Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.
Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.
Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.
Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Hari telah berganti, sinar matahari mulai menyeruak masuk kedalam ruangan tempat Arini di rawat. Perlahan namun pasti Arini membuka matanya, mencari kesadarannya ia melihat ke sekeliling. Di lihatnya Bayu masih terlelap dalam tidurnya. Dokter memberitahu jika Arini hari ini sudah boleh kembali. Mungkin sore nanti dia sudah di izinkan meninggalkan rumah sakit.
Arini bangkit untuk buang air kecil, ia sengaja tak membangunkan Bayu. Ia terlalu tak enak hati jika terus merepotkan nya. Lagi pula ia merasa sudah lebih fit hari ini. Sakit kepalanya sudah tak datang lagi sejak kemarin.
"Kenapa kau tak membangunkan ku?"
"Nggak papa lo mas, Arini udah sehat kok."
"Iya rin aku tau, aku hanya khawatir saja."
"Mas sudah siang, apa kau tak akan berangkat kerja lagi?" tanya Arini.
"Aku akan bekerja jika kau sudah pulang dari rumah sakit."
"Hmmm mas, ada yang ingin aku bicarakan."
"Katakanlah rin."
"Tapi janji ya nggak akan marah."
"Memangnya ada apa?"
"Janji dulu mas."
"Iya iya janji."
"Aku ingin melakukan pemeriksaan itu."
"Tentang Chika lagi?"
"Mas aku hanya kasian."
Bayu diam, ia terlihat sedikit kesal pada Arini dengan keras kepalanya. Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa, apalagi jika mengekang kemauannya. Dia belum punya ikatan apapun dengan Arini.
"Terserah kau saja, toh hanya baru pemeriksaan."
Tentu saja Arini menyambut baik sikap Bayu yang melunak itu. Dia dengan riang menuju laboratorium untuk mengecek apakah dia bisa memberikan salah satu ginjalnya untuk Chika.
...
Dengan cemas Arini menunggu hasil pemeriksaannya. Bayu dengan setia mendampingi Arini saat ini. Walau dia sedikit tak setuju tapi dia masih tetap sabar bersama Arini.
"Gimana Sus hasilnya?" bukan Arini yang bertanya, tapi Bayu.
Radit yang ikut menemani juga sedikit penasaran dengan hasilnya.
"Maaf Bu Arini tidak bisa menjadi calon pendonor."
Bayu tersenyum senang mendengar itu, sementara Radit tentu saja sedikit kecewa. Dia seolah frustasi dengan keadaan. Bagaimanapun dia harus cepat mendapatkan pendonor untuk putrinya. Chika tak bisa bertahan untuk waktu yang lama.
"Maaf mas." Arini menyesal tak bisa membantu Radit menyelamatkan Chika.
"Nggak apa dek, terimakasih sudah peduli pada Chika. Lebih baik sekarang kau perhatikan saja kondisimu itu."
Arini hanya mengangguk setuju, dengan di papah oleh Bayu. Dia kembali ke kamarnya.
...
Arini tampak murung setelah kembali dari pemeriksaannya. Makannya tak habis dan senyumnya seolah sirna. Arini sangat mengkhawatirkan kondisi Chika saat ini.
"Rin aku pergi dulu ya sebentar." ucap Bayu.
"Mau kemana mas?"
"Ada urusan sebentar, nanti kembali lagi kok."
"Oh iya udah mas. Hati-hati."
Baru saja Bayu pergi tiba-tiba Rena datang menjenguk.
"Hai Rin gimana kondisimu sekarang, maaf baru bisa menjenguk."
"Baik mbak, nanti sore juga Arini sudah boleh pulang."
"Syukurlah, kau harus lebih menjaga kesehatanmu. Kasian yang khawatir banget sama kamu."
"Hehe iya nih mbak."
"Sepertinya Mas Bayu ada perasaan deh sama kamu."
"Hust mbak, jangan ngarang deh. Ibaratnya kan aku ini pegawainya. Masa bos suka sama pegawai rendahan sih."
"Duh kamu ini ya rin, masih terlalu polos."
"Emm, gimana dengan Chika mbak?"
"Kami sudah pasrah rin, mencari pendonor tak semudah yang kita bayangkan."
"Semoga masih ada orang baik ya mbak."
"Amiin, makasih ya sudah peduli pada Chika."
"Chika anak yang pintar mbak, siapa juga yang nggak akan jatuh cinta dengan gadis kecil itu."
"Kau ini ya memang benar-benar mirip mbak Zahra."
"Mbak Zahra pasti cantik ya mbak, bahkan Mas Radit dan Mas Bayu sangat mencintainya."
"Jadi kau tau tentang itu?"
"Tentu saja, aku mendengar saat mereka berselisih paham."
