Alifa Rizky Aulia..gadis cantik yang sejak kecil selalu terdidik dengan hebat karena sejak usia 4 tahun Alifa sudah merasakan hidup di lingkungan pesantren. Alifa di tuntut belajar belajar dan terus belajar di kala teman seusianya merasakan di manja orang tua.tapi beda dengan Alifa.tak ada istilah manja di kamus hidup Alifa.
karena kehidupan pesantren yang menuntut Alifa hidup dalam kedisiplinan yang ketat akhirnya Alifa tumbuh menjadi gadis manis yang penuh prestasi dia menjadi qori terkenal berkat didikan sang kyai.
suatu ketika Alifa mengenal laki laki lewat media sosial. sejak itu Alifa melabuhkan hati pada sang doi yang baru di kenal nya.
bagaimana hidup sang qori setelah mengenal seorang laki-laki ? ujian dan cobaan apa yang harus di tempuh Alifa sehingga menjadi gadis manis penuh prestasi???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arizkha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Penyakit nervous.
Ada sebelas cabang yang di lombakan dalam MTQ provinsi kali ini. Alifa mengikuti cabang tilawah anak-anak. ia dan tiga puluh anak lainnya berlomba untuk bisa meraih tiket ke final.
'Sungguh luar biasa megahnya mimbar tilawah kali ini. Bagaimana dengan mimbar di nasional? Tentu akan lebih megah dari ini.' batin Alifa. Ia membayangkan bagaimana seandainya jika dirinya berada di mimbar nasional. Tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri bisa berada di tengah-tengah umat pecinta Al Qur'an.
"MasyaAllah..semoga aku bisa." gumam Alifa lirih.
"Apa nya yang bisa?" tanya ustadzah Nia yang tiba-tiba datang di dekatnya.
"Bu.. bukan apa-apa ustadzah." jawab Alifa lirih.
Tentu Alifa akan malu jika ketahuan ustadzah Nia bahwa dia membayangkan gimana rasanya berada di mimbar nasional.
Ustadzah Nia hanya tersenyum menanggapi ucapan Alifa.
"Ini surah yang besok harus kamu lantunkan..!" ucap ustadzah Nia sambil memberikan secarik kertas berisi tulisan dari panitia.
"Tadi kamu sudah bagus ketika di mimbar. Nafas kamu juga bagus, cuma kamu ketara sekali jika grogi nak. Kenapa belum bisa menghilangkan groginya sich..! Alifa, dengarkan ustadzah.., jika kamu tidak membuang grogi kamu, itu bisa mengurangi nilai dari dewan juri. Tentu itu pula akan menjadi pertimbangan dewan hakim menentukan keputusan. Tolong lah nak hilang kan kegugupan kamu..!"
"Secara keseluruhan kamu sudah baik cuma ya..itu. Kamu terlalu terlihat banget jika kamu nervous parah, Alifa. Tolong lah nak..! Biasanya gak seperti ini juga kan. Kenapa sich penyakit nervous aja di piara. Buanglah..! Itu gak menguntungkan sayang, justru sangat merugikan kamu. Karena pasti akan mengurangi banyak poin nilai."
Alifa mendengarkan setiap kata yang ustadzah Nia ucapkan. ia akui memang tadi ia sedikit nervous ketika berada di mimbar.
"Maaf kan saya ustadzah..emang tadi agak gugup, masih demam panggung kayaknya ustadzah. Hehehe.."
Ustadzah Nia hanya menggeleng mendengar jawaban Alifa.
"Jika kamu di mimbar, anggap di depan kamu tidak ada orang,Alifa. Jadi kamu tidak nervous dan bisa tampil menawan. Okeey.. Yang tadi tidak masalah. Tapi besok harus percaya diri dan maksimal ya. Gak ada acara gugup-gugup segala."
"nervous itu manusiawi ustadzah..jadi tenang saja, besok enggak. Hehehe.."
"Bisa aja kamu kalau ngeles." ucap ustadzah Nia sambil mencubit hidung Alifa gemas.
__
#beberapa hari kemudian.
Tak disangka, setelah melewati babak penyisihan dan babak semifinal, kembali nama Alifa diumumkan menjadi salah satu diantara enam nama peserta yang lolos ke final di cabang tilawah anak-anak.
Tentu ini suatu yang sangat Alifa inginkan. meski ini bagai mimpi, tapi benar yang kyai katakan, segala hal akan mungkin terjadi jika kita berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Tak henti-hentinya Alifa mengucap syukur atas apa yang dicapai nya. Perjuangan belum berakhir, ia harus kembali berjuang di laga final besuk sore sekaligus penentu sang juara sejati. bersamaan dengan di tutup nya besok malam acara MTQ tingkat provinsi tahun ini.
"Kamu hebat..sangat hebat, teruslah seperti ini..kalau bisa tingkatkan lagi kepercayaan diri kamu ya."
Alifa hanya tersenyum.
"Tadi ustadzah sudah telpon ke pondok untuk mengabarkan dan meminta doa untuk kamu besok di final. Semoga Allah memberikan kemudahan untukmu sayang..! Sekarang istirahat lah, jaga kondisi badan kamu, suara kamu, dan jangan makan makanan yang memicu rusaknya suara ya..!"
"Terkadang membayangkan meminum es itu sungguh segar dan nikmat, ustadzah."
ustadzah Nia yang mendengar Alifa membayangkan meminum es spontan melotot tak percaya.
"Kamu ingin suara kamu kacau??" tanya ustadzah Nia kesal.
"Ya enggak ustadzah, masa cuma membayangkan aja bisa mengacaukan suara. Kan cuma membayangkan, belum meminum." jawab Alifa santai.
Spontan ustadzah Nia mencubit pipi Alifa.
"Ada-ada saja." ucapnya sambil berlalu pergi.
**
Pagi ini Alifa melihat-lihat tampilan peserta dari cabang lainnya. Alifa menyaksikan bagaimana teman-temannya berjuang demi menjadi yang terbaik.
Setelah lelah berkeliling melihat-lihat perlombaan dari cabang lainnya, Alifa pun masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk sholat duhur kemudian makan siang dengan menu pilihan yang sudah di siapkan panitia.
Setelah selesai, ia kembali ke kamar untuk istirahat supaya nanti malam bisa tampil di mimbar final dengan kondisi yang lebih baik dan maksimal.
.
___
Terima kasih semua yang sudah mengikuti perjuangan Alifa sejauh ini.
Jangan lupa like coment dan vote nya ya.