"Pergi kamu dari rumah" Usir Bianca, ibu tiri Sarah. Begitulah, Sarah terpaksa pergi dari rumah sendiri. Bukan hanya Bianca yang kejam, tetapi adik tiri Sarah pun selalu mengganggu hubungan percintaan Sarah dengan Rafi sang guru SMK di sekolah.
Di tengah perjalanan, Sarah bertemu dengan gadis tengil yang bernama Salma. Wajah Sarah dengan Salma mempunyai kemiripan 100 persen. Namun, jika Sarah wajahnya glowing, Salma berwajah kusam.
Rupanya, Salma pun kabur dari rumah lantaran menolak ketika dipaksa menikah dengan guru matematika yang bernama Haris. Salma lantas mempunyai ide gila, mengajak Sarah tukar tempat. Tukar tempat, itu artinya Sarah sudah siap menggantikan Salma menikah dengan Haris.
"Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintaku Ditukar Siswi Kembar. Bab 30
Aroma masakan rempah-rempah yang di tumis terhirup ke hidung Sarah. Dia letakkan tas di atas meja belajar, kemudian melangkah ke dapur. Terdengar suara sodet beradu dengan penggorengan Sarah menyembulkan kepalanya sedikit di tembok pembatas dapur.
Pria tampan dengan celemek yang menutup dada dan perut tengah membolak balik teplon seperti koki yang sudah mahir. Sarah tidak menyangka suami Salma itu rupanya pandai melakukan pekerjaan yang di lakukan wanita.
"Pak Haris bisa masak?" Tanyanya segera menghampiri Haris dan berdiri di sampingnya.
"Bisa dong..." Haris tersenyum menoleh Sarah, ia letakkan teplon kemudian membiarkan tangannya di cium Sarah.
"Kamu pasti happy, ketemuan di mana tadi?" Haris menuang masakan ke dalam piring.
"Di sekolah yang lama Pak," Jawab Sarah asal, tetapi tidak sepenuhnya berbohong.
"Bukanya di kafe ya? Hehehe..."
Deg.
Sarah terkejut mendengarnya, pikiran buruk seklebat singgah di kepala. Jangan-jangan Haris tahu jika dirinya tadi bukan bertemu teman-teman tetapi bertemu Rafi.
"Hee... kok malah bengong," Haris terkekeh tanganya meraup wajah Sarah yang tersadar dari lamunan.
"Sekarang mandi sana gih, kamu kok bahu parfum pria..." Lagi-lagi Haris terkekeh. Wajah Sarah seketika menegang akan keanehan-keanehan pada Haris.
"Bercanda... tegang gitu, sana mandi," titah Haris seperti menyuruh anaknya.
Sarah pun akhirnya ke kamar mandi tetapi bukan cepat mandi, melainkan bersandar di pintu mengatur degup jantungnya yang berpacu cepat. Dia bertemu dengan Rafi tidak melakukan apapun selain ngobrol, tetapi sindiran Haris tentang aroma parfum pria membuat perasaan Sarah seperti kepergok tengah selingkuh dengan pria lain. Walaupun yang Sarah lakukan bukanya mengkhianati Haris, karena dia bukan siap-siapa nya.
"Salma... mandinya kok lama, aku ke masjid dulu ya," seru Haris dari luar pintu membuat Sarah seketika bangkit dari sana.
"Iya..." Jawab Sarah kemudian mandi dengan cepat, lantaran waktu magrib telah tiba.
***************
Mukena putih yang melekat di tubuh wanita, yaitu Sarah. Setelah menjalankan sholat maghrib, komat kamit berdo'a, memohon ampunan sambil menangis. Dia merasa bahwa ibadahnya akan sia-sia karena sudah tahu tidak benar tetapi tetap saja dia melanggar nya.
Sarah sadar telah melakukan banyak dosa, karena melakukan kebohongan yang terus ditindih dengan kebohongan yang lain. Sehingga menumpuk bahkan dia sendiri pun tak mampu untuk memikul.