"Cinta segitiga mereka memang rumit, namun pada akhirnya Mas Radit yang memenangkan kisah percintaan mereka."
"Hemmm.."
"Kalau kau pilih siapa rin?"
"Pilih siapa?" Arini tak mengerti.
"Iya, pilih Mas Radit apa Mas Bayu?"
"Haha apaan sih mbak."
Perbincangan Rena dan Arini membuat waktu terasa cepat berputar. Bayu telah kembali dan Rena segera pamit setelahnya. Sepertinya Rena sedikit canggung berada di antara mereka berdua.
"Mas bawa apa itu?"
"Ini? cokelat. Kau mau?" Bayu memberikan coklat pada Arini.
"Mau lah mas. Siapa yang akan menolak cokelat."
Bayu mengusap kepala Arini dengan lembut dan penuh perhatian. Setiap orang yang melihat pasti tahu jika Bayu sangat menyayangi Arini. Namun Arini masih begitu polos untuk menyambut perasaan Bayu.
Tok.. tok.. tok..
Tanpa menunggu perizinan, Radit segera masuk ke kamar Arini. Bayu melihat kedatangan Radit dengan tatapan menghakimi.
"Mau apa kau kesini, Arini hendak beristirahat." ucap ketus Bayu.
"Aku tak ingin menemui Arini."
"Lalu?"
"Aku ingin meminta waktumu sebentar."
"Untuk apa?"
"Tolong lah yu, atau kau bisa menganggap ini obrolan kita yang terakhir sebagai teman."
"Teman macam apa kau ini?"
"Mas.." Arini memegang lengan Bayu, tatapan Arini begitu dalam padanya.
"Baiklah, tapi hanya sebentar."
Radit menyambut bahagia keputusan Bayu. Dia mengajaknya untuk sekedar hanya memesan kopi di kantin rumah sakit.
"Katakanlah apa yang ingin kau bicarakan."
"Aku tahu kau sudah melakukan pemeriksaan yu."
"Lantas?"
"Aku juga tahu kau bisa menjadi pendonor untuk putriku."
"Aku hanya iseng."
"Bayu aku sekarang bukan berbicara sebagai teman, aku sekarang berbicara sebagai ayah dari anak kecil yang butuh pertolongan."
"Katakanlah." dengan cuek Bayu menatap Radit.
"Apa kau bisa memberikan satu ginjal mu untuk putriku?"
"Mengapa aku harus melakukan itu?"
"Tolonglah yu, berapapun yang kau minta bahkan jika kau meminta seluruh hartaku. Aku akan memberikan semua itu."
"Aku tak kekurangan uang, jadi aku tak butuh semua hartamu."
"Anggap saja ini semua demi Zahra."
"Bukankah Zahra akan senang jika secepatnya bisa berkumpul dengan putrinya?"
"Bayu!! pernyataan macam apa yang kau katakan? apa kau berharap Chika akan segera menyusul Zahra?"
"Kau bilang ini semua demi Zahra, tapi dia sudah tak berada di dunia. Jadi aku tak bisa menganggap ini semua demi dirinya."
"Aku tak tahu harus berkata apa lagi padamu. Tapi aku tahu jika kau bukan orang yang setega itu."
"Aku akan memberikan salah satu ginjal ku asal kau menjauh dari kehidupan Arini."
Radit membisu mendengar permintaan Bayu. Lidahnya kelu tak bisa menjawab apapun. Tangannya bergetar menahan sesak di dadanya.
"Tapi aku.."
"Kalau kau tak bisa melakukan itu, maka ikhlaskan saja putrimu."
"Aku tak bisa."
"Kau tak bisa melepaskan Arini? ayah macam apa kau."
"Bukan itu, aku tak bisa kehilangan putriku. Dia darah daging ku."
"Lalu?" Bayu terlihat begitu antusias mendengarkan lanjutan permintaannya.
"Aku akan melepaskan Arini untuk mu."
Dengan senyum kemenangan Bayu berjabat tangan dengan Radit. Kesepakatan di antara mereka berakhir disini.
"Aku harap kau tak akan mengingkari janjimu itu."
"Kau tenang saja, aku akan mengingat janjiku. Asal kau juga berjanji akan benar-benar menolong putriku."
"Kalau masalah itu, kau sebaiknya memberi tahu Ardi. Kapanpun aku siap."
Bayu menepuk pundak Radit kemudian pergi meninggalkannya yang masih terpaku di tempat duduknya.
Keputusan sulit telah Radit putuskan, sebagai seorang laki-laki dia tentu tak akan melupakan janjinya. Radit memejamkan matanya, seraya berdoa untuk kesembuhan Chika dan untuk kebahagiaan Arini.
Karena titik tertinggi dari mencintai adalah melepaskan dan pengorbanan dari mencintai adalah mengikhlaskan.