“Pilih melayaniku atau … kuberitahukan pada semua orang kalau kamu Open B.O?”
Sasha terjebak dengan tindakan yang ia ambil tanpa berfikir panjang.
Sasha. Gadis berusia 18 tahun tersebut menolak mentah-mentah bantuan dari Austin, Si Ketua Geng Motor yang merupakan penyebab ayahnya koma dan tak bisa bangun entah sampai kapan. Ia memutuskan untuk Open B.O dan menjual mahkotanya dengan imbalan uang demi membayar biaya rumah sakit Sang Ayah.
Sebelum mahkotanya direnggut, Sasha memutuskan untuk membatalkan transaksi gelap tersebut. Sayangnya, saat ia tahu bahwa Austin lah yang mem-bookingnya, bukan hanya tak bisa membatalkan transaksi tersebut … Austin juga memaksanya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesehariannya.
Penasaran hal apa saja 'kah yang mereka lalui berdua?
Ikuti kisah Sasha dan Austin dengan meng-subscribe novel ini! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Belum Siap
...“Awalnya … aku siap jadi pacar, Kak Austin. Tapi … setelah aku fikir-fikir lagi, aku nggak siap jadi pacar dari seorang ketua geng motor. Jadi … maaf, aku nggak bisa jadi pacar, Kak Austin.” – Sasha Rodrigoez...
...💨💨💨 ...
Keesokan paginya, cuaca begitu berpihak pada Austin. Hujan yang sangat deras mengguyur kota Jakarta.
Austin menatap Sasha yang saat itu sedang terlelap di dalam dekapannya. Gadis yang tak berbusana itu, kepalanya berbantalkan lengan kekar Austin. Pipinya yang mulus membuat Austin tak tahan untuk tak menyentuhnya. Dengan lembut, Austin mengusap pelan pipi Sasha.
“Maaf ya, malam tadi aku terlalu brutal,” gumam Austin lirih sambil tersenyum.
Sentuhan lembut Austin di pipi Sasha membuat gadis itu sedikit terusik. Tapi itu tak membangunkannya dari lelapnya tidur di pagi itu. Tubuhnya mendapatkan kehangatan yang membuat ia nyaman. Bagaimana tidak? Cuaca yang dingin di dalam ruangan ber-AC. Di tambah lagi tubuhnya ditutupi selimut hangat sekaligus dekapan erat yang Austin berikan padanya.
“Mhh…” leng.uh Sasha dengan mata terpejam sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh Austin. Kemudian ia balas memeluk tubuh itu dengan sangat erat. Tak lupa juga ia menyembunyikan kepalanya ke dada bidang pria itu.
“Ck! Terus saja menggodaku. Jangan salahkan aku jika kamu tak bisa berjalan dengan benar!” ucap Austin sambil tertawa pelan.
Beberapa menit berlalu. Hujan tak kunjung reda. Malah, semakin deras. Begitu juga Sasha. Gadis itu masih lelap di dalam dekapan Austin. Sedangkan Austin? Pria itu sedang menahan gejolak yang sedang meluap-luap ingin dituntaskan. Yah … walaupun tadi malam mereka sudah melakukannya beberapa kali.
Austin memegang dagu Sasha untuk mengangkat wajah Sasha ke atas menghadap ke arahnya. Mata yang terpejam itu memberikan godaan tersendiri buat Austin.
“Menatapmu saja sukses membuat hatiku ingin meledak,” lirih Austin pelan.
Sesaat kemudian, ia mendaratkan bibirnya ke bibir Sasha untuk melahap bibir ranum gadis itu dengan penuh gairah. Tak hanya melahap bibir gadis yang sedang terlelap itu, Austin bahkan mere.mas da-da Sasha dengan penuh bersemangat.
“Mhh…” Sasha terjaga. Gadis itu membuka matanya dengan ekspresi terkejut.
“Kamu sudah bangun?” bisik Austin pelan sesaat setelah ia melepaskan bibirnya dari bibir gadis itu. Namun tangannya masih bergerak dengan bersemangat tanpa henti di dada gadis itu.
“Kak … ini masih pagi,” lirih Sasha pelan dengan suaranya yang serak.
Austin mendekatkan bibirnya ke telinga Sasha. Kemudian ia berbisik dengan suaranya yang berat. “Karena masih pagi … olahraga itu sangat penting.”
“Tapi, Kak. Ini tuh olahraga kasur,” rengek Sasha sambil memelas dan memegang tangan Austin. Ia berniat menghentikan gerakan tangan pria itu yang sejak tadi sibuk memainkan dadanya.
“It’s okay. Olahraga apapun itu, ya tetap olahraga,” bisik Austin ke telinga Sasha.
***
“Nggak usah bawa helm,” ucap Austin saat melihat Sasha mengambil helm full face-nya.
“Ntar kena tilang dong, Kak?” ucap Sasha sambil mengkerutkan dahinya.
“Hari ini kita naik mobil,” ucap Austin sambil berjalan menuju pintu keluar apartemen.
Sasha hanya manut dan mengikuti ucapan pria itu. Sepertinya kini Austin sadar, sulit bagi gadis itu naik motor setelah semalaman bercinta tanpa henti. Apalagi, pagi tadi mereka masih melanjutkan olahraga panas itu beberapa ronde.
Kini, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Sasha berniat ingin menjenguk ayahnya. Sudah beberapa hari ini ia tak ke sana.
“Kak …” Sasha menoleh ke kanan. Saat itu Austin sedang fokus menatap jalanan yang begitu padat oleh pengendara.
“Kakak suka motor?” tanya Sasha tiba-tiba.
Austin mengerutkan dahinya saat mendengarkan gadis itu bertanya. Sudah jelas jawabannya iya. Kenapa ia masih bertanya hal tersebut. “Memangnya kenapa?”
“Orang-orang kemaren … pasti salah satu dari orang yang menyebabkan ayah koma, ‘kan?”
Austin mendadak terdiam saat Sasha menanyakan hal tersebut. Benar. Tapi, apa ia harus mengatakan semuanya kepada Sasha?
“Tenanglah. Aku akan memastikan kejadian kemaren tak akan terulang lagi,” ucap Austin dingin dengan sorot mata yang menatap lurus ke depan. “Lagi pula, aku ini ketua geng motor. Tak ada yang berani menyentuhku.”
Sasha menarik nafasnya dengan perlahan, kemudian ia menghembuskan juga nafasnya dengan perlahan. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal yang menurutnya akan berpengaruh dengan masa depannya kelak. Dengan perasaan gugup, kedua tangan Sasha saling menggenggam dengan erat.
“Awalnya … aku siap jadi pacar, Kak Austin. Tapi … setelah aku fikir-fikir lagi, aku nggak siap jadi pacar dari seorang ketua geng motor. Jadi … maaf, aku nggak bisa jadi pacar, Kak Austin.”
Austin langsung menepikan mobilnya. Kemudian ia menoleh ke kiri sambil memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Sasha.
“Sha … kamu nggak ngerti alasan kenapa aku ada di geng motor,” ucap Austin dengan sorot mata yang melekat ke arah Sasha.
“Nggak ngerti gimana? Geng motor itu ‘kan selalu rusuh dan berbuat onar? Aku nggak suka sesuatu yang semacam itu, Kak!”
“Tapi Maddog nggak kayak gitu! Yang rusuh itu Black Wolf!” jelas Austin meyakinkan Sasha. “Coba deh, kamu kenal dengan semua anggota Maddog, kamu bakalan ngerasain kekeluargaan yang ada di sana.”
“Nggak! Pokoknya aku tetap nggak suka! Mau baik atau nggak, tetap aja aku nggak suka! Gara-gara geng motor nggak jelas itu Ayah jadi koma sampai sekarang!”
...💨💨💨...
BERSAMBUNG…
tp sejauh q membaca ceritamu semua bagus-bagus 👍😀
lanjutin dong novel2 nya,
semoga segera di lanjut, karena sudah mampir nech