Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 30
Yuhuuuuuuu jempol di like lagi gaes,hayuk kita double up😄
"Mama don't touch my hair!"
Seorang anak kecil yang usianya belum genap tiga tahun ini, berteriak dan ia berlari menghindari wanita dewasa yang saat ini sedang mengejarnya, wanita dewasa yang terlihat semakin cantik ini memegang sisir di tangan kirinya dan memegang pita merah di tangan kanannya, mereka keluar dari kamar.
"Daddy ... help me."
Alice, merengek, ia sembunyi di balik kaki laki-laki dewasa yang dipanggilnya Daddy, yang saat itu berjalan kearahnya.
"Aku cuma mau memasangkan pita dirambutnya."
Sebelum laki-laki yang memakai stelan kantor warna biru ini bertanya tentang anaknya, Suci sudah lebih dulu menjawab, ia tahu dari ekspresi wajah Yogi yang terlihat heran, lalu Yogi menggendong Alice dan mendudukkannya di atas meja.
"Ada masalah apa lagi? Suara kalian selalu memenuhi rumah ini, apa lagi yang dilakukan Mamamu?" Yogi mendekatkan wajahnyaa dan saat itu Alice mencium pipinya dan mengejek Suci yang terlihat kesal.
"Daddy, lambut Aic sudah cantik, but Mama melusaknya," Alice melipat kedua tangannya, ia cemberut karena Suci sudah mengikat rambutnya yang sedikit keriting ini.
"Don't call me, Mama ok!"
Suci tidak terima, ia tetap memasangkan pita itu di rambut Alice, "you look prettier kesayangan," ucap Suci ia mencubit pipi Alice dengan gemas.
"Memang Alice cantik, tidak sepelti Mama," Ya Tuhan, mulut anak ini memang seperti wanita yang sudah melahirkan nya, kalau bicara suka kelepasan dan terlalu jujur.
"Aku sudah bilang, jangan panggil Mama, panggil aku Ibu, ok my princes," Suci masih tidak terima, ayolah dia hanya gadis kampung dan terdengar aneh jika anak kecil berambut pirang ini memanggilnya Mama.
Yogi hanya menggeleng kepala, sudah menjadi pemandangan biasa jika kedua wanita ini bertengkar masalah sepele ini, ia menarik kursi untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan istrinya, walaupun hanya sepotong roti dan susu tapi rasanya lezat karena dibuat dengan penuh cinta.
"Thank you, dear," ucap Yogi kepada istrinya yang saat itu sudah duduk di sampingnya, wanita ini mengulas senyum untuknya.
"Sudah jam berapa ini? Nanti kamu terlambat ke kantor!" Ibu Suci baru saja keluar dari dapur, ia memasukan bekal makanan ke dalam tas Alice cucunya, untuk dibawa ke sekolah anak usia dini, Alice lebih suka bermain di sana.
"Iya, Bu! Yogi berangkat dulu ya, Alice kamu mau ikut Daddy atau diantar Mamamu?" Tanya Yogi sembari memasukkan potongan roti terakhir ke dalam mulutnya.
"Sudah dibilang jangan panggil aku Mama," ujar Suci, ia menatap kesal kepada semua orang yang saat itu justru tersenyum.
"Memang kamu Mama Alice, kan?" Hani ikut bersuara, "Kita tidak tinggal di Indonesia, ini Kanada, akan terdengar aneh jika di Negara ini Alice memanggilmu Ibu, bunda atau---
Hani tidak dapat melanjutkan bicaranya, karena Suci memotong ucapannya.
"Bunda! Call me Bunda, ok sayang!" Suci masih bersikukuh, dan saat itu juga Yogi beranjak untuk pergi ke Kantor.
"Daddy sudah tidak punya waktu, untuk menjadi wasit diantara kalian. Jadi kamu diantar Mama ke sekolah! Ingat kamu gak boleh nakal!"
"Ok, Daddy." Alice mengangkat jempolnya, melihat itu Yogi gemas dan mencium pipi Alice, lalu ia pamit kepada semua orang dan pergi ke kantor.
"Bunda gak mau antar kamu ke sekolah!" Seru Suci.
"Glanma ... Mama jahat!" Alice berteriak dan memukul-mukul meja.
"Suci, jangan mulai lagi," jawa Ibu Suci ia mengelus punggung Alice untuk menenangkannya.
