Aruna Azkiana Amabell perempuan berusia dua puluh lima tahun mengungkapkan perasaannya pada rekan kerjanya dan berakhir penolakan.
Arshaka Zaidan Pradipta berusian dua puluh enam tahun adalah rekan kerja yang menolak pernyataan cinta Aruna, tanpa di sangka Arshaka adalah calon penerus perusahaan yang menyamar menjadi karyawan divisi keuangan.
Naura Hanafi yang tak lain mama Arshaka jengah dengan putranya yang selalu membatalkan pertunangan. Naura melancarkan aksinya begitu tahu ada seorang perempuan bernama Aruna menyatakan cinta pada putra sulungnya. Tanpa Naura sangka Aruna adalah putri dari sahabat dekatnya yang sudah meninggal.
Bagaimana cara Naura membuat Arshaka bersedia menikah dengan Aruna?
Bagaimana pula Arshaka akan meredam amarah mamanya, saat tahu dia menurunkan menantu kesayangannya di jalan beberapa jam setelah akad & berakhir menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nathanael Kaysa Wijaya
Setelah makan siang, Rio pamit untuk kembali ke kliniknya. Hari ini kebetulan dia tidak ada jadwal ke rumah sakit, karena itu dia bisa segera datang saat Aruna menghubunginya.
"Bang Rio hati-hati dijalan and thank’s,”
“Oleskan krimnya di tempat-tempat yang memar. Ingat Kia, Ael memantaumu di mana saja. Pikirkan baik-baik setiap langkah yang kamu ambil,”
“Aku tahu,”
“Arka! Persiapkan dirimu menghadapi Ael, melepaskan atau mempertahankan Kia. Kamu akan tetap berhadapan dengan Ael,”
“Bagaimana kamu tahu panggilan itu?” tanya Arshaka yang heran Rio tahu nama panggilan yang hanya sahabat dekatnya tahu.
“Sampai jumpa,” Rio berlenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Arshaka.
Aruna mengantarkan Rio sampai depan pintu, sampai pria itu tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Bertepatan dengan Rio yang pergi, layanan pesan antar obat Arshaka juga sampai. “Terimakasih pak,” ucapnya pada kurir yang mengantarkan.
“Sama-sama mbak," jawab kurir tersebut.
Aruna kembali masuk kedalam apartemennya, dia menghela napas saat melihat Arshaka yang tengah terlelap di sofa ruang tengah. Aruna berjalan ke dapur untuk mengambil minum, setelahnya dia kembali ke ruang tamu.
Aruna bimbang, Arshaka baru saja tertidur. “Bangunkan tidak ya?" gumamnya lirih.
“Pak. Eh salah lagi, kak Shaka bangun!” Aruna menggoyang-goyangkan tubuh Arshaka.
Arshaka mengeliat. “Argh. Sakit sekali,” keluhnya dengan mata masih terpejam.
Aruna menggaruk pelipisnya, ada rasa kasihan saat melihat Arshaka merasa kesakitan. Tapi dalam hatinya, Aruna juga merasa sedikit puas karena kedua sahabatnya melampiaskan kekesalannya pada Arshaka.
“Kak Shaka,bangun!”
“Ada apa?”
Akhirnya setelah beberapa kali, Arshaka bangun juga. Arshaka merasakan tubuhnya mulai merasa ngilu, bahkan rasa nyeri semakin terasa.
“Minum obatnya dulu, kak. Setelah itu oleskan krim di luka memarnya,”
“Euum,”
Aruna membantu Arshaka untuk bangun, kesal, sedih, marah dan kasihan bergumul menjadi satu dalam benak Aruna. Dia kesal dan marah karena Arshaka merebut amplop coklatnya, dan sekarang dia tidak tahu di mana Arshaka menyembunyikannya.
Dia sedih dan marah, terlepas dari apapun dia masih punya rasa pada Arshaka. Aruna juga sedikit paham tentang hukum agama, meskipun Arshaka pernah menyakitinya.
