng kepalanya. “Bang Hazri, kita masih bisa bicarakan ini baik-baik...,” katanya.

“Apalagi yang mau Anda bicarakan?”

“Tenang dulu, Bang Hazri, tenang..., uangnya ada di saya...,” Day menggerak-gerakkan lagi kepalanya, mungkin agak pusing dia. “Boleh saya minta air minum?”

Hazri memandang Day sejenak, lalu melihat ke arah Simon. Dengan sigap Simon paham dan beranjak mengambil sebotol air mineral dari dalam dus mobil Panther yang tadi dinaikinya.

“Buka semua ikatannya,” Hazri menyuruh anak Baret yang ada di dekatnya untuk membuka semua ikatan yang ada di tubuh Day. Tanpa menunggu perintah dua kali ikatan itu telah terbuka.

“Terima kasih, terima kasih, Bang Hazri...,” kata Day sambil menerima sebotol air mineral yang diserahkan Simon. Dia meminumnya setengah, sisanya diguyurkan ke kepala dan wajah. “Terima kasih, Bang Hazri, terima kasih...,” katanya lagi.

Hazri memandang Day dingin namun tajam. “Apa yang mau Anda bicarakan kepada saya, Mister Day?” tanya Hazri kemudian, setelah melihat Day lebih tenang.

“Iya, iya..., semua uang itu ada di saya, cuma saya belum sempat memberikannya langsung ke Bang Hazri...,” kilah Day.

Hazri masih diam dingin tanpa ekspresi.

“Ada cek, saya bisa langsung tuliskan di situ...” kata Day lagi.

“Ada di tas saya itu...,” Day menunjuk tas kulit kecilnya yang selalu dia bawa kemana-mana. Tas itu sekarang tergeletak di sudut ruangan. Simon tadi sudah memeriksanya, memang ada buku cek di dalamnya dan kertas-kertas bertuliskan huruf Jepang. Juga ada pistol kecil jenis Baretta. Pistolnya sudah diamankan Simon, yang lainnya kembali dimasukkannya.

Day hendak berdiri, bermaksud mengambil tasnya. “Duduk!” bentak Hazri. Maka, Day pun kembali duduk tanpa berani melawan.

“Mister Susoku, kalau Anda sangka ini hanya soal uang, Anda telah salah besar. Saya sudah tidak menginginkan uang Anda lagi. Anda sudah berani mempermainkan saya dan Kopen. Satu anggota kami harus kehilangan nyawanya dan itu tidak bisa Anda bayar dengan semua uang yang Anda miliki. Bahkan tidak cukup jika harus diganti nyawa Anda berserta semua nyawa pengawal Anda.” jelas Hazri.

“Anda seorang Yakuza, bukan? Anda pasti tahu itu.” tambahnya.

“Tapi...bukan saya yang membunuh, Bang Hazri, Kapri pelakunya...saya tidak pernah menyuruh membunuh siapapun. Saya ini mau bertemu Bang Hazri, tapi memang belum sempat saja...”

“Sudahlah, Mister Susoku, tidak perlu repot-repot berdalih. Anda tahu nomor saya, tahu kos saya, bahkan tahu rekening saya. Apalagi yang mau Anda jadikan alasan?” Hazri mulai kesal. “Setahu saya Yakuza itu tegas. Tidak ada dalih-dalih macam ini.”

Hazri memajukan sedikit kursinya mendekati Day. “Sekarang, untuk membayar semuanya. Anda menginginkan mati dengan cara apa?”

Day kaget bukan main, dadanya berdegup kencang. Mendengar ucapan Hazri itu maka sudah jelas bagi Day bahwa dia tidak punya pilihan lain lagi. Mau bagaimana lagi? Menyesal juga dia percaya pada omongan Kapri yang berkata kalau Hazri bisa mereka atasi. ‘Bodohnya aku ini...,’ Day berkata dalam hati. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat, sekarang dia harus mengikuti semua kemauan Hazri.

“Baiklah, Bang Hazri, saya tidak punya pilihan lain. Kalau harus mati, saya akan memilih mati dengan bertarung langsung melawan Anda disini...,” kata Day mantap.

Hazri tersenyum kagum. ‘Inikah jiwa seorang anggota Yakuza?’ katanya dalam hati.

