Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Nama Sari membuat Baskara terdiam lama.
Mereka berkumpul di ruang kecil kantor Raka setelah rapat. Hanya Alya, Raka, Dinda, Rafi, dan Baskara. Untuk pertama kalinya, Baskara tidak duduk di kursi kepala. Ia berdiri dekat jendela, seolah tidak tahu tempatnya sendiri.
"Papa kenal Sari?" tanya Alya.
Baskara mengangguk lambat. "Dulu ada perawat bernama Sari di rumah sakit tempat Nadira melahirkan. Setelah Nadira meninggal, dia menghilang. Aku tidak tahu dia bekerja di rumah Santoso."
"Tidak tahu, atau tidak ingin tahu?"
Baskara menerima pukulan itu tanpa membalas.
Raka membuka laptop. "Kalau dia bekerja di rumah Santoso, kita tidak bisa masuk begitu saja."
"Kita bisa," kata Dinda.
Semua menoleh.
Dinda tampak ragu, tetapi tetap bicara. "Bu Santoso masih menganggapku lebih mudah diajak bicara daripada Kak Alya. Sebelum semua kacau, dia sering mengundangku ke acara keluarga. Kalau aku bilang ingin meminta maaf atau menjelaskan sikap Kak Alya, mungkin dia mau menemuiku."
Baskara langsung menolak. "Tidak. Kamu tidak akan masuk ke rumah mereka."
Dinda menatap ayah tirinya. "Selama ini Papa membiarkan Kak Alya hampir dijodohkan dengan Kevin. Sekarang Papa melarang aku masuk untuk mencari kebenaran?"
Baskara seperti tertampar.
Dinda melanjutkan, "Aku memang bukan anak kandung Papa. Tapi aku tinggal di rumah ini belasan tahun. Kalau selama ini aku ikut menikmati kebohongan, setidaknya kali ini biarkan aku membantu membongkarnya."
Alya memperhatikan Dinda.
Ada banyak hal yang belum bisa dimaafkan. Tetapi gadis itu sedang mencoba berjalan ke sisi yang benar, meski kakinya gemetar.
"Kamu tidak masuk sendiri," kata Alya.
Dinda menoleh. "Kakak mau ikut?"
"Kalau aku ikut, mereka tidak akan membuka pintu."
Rafi berkata, "Aku bisa masuk sebagai sopir."
"Terlalu mencolok," kata Alya. "Mereka sudah tahu wajahmu."
Raka berpikir cepat. "Kita butuh orang yang bisa masuk tanpa dianggap ancaman."
Alya menatap Dinda. "Kamu punya staf pribadi?"
"Ada sopir. Tapi dia orang Mama."
"Jangan pakai."
Rafi mengirim pesan. "Aku punya orang perempuan. Bisa menyamar sebagai asisten Dinda."
Dinda tampak gugup. "Apa yang harus kulakukan?"
"Bicara dengan Bu Santoso. Buat dia merasa kamu masih bisa dipakai. Sementara itu, asistenmu mencari Sari."
Baskara memejamkan mata. "Ini berbahaya."
Alya menatapnya. "Semua yang Papa biarkan dulu juga berbahaya."
Tidak ada yang membantah.
Rencana dijalankan sore itu.
Dinda menelepon Bu Santoso dengan suara rapuh yang tidak sepenuhnya akting. Ia meminta bertemu, mengatakan ingin menjelaskan bahwa ia tidak setuju dengan sikap Alya. Bu Santoso yang sedang kehilangan banyak pegangan langsung menerima. Mungkin ia melihat Dinda sebagai celah untuk memecah rumah Wiratama.
Dinda berangkat bersama seorang perempuan bernama Nira, orang Rafi yang menyamar sebagai asisten sementara. Alya, Raka, dan Rafi menunggu di mobil lain dua blok dari rumah Santoso. Baskara tidak ikut; ia diminta tetap di kantor mengendalikan audit agar Santoso tidak curiga.
Rumah Santoso lebih mirip kedutaan kecil daripada rumah keluarga. Pagar tinggi, kamera di setiap sudut, satpam berseragam. Mobil Dinda masuk setelah diperiksa.
Alya memantau lewat alat kecil di tas Dinda.
Suara Bu Santoso terdengar dingin. "Dinda, Tante selalu menganggap kamu anak baik. Sayang sekali keluargamu sekarang kacau karena gadis itu."
Dinda menjawab pelan, "Aku juga tidak tahu harus bagaimana, Tante. Kak Alya sulit diajak bicara."
