NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Pengakuan

Baskara sengaja mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual. Sudah sejak pagi tadi Ilham mengikuti langkah gerak Ryan dan memberikan informasi pada Baskara, hingga akhirnya Baskara menemui Ryan di sebuah coffeshop.

Baskara sengaja duduk di meja tempat Ryan membuka laptopnya.

"Boleh gabung?" tanya Baskara seraya meletakkan es kopi americano miliknya.

Ryan yang sedang sibuk menatap laptopnya pun mendongak menatap Baskara heran. Ryan tahu siapa yang berdiri di hadapannya. Wajahnya tidak terlalu asing bagi Ryan.

Pemuda itu pun tersenyum sinis seraya mempersilakan Baskara untuk duduk.

"Silakan."

Baskara menarik kursi. Suara deritnya membuat Ryan terus memperhatikan gerak gerik pria itu hingga akhirnya duduk tepat di hadapannya.

"Mengenal saya?" tanya Baskara usai ia merasa terus diperhatikan dengan saksama oleh Ryan.

Ryan mendengus, lalu tertawa sebelum akhirnya mengangguk tipis.

"Wajah Anda tidak asing," jawabnya singkat.

"Kenal dari mana?" tanya Baskara.

Ryan kembali menatap Baskara. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari Baskara. Ryan pun menutup laptopnya dan menyingkirkannya hingga menyisakan satu gelas kopi gula aren yang tinggal setengah gelas di atas meja.

Ryan mendengus, lalu tertawa.

"Sepertinya Anda datang ke sini bukan sekedar untuk duduk bergabung di meja saya," ucap Ryan dengan senyum miring mengintimidasi.

Baskara tampak tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia meneguk kopi americano pesanannya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja dengan mata yang menyorot tajam menatap Ryan.

"Memang tidak." Baskara menghentikan kalimatnya sejenak. "Saya sengaja datang menemui kamu."

Ryan mengerutkan dahi. Ia merasa sedikit janggal dengan kehadiran Baskara di coffeeshop itu. Ryan pun menatap sekelilingnya sebelum kembali mendengus. Wajahnya mulai kesal.

"Anda membuntuti saya?"tanyanya kemudian.

Baskara menggeleng.

"Anda sengaja melacak saya?"

Baskara kembali menggeleng.

"Mudah menemukan keberadaanmu, Ryaneto Kuswoyo."

Ryan membulatkan mata saat mendengar Baskara menyebutkan nama keluarga yang menempel di belakang namanya. Wajahnya menegang, rahangnya mulai mengeras dan matanya pun kian menatap memindai Baskara.

"Darimana Anda tahu nama saya?" tanya Ryan sedikit tidak terima.

Baskara mengeluarkan ponselnya. Ia membuka laman pencarian yang menampilkan seorang anggota dewan yang sedang berlibur dengan ketiga anaknya, termasuk salah satunya Ryan.

"Sial!" umpatnya seraya memukul meja di hadapannya.

Ryan menatap sengit. "Apa mau Anda?"

"Saya tidak mau apa-apa. Hanya satu hal. Saya tahu kamu orang yang mengunggah vidio yang melibatkan saya dan temanmu Jelita. Saya mau, vidio itu ditarik dan dihapus."

Mendengar itu, Ryan tertawa kencang.

"Ter-lam-bat! Vidionya sudah naik dan diteruskan ribuan kali! Ditarik dan dihapus pun tidak akan memberikan dampak apa-apa!" ucap Ryan dengan nada meremehkan.

Baskara tampak tenang. Ia duduk menatap Ryan dengan mata tajamnya. Wajahnya datar, ada gurat senyum sangat tipis di wajahnya, tapi hal itu tidak menandakan apapun. Ryan masih harus waspada karena sikap Baskara sulit ditebak.

"Jika hanya satu vidio yang kamu unggah, mungkin hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya orang-orang lupa, tapi ... kamu tidak hanya mengunggah vidio tentang saya, tapi juga foto orang tua dan istri saya! Apa untungnya?"

Ryan menggeleng. "Tidak ada. Hanya membantu teman."

Baskara mengerutkan dahi. "Membantu teman? Apa maksudmu?"

Ryan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia duduk lebih santai dan mulai menyalakan rokoknya. Ia sengaja mengembuskan asap rokok tepat di wajah Baskara.

"Anda tahu siapa yang saya maksud."

"Jelita?"

Ryan mengangguk. "Jika dipikir-pikir, orang yang paling bertanggungjawab dalam masalah ini adalah dia. Dia yang menyalakan apinya. Dia yang membawa koreknya dan dia juga yang mengendalikan apinya," ucap Ryan santai.

Baskara diam. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Ryan kembali. Tidak ada intimidasi. Baskara terlalu tenang sekarang.

"Darimana kamu tahu dia yang menyalakan apinya? Kamu tahu faktanya?"

Mendengar itu, Ryan tertawa.