Berbeda dengan Romi yang langsung naik pitam setelah mendengar kata-kata Day. “Kurang ajar kau! Beraninya menantang ketuaku!” bentaknya. Sebuah pukulan dari gagang pistol Romi mendarat di wajah Day. Panglima Baret itu mencengkeram kerah baju Day dan menempelkan pistol tepat di kepalanya. Kelima anggota Baret tanpa diperintah pun ikut mengarahkan pistol mereka ke Day. Mereka tersinggung dengan ucapan Day barusan. Day hanya diam saja, darah mengalir dari sudut bibirnya yang sobek.

“Cukup, Panglima..., kembali ke tempatmu.” kata Hazri tenang.

Sambil mendengus Romi melepaskan cengkeramannya. Dia memandang tajam ke Day.

“Kembali, Panglima..., ini urusanku dengan Day!” perintah Hazri tegas.

Tidak ada yang berani membantah, Romi dan kelima anggota Baretnya itu kembali ke tempatnya semula. Rasa kesal masih sangat kentara di wajah mereka, terutama Romi. Simon tenang-tenang saja. Memang dia dikenal berpembawaan paling kalem diantara sejawatnya yang lain. Tapi, jangan salah, kejamnya bisa melebihi yang lain jika sudah beraksi.

Day memperbaiki posisi duduknya sambil meludahkan air liur yang bercampur dengan darah ke sampingnya.

“Baiklah, Mister Susoku jika itu pilihan Anda,” kata Hazri, “Kita akan bertarung adil di sini, sampai salah satu diantara kita mati. Kalau Anda yang mati maka itu sudah menjadi pilihan Anda, jika aku yang mati maka Anda boleh pergi dari sini tanpa halangan dari anak buahku. Bahkan bukan hanya mereka yang ada di sini, tapi anak buahku yang ada di tempat lain.”

Romi, Simon, dan kelima anggota Baret itu kaget mendengar pernyataan Hazri.

“Bang, baik kali Abang ini...,” protes Romi. Simon juga protes tapi dia tidak berkata apa-apa, wajahnya saja yang jelas mengisyaratkan itu.

“Aku sudah memutuskan, Panglima. Kamu dan semua yang ada disini pegang teguh kata-kataku tadi. Jelas?” kata Hazri berwibawa sambil menepuk pundak Romi.

Tidak ada lagi yang membantah. “Siap...,” hanya kata itu yang bisa mereka keluarkan.

Day meringis senang, merasa masih ada harapan hidup.

“Ambilkan pedang di bagasi mobilku,” Hazri menyuruh salah seorang Baret sambil menyerahkan kunci mobil. Dengan cekatan yang disuruh segera keluar, tidak lama kemudian dia kembali membawa dua bilah mandau.

Ringisan Day semakin melebar. Dia memang menguasai ilmu bela diri samurai Jepang. Walau senjata yang dibawa bukanlah samurai, tapi itu cukup lah. Yang penting pedang, panjang dan tajam.

Romi melirik Simon, kebetulan Simon juga sedang meliriknya. Saling pandang sebentar lalu keduanya mengangguk tanpa kelihatan. Ada kesepakatan gelap diantara mereka berdua ternyata. Kira-kira bunyinya seperti ini, kalau misalnya Bang Hazri kalah maka mereka tetap akan membunuh Day. Enak saja dia bebas melenggang santai setelah apa yang diperbuatnya...

1
Herybae Hery
tanks thoor
ryye🌾
klo nama knp typo mulu,thor..agak ngelag jdiny..selebih ny sih ok bgt jln crita ny🙏
ryye🌾
haii.othor .numpang baca di 2025..
Agus anas
cerita ini mirip novel Kun fa yakun, cuma beda nama pemeran
Fatur Rohman
berat... tp nambah ilmu
Arsi Oke
Luar biasa
Fatur Rohman
sambil baca cerita, belajar sosiologi... mantap
Fatur Rohman
vrije man artinya apa thor?
Abi Uung
lanjut !!! semakin menarik
Abi Uung
luar biasa ceritanya,lanjut bro
Abi Uung
lanjut,mantap ceritanya
Abi Uung
mantap
Abi Uung
bagus ceritanya
Samsul Rijal
Luar biasa
Ricky Fajar
klo boleh tau penuliS nya toriqoh apa ya
Indri
di tunggu thor kelanjutan nya
Bundanya Pandu Pharamadina
terkenang waktu itu
Bundanya Pandu Pharamadina
like
favorit
👍❤
Ridho Widodo
bagus tentang hidup ini
Ridho Widodo
authornya rumahnya di mana..bisa tidak jadi murid sy....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!