NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Mengecek CCTV

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Erika masih duduk di atas kursi dengan kedua tangan terikat. Wajahnya terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan. Namun yang paling terlihat adalah tatapan kesal dan marah yang tidak bisa disembunyikan.

Sejak dibawa ke tempat itu, Erika tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Rencana yang disusunnya selama ini telah gagal. Aurel selamat. Arvano tetap berada di sisi Aurel. Dan kini semua kebohongannya mulai terbongkar satu per satu.

Di luar ruangan, Alga, Devon, dan Fero berjaga sambil berbicara pelan. Mereka sesekali melihat ke arah pintu, menunggu sesuatu dan menunggu orang yang akan mengakhiri semua kekacauan ini.

Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah kosong. Lampu mobil menyinari halaman yang dipenuhi rumput liar.

Alga berdiri. "Mereka datang."

Beberapa menit kemudian, mobil polisi memasuki halaman. Beberapa petugas turun. Salah satu petugas menghampiri Alga. "Di mana tersangkanya?"

Alga menunjuk ke dalam rumah. "Masih diikat di dalam."

Petugas mengangguk, lalu masuk bersama rekannya. Ketika melihat Erika, mereka langsung memperkenalkan diri dan menjelaskan proses penangkapan.

Erika tidak melawan, hanya tersenyum tipis. Senyum yang membuat suasana terasa tidak nyaman. Saat dibawa keluar rumah kosong, Erika sempat menoleh ke arah Alga. "Kalian pikir semuanya sudah selesai?"

Tidak ada yang menjawab.

Polisi langsung membawanya masuk ke mobil.

Pintu ditutup dan kendaraan itu perlahan meninggalkan lokasi. Sejak penculikan Aurel terjadi, Alga menghela napas lega. "Setidaknya satu masalah selesai."

Namun Devon menggeleng. "Belum."

"Apa maksudmu?" Ucap Alga.

Devon menatap ke arah jalan yang mulai gelap. "Masalah sebenarnya mungkin baru dimulai."

Sementara itu, di rumah keluarga Argas. Indah duduk di ruang tamu. Di sampingnya ada Feni yang baru selesai membereskan dapur. Sedangkan Satrio berdiri di dekat pintu utama. Mereka menunggu seseorang, yaitu menunggu Bagaskara pulang.

Sejak sore tadi, tidak ada yang benar-benar tenang. Meskipun Erika sudah diketahui sebagai dalang penculikan, semua orang masih memikirkan keadaan Aurel, terutama Indah.

Indah berkali-kali melihat jam dinding, sesekali menghela napas dan beberapa kali mencoba menghubungi Arvano untuk menanyakan kondisi Aurel, hingga akhirnya suara mobil terdengar dari luar. "Itu Pak Bagaskara." Ucap Satrio.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Bagaskara masuk. Wajahnya terlihat lelah, namun ekspresinya jauh lebih berat dibanding biasanya.

"Pak." Sapa Feni.

Bagaskara hanya mengangguk.

Indah langsung berdiri. "Bagaimana?"

Bagaskara melepaskan jasnya perlahan. "Erika sudah dilaporkan ke polisi."

Indah menghela napas lega. "Syukurlah."

"Biar hukum yang mengurus sisanya." Bagaskara berkata datar.

Namun Indah merasa ada sesuatu yang berbeda. Suaminya terlihat tidak fokus. Seolah ada hal lain yang sedang dipikirkannya. "Kamu baik-baik saja?"

tanya Indah.

Bagaskara terdiam beberapa detik. "Lelah." Jawaban singkat itu membuat Indah tidak bertanya lebih jauh.

Bagaskara kemudian berjalan menuju tangga. "Aku mau ke kamar."

Setelah itu ia meninggalkan ruang tamu. Sementara Indah hanya menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di lantai atas.

Di dalam kamar, Bagaskara menutup pintu perlahan. Suara pendingin ruangan yang terdengar pelan. Meletakkan jasnya di kursi, setelah itu duduk di tepi tempat tidur.

Perkataan Erika kembali muncul di kepalanya. "Mereka sudah berpacaran." Ucapan Erika terus terngiang. Berulang kali, seperti kaset yang diputar tanpa henti. Bagaskara menggeleng.

Arvano adalah anaknya, Bagaskara mengenal Arvano sejak kecil. Anaknya selalu fokus pada pekerjaan. Jarang dekat dengan perempuan, bahkan hubungan dengan Erika saja tidak pernah benar-benar berjalan. Lalu bagaimana mungkin, dengan Aurel? Dengan seorang pembantu yang baru beberapa bulan bekerja di rumah mereka?

