Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Pembelaan Rendra
Langkah Danara terdengar cepat menuruni anak tangga. Wajahnya masih dipenuhi emosi yang berusaha ia tahan sejak tadi.
Awalnya, ia naik ke lantai dua untuk menemui Moana, menidurkannya sambil mendongeng. Namun, saat melewati kamar Razna, ternyata Moana berada di sana. Sebuah kejutan yang justru membuat hatinya terasa sakit. Moana memanggil Razna dengan sebutan "Ibu."
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan ada seseorang yang bisa merebut perhatian Rendra secepat itu.
"Kalau wanita itu lebih cantik, lebih mapan dari aku, aku bisa maklum. Tapi ini?" Danara menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Masa aku harus bersaing dengan pengasuh? Jangan mentang-mentang dia jadi ibu susu Finza, dia merasa punya tempat di rumah ini?" bibir Danara terangkat sinis, "Tetap saja aku yang lebih pantas jadi nyonya rumah ini,"
Dia menghentikan langkah di ruang tengah, menatap kosong lampu gantung yang memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Anehnya, rumah sebesar ini justru terasa sesak baginya.
Bayangan Moana yang memeluk Razna terus berputar di kepalanya. Panggilan "Ibu" pun terngiang di telinganya. Itu seharusnya menjadi miliknya.
Selama ini Danara yakin semuanya akan mudah. Dia percaya Rendra lambat laun akan melupakan mendiang istrinya dan menerima dia sepenuhnya. Lagi pula, ia sudah berusaha selalu berada di dekat lelaki itu. Namun sekarang, kehadiran Razna justru menghancurkan semuanya.
Wanita sederhana itu tidak pernah berdandan mencolok. Pakaiannya pun biasa saja bahkan cenderung sederhana. Tapi entah kenapa, Rendra terlihat lebih nyaman ketika Razna berada di dekat anak-anaknya.
"Tidak," lirihnya sambil mengepalkan tangannya.
"Aku tidak boleh kalah sama wanita seperti dia," lanjutnya penuh emosi.
"Siapa yang kalah?"
Suara berat itu membuat Danara menoleh dengan cepat. Wajah Danara seketika pucat, tidak menyangka Rendra sudah berada di belakangnya.
Rendra berdiri di dekat tangga dengan tatapan datar. Lelaki itu masih mengenakan kemeja navy yang lengan bajunya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya tetap tajam.
Danara secepatnya mengatur ekspresi.
"Kakak ngagetin aja," ujarnya gugup sambil tersenyum tipis.
"Aku dari tadi ada di sini."
Rendra melangkah mendekat secara perlahan, "Dan aku mendengar semua ucapan mu barusan."
Danara terhenyak, Wajahnya memerah karena gugup sekaligus kesal karena Rendra mendengar semuanya.
"Setelah kejadian kemarin, kamu masih berani menginjakkan kaki di rumah ini? Dasar tidak tahu malu," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kakak ngomong apa sih? Beneran aku engga ngerti," Danara langsung membela diri, "Aku tinggal di sini buat bantu jagain keponakanku. Karena aku tahu sejak kak Sherin meninggal, Moana tidak ada yang jaga,"
"Tidak perlu." Nada suara Rendra tegas. "Aku tidak pernah memintamu tinggal di rumah ini,"
Rendra menatap Danara lurus tanpa berkedip. Dia menatap datar adik iparnya itu.
"Ingat, Danara. Statusmu di rumah ini hanya sebatas adik ipar. Tidak lebih dari itu."
Kalimat itu membuat dada Danara terasa nyeri. Ternyata selama ini, Rendra hanya menganggapnya sebagai adik iparnya saja.
"Jadi sia-sia dong, pengorbananku selama ini," gumamnya dalam hati.
"Apalagi setelah kejadian yang menimpa Finza," lanjut Rendra dingin, " Aku semakin yakin keberadaanmu di rumah ini hanya membawa masalah buat keluarga kecilku."
"Kok kakak bisa ngomong gitu?" Suara Danara mulai meninggi. "Penemuan payet itu hanya kebetulan saja. Aku bukan pelakunya,"
"Ini bukan soal kebetulan," Rendra menyela cepat , " Dan kamu tidak bisa terus - terusan mengelak,"
"Kak, kenapa sih kakak tidak pernah mau percaya sama aku?"
Rendra tersenyum hambar, menatap tajam adik iparnya yang selalu mengelak setelah diketahui perbuatannya melalui CCTV.
"Karena kamu sudah terlalu sering menyakiti hati orang lain. Termasuk menyakiti keponakanmu sendiri."
