NovelToon NovelToon
Reany

Reany

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aerishh Taher

Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.


Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.

Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.

Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.

Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.


Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.

memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.

Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Jangan Lupa follow penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Makan siang bersama

Arian baru menyadari satu hal.

Sejak duduk, ada satu kursi di sisi Reani yang diduduki oleh seorang pria dengan postur tenang, jas yang rapi serta sorot mata waspada.

Pria tampan itu mengeluarkan aura yang sangat gelap Arian bisa merasakan itu.

Arian menoleh, suaranya diturunkan.

“Maaf… siapa pria ini?”

Gerald mengangkat pandangan, menatap Arian dengan wajah datarnya.

“Saya Gerald.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Calon suami Reani. Gerhana Gerald Alfonso.”

Seketika ruangan terasa menyempit.

Arian mengeraskan rahangnya. Tatapannya beralih ke Reani.

“Ah, Tunangan yang pernah ditolak Rea.”

Reani terdiam, ujung jarinya menekan tepi piring. Sedikit tersentak mendengar nada sindiran kuat dari Arian.

Karena setau Reani, Arian tidak seperti biasa.

Ini adalah pertama kalinya Reani mendengar kata yang begitu menyindir.... Apalagi dipertemuan pertama

“Wow,” sela Doroti cepat. “Arian Kau... terlalu blak-blakan.”

Arian mengangguk pelan. Senyumnya tipis yang tidak sampai ke mata.

“Aku hanya kaget saja.”

Tidak ada jawaban.

Reani menunduk, menatap makanan yang mulai dingin.

Tak tau harus mengatakan apa.

Doroti berdehem pelan, lalu tersenyum seolah baru ingat sesuatu yang ringan.

“Ngomong-ngomong,” katanya sambil membuka menu, “aku lapar dari tadi pagi. Rumah sakit itu tempat paling tidak manusiawi soal jam makan.”

Arian mengikuti isyarat itu. Ia meraih menu, nada suaranya kembali santai.

“Ya kita fokus makan dulu.”

Reani mengangguk kecil. Ia ikut membuka menu, meski pandangannya sempat kosong beberapa detik.

Pelayan datang.

Gerald tidak membuka menu.

“Grilled salmon dengan lemon butter,” katanya tenang. “Dan mushroom soup.”

Pelayan mencatat, lalu menoleh ke Reani.

“Untuk Ibu?”

Reani baru hendak bicara, tapi Gerald menambahkan, tanpa menoleh,

“Tambahkan mashed potato, dia tidak suka saus terlalu berat.”

Reani menoleh cepat. Gerald tetap menatap ke depan.

Doroti melirik Reani, alisnya terangkat sedikit.

“Kamu sangat tau kesukaan Rea.”

Gerald mengangguk singkat. “Tentu.”

Reani menutup menu perlahan. “Itu… pesananku.”

Pelayan mencatat, lalu pergi.

Arian mengamati pemandangan itu tanpa komentar. Jemarinya mengetuk map tipis di meja, lalu berhenti.

“Kita bisa lanjut bahas jadwal setelah makan,” katanya. “Biar kepalanya jernih.”

Doroti mengangguk setuju. “Makanan nomer satu kalau kata Rea.”

Beberapa detik berlalu. Suasana mereda.

Reani menarik napas, lalu berkata pelan,

“Tidak ku sangka, kamu tau—”

Gerald menoleh. “Aku tau segalanya tentangmu, Rea.”

“Aku tersanjung,” jawab Reani singkat.

Gerald tidak membalas, hanya menganggukkan kepalanya.

Ketika hidangan datang, Reani menyuap perlahan. Rasa familiar menahan sesuatu di dadanya—sedikit hangat dan tenang.

Doroti mulai bercerita soal rencana liburan singkat, Arian menimpali seperlunya. Percakapan mengalir, begitu saja. Walau masih ada sedikit ketegangan diantara Gerald dan Arian yang Doroti cukup mengerti namun Rea.... Wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Reani seakan mendengarkan, tapi terlihat jelas bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.

Gerald menoleh sedikit. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh denting alat makan.

“Rea… are you okay?”

Reani berhenti mengunyah. Sendoknya menggantung sesaat, lalu ia letakkan perlahan.

“Hm. I’m okay.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Gerald tidak langsung menimpali. Ia menatap Reani sekilas, cukup lama untuk menangkap bahu yang kaku, tatapan yang tidak benar-benar hadir.

“Kamu kelihatan sangat lelah.” katanya. “Bukan hanya tubuhmu, tapi.... Mental kamu.”

Doroti mendongak, lalu diam. Arian menghentikan gerak tangannya.

Reani tersenyum tipis. Senyum yang rapi, terlatih.

“Aku cuma butuh waktu.”

Gerald menggeleng pelan. “Itu bukan cuma soal waktu.”

Ia menyandarkan punggung, nada suaranya tetap datar.

“Kamu seperti orang yang sudah selesai berlari, tapi belum tahu harus berhenti kapan.”

Reani menunduk, jemarinya meremas serbet tanpa sadar.

“Kamu seharusnya bicara dengan psikolog,” lanjut Gerald. “Bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu sudah terlalu lama menahan.”

Sunyi jatuh sebentar.

Doroti ingin membuka mulut, lalu menutupnya lagi tanpa mengatakan apapun.

Reani menarik napas dalam saat mengangkat kepalanya, matanya tenang menatap kosong dengan cara yang begitu jujur.

