Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Bagus Alaric, kamu memang bisa diandalkan. Nakula, bantu cucu menantuku berdiri." perintah Jenderal tegas, ia memberikan instruksi tanpa memedulikan keberadaan Regantara.
Nakula melangkah maju dengan sopan, ia membungkuk sedikit di samping kursi Zara.
"Mari, Nyonya Muda. Saya bantu Anda berjalan ke area yang lebih nyaman."
Namun, sebelum Nakula sempat mengulurkan tangannya lebih dekat, pergerakan itu mendadak terhenti.
Regantara bergerak lebih dulu.
Tanpa membiarkan Nakula menyentuh istrinya, Regantara langsung merengkuh pinggang Zara dengan satu lengan dan menyusupkan lengan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu.
Dalam satu gerakan, pria itu mengangkat tubuh ramping Zara ke dalam gendongannya.
"Regantara!" tegur Jenderal dengan alis menukik tajam, ia terkejut sekaligus geram melihat kenekatan cucunya.
Zara yang terkejut refleks mencengkeram kemeja di dada Regantara, membelalakkan matanya saat pandangannya sejajar dengan rahang tegas pria itu.
"Regantara, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri!"
"Diam, Zara." desis Regantara.
Tangan kokohnya mencengkeram erat tubuh Zara, ia menolak melepaskannya.
Regantara menatap tajam ke arah Jenderal tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Terima kasih atas perhatian Kakek, tapi pemeriksaan istriku akan dilakukan di kamar utama kami. Dokter, ikut saya ke atas." ujar Regantara kaku, suaranya sedingin es.
Tanpa menunggu tanggapan lagi, Regantara berbalik dengan langkah lebar, membawa Zara naik menuju lantai atas.
Jenderal berdiri perlahan, ia menatap punggung cucunya yang makin menjauh.
Kemarahan di wajah tua itu perlahan memudar, berganti dengan helaan napas panjang dan gelengan kepala.
"Bocah keras kepala." gumam Jenderal pelan.
Ada kilatan tipis di matanya, meskipun Regantara bersikap dingin, pria muda itu sebenarnya sedang diliputi rasa panik dan takut kehilangan istrinya.
Di sudut ruang makan, Bibi Tara dan beberapa pelayan senior saling menyikut lengan, mereka juga saling melemparkan pandangan penuh arti.
"Lihat itu, kan! Sudah saya bilang apa, Seumur-umur saya kerja di mansion ini, mana pernah lihat Tuan Regantara se-posesif itu? Sampai Tuan Besar dan Pak Nakula saja ditebas begitu!" bisik Bibi Tara di balik telapak tangannya, matanya tak lepas dari tangga utama tempat di mana Regantara baru saja menghilang bersama Zara di gendongannya.
"Iya, Bi! Tuan itu kan dingin sekali, tapi lihat saat bawa Nyonya tadi... megangnya hati-hati banget, kayak takut Nyonya Muda pecah!"
"Namanya juga gengsi laki-laki, Tuan itu mukanya saja yang dingin kayak es batu, tapi kalau soal Nyonya, otaknya langsung korsleting. Berani-beraninya melangkahi Tuan Besar Jenderal!" sahut Bibi Tara sambil mengarahkan para pelayan lain untuk mulai merapikan piring-piring di meja makan sebelum kena tegur.
Sementara para pelayan kasak-kusuk, Jenderal melangkah mendekati sofa utama di ruang tengah, ia mendudukkan tubuhnya seraya menerima cangkir teh baru yang disajikan Nakula.
"Lihat cucu sialan itu, Nakula. Dia pikir dia bisa menyembunyikan rasa paniknya. Makin dia tutup-tutupi pakai muka bengisnya itu, makin kelihatan dia takut setengah mati kalau Zara berpaling." gumam Jenderal sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Tuan Regantara memang sangat mirip dengan Anda sewaktu muda, Tuan Besar. Sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah, terutama jika menyangkut keluarga dan pasangan." sahut Nakula jujur.
Jenderal tertawa keras.
"Tapi aku tidak bodoh sampai bikin istriku hampir pingsan karena stres! Biarkan saja... biar dia merasakan sendiri pusingnya mengejar wanita yang sudah terlanjur kapok dengan kelakuannya. Tingkahnya itu lebih mirip ayahnya."
.
Sementara itu, di dalam kamar utama, suasananya terasa jauh lebih tegang.
Regantara mendorong pintu kayu tebal dengan kakinya, lalu melangkah lebar mendekati tempat tidur miliknya karena ini kamarnya.
