Menampar si muka dua, menginjak si pria berengsek, cara belas dendam yang berbeda dengan biasanya. Mau liat bagimana sang ratu menyiksa pria berengsek dan si muka dua sampai ketakutan tapi tidak bisa kabur?
Namun kenapa kali ini, dia tidak bersembunyi atau menghindar? Kenapa dia malah terus mengikuti ku?
perhatian!!!
"Ratu" tanda kaya gini artinya itu percakapan bisa
'Ratu' tanda ini tanda nya si tokoh lagi berpikir dalam hati atau bicara di dalam hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelie Valaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 30
Keesokan paginya, ruang konferensi utama Grand Hyatt telah disulap menjadi panggung megah bernuansa perak dan hitam metalik, mencerminkan estetika futuristik dari proyek film 'The Iron Empress'. Ratusan jurnalis dari media cetak, televisi, hingga portal berita digital global telah memenuhi kursi media. Kilatan lampu blitz kamera saling bersahutan tanpa henti, menciptakan atmosfer yang riuh dan penuh antisipasi.
Di balik panggung, suasana jauh lebih tenang. Elva Kirana berdiri di depan cermin besar, menatap gaun custom-made berwarna abu-abu baja dengan aksen perak yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Luka di lengannya tersembunyi dengan estetis di balik desain lengan panjang gaun tersebut.
"Kau tampak luar biasa, Elva," suara Kenzie Pratama memecah keheningan. Pria itu berjalan mendekat, mengenakan setelan jas formal yang senada. Tatapannya kini sepenuhnya jernih, memancarkan ketulusan dan penyesalan mendalam yang belum sempat ia utarakan sepenuhnya sejak terbebas dari pengaruh Yuni.
Elva berbalik, tersenyum tipis. "Terima kasih, Kenzie. Aku masih merasa ini semua seperti mimpi. Kemarin aku adalah aktris yang terbuang, dan hari ini..."
"Hari ini kau mengambil kembali takhta yang seharusnya menjadi milikmu," potong sebuah suara yang penuh wibawa. Cassiopea—yang kini secara resmi dikenal dunia sebagai Vespera Vance—melangkah masuk ke ruangan. Di sampingnya, Kaeno sibuk mengetik sesuatu di gawai lipat terbarunya dengan ekspresi serius.
"Kak Cassi..." Elva hendak melangkah mendekat, namun Cassiopea mengangkat satu tangannya dengan halus.
"Di luar pintu ini, aku adalah Vespera Vance. Ingat itu, Elva," ucap Cassiopea dengan kedipan mata yang hangat namun tegas. Ia kemudian menoleh ke arah Kaeno. "Bagaimana situasi di luar?"
Kaeno menurunkan gawainya, senyum jenakanya muncul. "Semua berjalan sesuai rencana, Madam Vance. Berita tentang penangkapan Yuni di basement hotel atas kasus penggelapan dana dan sabotase telah meledak di media sosial sejak dua jam lalu. Netizen sedang mengalami syok massal. Saat ini, mereka semua menunggu konfirmasi resmi dan tentu saja, pengumuman pemeran utama film kita."
Namun, ekspresi Kaeno mendadak berubah sedikit tegang saat ia mencondongkan tubuhnya ke arah Cassiopea dan berbisik, "Ada satu hal lagi, Kak. Saat sistem Yuni terputus sepenuhnya semalam, perangkat pemantauku menangkap sebuah transmisi data terenkripsi pingback yang mengarah ke sebuah alamat IP terisolasi di Zurich, Swiss. Seseorang atau sesuatu yang menanam sistem itu di kepala Yuni... kini tahu bahwa sistem mereka telah dihancurkan oleh intervensi eksternal."
Cassiopea menyipitkan matanya. Kilat dingin yang familier kembali muncul di bola matanya. "Biarkan saja. Jika pencipta parasit itu ingin keluar dari bayang-bayang, aku akan dengan senang hati menyediakan kuburan baru untuk mereka. Tapi fokus kita hari ini adalah Elva."
Tepat pukul sepuluh pagi, pintu menuju panggung utama terbuka. Protokoler acara mempersilakan mereka untuk masuk.
Begitu Vespera Vance melangkah keluar, diikuti oleh Elva, Kenzie, dan jajaran eksekutif Aethelgard Pictures, gemuruh tepuk tangan dan jepretan kamera langsung memuncak. Di meja panel utama, puluhan mikrofon dari berbagai kantor berita internasional telah berjejer.
Cassiopea mengambil posisi di tengah, memancarkan aura absolut sebagai Produser Eksekutif tertinggi. Ia menarik mikrofon di hadapannya, dan seketika itu juga, seluruh ruangan menjadi senyap.
"Selamat pagi, rekan-rekan media," suara Vespera Vance bergema, jernih dan sarat akan otoritas. "Aethelgard Pictures masuk ke industri ini bukan untuk mengikuti arus, melainkan untuk mendikte kemana arus itu akan bergerak. Proyek 'The Iron Empress' bukan sekadar investasi dua triliun rupiah, melainkan sebuah pembuktian bahwa talenta sejati tidak bisa digantikan oleh manipulasi murah atau koneksi instan."
Vespera menjeda kalimatnya, melemparkan pandangan tajam yang menyapu seluruh ruangan sebelum beralih ke sampingnya.
"Oleh karena itu, dengan bangga saya umumkan bahwa peran utama Empress Xiulan dalam 'The Iron Empress' secara resmi jatuh kepada Elva Kirana."
Ruangan itu meledak dalam kehebohan. Para jurnalis langsung mengangkat tangan mereka, berebut untuk mengajukan pertanyaan. Seorang jurnalis senior dari media hiburan terbesar langsung berdiri setelah mendapat isyarat dari moderator.
"Madam Vance! Pengumuman ini sangat mengejutkan mengingat rumor negatif yang menimpa Elva Kirana belakangan ini. Ditambah lagi, pagi ini ada berita besar mengenai penangkapan Yuni, yang sebelumnya digadang-gadang akan menjadi pemeran utama film ini. Apakah ada keterkaitan antara jatuhnya Yuni dan naiknya Elva?"
Cassiopea menyunggingkan senyuman tipis yang penuh cemoohan tersembunyi. "Rumor hanyalah senjata bagi mereka yang tidak memiliki kompetensi. Pihak berwajib telah merilis bukti-bukti kejahatan finansial dan kriminal yang dilakukan oleh Nona Yuni. Di Aethelgard, kami tidak bekerja sama dengan kriminal. Mengenai Elva Kirana, rekam jejak aktingnya dan bakat alaminya yang murni adalah satu-satunya alasan dia berdiri di sini. Industri ini telah terlalu lama dikotori oleh kepalsuan, dan hari ini, kami melakukan pembersihan besar-besaran."
Elva menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan berbicara ke arah mikrofonnya sendiri dengan keyakinan yang telah lama hilang. "Saya menerima peran ini bukan untuk membuktikan apa pun kepada mereka yang membenci saya, tetapi untuk memberikan keadilan bagi seni peran itu sendiri. Terima kasih kepada Aethelgard Pictures atas kepercayaan ini."
Di sampingnya, Kenzie menatap Elva dengan tatapan penuh kekaguman. Di bawah kilatan lampu sorot, Elva tampak begitu bersinar—bukan karena sihir atau bantuan sistem seperti Yuni, melainkan karena jiwanya yang kuat dan bakatnya yang jujur. Kenzie berjanji dalam hati, ia akan menggunakan seluruh kekuatan Media Pratama untuk menjadi tameng tak terlihat bagi Elva, mendampingi langkah Cassiopea dalam membersihkan industri ini.
Konferensi pers itu menjadi titik balik sejarah industri hiburan domestik. Kehancuran Yuni dan Star Entertainment menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba bermain kotor.
Namun, jauh di belahan bumi lain, di dalam sebuah ruang bawah tanah yang dipenuhi layar monitor di kota Zurich, sebuah notifikasi merah berkedip di layar utama.
[Subjek Uji Coba #04: Yuni — Dinyatakan Gagal/Tereliminasi]
[Penyebab: Intervensi Anomali Gelombang Otak Alfa Mutlak]
[Perintah Baru: Lacak sumber anomali di Jakarta. Target utama: Vespera Vance.]
Badai pertama telah berlalu dengan kemenangan mutlak di tangan sang pemilik Vila Cassiopea, namun genderang perang yang sesungguhnya melawan dalang di balik sistem parasit itu baru saja ditabuh.