INGRID: Crisantemo Blu💙
Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Nonno
"Ayah! Ayah curang!"
"Apa? Tidak," sangkal Ricc.
"Aku dengan jelas melihat Ayah menukar kartu Ayah. Itu curang!"
"Biarkan Ayahmu ini menang sekali saja."
"Tidak! Tidak! Tidak! Ayah selalu melakukan ini saat kita bermain kartu. Aroma hangus apa ini? Ayah, pizza kita!"
Ricc dan Ingrid bergegas berlari ke dapur. Ketika Ricc membuka oven, asap hitam mengepul di udara. Keduanya terbatuk-batuk.
Karena terlalu hanyut dalam permainan kartu, mereka lupa jika tengah memanggang pizza, sehingga pizza tersebut hangus.
"Sekarang apa yang akan kita makan untuk makan malam, Ayah?" tanya Ingrid sambil memandangi pizza yang berwarna kehitaman di hadapannya.
Ingrid dan Ricc berakhir hanya memakan apel untuk makan malam mereka. Keduanya duduk beralaskan tikar di atas rumput hijau halaman belakang rumah mereka, mengamati langit malam berhias bintang-bintang dan bulan.
"Apa bulan tidak kesepian di atas sana?"
"Kesepian? Dia ditemani oleh banyak bintang," terang Ricc.
"Faktanya bintang berada sangat jauh dari bulan. Mereka hanya terlihat dekat, tapi nyatanya sangat jauh."
"Tapi mereka selalu berdampingan, tak pernah pergi atau menghilang. Mereka seperti keluarga, seberapapun jauh jarak diantaranya, atau sepalsu apapun hubungan itu, pada akhirnya mereka akan selalu berdampingan."
"Tidak semua keluarga," timpal Ingrid pelan.
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Ayah." Ingrid tak melepaskan matanya dari para benda langit, sambil menggigit apel ranum di genggamannya.
"Suatu saat kau akan hidup tanpa Ayah. Ayah tidak akan selamanya bisa bersamamu," terang Ricc pada putrinya dengan lembut.
Ingrid menggeleng. "Kenapa Ayah bicara seperti itu, aku tidak akan bisa hidup tanpa Ayah. Berjanjilah, Ayah akan selalu bersamaku. Ayah tidak akan pernah meninggalkanku." Mata Ingrid berkaca-kaca menatap sang ayah.
Ricc tersenyum, tangannya terangkat mengelus rambut hitam Ingrid. "Ayah tidak berjanji untuk hal itu."
"Ayah berjanjilah," mohon Ingrid dengan suara serak.
"Ayah berjanji." Janji itu akhirnya terucap dari bibir Ricc.
Ingrid seketika memeluk ayahnya dengan erat. "Aku menyanyangi, Ayah."
"Ayah juga, kau satu-satunya alasan Ayah menjalani hidup. Ayah tidak akan pernah meninggalkan dirimu."
...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...
"Ingrid, kenapa kau melamun sambil melihat apel seperti itu?" Tanya Vesa kesal ketika Ingrid sedari tadi tak menggubris panggilannya.
Gadis itu tersentak kaget, dia menemukan Vesa yang berwajah kusut di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan di dapur? Ayo kita pergi! Jangan sampai membuat pria tua itu menunggu." Vesa berjalan meninggalkan Ingrid yang masih setengah sadar dari lamunannya. Ingrid mengusap air mata yang akan jatuh dari matanya, sebelum menjejaki langkah sepatu hak tinggi bibinya.
Mereka pergi dengan empat mobil. Ingrid dan Vesa berada di mobil yang terpisah. Itu sudah menjadi salah satu aturan tak tertulis Constanzo, anggota keluarga tidak boleh berada dalam satu mobil yang sama. Namun terkadang, peraturan ini tidak dilakukan jika memang diinginkan atau jika perjalanan mereka tidak beresiko.
Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam lebih. Mobil-mobil tanpa plat nomor tersebut memasuki gerbang besi yang ditempa dengan ukiran indah. Sebuah mansion bergaya Mediterania kental tertangkap di indra penglihatan Ingrid.
Dia berdecak kagum, mansion ini memang tak lebih besar dari mansion Constanzo. Namun, keindahannya adalah sesuatu yang tak bisa mansion Constanzo tandingi.
Dinding plester bertekstur kasar berwarna krem, tanaman merambat menutupi sebagian dinding bangunan, atap merah bata dari tanah liat yang khas, lengkungan halus pada pintu dan jendela, balkon dengan railing besi yang di tempa khusus, taman hijau, kolam air mancur besar tepat di depan pintu masuk melengkapi keelokan bangunan berumur ini. Nyala lampu-lampu kuning menerangi setiap sudut halaman, seakan tak membiarkan keindahan mansion teredam oleh gelapnya malam.
Pengawal membukakan pintu bagi Ingrid dan Vesa. Ingrid membenarkan mantel yang ia kenakan. Berjalan menuju pintu masuk dengan dagu terangkat. Vesa menekan bel sekali, beberapa detik setelahnya pintu kayu besar itu terbuka. Dua orang pelayan wanita menyambut mereka. Ingrid memberikan mantelnya, begitu pula Vesa.