Dengan gerakan hati-hati, ia merebahkan tubuh Zara di atas kasur empuk.
Zara segera berusaha duduk dan menarik diri menjauh, namun Regantara menahan kedua kakinya, pria itu melepaskan sepatu yang dikenakan Zara.
"Jangan banyak bergerak." desis Regantara rendah.
Dokter pribadi keluarga Benedict bersama Alaric melangkah masuk ke dalam kamar, sambil membawa peralatan medis yang diperlukan.
"Tuan, mohon berikan ruang sebentar agar saya bisa memeriksa kondisi Nyonya." ujar dokter paruh baya itu dengan sopan.
Regantara berdiri di samping tempat tidur sambil menyilangkan tangannya di dada.
Matanya terkunci rapat pada wajah Zara yang masih tampak agak pucat, ia menolak meninggalkan ruangan satu inci pun.
Dokter keluarga melangkah mendekat dengan sangat berhati-hati.
Pria paruh baya itu mengeluarkan stetoskop serta termometer, lalu mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Zara yang terbaring kaku di atas ranjang.
"Tekanan darah Nyonya sedikit rendah, dan suhu tubuhnya agak hangat." ujar dokter itu pelan setelah menyelesaikan pemeriksaan singkatnya.
Ia menoleh ragu ke arah Regantara yang berdiri bagai patung di samping ranjang.
"Ini reaksi yang cukup umum akibat stres berlebih, dipadu dengan kram perut akibat siklus menstruasi hari pertama. Nyonya butuh istirahat total, kompres hangat, dan asupan nutrisi yang cukup."
Dokter itu kemudian meresepkan beberapa vitamin serta pereda nyeri yang aman untuk lambung, lalu menyerahkannya pada Alaric.
"Obat pereda nyerinya sudah saya siapkan. Tolong dipastikan Nyonya meminumnya setelah makan."
"Baik, Dokter. Terima kasih." sahut Alaric sopan, lalu memberi isyarat agar sang dokter mengikutinya keluar ruangan untuk memberikan privasi pada pasangan suami istri itu.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Regantara melangkah mendekat.
Pria itu mendudukkan tubuhnya di tepi kasur, tepat di samping Zara yang tengah memalingkan wajahnya menatap jendela besar.
Regantara mengulurkan tangannya, berniat menyentuh dahi Zara untuk memastikan suhu tubuhnya sendiri.
Namun, sebelum jemarinya sempat mendarat, Zara bergerak tipis memiringkan kepalanya, ia menolak secara halus sentuhan pria itu.
Gerakan kecil itu membuat tangan Regantara membeku di udara.
Selama beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka selain hembusan napas yang tertahan.
"Zara, lihat aku." panggil Regantara.
Zara tak berpaling sedikitpun, Regantara mengusap wajahnya kasar.
Tangannya bergerak ke rambut Zara dan menariknya hingga membuat Zara terpaksa mendongak.
Cengkeraman kuat pada rambutnya itu menimbulkan rasa sakit yang menusuk di kulit kepala Zara.
"Kubilang lihat aku!"
Zara mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat melihat emosi.
"Lihat aku Zara!" geram Regantara. "Jangan berani-beraninya berpaling dariku, ingat posisimu." Regantara melepaskan Zara dengan sekali hentakan.
Hentakan kasar itu membuat kepala Zara terlempar sedikit ke belakang sebelum akhirnya pria itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar.
Brak!
Zara memejamkan mata erat-erat, menahan denyutan nyeri di kulit kepalanya serta rasa kram di perut bagian bawah yang makin menyiksa.
Ia menghela napas panjang, lalu merapikan helai rambutnya yang berantakan dengan jemari yang sedikit gemetar.
Di luar kamar, Regantara berjalan cepat menyusuri lorong dengan napas memburu.
Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh.
Alaric yang sedang berdiri di dekat tangga bersama baki berisi obat dan segelas air hangat seketika menghentikan langkahnya saat melihat sang Tuan keluar dengan wajah gelap.
"Tuan—"
"Tinggalkan obat itu di meja." potong Regantara.
Tanpa menunggu balasan dari Alaric, Regantara melangkah menuju ruang baca pribadinya, mencari tempat untuk melampiaskan rasa frustrasi di dadanya yang kian tak terkendali.
Sementara itu, dari arah ruang tengah di lantai bawah, Jenderal yang sedang duduk santai mendengar dentuman pintu kamar yang begitu keras.
Pria tua itu melirik ke atas tangga, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan arti pada Nakula.
"Lihat, bocah itu makin kehilangan akal sehatnya." gumam Jenderal pelan sambil menyesap tehnya.