"Panggil Bunda, terus kita pergi sekolah!" Titah Suci, yang saat itu sudah berjalan keluar dari ruang makan dengan mencangklong tas Alice di pundaknya.
Alice tampak berpikir, "ok, Bunda!" Jawabnya, lalu ia berlari menyusul Suci.
Ibu Suci hanya menggelengkan kepala, karena kedua wanita itu lupa salim padanya.
🌸🌸🌸
Toronto nama kota terbesar di Kanada dan merupakan ibu kota provinsi Onterio. Kanada mengakui bahasa perancis dan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di negara itu. Jangan lupakan tentang fenomena alam yang akan menghiasi langit jika Aurora datang menyapa negara yang memiliki empat musim itu.
Negara ini sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun ini, hampir setiap tahun Anggun datang untuk mengunjunginya, dan itu juga semakin mengingatkannya kepada seorang laki-laki yang pernah singgah dihidupnya, sesekali ia ingin bertanya namun Suci takut itu akan membuka luka lama.
Sudah pertengahan bulan Maret, saat ini Kanada sudah memasuki musim semi, namun cuaca disekitar masih terasa cukup dingin, Suci keluar rumah dengan memakai sweater berwarna merah, ia siap menyapa bunga-bunga tulip yang sudah siap menampakkan kuncupnya dan mengiasi kota ini, ia berjalan menuntun Alice yang saat itu juga memakai sweater yang sama dengannya.
Rambutnya yang semakin panjang terus bergoyang mengikuti hentakan langkah kakinya.Sesekali mereka menyapa warga yang saat itu juga sedang melintasi jalan disekitar mereka.
"Ingat sayang, kamu jangan nakal, nanti Bunda jemput lagi, ok," ucap Suci saat sudah berada di depan sekolah, tempat ini lebih pantas disebut tempat bermain anak-anak.
"Don't worry mamppppp
Suci mendekap mulut Alice, sampai orang disekitar mereka menatap curiga.
"Don't worry she is my daughter," ucap Suci ia menyengir, para wanita sosialita disekitarnya merespon dengan senyuman.
"Sudah berapa kali Bunda bilang jangan panggil Mama, Bunda sayang ... Bunda!" Suci membulatkan matanya, namun Alice tidak takut sama-sekali, anak kecil ini membenarkan tas yang baru saja dipakaikan Suci.
"Telselah Bunda!" Ucapnya dengan putus aja, bisa panjang urusannya kalau mereka berdebat di sekolah, Alice mencium punggung tangan Suci dan ikut bergabung dengan anak-anak yang lain.
"Dada sayang!" Teriak Suci sembari melambaikan tangannya kepada Alice yang semakin menjauh.
******
"Suci, gimana persiapan pernikahan di gedung itu?" Tanya Hani.
"Sudah beres Mbak, bahkan untuk undanganya juga sudah rampung semua," jawab Suci sembari menatap layar komputernya.
"Ini pesta besar, yang Mbak tahu mereka juga mengundang tamu dari luar negri, salah satunya dari Indonesia," ucap Hani.
"Indonesia?"
Mendengar nama Indonesia membuat Suci rindu.
"Ya, Indonesia, is there something you miss there?" (Ada yang kamu rindukan disana?)
Suci berpikir sejenak, "Nothing!"Jawabnya singkat, sebelum ia benar-benar merindukan seseorang di sana.
*****
Fery baru saja keluar dari ruang meeting, dibelakangnya ada Yudi sekretarisnya.
"Pak Fery tunggu sebentar, jangan buru-buru jalannya, Pak!"
"Saya Bos, kenapa kamu yang ngatur saya?" Fery melirik Yudi yang sudah berjalan di sisinya.
"Pak, saya cuma mau mengingatkan tentang undangan itu, Pak. Menurut jadwal seharuanya hari ini kita berangkat ke Kanada untuk menghadiri pernikahan itu, pak!"
Fery tampak berpikir, ke luar negri, lalu bagai mana dengan anaknya Ferel? Tapi ia sudah berjanji untuk datang ke pernikahan rekan bisnisnya di Kanada.
"Baiklah, siapkan semua kebutuhan saya, kamu ikut saya ke Kanada."
✌✌✌✌😆😆😆
Alice anak siapa?✌
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah