Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 30
Rissa terbangun saat mendengar bel rumahnya di bunyikan berulangkali. Terdengar tidak sabar. Jelas Rissa menggerutu kesal karena merasa di kagetkan di tengah malam seperti ini.
Setelah memastikan penampilannya cukup rapi dengan baju tidur panjang dan juga jilbab yang di kenakan, Rissa segera turun untuk membuka pintu sambil menggerutu.
"Siapa, sih, malam-malam begini mencet bel nggak sabaran banget? Loh, ayah?" Ucapnya terkejut saat pintu terbuka, sang ayah mertua sedang berdiri di hadapannya.
Tanpa Rissa siap, sang ayah sudah memeluk tubuhnya erat sambil terisak dan memanggil nama Raka.
Perasaan Rissa tak enak. Dia baru ingat bahwa seharusnya saat ini Raka sudah sampai rumah.
Apa yang terjadi?
"Ayah, ada apa?" Tanya Rissa dengan suara bergetar. Dia tidak sanggup kalau harus mendengar sesuatu yang saat ini sedang menjadi kekhawatirannya.
"Yang sabar, ya, Nduk."
Ucapan sang ayah semakin membuat jantung Rissa berdegup kencang. "Ada apa, Yah? Katakan pada Rissa."
"Kita ke rumah sakit sekarang." Rissa masih tak mengerti sampai ayah mertuanya sudah menarik tangannya pelan untuk keluar rumah dan mengunci pintu rumah.
"Siapa yang sakit, Yah? Ibu? Ibu baik-baik aja kan, Yah? Jangan buat Rissa khawatir."
Berbagai pertanyaan yang Rissa lontarkan tak mendapatkan jawaban apapun dari ayahnya.
Rissa hanya bisa menurut saat Dwi membukakan pintu mobil dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat, ya, Nduk."
Takut. Rissa semakin takut. Ketidakpastian dari Dwi tentang apa yang terjadi membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Rissa berusaha untuk tetap berpikir positif. Namun rasanya tetap sulit karena melihat wajah kacau ayah mertuanya dan juga ucapan-ucapannya yang membuat Rissa semakin takut.
Ada apa?
Siapa yang sakit?
Kenapa harus bersabar?
Nyatanya, pertanyaan itu hanya mampu dia ucapkan dalam hati. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkannya.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Sesekali Dwi mengelus bahu anak menantu yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Terlebih lagi saat ini menantunya sedang mengandung cucunya, darah dagingnya dari sang anak.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Dwi langsung mengajak Rissa untuk turun.
"Pelan-pelan saja jalannya, Nduk."
Padahal, dalam hatinya Rissa ingin mengajak Dwi berlari menuju ke tempat tujuan agar dia bisa cepat mengetahui apa yang telah terjadi.
Rissa seperti orang bodoh. Dia tidak tahu apa-apa namun hati dan pikirannya terasa di aduk-aduk oleh rasa khawatir dan rasa penasaran yang begitu tinggi.
Hingga saat tiba di depan sebuah ruangan, kaki Rissa tak dapat lagi bergerak.
Matanya menatap tulisan di atas pintu dengan nanar.
Kamar jenazah.
Di luar ruangan, ada ibu mertuanya dan kakak iparnya yang tengah menangis sembari menenangkan sang ibu. Ada kedua orangtuanya dan juga adik perempuannya yang juga tengah menangis.
"Papa, Mama?"
Mendengar suara sang anak yang sejak satu jam yang lalu sudah dinantikan kedatangannya, Rahardi dan Kurnia menoleh dan segera berlari menghampiri Rissa.
Tangisan Kurnia pecah di pelukan sang anak. Sedangkan Rissa masih dengan rasa bingungnya hanya bisa bertanya, "ada apa?"
"Kamu yang sabar ya, Nduk. Kamu dan anakmu harus kuat. Kita jaga bareng-bareng anak kamu," ucap Kurnia di sela isakannya.
"Rissa nggak ngerti, Ma, Pa. Ini ada apa?" Rissa melepas pelukan Kurnia dan beralih mendekati ibu mertua dan kakak iparnya.