“Aku tidak sedih,” katanya pelan. “Tidak marah, tidak juga kecewa.”

Itulah masalahnya.

Gerald menangkap kejanggalan itu, rahangnya mengeras sedikit.

“Itu yang paling berbahaya.”

Reani menatap piringnya, makanan favorit itu kini terasa hambar.

“Aku tidak ingin merasakan apa pun,” katanya. “Rasanya… lebih mudah.”

Gerald tidak memaksa ia hanya berkata,

“Kalau suatu hari kamu siap, hubungi aku.. aku akan menemanimu ke dokter.”

Reani mengangguk kecil.

Doroti akhirnya bersuara, berusaha mengembalikan ritme.

“Ya Gerald benar, aku juga akan ikut.”

Arian ikut mengangguk. “Ya, kita semua akan menemani Rea.”

Reani tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lagi, kali ini lebih pelan.

Ia mencondongkan tubuh sedikit, cukup dekat untuk terdengar hanya oleh Reani.

“Kamu tidak harus kuat di depan kami.”

Reani menoleh. Tatapan mereka bertemu singkat.

“Aku tidak sedang berpura-pura,” katanya lirih. “Aku benar-benar… tidak merasakan apa-apa.”

Gerald mengangguk. Tidak membantah.

“Itu juga bentuk luka.”

Reani menunduk lagi.

Beberapa menit berlalu. Piring mulai kosong. Suasana lebih tenang, tapi beratnya belum pergi.

Arian menutup mapnya. “Aku akan kirimkan detail sidang malam ini.”

Reani mengangguk. “Terima kasih.”

Doroti berdiri lebih dulu. “Aku ke toilet sebentar.”

Arian ikut bangkit. “Aku keluar sebentar, ada telepon.”

Mereka pergi hampir bersamaan, meninggalkan Reani dan Gerald di meja itu.

Sunyi....

Gerald telah menghabiskan makanannya dan berbisik kembali.

“Kamu tidak sendirian, Rea,” katanya datar. “Mungkin kamu belum bisa merasa apa-apa sekarang tapi itu tidak apa-apa.”

Reani mengangkat wajahnya.

“Kalau perasaan itu tidak kembali?”

Gerald menatapnya lama.

“Kalau pun tidak,” jawabnya tenang, “aku akan tetap ada untukmu sampai kapanpun.”

bersambung......

1
Saidah Sappa
Alur yang bagus ♥️♥️♥️♥️
Soraya
mampir thor
Hagia Sophia
kuraaaangggg klo cuma 1 kakaaaaa
drpiupou: berapa jadinya kakak🤣
total 1 replies
Sri chandri Yani
Sangat bagus dan menarJalan ceritanya seru dan menegangkan tapi penuh misteri 🙏🏻
drpiupou: Terima kasih kakak sudah membaca 'REANY' tetap nantikan kelanjutan nya ya☺️
total 1 replies
murni l.toruan
Aku suka karyamu kakak Author...penasaran tingkat tinggi
drpiupou: Reani bakalan mulai membuka lembaran lama, secara perlahan. dan kuharap kamu masih ada bersama Reany.
total 1 replies
murni l.toruan
Rea mengamuk dengan tenang mengalahkan 10 orang pecundang
murni l.toruan
Keren banget...cewek yang tidak menye2
drpiupou
🤣takut dia sama roberto
Diyah Saja
wkkwwk kaburr mereka 🤣
Himna Mohamad
lanjut thoor,,,waww semakin kereen
drpiupou: Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang banyak, telah membaca REANY 🙏
total 1 replies
Himna Mohamad
ayo reyna,,ambil saham kmu,,itu hak kamu,,,biar bangkrut tuhh si juna
drpiupou: 🙏🙏🙏 jadi semangat update tiap hari🤭
total 1 replies
Himna Mohamad
kereen thoor,,biar si juna menyesal,,,jgn sampai reany n juna balikan lg yg kk authoor👍👍👍👍
drpiupou: iya kak tenang aja🤭
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh baca thoor awal yg bagus thoor
Osie
juna n renata gali kuburan sendiri..goblok
drpiupou: dia pengen ngilang cepet kal🤣
total 1 replies
Osie
apes nasib rwani..7thn tinggal sejumlah eh g taunya saingan ma kebo...atau nikah siri tapi dikatakan nikah resmi sama juna?
Osie
maaf ada yg rancu kayaknya di bab ini..yg pertama bukannya keluarga juna tinggal di luar kota n miskin? trs kok bisa ibu nya juna ada dikota yg sama dan spti ibu ibu sosialita gitu...lalu bukannya ibu juna sdh tau renata hamil? kok malah spti yg baru tau.🙏
Osie
juna habislah kau..demi sampah kau buang berlian
Osie
juna nipu rea dgn pernikahan palsu daaann rea nipu juna dgn penyamaran jd gadis kismin..kereeen dah
drpiupou: 🤭 hahahaha
total 5 replies
Osie
wuuaaahhh daebak ini baru perempuan..no nangis nangis krn cinta palsu.👍👍👍👍👍
Osie
rea dari yg kubaca dia sosok wanita pintar tapi kok ya bisa dibodohi n di tipu juna selama 7 thn..hadeeehh demi cinta dikadlai lelaki..so rea sekarang saat nya kamu balas dendam n jgn ksh celah utk juna mendekati kamu lagi/Toasted/
drpiupou: Alhamdulillah si Rea udah sadar, walaupun agak telat🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!