"Semua sudah jelas, Pak Perwira. Jelita itu mencintai Anda. Seribu lelaki di hadapannya tidak berarti dibandingkan dengan Anda. Saya rasa itu hanya ungkapan kesal dan marahnya karena Anda tidak menggubrisnya. Saya hanya membantu. Siapa tahu dia bisa berpaling pada saya setelah semua ini selesai," ucap Ryan.

Baskara mengerutkan dahi. Sepertinya, ia mulai paham duduk permasalahannya kali ini. Ia pun mendengus, lalu tertawa.

"Jadi, saya adalah korban dari balas dendam kalian?"

Ryan mendengus, ia kembali mengembuskan asap rokoknya ke wajah Baskara.

"Apa yang akan Jelita lakukan jika karir dan nama baik orang yang dia cintai hancur?"

Rahang kokoh Baskara mulai mengeras. Namun, ia tetap berusaha tenang. Tidak terpancing.

"Apa? Anda ingin memukul saya?" tanya Ryan mencoba memperkeruh keadaan.

Baskara menatap sekeliling. Coffeshop itu tampak ramai. Jika ia terpancing, selesai sudah karirnya dan nama baiknya. Baskara tersenyum.

"Kali ini, saya tidak akan masuk dalam perangkapmu. Saya tidak terlalu peduli romansa kasih tak sampai antara kamu dengan Jelita. Urusan saya hanya sebatas vidio yang sudah kamu sebarkan. Saya minta itu dihapus!" Kali ini suara Baskara mulai penuh penekanan.

Ryan tersenyum miring. "Bagaimana kalau saya tidak mau?"

Baskara membuang napas pelan. Ia mencoba tetap bersabar menghadapi Ryan yang sangat keras kepala.

"Saya tidak akan memaksa."

Ryan mengernyit tidak percaya. Ia sedikit heran, karena dalam bayangannya saat berhadapan dengan Baskara adalah ia akan mendapat caci maki, kemarahan, dan pukulan. Bukan seperti ini. Duduk tenang sambil ngopi.

"Kenapa? Nama Anda sudah rusak. Karir Anda bisa selesai kalau memang terbukti. Masyarakat sudah punya opini tentang Anda. Apa Anda tidak merasa sudah cukup dipermalukan?"

Baskara mengangkat bahu. "Justru sebenarnya yang paling dipermalukan dalam hal ini bukan saya, tapi Jelita. Saya merasa tidak bersalah, maka saya tenang-tenang saja. Semua bisa dibuktikan secara medis, tapi berbeda dengan Jelita. Dia terlihat lebih tertekan. Kamu pasti tahu sumber tekanan itu berasal dari mana."

Ryan diam.

"Kamu bilang kamu mencintainya? Apakah seperti ini bukti nyata orang yang mencintai perempuan? Bukannya kamu harus melindungi Jelita dan menjaganya agar mendapat sedikit simpati dari perempuan itu?"

Ryan diam. Perutnya tiba-tiba terasa mulas mengingat bagaimana dia mengancam dan memojokkan Jelita.

"Saya datang menemui kamu sambil minum kopi bukan tanpa alasan. Saya merasa saya tidak perlu membawa polisi apalagi satu regu teman-teman saya, karena saya merasa saya hanya perlu bicara. Saya menganggap kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang konsekuensi dan tanggungjawab.

"Saya tidak minta pertanggungjawaban lebih dari kamu. Cukup tarik dan hapus vidio itu," ucap Baskara tegas.

Ia kembali meminum kopinya yang tinggal setengah gelas. Sebelum beranjak pergi. Baskara menatap Ryan yang terdiam di tempatnya. Tidak banyak lagi kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

"Saya permisi."

***

Baskara kembali ke rumahnya dengan sepeda motornya. Ia mengerutkan dahi manakala melihat mobil Kolonel Haryo terparkir di depan rumahnya. Cepat-cepat Baskara turun dari sepeda motor dan lari masuk ke rumah.

Napasnya terengah-engah saat melihat isi ruang tamunya. Kolonel Haryo beserta istri dan Jelita.

Jelita mendongak sejenak saat melihat Baskara datang, tapi tidak lama ia kembali menunduk.

Aira melihat reaksi itu, lalu ia mengulurkan tangannya menggenggam tangan Jelita untuk menguatkannya.

"Duduk, Bas," ucap Kolonel Haryo.

Baskara memberi hormat sebelum akhirnya duduk di kursi berhadapan dengan Jelita. Ia menatap Aira heran, tapi sorot mata Aira berbicara seolah semua akan baik-baik saja. Satu yang menjadi perhatian Baskara. Sebuah surat yang sedang dipegang oleh Kolonel Haryo.

"Bas, saya datang ke sini bukan sebagai komandanmu, tapi sebagai ayah dari putri saya, Jelita."