"Dia merasa kuat karena punya saham dan Raka membelanya. Tapi orang seperti itu biasanya jatuh karena terlalu percaya diri."
Alya mendengar tanpa ekspresi.
Raka yang duduk di sampingnya tampak ingin meremas sesuatu.
Dinda berkata, "Tante, aku takut hubungan keluarga kita benar-benar putus."
"Itu tergantung ayahmu. Dan tergantung apakah Alya bisa dikendalikan."
Sementara Dinda menahan Bu Santoso, Nira bergerak. Dari alat kedua, terdengar suara langkah dan pintu dibuka. Ia berhasil masuk area belakang dengan alasan mengambil obat Dinda yang tertinggal di mobil.
Rafi berbisik, "Nira menuju dapur."
Di rumah besar seperti itu, staf lama biasanya berada di area servis.
Beberapa menit kemudian, suara Nira terdengar sangat pelan. "Target terlihat. Perempuan enam puluhan. Dipanggil Bu Sari."
Alya menahan napas.
Nira mendekat dengan pura-pura tersesat. "Maaf, Bu, toilet staf di mana?"
Suara perempuan tua menjawab, "Kamu staf baru?"
"Asisten Non Dinda."
Hening sesaat.
Sari berkata, "Jangan lama-lama di belakang. Rumah ini tidak suka orang asing."
Nira tertawa kecil. "Iya, Bu. Saya cuma gugup. Ini pertama kali ikut Non Dinda."
Langkah menjauh. Lalu suara pintu kecil.
Rafi berkata, "Nira menempelkan pelacak di troli obat."
Alya mengangguk.
Mereka belum bisa menarik Sari keluar. Terlalu berisiko. Tetapi pelacak akan menunjukkan rutinitasnya.
Tiba-tiba, suara Bu Santoso naik.
"Kamu merekam?"
Jantung Raka hampir berhenti.
Dinda tersentak. "Apa?"
"Tasmu. Buka."
Bu Santoso lebih tajam dari yang mereka kira.
Dinda diam.
Rafi sudah membuka pintu mobil. "Aku masuk."
Alya menahannya. "Tunggu."
Di alat, terdengar suara tas dibuka. Beberapa benda dikeluarkan. Bedak. Tisu. Ponsel. Dompet.
Alat perekam ada di lapisan dalam, tetapi jika Bu Santoso memeriksa lebih jauh, selesai.
Dinda tiba-tiba menangis.
"Tante, aku cuma ingin tahu apakah keluarga Santoso benar-benar membenciku juga."
Bu Santoso berhenti.
Dinda melanjutkan, suaranya pecah. "Semua orang sekarang melihatku seperti pengkhianat. Mama hilang. Papa marah. Kak Alya tidak percaya padaku. Kalau Tante juga menganggapku musuh, aku benar-benar tidak punya siapa-siapa."
Keheningan panjang.
Bu Santoso menghela napas. "Anak bodoh. Kamu seharusnya tetap di sisi yang benar sejak awal."
"Sisi yang benar itu siapa, Tante?"
"Sisi yang bisa melindungimu."
Dinda berbisik, "Tante bisa?"
Bu Santoso tidak menjawab langsung. Namun suara tas ditutup terdengar.
Bahaya lewat.
Raka menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. "Dinda..."
Alya menatap layar monitor kecil. Gadis itu lebih berani daripada yang ia kira.
Pertemuan berakhir dua puluh menit kemudian. Dinda keluar dengan wajah sembap tetapi selamat. Nira juga keluar dari pintu samping dan masuk mobil berbeda.
Begitu Dinda masuk mobil, tangannya gemetar hebat.
"Aku hampir mati ketakutan," katanya.
Alya menyerahkan air mineral. "Tapi kamu tidak mundur."
Dinda menatapnya. "Itu pujian?"
"Ya."
Dinda menerima botol, lalu menangis diam-diam.
Malam itu, pelacak di troli obat bergerak dari rumah utama Santoso ke bangunan paviliun belakang. Rafi mengirim drone kecil untuk memantau dari jauh. Di layar terlihat Sari masuk ke paviliun itu bersama seorang pria tua berkursi roda.
Wajah pria itu tidak terlihat jelas.
Namun ketika kamera menangkap profil sampingnya, Alya langsung mengenali dari foto lama.
Fajar Santoso.
Ia tidak hanya bersembunyi di balik keluarga Santoso.
Ia tinggal di dalam rumah mereka.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