NovelToon NovelToon
Dua Sisi Sangkar Emas

Dua Sisi Sangkar Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.

Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Rasa bersalah yang teramat besar dan berakar dari masa lalu, itulah motor penggerak di balik semua kemurahan hati Aldrian selama lima tahun ini.

Setiap lembar uang di dalam amplop merah itu, setiap botol alkohol mahal di kursi belakang, bahkan sertifikat rumah mewah yang sekarang ditempati orang tuanya, tak lain adalah uang tebusan. Aldrian sedang membeli ketenangan jiwanya sendiri. Dia memperlakukan keluarga Kyna layaknya raja demi membungkam suara hatinya yang terus membisikkan betapa berdosanya dia atas hancurnya masa depan Kyna sebagai penari.

Mobil akhirnya berhenti di pekarangan rumah berlantai dua tersebut. Belum sempat Aldrian mematikan mesin, pintu utama rumah sudah terbuka lebar.

"Oh, menantuku yang luar biasa! Akhirnya kamu datang!" Seruan melengking dari Ratna, ibu Kyna, langsung memecah keheningan. Wanita paruh baya itu berlari kecil mendekati pintu kemudi, wajahnya berbinar-binar penuh sanjungan, sama sekali mengabaikan Kyna yang turun dari pintu sebelah dengan gerakan lambat karena kakinya yang kaku.

Aldrian turun dari mobil, langsung memasang topengnya yang paling sempurna—ramah, sopan, dan berwibawa. "Selamat ulang tahun, Ayah," ucap Aldrian saat melihat Hendra, ayah Kyna, yang sudah menunggu di ambang pintu dengan senyum lebar.

"Aduh, Aldrian, kamu repot-repot sekali membawa banyak barang," ujar Hendra sambil melirik puas ke arah kantong-kantong belanjaan bermerek dan amplop merah tebal yang disodorkan Aldrian. "Ayo masuk, ayo hangat di dalam."

Kyna berjalan di paling belakang, langkah kakinya yang pincang terasa semakin berat setiap kali memasuki rumah ini. Baginya, rumah ini tidak lebih dari sebuah pasar taruhan, tempat di mana dia telah ditumbalkan oleh orang tua kandungnya sendiri demi kenyamanan hidup mereka.

Di ruang tamu, suasana tampak begitu meriah. Sani, adik laki-laki Kyna yang perusahaannya dimodali oleh Aldrian, langsung menyapa kakak iparnya dengan pelukan akrab.

"Kak Aldrian, untung kamu datang tepat waktu! Aku baru saja mau mendiskusikan proyek perluasan gudang baruku. Investor kemarin agak ragu, tapi kalau Kak Aldrian bersedia menjadi penjamin atas nama Wibowo Group, mereka pasti langsung tanda tangan!" Sani berujar dengan nada menuntut yang dibalut sanjungan, tanpa malu sedikit pun.

Kyna yang baru saja duduk di sofa tunggal merasakan dadanya berdenyut perih. Dia menatap adiknya, lalu beralih menatap ibunya yang sedang sibuk menuangkan teh premium untuk Aldrian.

"Sani, perusahaan yang diberikan Aldrian padamu baru berjalan dua tahun dan belum stabil. Kenapa kamu sudah mau mengambil risiko memperluas gudang?" Kyna akhirnya membuka suara, mencoba menahan ambisi buta adiknya yang selalu memanfaatkan suaminya.

Namun, bukannya didengar, ucapan Kyna justru memancing tatapan sinis dari ibunya.

"Kyna, kamu ini tahu apa soal bisnis? Kamu itu tugasnya cuma duduk manis di rumah, melayani Aldrian dengan baik, dan cepat-cepat memberikan kami cucu!" semprot Ratna dengan nada meremehkan. "Adikmu ini sedang berusaha maju. Lagipula, bagi Aldrian, uang jaminan begitu kan cuma remah-remah. Kenapa kamu yang pelit?"

Kyna mengepalkan tangannya di balik luaran bajunya. Dia melirik Aldrian, berharap pria itu akan menolak atau setidaknya menunjukkan batasan. Namun, Aldrian justru menyesap tehnya dengan tenang, lalu tersenyum tipis ke arah Sani. "Nanti kita lihat proposalnya setelah makan siang, San. Kalau prospeknya bagus, kakak akan bantu."

"Wah, mantap! Memang Kak Aldrian kakak ipar terbaik di dunia!" seru Sani kegirangan.

Melihat interaksi itu, rasa mual yang luar biasa kembali menyerang perut Kyna. Sandiwara ini begitu rapi. Aldrian menikmati perannya sebagai penyelamat, sementara keluarganya menikmati peran sebagai benalu yang makmur. Tidak ada satu pun dari orang-orang di ruangan ini yang peduli pada fakta bahwa 29 hari lagi, ikatan di antara mereka semua akan terputus total.

Saat makan siang berlangsung, Hendra yang sudah sedikit mabuk akibat alkohol bermerek bawaan Aldrian mulai mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Hari ini aku sangat bahagia! Menantuku sukses, anak lakiku punya perusahaan. Semua berkat kebaikan keluarga Wibowo," cetus Hendra dengan wajah memerah. Dia lalu menatap Kyna dengan pandangan menilai yang dingin. "Kyna, kamu harus tahu diri. Suamimu sudah memberikan segalanya untuk keluarga kita. Jangan pernah buat masalah atau bertingkah aneh di luar, mengerti? Jaga nama baik Aldrian."

Kyna meletakkan sumpitnya perlahan ke atas mangkuk. Suara dentingan kecil itu entah mengapa membuat suasana meja makan mendadak hening.

"Aku tidak pernah membuat masalah, Ayah," jawab Kyna, suaranya terdengar sangat tenang, namun ada nada dingin yang belum pernah didengar oleh orang tuanya selama lima tahun ini. "Dan kurasa, setelah bulan ini, kalian tidak perlu lagi meminta apa pun dari Aldrian."

Ratna dan Hendra seketika menghentikan kunyahan mereka, sementara Aldrian langsung menoleh dengan tatapan tajam dan memperingatkan. Sebelum ibunya sempat mengamuk menuntut penjelasan atas kalimat Kyna, ponsel Aldrian yang diletakkan di atas meja tiba-tiba berdering nyaring. Layar ponsel menampilkan nama "Anara", dan sebuah pesan darurat pop-up muncul di atasnya, terbaca jelas oleh semua orang di meja makan: "Aldri, tolong aku... Ibu melihat mutasi rekening lima tahun lalu. Dia tahu uang kompensasi kecelakaan Kyna dipakai untuk membiayai kuliahku di luar negeri. Sekarang polisi mendatangi rumahku!"

1
falea sezi
sejauh ini. muter doank ini novel🤣 pret rugi baca nya gue😒
falea sezi
jahat bgt si bangsat😒
falea sezi
bukannya Julian kok jd andrian
Emi Sudiarni
bgusvsib ceritanya. tpi bingung bacanya kerna bolak balik dsk beraturan
Emi Sudiarni
sdih bngat ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!