Kolonel Haryo diam sejenak. Suasana hening. Tidak mencekam, tapi cukup menyesakkan. Kolonel Haryo menatap Jelita sepintas. Napasnya memberat. Ia meletakkan surat hasil pemeriksaan laboratorium itu di atas meja.

"Jelita tidak hamil."

Pernyataan singkat dan tegas itu membawa satu kelegaan di hati Baskara. Ia memejamkan mata sejenak seraya membuang napas perlahan. Ia menatap Aira yang juga kini sedang menatapnya.

"Saya tahu ini berita yang sangat melegakan, tidak hanya untuk keluargamu, tapi juga kami sebagai orang tuanya. Saya tidak berhak menjelaskan lebih lanjut. Biar Jelita sendiri yang bicara," ucap Kolonel Haryo tegas.

Jelita masih menunduk. Napasnya mulai memburu. Ia mulai menangis dan menunduk lebih dalam.

"Maaf."

Satu kata terdengar dari mulut Jelita dibalik isak tangisnya. Ia mengambil beberapa lembar tisue, menghapus air matanya dan mulai mendongak memberanikan diri menatap Baskara.

"Maaf, aku nggak bermaksud berbohong. Aku hanya asal bicara karena aku sakit hati Bang Ibas memilih menikah dengan Dokter Aira. Aku emosi karena merasa ditolak, tapi aku tidak menyangka kalau masalahnya akan menjadi sebesar ini."

Jelita kembali terisak.

"Setelah kejadian di cafè itu, aku berencana mau menemui Bang Ibas di kantor, msu menjelaskan kalau semua nggak benar, tapi ... vidio itu sudah menyebar di kampusku dan teman-teman membicarakanku. Aku ingin menjelaskan, tapi diwaktu yang hampir bersamaan vidio itu sudah tersebar di media sosial. Aku bingung. Aku dilanda dilema. Maaf atas kekacauan ini," ucap Jelita seraya kembali menangis.

Baskara diam. Ia menatap Jelita sejenak seraya mengembuskan napas pelan.

"Dalam hal ini, seharusnya kamu tidak hanya meminta maaf pada saya, tapi juga pada istri saya. Nama saya memang jadi tidak baik karena kasus ini, tapi justru istri saya yang memikul beban lebih berat."

Mendengar itu, Aira terkejut. Ia menatap Baskara dengan sorot penuh tanya, lalu tak lama ia kembali menatap Jelita yang sudah menangis sambil menggenggam tangannya.

"Maafkan saya, Dokter. Saya tidak menyangka jika masalahnya akan menjadi seperti ini. Maafkan saya."

Aira diam. Ia menatap Jelita. Ia berusaha menahan tangis dan emosinya. Aira menepuk beberapa kali tangan Jelita seolah memberikan isyarat jika ia mendengar ungkapan maaf itu.

"Karena kasus ini membesar akibat vidio yang tersebar luas, maka saya akan meredamnya juga dengan vidio klarifikasi yang akan disampaikan oleh Jelita. Ini perlu dan penting selain sebagai wujud pertanggungjawaban dari Jelita juga sebagai pengingat agar kelak kedepannya dia bisa jauh lebih dewasa dalam bersikap dan bertutur kata.

"Sebagai seorang ayah, mengulangi ucapan Jelita tadi saya meminta maaf pada Baskara dan juga Dokter Aira atas masalah ini. Dan sebagai komandan, saya berjanji akan memulihkan namamu," ucap Kolonel Haryo tegas.

Mereka pun bersalaman sebelum berpamitan pulang. Aira berdiri bersebelahan dengan Baskara. Kali ini, Baskara tidak menatap kepergian komandannya, tapi justru terus menatap Aira yang tampak sangat tenang.

"Gimana akhirnya Kolonel Haryo dan Jelita bisa sampai ke sini?" tanya Baskara.

Aira menoleh, menatap Baskara.

"Jelita ke rumah sakit, menemuiku."

Mendengar itu, Baskara terkejut.

"Dia sudah memeriksakan diri dan membawa hasilnya padaku. Aku sampaikan semuanya pada Kolonel Haryo. Tadinya, aku minta bertemu di kantor, tapi beliau minta semua diselesaikan di rumah saja. Aku berusaha telepon kamu, tapi nggak diangkat."

Baskara membuang napas lega. Ia tidak menjawab pertanyaan Aira, tapi justru tangannya terulur menarik Aira dalam pelukannya. Aira sempat terkejut, tapi ia tidak meronta. Aira justru menyandarkan kepala di dada bidang Baskara. Tangannya pun ikut terulur melingkar di pinggang Baskara.

Untuk sesaat mereka hening. Hanya hembusan napas lirih yang terdengar.

"Terima kasih," ucap Baskara memecah keheningan.

"Untuk apa?" tanya Aira seraya melonggarkan sedikit pelukannya. Namun, Baskara masih melingkarkan tangan di tubuhnya.

"Untuk tidak meninggalkanku."

_______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!