"Ampuni hambaMu ya Allah..." Sarah menjatuhkan dahi nya ke sajadjah menumpahkan tangis.
Di luar kamar, Haris yang baru saja pulang dari masjid hendak mengajak makan malam mundur, ketika melihat istrinya menangis hingga terdengar dari luar. Pantas saja ketika mengucap salam tidak ada jawaban.
Haris tidak mau mengganggu Sarah, memilih ganti baju koko dengan kaos setelah menyangkutkan peci di balik pintu. Untuk mengusir sepi dia menyalakan televisi yang dia ambil dari kamarnya di kediaman bu Keisih tadi siang, televisi yang Haris beli ketika masih kuliah dulu.
"Salma... maafkan aku yang tidak bisa merubah diri agar bisa menjadi pria yang kamu mau. Pria yang menjadi kekasih kamu itu," Gumam Haris. Dia tahu jika Sarah berat melakoni hidup berumah tangga dengannya dalam keterpaksaan. Rupanya itu yang Haris tangkap dari sikap Sarah selama menikah dengannya. Haris juga sadar tidak mampu memberikan hidup layak, meskipun makan tidak kurang.
Demi cintanya kepada Sarah, Haris hanya bisa memberikan rasa sayang karena itu yang dia punya. Tetapi rupanya sulit bagi Sarah untuk menerima semua itu.
Niat ingin usaha tentu sudah di kepala, tetapi belum punya modal untuk memulai. Dengan usaha mungkin kehidupannya akan meningkat dan bisa mencukupi kebutuhan istrinya yang sudah biasa hidup layak.
Hingga terdengar adzan isya, Haris memandangi pintu kamar kecil yang biasanya untuk shalat. Sejak magrib istrinya belum juga keluar. Dengan menyusun keberanian Haris pun memeriksa kamar tersebut.
Tubuh yang masih mengenakan mukena tidur meringkuk di sajadjah. Kali ini haris tidak mau mengganggu tidur istrinya.
Malam terus merangkak, Haris pun ketiduran di sofa melewatkan makan malam.
Malam berjalan begitu cepat, tergantikan pagi. Sarah pun ke luar dari tempat shalat. Ketika hendak ke dapur. Terdengar suara televisi menyala. "Kok tumben, Pak Haris pagi-pagi begini menonton televisi" Batin Sarah. Sebelum ke dapur dia ke ruang tamu terlebih dahulu, memandangi Haris yang tengah tidur di sofa.
Sarah mematikan televisi lalu membuka penutup meja makan. Ada perasaan bersalah, karena masakan Haris masih utuh. Itu artinya suami Salma itu tidak makan malam karena menunggu dirinya. Bukan berarti tidak menghargai kerja keras Haris, tetapi dia memang benar-benar ketiduran.
Dia bawa masakan ke dapur kemudian di hangatkan, sebelum akhirnya mandi dan bersiap-siap ke sekolah.
"Bapak kenapa tidak makan malam?" Tanya Sarah ketika hendak sarapan bersama.
"Iya... soalnya nunggu kamu sampai ketiduran" jujur Haris, pura-pura tidak tahu jika Sarah tadi malam menangis. Di meja makan, pagi ini tidak ada gombalan Haris, tidak ada omelan Sarah. Lebih tepatnya semua memilih diam.
"Maaf ya Pak, masakan Bapak pasti aku habiskan pagi ini," Sarah tahu pasti Haris kecewa. Bagaimana rasanya jika sudah lelah memasak tetapi tidak dimakan.
Haris hanya menanggapi dengan senyuman. Benar saja, Sarah makan dengan lahap kemudian berangkat beriringan dengan Haris.
"Ciee... Ciee... janjian dengan Pak Haris" Kelakar Hani ketika Sarah tiba di parkiran. Jika Haris melenggang pergi, Sarah menoyor kepala Hani. Hari itu Sarah tetap belajar dengan baik walaupun menghadapi peliknya hidup.