"Ibu, mbak Tya, ini ada apa?" Rissa berjongkok di depan ibu mertuanya yang terduduk lemas. Tak ada jawaban dari keduanya. Hanya tangisan yang semakin pilu yang Rissa dengar.
"Kita masuk ke dalam, ya." Rahardi memapah sang putri untuk masuk ke dalam ruang jenazah.
"Kenapa harus masuk, Pa?"
Sejujurnya, Rissa takut. Dia baru sadar bahwa tidak ada Raka disini.
Raka?
Jantungnya berdebar mengingat nama sang suami.
Tiba-tiba saja, Rissa sudah berada di dekat ranjang yang diatasnya ada seseorang yang terbaring dan kain putih menutupi seluruh bagian tubuhnya.
"Siapa, Pa?" Suaranya tercekat. Tak siap mendengar jawaban selanjutnya.
"Kamu boleh buka, sayang. Tapi janji kamu harus kuat."
Tangan Rissa yang terulur menuju ujung kain tersebut terlihat bergetar. Dalam hati dia terus berdoa agar apa yang akan dia lihat tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
Namun saat Rissa berhasil membuka kain tersebut dan menunjukkan siapa yang berada di baliknya, dunia Rissa terasa runtuh saat itu juga.
Lututnya terasa seperti tak bertulang. Kalau saja Rahardi tak siap menahan tubuh Rissa, sudah pasti Rissa akan terduduk di lantai rumah sakit yang terasa begitu dingin.
"Ini pasti becanda kan, Pa? Ayolah, jangan seperti ini. Ini nggak pantas buat candaan," racau Rissa sambil tersenyum.
"Raka!!" Teriaknya keras. "Raka, bangun. Jangan becanda kayak gini. Ini nggak lucu." Setelahnya Rissa tertawa kecil.
Rissa menggoncangkan tubuh yang sudah terbujur kaku tersebut. Berharap akan membuka mata, tersenyum padanya dan memeluknya erat.
"Raka, bangun!" Air matanya mulai berjatuhan. "Raka aku udah maafin kamu. Aku udah nungguin kamu pulang, ayo pulang. Rumah kita bukan disini, Raka. Bangun, ayo pulang."
Kemudian Rissa memegang tangan Rahardi. "Papa bangunin Raka, dong. Kita pulang, ngapain kita disini?"
Rahardi tak kuasa menahan air matanya melihat betapa kacaunya putri sulungnya itu. Dia memeluk erat tubuh Rissa dan membisikkan kata-kata untuk menguatkan Rissa. "Yang sabar, Nduk. Semua sudah takdir Allah."
"Maksud papa apa?" Kedua tangan Rissa mendorong tubuh Rahardi untuk melepaskan pelukannya. "Raka itu cuma becanda, Papa. Papa tahu, kan, dia orangnya suka becanda. Tapi kali ini dia keterlaluan. Ini nggak lucu."
"Raka bangun. Kita pulang sekarang. Raka!!!"
Rissa terduduk lemas dengan Rahardi yang memeluknya erat. "Ini cuma mimpi kan, Pa? Tadi Raka bilang sama aku, dia minta aku buat nungguin dia. Aku cuma ketiduran, Pa, tapi kenapa dia malah kayak gini?"
Tidak ada yang dapat Rahardi ucapkan selain kata sabar dan ikhlas untuk Rissa. Meyakinkan bahwa ini semua sudah menjadi takdir Allah.
Rahardi membiarkan Rissa berada di dekat jasad Raka. Bahkan Rahardi memberinya tempat duduk agar Rissa tak lagi jatuh ke lantai.
"Kamu jahat, Raka. Padahal aku sudah maafin kamu. Aku minta maaf udah nggak percaya sama kamu. Tapi jangan hukum aku seperti ini," ucap Rissa diiringi air mata yang mengalir deras. Tangannya mengelus tangan Raka yang terasa dingin.
"Kamu akan jadi papa, Raka. Kenapa kamu tinggalin kami? Kami butuh kamu, Raka. Anak kita butuh kamu untuk menemaninya hingga dewasa kelak. Bangun, Raka! Tolong jangan hukum aku seperti ini."
Siapapun yang mendengarnya, pasti akan ikut merasa sakit hatinya.
Siapa yang ingin ditinggalkan oleh orang yang disayangi?