Danara membeku. Kalimat itu membuatnya mati kutu.
"Kak..."
"Sudahlah. Lebih baik kamu diam!" tunjuk Rendra tepat di depan mukanya.
Rendra mengusap wajahnya dengan kasar, seolah lelah menghadapi masalah yang menimpa keluarga kecilnya.
"Aku tidak mau debat lagi. Sekarang siapkan barang-barangmu. Aku akan antar kamu pulang ke rumah Mama," ujar Rendra tegas.
Kaki Danara mundur selangkah mendengar ucapan Rendra yang mengusirnya secara terang-terangan.
"Aku tidak mau."
"Harus mau,"
"Tidak!" Danara menggeleng cepat.
Danara menolak pergi dari rumah Rendra. Dia berpikir, kalau pergi, sama saja dia menyerah dan kalah dari wanita itu.
"Aku tidak akan pergi dari rumah ini,"
Rendra menatapnya tajam selama beberapa detik. Rahangnya mengeras sementara kepalanya mengangguk pelan seolah membenarkan sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri. Akhirnya dia berbicara lebih dingin dari sebelumnya.
"Baik. Kalau kamu tidak mau pergi secara baik-baik dari rumah ini, aku sendiri yang akan meminta Mama untuk datang menjemputmu."
Danara mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras.
"Karena mulai hari ini, aku tidak butuh bantuan apapun dari kamu. Paham!" lanjut Rendra tegas, nada bicaranya masih tetap dingin.
Suasana rumah itu mendadak hening. Hanya suara jam dinding yang berdetak memecah kesunyian.
Danara menahan napas. Dadanya naik turun menahan emosi yang membuncah. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu, memenuhi hatinya dengan kebencian terhadap wanita yang dianggap telah menghancurkan semua rencananya. Selama ini, Rendra belum pernah berbicara setegas itu padanya.
Baru saja Danara hendak membalas ucapan lelaki itu, dia melihat Razna menuruni anak tangga sambil menggendong Finza yang merengek pelan. Seketika tatapan Danara berubah menjadi dingin. Matanya tertuju pada wanita itu dengan tatapan dingin, seolah seluruh kemarahannya kini tertuju kepada Razna.
Razna mengusap lembut tubuh kecil Finza. Perlahan bayi itu terdiam. Langkahnya terhenti saat melihat ketegangan di bawah.
"Maaf...Finza bangun sambil menangis, jadi saya gendong dulu," ucap Razna pelan.
Langkahnya sempat terhenti. Niat untuk pergi ke dapur diurungkannya saat menyadari suasana rumah yang terasa begitu tegang. Sambil menimang Finza secara perlahan agar kembali lebih tenang, Razna berdiri canggung di dekat tangga.
Namun, Danara justru menatapnya dengan sorot mata yang tajam penuh dengan permusuhan.
"Tidak usah pura-pura polos di depanku," ujarnya sengit.
Razna terlihat bingung, "Apa maksud Nona?"
"Kamu senang, kan?" Danara melangkah mendekat dengan tatapan dingin.
"Sedikit demi sedikit, kamu berhasil membuat semua orang di rumah ini percaya sama kamu."
"Danara!" bentak Rendra dengan sorot mata yang tajam.
"Tapi ini kenyataannya!" balas Danara dengan emosi yang membuncah. "Keponakanku jadi lebih dekat sama dia dari pada dengan tantenya sendiri. Kakak juga terus menerus membelanya!"
Razna langsung menunduk, "Maaf saya tidak pernah punya niatan seperti itu, Nona,"
"Cukup!" suara Rendra kembali terdengar tegas. "Jangan pernah libatkan Razna dalam masalah ini. Kamu harusnya intropeksi diri atas kesalahan yang pernah kamu lakukan terhadap Finza!"
"Terus aja dibela," sindirnya sambil tertawa pahit. "Sekarang semua orang lebih percaya sama wanita itu dibanding aku,"
Rendra menarik napas panjang, berusaha menahan kesabaran yang mulai terkikis habis.
"Kamu tahu kenapa banyak orang yang percaya padanya?"
Danara terdiam.
"Karena Razna tulus dan tidak pernah melukai hati orang lain, paham!"
Jleb!
Kalian udah menukar hidup orang dan memalsukan kematian... dan bisa jadi ank Rendra masih hidup🤔
hukuman seumur hidup bt kalian
akan lebih lama km mendekam di penjara.. Mila n denara😒
pertanyaan nya bner kah yg di kubur itu anak Sherin atau anknya ditukar LG🤔
rasain tuhh mila n denara akibat dr perbuatan muu
Semangat terus💪💪💪💪