****************
Sore harinya, Sarah sudah menarik motor hendak pulang. Tetapi niatnya berhenti ketika handphone miliknya terdengar notif masuk.
Sarah periksa pesan tersebut rupanya Salma pengirimnya. Dia senang sekali lalu membaca tulisan tersebut.
"Sar, ada yang mau gue bicarakan, penting. Gue tunggu di taman kota"
"Okay..."
Setelah membalas pesan Salma, Sarah pun melesat pergi tanpa pamit Haris lebih dulu. Banyak yang akan dia bicarakan dengan Salma. Tiba di taman yang terletak di pinggir jalan, Salma mencari tempat parkir.
Sarah mengedarkan pandanganya mencari sosok Salma. Wanita yang berpakaian celana jins dan kaos pas di badan, tidak lupa topi. Salma tengah berdiri di depan gemericik air mancur membelakangi dirinya. Sarah berlari di sela-sela tanaman hias agar jangan sampai menginjak tanaman tersebut.
"Salma..." Lirih Sarah.
Perlahan Salma balik badan. Bandan kurus, mata cekung, itulah yang dialami Salma saat ini. Sarah langsung saja menghambur ke pelukan gadis malang tersebut.
"Salma... kenapa kamu kurus sekali..." Bukanya marah karena Salma kemarin-kemarin sengaja menghindar darinya, tetapi Sarah justru sedih memandangi pipi Salma yang montok kini berubah tirus.
"Sar, maafin gue, karena sudah ingkar sama loe" Suara Salma terdengar parau.
"Maaf untuk apa Sal? Kita sama-sama salah. Kita hadapi bareng," Sarah menanggapi dengan santai. Perasaan Sarah yang lembut mana tega menghakimi Salma dengan keadaannya saat ini. Sarah pikir hanya dirinya yang tersiksa tetapi Salma pun lebih parah di lihat dari kondisinya.
"Bukan itu maksudnya Sar, gue tahu loe. Tetapi ini masalah Rafi"
"Kenapa dengan Rafi Sal?" Salma memegang kedua pundak Salma menatapnya lekat.
"Gue... nggak bisa menjaga perasaan gue sama dia. Gue jatuh cinta sama Rafi Sar," Jujur Salma tanpa berani menatap Sarah.
...~Bersambung~...
bagus banget ceritanya Buna..
jujur menurut aku, ini cerita Buna yg paling aku suka dari sekian novel Buna yg udah aku baca..
setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing2, tugasnya ada mencari tahu biar bisa mengembangkan kelebihannya dan jg memperbaiki kekurangannya..
garis besar cerita masih mirip2 dg novel2 Buna lainnya ya..
cinta guru dan murid, perpisahan dan pertemuan kembali pasangan suami istri, penolakan karena perbedaan status sosial..
walopun garis besar ide ceritanya mirip, tapi cerita kali ini seru banget menurut aku..
dan yg paling penting, finally happy ending for all characters.. 🎉🎉🎉
Terima kasih Buna sudah bikin cerita sebagus ini..
walopun hasilnya tidak sesuai harapan, jangan sedih ya Buna..
setidaknya ada doa2 tulus dari para reader setia untuk Buna..
semoga selalu diberi kesehatan..
tetap semangat berkarya dan jangan pantang menyerah..
semoga sukses selalu Buna..
🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
di dunia ini tugas kita hanya ikhtiar dan berdoa, sedangkan hasil bukanlah ranah kita..
jadi tak perlu terlalu merisaukan hasilnya bagaimana, tapi cukup terus berusaha dg niat yg baik dan tak lupa terus berdoa..
Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha kita sekecil apapun, semua pasti ada balasannya..
hanya saja kita tidak tau kapan waktunya balasan itu akan tiba..
kita hanya perlu terus bersabar, berusaha, dan berdoa..
semangat Buna.. 💪🏻💪🏻💪🏻💕💕💕