Squel (Stuck With Hot Brother)
Karena sebuah tragedi penggrebekan, mereka terpaksa menikah dan menjalani rumah tangga tanpa cinta. Apalagi status sebagai guru dan murid, membuat mereka menyembunyikan ikatan suci itu di depan orang lain.
Lantas bagaimana bahtera rumah tangga mereka akan berjalan? Sementara sang pemegang kendali hanyalah seorang pemuda SMA yang dikenal brutal dan nakal.
Ikuti kisahnya hanya di sini🤗
Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Durian Runtuh
Saat makan malam tiba Arabella banyak mengobrol dengan Aura, apapun ia ceritakan untuk memecah kecanggungan di antara mereka. Tak lupa dia juga memperkenalkan seluruh penghuni rumah, yakni Alessandro, Lily, Ghara, Amora dan juga Sehzade.
Bahkan demi bisa akrab dengan sang menantu, Arabella meminta agar Zio dan Aura menginap. Dia memberikan beberapa setel baju baru pada Aura dan apapun keperluan wanita itu.
Di kamar Zio.
"Mommy terlalu berlebihan, padahal baju bekas pun tidak apa-apa," ucap Aura, merasa begitu diistimewakan di rumah ini. Padahal sikapnya tak sebaik itu terhadap Zio.
"Ya nggak apa-apa dong, Aura, kamu kan juga anak Mommy. Mommy tidak keberatan kok. Sekarang kamu ganti baju sana, terus istirahat," balas Arabella dengan senyum yang senantiasa menghiasi bibir mungilnya. Dia bisa bersikap seperti ini karena banyak-banyak belajar dari Ellea, ibu mertua sekaligus mantan ibu angkat nya.
Aura mengangguk cepat. Dia benar-benar tak menyangka kalau keluarga Zio akak seterbuka ini dengannya. "Mommyjuga ya. Makasih banyak karena sudah menerima Aura di sini."
Arabella mengusap lembut rambut Aura beberapa kali. "Mommy hanya minta satu. Baik-baik dengan Cio. Sehebat apapun masalah kalian, kalian harus saling terbuka." Setelah mengatakan itu Arabella pun pamit pergi, karena Alessandro pasti sudah menunggunya di kamar.
Aura tampak mematung di ambang pintu, tetapi beberapa saat kemudian dia langsung tersadar, akhirnya dia pun segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
**
Zio keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Aura yang selesai mengganti pakaiannya. Pemuda itu langsung terpukau karena piyama tersebut sedikit terbuka.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aura dengan ketus, dia merasa tak begitu nyaman, karena beberapa bagian tubuhnya terlihat oleh Zio.
"Kamu cantik," jawab Zio dengan jujur. Senyumnya pun tak memudar, membuat Aura semakin salah tingkah.
"Cih, dasar tukang gombal!" cibir Aura untuk menutupi perasaannya. Dia pun melangkah ke arah ranjang, sementara Zio ke ambang pintu. "Kamu mau ke mana?" Sambung Aura setengah berteriak.
"Aku mau keluar bentar," jawab pemuda itu. Namun, Aura berpikir bahwa Zio akan kembali menemui Amora. Ya, terlihat sekali bahwa sang suami begitu dekat dengan keponakannya, dan Aura tak begitu menyukai hal itu.
Aura mengurungkan niat untuk naik ke atas ranjang, dia malah melangkah ke arah Zio dan segera meraih pergelangan tangan suaminya. "Temani aku tidur." Ucap Aura dengan bibir mengerucut, tetapi terlihat sangat menggemaskan.
Mendengar itu Zio justru melebarkan kelopak matanya. Apa dia tidak salah dengar? Aura minta ditemani tidur? Hah, apakah wanita ini sedang ngelindur?
"Ayo, naik! Aku nggak mau kamu pergi sebelum aku bener-bener tidur!" sambung Aura seraya menarik tangan Zio agar naik ke atas ranjang bersamanya. Entahlah dia seperti tidak sadar saat melakukan hal tersebut.
Seperti mendapat durian runtuh, meski sedikit bingung tetapi Zio sungguh merasa sangat senang. Dia pun menurut dan ikut masuk ke dalam selimut. Tak sampai di sana, kelakuan Aura sungguh membuat Zio tak habis pikir, karena wanita itu terus memegang tangan Zio yang saat ini melingkar di perutnya.
Padahal awalnya Zio ingin menemui Ghara untuk menanyakan perkembangan kasus Tomy dan Mike.
"Kamu kenapa sih, Ra? Kok tiba-tiba gini, jangan bilang kamu kesambet," tanya Zio sambil menatap punggung Aura yang membelakanginya.
"Ya, ini pertama kalinya aku tidur di rumah orang tua kamu. Aku takut sendirian," jawab Aura berkilah. Padahal ia tidak ingin melihat Zio kembali menggoda Amora.
"Takut gimana? Orang nggak ada apa-apa. Aku cuma mau—"
"Ih nggak mau, pokoknya jangan keluar atau kita pulang aja!" potongnya, mencetuskan sebuah keegoisan. Akan tetapi hal tersebut tentu tak membuat Zio marah, dia justru ingin menggoda istrinya.
"Oke-oke, aku temenin kamu tidur. Tapi emang harus gini ya? Katanya nggak boleh pegang-pegang?" ledek Zio sambil senyum-senyum.
Aura semakin mencebikkan bibirnya. Sumpah demi apapun dia terlihat sangat kekanak-kanakkan sekarang.
"Ck, ini kecuali!" cetus Aura semakin mempererat genggamannya pada tangan Zio seolah takkan ia lepaskan. Pemuda itu ingin tergelak kencang, ah entah apa alasannya, yang jelas dia sangat senang malam ini. Mungkin langkah selanjutnya dia harus sering-sering menginap di rumah orang tuanya.
"Hah, karena aku adalah suami baik hati. Aku nggak bakal ngebantah. Aku bakal temenin kamu dan peluk kamu semaleman," balas Zio, kini dia yang semakin menarik tubuh Aura agar masuk ke dalam dekapannya.
Lima menit pertama mungkin masih aman, tetapi di detik selanjutnya Aura merasakan sebuah sentuhan yang mulai naik ke bagian atas tubuhnya. Aura yang semula menutup mata, kembali membukanya lebar-lebar.
"Zi!" panggil Aura setengah merengek.
"Hem, mau pegang yang ini juga, Ra," jawab Zio dengan suara yang mulai serak. Seperti senjata makan Tuan, sekarang Aura harus merasakan akibatnya.
kalau ada spill dong penasaran soalnya 🤭😄