Namun semakin Bagaskara mencoba menolak kemungkinan itu, semakin banyak kejadian yang teringat. Dari tatapan Arvano, perhatian Arvano, kepanikan Arvano saat Aurel diculik, keputusan menginap di rumah sakit dan cara Arvano membela Aurel. Semuanya mulai terasa aneh.

Bagaskara mulai merasa takut, takut kalau Erika ternyata mengatakan yang sebenarnya. Bagaskara berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.

Di sana terdapat monitor yang terhubung dengan sistem CCTV rumah. Awalnya Bagaskara ragu, amun akhirnya menyalakan monitor tersebut.

Layar menyala. Menampilkan rekaman dari berbagai sudut rumah. Bagaskara mulai memeriksa satu per satu. Hari demi hari. Minggu demi minggu.

Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Namun kemudian, Bagaskara melihat sesuatu. Yaitu sesuatu yang membuat wajahnya perlahan berubah.

Dari rekaman saat Arvano menyelamatkan Aurel yang hampir jatuh dari gudang, rekaman saat Arvano mengobati luka Aurel di dapur, rekaman saat mereka duduk bersama di taman pada malam hari dan rekaman saat Arvano memperhatikan Aurel ketika gadis itu sedang bekerja.

Dan yang paling membuat Bagaskara membeku, rekaman ketika Arvano diam-diam mengusap kepala Aurel saat tidak ada orang lain. Monitor memantulkan wajah Bagaskara yang kini terlihat kaget, kemudian perlahan berubah marah. "Sial..." gumamnya Bagaskara dengan pelan.

Erika ternyata tidak berbohong dan fakta itu membuat dadanya terasa sesak. Putra satu-satunya. Jatuh cinta pada pembantu rumah tangga mereka.

Sementara itu, di rumah sakit. Suasana jauh lebih tenang. Aurel sudah terlihat jauh lebih sehat. Warna wajahnya mulai kembali normal. Ia bahkan sudah bisa duduk sambil mengobrol dengan Arvano.

Saat itulah dokter masuk ke kamar. Membawa hasil pemeriksaan terbaru. "Selamat malam."

Aurel tersenyum. "Malam, Dok."

Dokter memeriksa beberapa data, lalu mengangguk puas. "Kondisi Anda sudah jauh lebih baik."

Arvano langsung memperhatikan. "Jadi?"

Dokter tersenyum. "Besok sebenarnya sudah boleh pulang."

Mata Aurel langsung berbinar. "Benarkah?"

"Iya." Kata Dokter.

Arvano yang mendengar itu juga merasa lega.

Sejak kejadian penculikan, Arvano tidak pernah benar-benar tenang. Kini mendengar Aurel boleh pulang membuat beban di hatinya sedikit berkurang.

Namun dokter menambahkan. "Kalau mau malam ini juga bisa, tapi saya lebih menyarankan besok pagi."

Arvano langsung menjawab. "Besok pagi saja."

Dokter mengangguk. "Itu pilihan yang bagus."

Setelah dokter keluar, suasana kamar menjadi lebih hangat.

Aurel tersenyum. "Akhirnya."

Arvano ikut tersenyum tipis. "Iya. Besok pulang."

Namun keduanya tidak tahu, bahwa di rumah saat itu, seseorang baru saja menemukan rahasia terbesar mereka.

Malam semakin larut. Aurel akhirnya tertidur lebih awal. Arvano masih duduk di samping ranjang. Menatap wajah gadis yang dicintainya.

Sementara di rumah keluarga Argas, Bagaskara masih duduk di depan monitor CCTV. Tatapannya dingin dan rahangnya mengeras.

Di layar monitor masih terlihat rekaman Arvano dan Aurel yang sedang duduk berdua di taman. Bukti yang tidak bisa dibantah dan bukti yang membuat semua kecurigaannya menjadi kenyataan.

Bagaskara mematikan monitornya. Ruangan langsung gelap, namun pikirannya justru semakin kacau. Apa yang harus Bagaskara lakukan? Melarang hubungan itu? Membiarkannya?

Atau menunggu Arvano mengaku sendiri?

Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Arvano.

"Pa, dokter bilang Aurel boleh pulang besok pagi."

Bagaskara membaca pesan itu lama, lalu perlahan menaruh ponselnya di meja. Tatapannya mengarah ke jendela.

Pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Bagaskara tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada anaknya sendiri.

Karena besok, saat Arvano pulang membawa Aurel kembali ke rumah. Rahasia yang selama ini mereka sembunyikan mungkin akan mulai terbongkar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!