Aditya permana, dokter muda yang terpaksa harus kehilangan cintanya, lantaran kekasihnya yang bernama Nadia mahardika, menikah dengan ayahnya sendiri, tanpa sepengetahuannya. Hubungan yang tidak harmonis antara Adit dan ayahnya, semakin memanas ketika mengetahui kekasihnya menjadi ibu tirinya. Sejak kematian ibunya, hanya Nadia lah tempatnya mengadu.
Suatu ketika, pertemuan tidak sengaja Aditya dan Alexa terjadi, Alexa bekerja di bawah tanggung jawab Aditya, Aditya yang selalu bersikap dingin, suatu saat menjadi luluh dan mulai mencintai Alexa.
Tapi sebuah teror melanda, Aditya harus bekerja keras bersama Rangga, sahabatnya untuk dapat mengungkap sang peneror.
Hingga sebuah insiden terjadi, membuat Aditya harus kembali hancur untuk kedua kalinya, tapi sebagai seorang dokter, Aditya harus profesional dalam pekerjaannya, di tengah kesibukannya, Aditya tetap menjalankan misinya untuk mengungkap pelaku kejahatan itu.
Lalu bagaimana setelah itu?
Siapakah sang peneror sebenarnya?
Dan ada motif apa dibaliknya?
yuk baca kelanjutan ceritanya.
beri dukungan untuk author ya, terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Dini Thamara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk.
Sudah beberapa hari Adit terus mendatangi rumah papan itu, tapi selalu tidak mendapatkan hasil.
Hingga suatu hari Adit menemukan sebuah petunjuk, Adit melihat sosok lelaki misterius itu sedang menelepon seseorang walaupun Adit tidak melihat wajah orang itu, tapi Adit memperhatikan sepatu yang dikenakannya.
Prakk...
Adit kembali melakukan kecerobohan, kali ini Adit menabrak sebuah pot yang ada di depannya.
"Ahh.. kenapa aku terus ceroboh begini" Adit menepuk keningnya sendiri.
"Siapa itu?!" teriak lelaki itu.
Adit sangat terkejut, dia kembali bersembunyi di belakang rumah papan itu, lelaki misterius itu berjalan pelan untuk mencari Adit.
Lelaki itu mengarahkan pistolnya, tapi saat dilihat Adit sudah tidak di tempat, tapi tiba-tiba...
"Kena kau!!" Adit memukul kepala lelaki itu dengan sebuah kayu.
Bakk... bukk... bakk... bukk...
Adit saling adu jotos dengan lelaki itu, tapi ternyata Adit jauh lebih kuat dari lelaki itu, hingga membuatnya terpojok dan terus di pukuli oleh Adit, saat Adit berusaha membuka topengnya tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dari belakang, membuat kepala Adit terluka dan tidak sadarkan diri.
Lelaki itu bangun setelah wajahnya hampir terlihat oleh Adit dan terus memegang wajahnya yang memar.
"Kenapa kau sebodoh itu, kau hampir saja ketahuan, dasar payah!!"
Bugg....
Lelaki misterius itu mendapat tinju yang cukup keras dari atasannya, membuat wajahnya semakin memar.
"Maaf tuan, aku terjebak saat itu" ucap lelaki itu menundukan kepalanya.
"Rumah ini sudah tidak aman, kita harus mencari tempat lain untuk membuat rencana"
"Baik tuan"
Mereka berjalan beriringan menuju mobil untuk mencari tempat yang lain dan meninggalkan Adit yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan luka di kepalanya.
"Tuan, apa kita tidak lenyapkan saja Adit itu?" tanya lelaki itu sesaat setelah didalam mobil.
"Jangan, aku tidak ingin membuatnya mati dengan mudah, aku ingin menyiksanya lebih dulu, baru akan aku lenyapkan dengan tanganku sendiri".
"Baik tuan".
Mereka semakin menjauh dari lokasi sampai akhirnya hilang dari pandangan.
**
Disisi lain.
Adit mulai sadar dan mencoba membuka matanya, sambil memegang kepalanya yang terluka Adit berusaha bangun dari baringannya.
"Jangan bangun dulu, lukamu cukup dalam"
Adit melihat seseorang di hadapannya, dengan pandangan yang masih samar-samar Adit kembali merebahkan tubuhnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? sedang apa kau di rumah papan itu?". tanya orang itu yang tidak lain adalah Justin.
"Aku-aku"
"Baiklah, kau bisa ceritakan itu nanti, sekarang kau istirahatlah dulu".
Justin pergi meninggalkan Adit dan keluar dari ruangan itu, baru saja dia berjalan beberapa langkah, Rangga dan Alexa berhambur mendekatinya.
"Dokter Justin, bagaimana keadaannya?" tanya Alexa.
"Dia baik-baik saja, hanya perlu istirahat sebentar" jawab Justin.
"Hm, boleh kami masuk?" tanya Rangga.
"Iya, silahkan. Tapi jangan mengganggunya".
Rangga menganggkat kedua ibu jarinya kepada Justin.
"Ah, kenapa sekarang kita seperti keluarga yang sedang menunggu pasien!" ucap Rangga.
Alexa memukul tangan Rangga karena ucapannya barusan.
"Auh, tenagamu kuat juga nona" Rangga mengelus tangannya.