Tapi status Arshaka saat ini adalah sah masih suaminya, dia tidak ingin ibadahnya seharian gugur hanya karena tidak membantu Arshaka yang berstatus sebagai suaminya.
“Minum dulu,” Aruna memberikan beberapa obat dan vitamin, dan menyodorkan gelas berisi air minum.
“Terimakasih,” ucapnya yang langsung merebah kembali.
“Eeeh. Jangan tidur dulu,”
“Apa lagi princess sayang,” ucap Arshaka entah sadar atau tidak.
Aruna menggelengkan kepalanya, dia tahu Arshaka sedang tidak terlalu sadar. Jadi Aruna lebih memilih mengabaikan ucapan Arshaka barusan. “Aku bilang setelah minum obat oleskan krim ke luka memarnya,”
Aruna memberikan krim yang di resepkan Rio pada Arshaka, dengan malas Arshaka mulai mengoleskan di lengannya. Setelah itu dia kembali ingin tidur, namun lagi-lagi di cegah Aruna.
“Kak itu belum semuanya kamu olesi krim,”
“Kia sayang! Kalu lihat? Memarku ini tidak hanya di depan tapi juga di punggung, bagaimana bisa aku mengoleskannya. Aku mau tidur Kia,”
“Kak Shaka jangan tidur di sini,”
“Lalu aku harus tidur di mana, Kia? Di kamarmu?”
“Bu-bukan begitu. Aku antar kak Shaka pulang ke hotel,” ucapnya.
Kali ini Arshaka mengalah, dia akhirnya berusaha berdiri. Namun baru beberapa langkah, Arshaka limbung. Bukan hanya tubuhnya, tapi dia juga merasakan sedikit pusing.
“Kak Shaka tidak apa-apa?” tanya Aruna saat melihat Arshaka limbung dan berpegangan pada pinggiran sofa.
“Menurutmu saja?”
“Huff. Benar-benar menyebalkan,” gerutu Aruna.
Aruna kemudian memegang lengan Arshaka, dia memapah Arshaka kembali ke sofa ruang tengah. Dia duduk di samping Arshaka, mengoleskan krim pada pipinya yang membiru.
Aruna menyentuh pipi Arshaka dengan lembut, mengoleskan krim dengan hati-hati. Jantung Arshaka rasanya kembali ingin melompat dari tempatnya, sentuhan Aruna yang begitu lembut.
Arshaka kemudian menghadap Aruna. “Maaf Kia. Hari itu aku-,”
Aruna membekap mulut Arshaka dengan tangannya. “Kak Shaka diamlah. Aku sedang mengobati luka memarmu,” ucap Aruna.
Arshaka menurunkan tangan Aruna yang membekap mulutnya. “Lalu kapan kita bisa bicara berdua, Kia?”
“Setelah kakak sembuh,” ucapnya dengan nada datar.
“Buka baju kakak. Aku akan mengoleskan bagian belakang,” lanjutnya.
Arshaka membuka kemejanya, menampilkan tubuh putih mulus. Tidak mulus lagi sih, karena ada memar hasil karya Alice dan Eris.
“Kia please. Fokus,” melihat tubuh atletis Arshaka membuat Aruna sebenarnya grogi.
Arshaka tahu saat ini Aruna sedang grogi, dia justru membatu dan tidak segera mengoleskan krim.
“Apa harus aku ajari dulu seperti ini?” ucap Arshaka yang sudah menarik tangan Aruna untuk mengoleskan krim pada bagian tubuhnya yang memar.
“Ka-kak Shaka!!!” pekik Aruna.
Aruna kembali menghela napas, dia harus segera menyelesaikannya. Atau dia bisa terbuai saat melihat Arshaka dengan posisi seperti tadi.
Arshaka mengulum senyumnya, sementara Aruna dengan lembut mengoleskan krim di beberapa bagian punggung Arshaka.
Aruna tidak menyangka kalau ulah Alice dan Eris bisa membuat hasil karya pada tubuh sampai seperti itu, hingga membuat Arshaka tidak berdaya.