Ingrid mengikuti Vesa sambil melirik isi rumah klasik itu tanpa ingin melewatkan satu celah pun. Dia lebih dibuat terkesima, ketika mereka masuk ke sebuah ruangan besar yang diisi oleh rak-rak buku menjulang. Di sana seorang pria tua tengah membaca buku sambil duduk di sofa depan perapian yang membara.
"Kalian sudah tiba," tuturnya, seraya mendorong kaca matanya ke dalam agar tidak terjatuh. Dia menutup bukunya, bangkit dari kursi dibantu kedua tangannya.
Wajahnya begitu tak bersahabat. Kaku, seakan menahan beban amarah. Matanya menelisik tajam ke Ingrid. Derap sepatunya menggema memenuhi ruangan.
"Jadi kau cucu perempuanku." Ingrid tak gentar, dia membalas tatapan menusuk yang di berikan kakek di depannya itu.
"Ayah, sudah cukup," desak Vesa jengah.
Pria tua bernama Letro itu tertawa lepas. Ingrid keheranan, sementara Vesa memutar matanya malas.
"Kemarilah, Nak. Beri pelukan pada kakekmu." Dia merentangkan tangan, lalu memeluk Ingrid. Meskipun bingung dan canggung, Ingrid tetap membalas pelukan kakeknya walaupun dengan kaku.
Kakek menyudahi pelukannya. Melihat Ingrid dengan senyum cerah, kontras dengan beberapa saat lalu. "Lihat dirimu, kau sudah dewasa. Tinggimu bahkan hampir menyamaiku." Tangannya membingkai wajah Ingrid. "Sangat cantik."
"Ayah bicara seakan-akan telah tak melihatnya bertahun-tahun. Ayah baru saja bertemu dengannya," cibir Vesa.
"Hiraukan bibimu itu, dia memang pencemburu."
"Terserah." Vesa pergi berlalu meninggalkan kedua orang itu, buku-buku membuatnya sulit bernapas.
"Dan, dia benci buku." Kakek Letro merangkul Ingrid, menuntunnya menuju ke perapian. Dia memberi isyarat pada Ingrid untuk duduk di sofa di seberangnya.
Ingrid mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Binar di matanya tak dapat ditutupi. "Semua ini buku-bukumu, Kakek?"
"Kau menyukainya?"
Ingrid mengangguk. "Ini luar biasa."
Kakek terkekeh. "Anak-anakku tak pernah memujinya, aku beruntung cucuku mengerti. Kebanyakan adalah buku-buku tua, tebal, dan membosankan."
Ingrid menggeleng. "Semua ini sempurna. Buku adalah seni, tidak semua orang mengerti nilai sebuah seni."
Kakek tersenyum bangga. Dia kembali bangkit, kini dia berjalan ke salah satu bagian rak buku, mengambil buku tebal bersampul biru tua, memberikannya pada Ingrid, lalu duduk kembali.
Ingrid membuka buku yang lembarannya tampak menguning itu. Halaman pertama, kosong, kedua, kosong, ketiga, kosong, keempat, kosong, kelima, kosong, keenam, ada beberapa foto cetak di sana. Itu dirinya!
Foto yang diambil setiap ulang tahunnya oleh ayahnya. lebih tepatnya sejak ulang tahunnya yang kesebelas. Yang paling mengejutkan adalah foto terakhir, dia yang masih berusia sekitar sebelas tahun tersenyum ke kamera seraya di rangkul oleh kakek di sebuah taman.
"Kita pernah bertemu?" Ingrid tak menyangka.
"Itu tidak disengaja, itu pertama kalinya Kakek bertemu dirimu. Sejak saat itu Kakek meminta—lebih tepatnya memaksa Ayahmu mengirim fotomu setiap tahun secara diam-diam."
Letro awalnya tidak mengetahui dia memiliki cucu selain Marcello. Tapi, suatu hari dia pergi ke San Lumeo, dan tanpa sengaja justru bertemu dengan Ricc dan Ingrid yang tengah berada di taman. Ricc sempat berkelit, tapi karena beberapa ancaman akhirnya dia menceritakan tentang Ingrid, dan meminta Letro untuk merahasiakan tentangnya dengan imbalan akan selalu mengirimkan foto Ingrid setiap tahun.
"Tak kusangka dia akan menjadi Ayah yang hebat."
"Memangnya Ayahku orang yang seperti apa dulu?" tanya Ingrid penasaran.
"Sangat buruk. Dia selalu menjadi masalah keluarga Constanzo. Membunuh sembarang orang, emosi tak terkendali, pemain wanita, Dia menjalin hubungan dengan satu putriku, tapi menikah dengan putriku yang lainnya. Dan banyak lagi."
Ingrid seakan tak percaya, dia seperti mendengar kisah hidup orang asing. Ayah yang dia kenal tidak seperti itu.
"Tapi dia banyak berubah, dan kurasa itu karenamu. Dia gagal dalam banyak hal, tapi tidak seorang ayah. Vilia memiliki tiga anak kembar, bukan? Marcello, dirimu, dan ..."
"Irina, dia meninggal saat usia sembilan tahun," terang Ingrid.
"Karena apa?"
"Kecelakaan."
Kakek menghembuskan nafas berat. "Dia pasti cantik sepertimu."
"Mungkin lebih cantik, dia mirip ibu, mata coklat, rambut coklat. Berbeda dengan aku dan Marcello." Ingrid menerawang. "Apa bibi Vesa memiliki anak?"