Mereka masuk kedalam ruangan dimana Adit di rawat, Alexa duduk di samping tempat tidur Adit yang masih belum membuka matanya sambil menggenggam tangannya, sementara Rangga sesekali memeriksa keadaan Adit.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Alexa sambil terus menatap Adit.
"Iya, dia baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat" jawab Rangga.
Sampai beberapa jam Adit belum juga membuka matanya, Rangga yang memiliki banyak pasien terpaksa harus meninggalkannya bersama Alexa.
Alexa tidak sedikitpun beranjak dari tempat duduknya, dia tidak ingin saat Adit membuka mata tidak ada seorangpun didekatnya.
Tidak lama.
Trekk...
Pintu ruangan terbuka, Alexa melihat kearah pintu itu ternyata Justin sedang berjalan mendekatinya dengan membawa dua cangkir kopi hangat dan memberikannya kepada Alexa.
"Terima kasih dokter" Alexa menerima kopi itu.
Justin duduk di samping Adit sambil menyeruput kopinya.
"Dia tidak dalam kondisi bahaya, kau tenang saja" ucap Justin.
"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa orang itu tega melakukan ini kepada dokter Adit" ucap Alexa.
Justin mengeryitkan dahinya, dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Alexa barusan.
"Orang itu? siapa?" tanya Justin.
Alexa tersadar kalau dia sudah asal bicara, kalau dia seperti itu terus dia akan merusak rencana mereka.
"Siapa?" Justin kembali bertanya.
"Ah, tidak ada dokter, aku hanya asal bicara saja"
Justin menganggukan kepala berusaha mengerti mungkin itu bukan urusannya, dan dia juga tidak ingin ikut campur dengan masalah mereka.
"Dokter, aku akan keluar sebentar, tolong jaga tuan Adit" Alexa bangun dari tempat duduknya dan pergi keluar dari ruangan itu.
Justin hanya mengangguk pelan dan sedikit tersenyum.
Tidak lama kemudian, Adit mulai membuka matanya, dia melihat sekeliling ruangan hingga matanya tertuju pada Justin yang sedang duduk sambil membaca buku tentang ilmu kedokteran.
"Hei" ucap Adit.
Justin melihat ke arahnya dan meletakkan buku itu keatas meja.
"Kau sudah bangun" Justin mendekati Adit dan memeriksanya.
"Jangan sentuh!" Adit menyingkirkan tangan Justin yang sedang memeriksa lukanya.
"Tenang, aku tidak akan membunuhmu, aku hanya memeriksamu saja" ucap Justin.
Adit hanya diam dan membiarkan Justin memeriksanya, kali ini dia tidak bisa berdebat karena kepalanya masih terasa sakit akibat luka yang cukup dalam.
"Kau sebaiknya istirahat beberapa hari, lukamu cukup dalam" ucap Justin.
"Apa? istirahat? bagaimana mungkin, besok pagi aku akan ada operasi" jawab Adit.
"Iya aku tahu, tapi mau bagaimana, kau pasti akan sulit jika harus berdiri terlalu lama"
"Apa maksudmu?" tanya Adit.
"Coba saja kau berdiri sampai beberapa menit, kau pasti akan merasa sangat pusing akibat luka itu"
Adit menerima saran Justin, dia bangun dari tempat tidurnya dan berdiri di samping tempat tidur itu, tidak berapa lama Adit memegang kepalanya dan terduduk lagi di tempat tidurnya.
"Auhh, kepalaku!"
"Lihatkan, jadi untuk sementara kau belum bisa melakukan operasi, selain membahayakan untukmu, juga bisa membahayakan pasien" ucap Justin sambil terus menatap Adit.
"Lalu bagaimana? aku tidak mungkin menunda operasi itu, kalau itu terjadi pasien akan dalam bahaya". tanpa sadar Adit meminta saran kepada Justin.
Trekk..
terdengar suara pintu di buka, Justin dan Adit langsung menoleh bersamaan.
"Kenapa kau tidak meminta dokter Rangga saja untuk menggantikanmu" ucap Justin.
Rangga yang baru saja masuk merasa heran dengan ucapa Justin, dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Rangga, besok kau harus melakukan operasi pasien di kamar 2250, jam 8" ucap Adit.
"Apa? bagaimana bisa? kau sudah memberiku tugas untuk mengoperasi pasien di kamar 2210, itu juga jam 8" jawab Rangga.
"Ah benar juga" Adit menyandarkan kepalanya.
"Bagaimana kalau dokter Irwan?" tanya Rangga.
Adit melirik tajam kepada Rangga.
"Kau gila, dia itu masih payah! kau tidak ingat dulu dia hampir membuat pasien kehilangan nyawa" ucap Adit ketus.
Rangga baru ingat, kalau Irwan pernah membuat kesalahan yang sangat fatal saat operasi, sejak hari itu Adit tidak pernah memberinya tugas operasi lagi.
Tiba-tiba Rangga tersenyum aneh sambil menatap Justin yang berdiri di hadapannya.
"Ha.. kau yang akan melakukannya dokter Justin!" ucap Rangga.
"Apa? aku?" Justin menunjuk dirinya sendiri.
Justin melihat kearah Adit yang juga sedang memperhatikannya, kemudian mereka diam sejenak sambil berfikir mencari solusinya.
feedback nya ya kk
SIMPANAN OM AROGAN
jangan lupa mampir semua
CUKUP! Aku Dan Anakku
Semangat