Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rival Yang Menjadi Teman
Rival Yang Menjadi Teman
Ze Kai dan Gao Feng melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Abadi dengan menunggang Elang Raja yang gagah perkasa. Perjalanan udara yang cepat membuat mereka bisa menempuh jarak jauh dalam waktu singkat, meskipun terkadang mereka harus turun untuk mencari makanan atau tempat penginapan yang aman di malam hari.
Di salah satu kota kecil yang mereka singgahi untuk beristirahat, mereka mendengar bahwa banyak kultivator dari berbagai klan dan akademi sedang berkumpul untuk mencari Bunga Langit Emas. Kabar tentang khasiatnya yang luar biasa telah menyebar ke seluruh wilayah, menarik minat banyak orang yang ingin meningkatkan kultivasinya dengan cepat.
"Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang," ujar guru Gao saat mereka sedang makan di kedai kecil di pinggir jalan. "Banyak orang yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Bunga Langit Emas, termasuk membunuh siapapun yang dianggap sebagai saingan."
Ze Kai mengangguk perlahan, mata tetap mengamati sekitarnya dengan cermat.
"Aku mengerti, Guru. Aku akan tetap waspada dan tidak akan menunjukkan kekuatan yang sebenarnya kecuali jika benar-benar diperlukan."
Setelah menyelesaikan makan dan mempersiapkan segala keperluan, mereka kembali naik ke punggung Elang Raja dan melanjutkan perjalanan. Ketika mereka memasuki wilayah pegunungan yang lebih tinggi, udara mulai menjadi lebih sejuk dan tipis. Dari ketinggian, mereka bisa melihat jalur yang sulit untuk ditempuh jika berjalan kaki. Jurang yang dalam, tebing yang curam, dan hutan yang lebat yang penuh dengan makhluk spiritual liar.
-
-
-
Pada hari ketiga setelah meninggalkan kota kecil itu, mereka melihat sosok lain yang terbang dengan cepat di kejauhan. Seorang wanita muda yang menunggang seekor kuda berkaki empat dengan sayap besar seperti burung. Kuda itu memiliki bulu berwarna putih keperakan dan bisa terbang dengan kecepatan yang hampir setara dengan Elang Raja.
"Sepertinya dia juga sedang menuju ke arah yang sama," ucap guru Gao dengan suara rendah. "Hati-hati, Ze Kai."
Sebelum mereka bisa melakukan apa-apa, wanita muda itu dengan cepat mendekat dan menghalangi jalan mereka di udara. Dia mengenakan baju panjang berwarna biru muda yang mengalir seperti air, dengan bagian wajahnya ditutupi oleh kain sutra yang hanya membuka bagian mata saja. Mata yang indah dan juga tajam
"Aku dengar ada orang lain yang ingin mengambil Bunga Langit Emas," ujarnya dengan suara yang jelas dan sedikit dingin. "Jika kau berani bersaing denganku, kau harus membuktikan bahwa kau layak untuk mendapatkannya!"
Tanpa berlama-lama, dia mengeluarkan energi air yang kuat dari kedua tangannya, membentuk beberapa pisau es yang tajam yang melesat ke arah Ze Kai dengan kecepatan tinggi. Ze Kai dan guru Gao yang masih duduk di atas punggung Elang Raja segera menghindar. Elang Raja pun bergerak cepat membawa mereka ke daratan, meski terus di ikuti wanita tadi dengan kuda putihnya.
Dari belakang, Ze Kai terus di serang. Begitu mendarat di tanah, dengan cepat dan ia mengeluarkan energi tanah untuk membuat perisai batu yang kokoh, menghalangi serangan tersebut.
"Kau tak akan bisa lari dari ku!" teriak wanita itu.
Ze Kai mengeluarkan energi air sendiri untuk membentuk semburan air yang kuat yang menghalangi serangan berikutnya. Kedua kultivator muda itu mulai saling menyerang dengan cepat, energi air dan tanah saling bertabrakan di udara dengan percikan yang menyilaukan.
"BERHENTI!" suara guru Gao terdengar dengan nyaring dan jelas, mengeluarkan aura energi api yang membuat udara menjadi lebih hangat dan membuat kedua belah pihak terpaksa berhenti. "Tidak ada gunanya kita saling menyerang seperti ini! Kita semua memiliki tujuan yang sama. Namun jika kita terus bertarung satu sama lain, kita hanya akan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengambil keuntungan darinya!"
Wanita muda itu terdiam sejenak, kemudian dengan enggan mengendurkan posisi serangannya. Dia melihat Ze Kai dengan mata yang masih penuh waspada. Kemudian melihat guru Gao dengan rasa hormat yang jelas terlihat dari cara dia menatapnya.
"Aku tidak perlu teman atau sekutu," ujarnya dengan suara yang masih dingin. "Aku bisa sendiri mencapai tujuan ku. Aku tidak akan berbagi dengan siapapun hasil yang aku dapatkan!"
Tanpa menunggu jawaban, dia memberikan sinyal kepada kuda terbangnya untuk melesat lebih dulu ke depan dengan kecepatan maksimal, lalu menghilang dari pandangan mereka di antara awan yang tebal.
"Biarkan saja dia, Ze Kai," ujar guru Gao dengan lembut melihat ekspresi Ze Kai yang sedikit kecewa. "Setiap orang memiliki alasan sendiri mengapa mereka ingin mendapatkan Bunga Langit Emas. Kita hanya perlu fokus pada tujuan kita sendiri dan tetap berhati-hati."
-
-
-
Beberapa jam kemudian, ketika mereka sedang melintas di atas sebuah lembah yang penuh dengan batu besar dan celah dalam, mereka mendengar suara ledakan yang keras. Dengan cepat mereka mencari sumber suara tersebut dan menemukan wanita muda tadi sedang berperang melawan tiga kultivator berpakaian hitam dengan lambang naga hitam di dada mereka.