Untung saja dia dan Anres menghentikan dua sahabatnya tersebut, kalau tidak sudah bisa di pastikan kalau Arshaka hari ini dia ada di IGD rumah sakit.
“Sudah selesai,” Aruna memberikan kemeja Arshaka agar pria tersebut segera memakainya.
“Terimakasih,” Arshaka kembali hendak merebahkan tubuhnya di sofa, namun Aruna mencekal tanganya.
“Aku antar pulang,”
“Kamu tega? Kalau aku pingsan di kamar hotel bagaimana?”
Tanpa menjawab pertanyaan Arshaka, Aruna kemudian langsung berdiri. Dia berjalan menuju kamarnya, Arshaka menghela napas sambil melihat punggung Aruna sampai menghilang dari pandangannya.
Dia kembali merebahkan tubuhnya pada sofa ruang tengah Aruna, tidak apa tubuhnya benar-benar remuk redam. Setidaknya dia ada di sini, di tempat Aruna tinggal.
Aruna kembali dari kamarnya, dia membawa selimut dan bantal. Melihat Arshaka yang yang memejam, dia urung untuk membangunkannya.
“Ada apa?” Arshaka membuka matanya, dia tahu Aruna berdiri di samping sofa dari tadi.
“Pindah tidur di kamarku, kak. Tubuhmu akan sakit kalau di sini,”
Arshaka mengerutkan dahinya. “Lalu kamu tidur di sini? Aku tidur di sini saja, tidak mungkin aku biarkan kamu tidur di sofa. Kalau pemikiranmu seperti itu,”
Aruna menggaruk tengkuknya yang tertutup hijab, dia menghela napas. “Aku tidur di kamar,” ucapnya.
Arshaka melongo, dia kemudian tersenyum. “Ok,” jawabnya.
Tanpa menunggu lama dia mengekori Aruna, hingga mereka sudah berada di kamar Aruna. “Kak Shaka bisa istirahat di sana,” tunjuk Aruna pada tempat tidurnya.
Arshaka merebahkan tubuhnya, kemudian Aruna menggunakan selimut yang dia pegang untuk menyelimuti Arshaka. “Kamu mau kemana?”
“Aku ke supermarket sebentar. Isi kulkasku sudah kosong, kakak istirahat saja.”
Aruna masuk ke dalam walk in closet, tidak berapa lama dia keluar dengan baju yang berbeda. Dia mengambil tas kecil yang ada di nakas, jantung Arshaka seolah sedang marathon melihat penampilan casual Aruna namun terlihat cantik.
“Aku pergi dulu. Satu atau dua jam lagi aku kembali,” Aruna menyambar kunci mobil, berlalu meninggalkan Arshaka di kamarnya.
*
*
*
Austria, jam 12 siang.
Seseorang terlihat mengetatkan rahangnya saat membaca informasi yang di perolehnya, dia melakukan panggilan dengan seseorang.
📞 “Hallo! Kalian sudah bertemu?”
📞 “Hmm. Dia bahkan babak bel*r dihajar sahabat adikmu,”
📞 “Aku bahkan belum melakukan apa-apa tapi dia sudah seperti itu, dari dulu selalu payah.”
📞 “Aku tidak perduli mau kamu apakan dia. Tapi ingat satu hal, Ael. Jangan libatkan Kia dalam urusan masa lalu kalian,”
📞 “Hei kamu ini!”
📞 “Aku lebih tua darimu lima tahun, kalau kamu lupa Nathanael Kaysa Wijaya. Dan aku cukup tahu apa isi kepalamu itu,” Rio langsung mematikan ponselnya.
📞 “Ya bang Rio! Ck ... dasar tua ngambekan,”
Ael kemudian beralih pada orang kepercayaannya. “Kamu sudah dapatkan siapa yang menjebak Kia malam itu?”
“Sudah tuan muda,” ucapnya.
Ael mengepalkan kedua tangannya. “Leo! Apa sebenarnya alasanmu menjebak Kia dan Arka,”