Tapi semua pasti akan mengalaminya. Siap ataupun tidak, pasti akan tiba masanya.
Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Entah olah jarak, waktu, keadaan, ataupun kematian.
"Sudah ya, Nduk. Biar jenazah Raka di bersihkan dan bisa kitaT bawa pulang Raka." Rahardi mengelus bahu Rissa penuh sayang.
"Rissa masih mau disini, Pa."
"Tapi jenazahnya harus segera di sempurnakan, sayang. Kasian Raka kalau terlalu lama."
Rissa menguatkan hati untuk menerima kenyataan pahit ini. Meskipun saat ini yang ada dihadapannya adalan jasad suaminya, namun dalam hati kecilnya dia tetap berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Rissa mengusap air matanya. Rissa menatap lamat-lamat wajah yang kini tertidur dengan damai. Wajah yang terlihat tenang dan tanpa beban.
Dengan hati-hati dia dekatkan bibirnya untuk mencium kening Raka. Lama Rissa menempelkan bibirnya disana.
Setelahnya, Rissa mengecup kedua pipi Raka yang terasa sangat dingin. Dan yang terakhir, Rissa mendaratkan ciumannya di bibir Raka. "I love you, Raka," ucapnya sebelum akhirnya Rissa benar-benar kehilangan kesadarannya.
***
Saat Rissa membuka mata, yang dia harapkan hanyalah Raka berada di dekatnya. Mendekapnya dengan penuh kehangatan dan senyuman.
Rissa rindu akan kejahilan Raka saat mereka sedang bersama. Dia rindu akan tawa Raka yang selalu terdengar saat Raka berhasil membuat Rissa merasa jengkel karena ulahnya.
Sekilas bayangan saat keduanya tengah menghabiskan waktu didalam kamar terlintas di benak Rissa.
Di kamar mereka sering menghabiskan waktu untuk bersama walau hanya sekedar menonton TV atau saat Raka menemani Rissa begadang untuk melihat drama Korea.
"Masih ganteng suami kamu, Sa. Udahan nonton drakornya."
"Rissa... Aku kok, malas mandi, ya? Mandiin aku, dong."
"Sayang... Hari ini aku mau pakai baju yang warnanya sama kayak kamu."
"Sa... Sisirin rambut aku, dong."
"Rissa... Aku berangkat kerja dulu. Cari nafkah buat Bu dokter cantik."
Dalam doanya setelah sholat subuh, Rissa masih berdoa dan berharap bahwa apa yang dia alami saat ini hanyalah mimpi. Rissa masih meyakini bahwa Raka masih hidup dan akan segera pulang kerumah.
Matanya memandang sajadah dengan tatapan kosong. Dia rindu Raka menjadi imam sholatnya. Dia rindu tawa Raka. Dia ingin mendengar suara Raka. Dia ingin Raka datang dan memeluknya.
Tapi saat dia turun ke lantai satu dan menyaksikan bahwa orang yang paling dia harapkan saat ini untuk ada di dekatnya sudah terbaring di tengah-tengah keluarga dan kerabat yang sedang membacakan Yasin dan tahlil, dia sadar bahwa ini semua adalah nyata.
Kenyataannya, Raka sudah tiada.
Sekilas dia dengar dari keterangan polisi bahwa Raka mengalami kecelakaan saat baru saja keluar dari gerbang tol.
Mobilnya menghantam truk yang sedang terparkir di pinggir jalan. Dugaan sementara karena Raka sedang mengantuk dan tidak konsentrasi dalam menyetir.
Rissa duduk di samping jasad sang suami. Tak dia pedulikan orang-orang yang mendekatinya dan mengatakan agar dia bersabar dan ikhlas.
Semua proses penyempurnaan jenazah Raka, Rissa ikuti dengan baik. Dari menyolatkan hingga mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir suaminya.
Air matanya berjatuhan seiring dengan tubuh Raka yang di masukkan ke liang lahat dan perlahan tanah basah itu menutupi tubuh Raka.
"Raka!!!" Teriaknya pilu sebelum akhirnya dia kembali kehilangan kesadarannya.
❤️❤️❤️
Sudah, ya. author mau bobok dulu 😴😴
kalau mau ngroyok di undur besok aja. 😌
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.