Wanita itu sudah terluka parah di lengan dan punggungnya, darah mengalir dari luka-lukanya dan membuatnya kesulitan untuk mengendalikan energi udara yang ia gunakan. Kuda terbangnya terluka dan terbaring lemah di tanah, sementara para kultivator itu menyerangnya dengan kejam tanpa ampun.
"Wanita tadi, dia terluka!" ucap Ze Kai.
"Kita harus membantunya." ujar guru Gao. "Siapapun dia, dia tidak pantas dianiaya seperti itu. Bersiaplah, Ze Kai!"
Ze Kai mengangguk. Mereka turun dengan cepat ke lokasi pertempuran. Guru Gao dengan cepat mengeluarkan energi api yang membara, membuat salah satu kultivator terpental mundur dengan tubuh yang terbakar sedikit. Sementara itu, Ze Kai menggunakan energi tanah untuk membuat tembok batu yang menghalangi serangan yang akan menghantam wanita muda itu.
"Siapa kalian ikut campur?! Kami tidak akan membiarkan kalian hidup!" teriak pemimpin kelompok kultivator itu dengan suara kasar.
Wanita muda itu melihat Ze Kai dan guru Gao dengan mata yang penuh rasa terima kasih, namun juga sedikit malu karena harus dibantu oleh orang yang baru saja menjadi saingannya.
Ze Kai dengan cepat, mengeluarkan energi air untuk membuat semburan air yang kuat yang menghalangi serangan dari satu kultivator. "Fokus lah pada penyembuhan luka mu. Aku dan Guru ku akan menghadapi mereka!"
Dengan kekuatan mereka bertiga, pertempuran yang awalnya seolah tidak mungkin untuk dimenangkan mulai berbalik arah. Guru Gao dengan mudah mengalahkan dua kultivator dengan jurus Elemen Api yang kuat, sementara Ze Kai menggunakan kombinasi Elemen Tanah dan Air untuk menghadapi pemimpin kelompok itu. Wanita muda itu, setelah sedikit bisa mengendalikan rasa sakitnya, bergabung kembali dalam pertempuran dengan menggunakan jurus Elemen Udara yang kuat yang membuat salah satu kultivator terpental jauh ke dalam jurang.
"Aku akan membunuh kalian semua!" teriak pemimpin kelompok itu dengan marah, mengumpulkan seluruh energinya untuk menyerang dengan kekuatan maksimal. Namun sebelum dia bisa melakukan apa-apa, wanita muda itu dengan cepat muncul di belakangnya dan memberikan pukulan tepat di titik vital di punggungnya, sebelum akhirnya mengakhiri nyawa sang pemimpin dengan serangan energi udara yang mematikan.
Setelah semua musuh telah dikalahkan, wanita muda itu hampir pingsan karena kehilangan darah yang banyak. Ze Kai dengan cepat mendekat dan mulai mengobati luka-lukanya dengan kemampuan pengobatannya. Dia menggunakan energi air untuk membersihkan luka-luka yang dalam, kemudian menggunakan energi tanah dan tanaman untuk membantu penyembuhan dengan cepat.
"Terima kasih..." bisik wanita itu dengan suara lembut ketika rasa sakitnya mulai berkurang. "Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak datang untuk membantuku."
Ze Kai tersenyum lembut.
"Sama-sama. Seperti yang dikatakan Guru, tidak ada gunanya kita saling menyerang ketika ada musuh yang lebih kuat yang harus kita hadapi bersama."
Setelah beberapa saat, wanita muda itu merasa cukup kuat untuk bisa duduk tegak. Dia perlahan melepas kain yang menutupi wajahnya, memperlihatkan wajah cantik dengan bibir yang sedikit memar dan dahi yang masih berkeringat.
"Nama aku adalah Yun Xi dari Klan Air Biru," ujarnya dengan suara yang sudah lebih lembut. "Aku mencari Bunga Langit Emas untuk menyembuhkan ibuku yang sakit parah. Dia adalah satu-satunya keluarga yang kubawa dan aku tidak bisa kehilangannya."
Ze Kai dan guru Gao saling melihat, merasa prihatin mendengar cerita sang wanita muda.
"Kita memiliki alasan sendiri mengapa kita perlu mendapatkan Bunga Langit Emas," ujar guru Gao. "Namun itu tidak berarti kita harus saling menyakiti satu sama lain."
Sejak saat itu, suasana antara mereka mulai berubah. Meskipun masih sedikit kaku dan canggung di awal, mereka mulai mau saling berbicara saat melanjutkan perjalanan bersama-sama. Yun Xi mengakui bahwa dia memang terlalu sombong dan percaya diri sebelumnya, sedangkan Ze Kai juga mengaku bahwa dia harus lebih terbuka terhadap orang lain.
"Aku tidak berpikir bahwa aku akan bisa berteman dengan sainganku," ujar Yun Xi dengan sedikit tersenyum ketika mereka sedang istirahat di sebuah gua yang aman di malam hari.
Ze Kai juga tersenyum kembali.
"Kita tidak perlu menjadi saingan jika kita bisa saling membantu. Siapa tahu, mungkin kita semua bisa mendapatkan bagian dari Bunga Langit Emas jika memang itu adalah takdir kita."
Dengan hati yang semakin terbuka dan rasa saling percaya yang mulai tumbuh, ketiganya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Abadi. Mereka tidak lagi saling bermusuhan. Namun sebagai sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama dan siap saling membantu dalam menghadapi bahaya yang akan datang.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
btw, jadi pengin bunga langit, biar bisa konsentrasi penuh