Di suatu malam yang kelam, pria bernama Fierce De Lance Tanson mendapati dosennya diperkosa. Wanita muda itu meringkuk sambil menangis, sementara pelaku telah kabur.
Karena perasaan cinta yang sudah cukup lama terpendam, Fierce membawa sang dosen ke rumah sakit dan berjanji akan bertanggung jawab.
Akan tetapi niat baik tak selalu membuahkan hasil. Tawaran Fierce ditolak mentah-mentah oleh wanita bernama Yuna, karena merasa tak pantas bersanding dengan muridnya itu. Terlebih Fierce masih sangat muda, masa depannya masih sangat panjang.
Namun, siapa sangka? Yuna harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya dinyatakan hamil. Hingga akhirnya dia bersedia menerima lamaran Fierce.
Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Akankah berjalan mulus, sementara di hati Yuna hanya ada perasaan bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika identitas si bayi terkuak?
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Baby Blues Syndrome
Yuna berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang bersarang di otaknya. Namun, selalu ada kecemasan yang berlebih ketika mengingat status Junior. Sumpah demi apapun, dia sangat takut.
Meskipun Fierce berulang kali meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah. Namun, apa yang akan terjadi ketika keluarga Fierce tahu, bahwa sebenarnya dia pernah diperkosaa.
Hari-hari yang Yuna lewati terasa begitu berat. Karena memori kelam itu terus berkelebat. Dia seperti dihantui rasa bersalah yang menggunung, karena sudah membohongi semua orang. Hingga dia kerap menangis secara diam-diam.
Seperti malam ini, Junior terbangun dari tidurnya, dan dia terus menangis meski Yuna sudah memberikannya susu. Sementara Fierce belum pulang dari perusahaan, karena dia memiliki banyak pekerjaan.
"Berhentilah menangis, Nak, sebenarnya kamu mau apa?" Yuna mengajak Junior bicara sambil menimang-nimang bayi tampan itu.
Akan tetapi Junior tetap tak mau diam. Dia menolak apapun yang dilakukan Yuna terhadapnya, hingga membuat emosi Yuna terpancing.
"Mamah sudah lelah, Junior! Jangan membuat Mamah pusing," ujar Yuna dengan sedikit berteriak. Dan hal tersebut tentu membuat Junior semakin menangis kencang hingga wajahnya memerah.
Melihat itu Yuna pun langsung panik, dia memeluk putranya dan kembali berusaha menenangkan Junior.
"Mamah tidak memarahimu, Sayang. Mamah hanya ingin membuat kamu diam, maafkan Mamah ya ...." Seakan frustasi, Yuna malah ikut menangis.
Bahkan ada kecemasan luar biasa di dadanya. Sebuah perubahan psikologis yang juga dialami beberapa ibu di luar sana. Sesuatu yang sering kita sebut sebagai baby blues syndrome.
Di mana baby blues syndrome ini adalah perasaan sedih yang dialami banyak wanita di masa-masa awal setelah melahirkan.
Akhirnya Yuna membaringkan tubuh putranya di ranjang. Dia menatap dalam diam, dan yang terbesit dalam otaknya sekarang adalah wajah Adam.
Yuna menggeleng pelan dengan air mata yang terus bercucuran. "Tidak, Junior hanya anak Mamah. Junior hanya anak Mamah!"
Bukannya mendekat Yuna malah semakin mundur sambil memegangi kepalanya. Tanpa sadar dia menghindari Junior dan memilih untuk menangis di sudut ruangan.
"Diamlah, Junior! Jangan menyiksa aku terus menerus," teriak Yuna lagi, seketika suara tangis itu bersahut-sahutan, membuat penghuni mansion yang lain ikut terbangun.
Zoya memutuskan untuk memeriksa keadaan Yuna dan cucunya. Namun, saat dia sudah ada di tengah tangga. Dia melihat Fierce yang baru saja tiba.
Pemuda itu langsung berlari ke kamar dan membuat Zoya urung untuk turun ke bawah. Hingga saat Fierce membuka pintu, dia langsung disuguhi pemandangan yang menyedihkan, Yuna tak berhenti menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Sementara Junior menangis di atas ranjang. Entah apa yang sudah terjadi, dan yang pasti malam ini adalah situasi paling parah setelah kelahiran anak mereka.
Dengan tergesa Fierce langsung meraih tubuh mungil Junior, hingga perlahan-lahan bayi tampan itu berhenti mengeluarkan suara. Dia seperti menemukan kenyamanannya, yaitu di gendongan sang ayah.
"Junior ingin tidur dengan Papah ya? Makanya menangis?" Fierce mencoba mengajak anaknya bicara, tetapi Junior hanya menggeliat.
Menyadari itu Fierce tersenyum tipis. Lalu detik berikutnya dia mendekati Yuna yang masih terisak-isak. Sedari tadi Yuna terus menyembunyikan wajahnya, dengan perasaan sedih dan gundah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fierce sambil berjongkok, dia mengelus kepala Yuna dengan lembut membuat wanita itu tertegun.
"Maaf ya, aku terlambat pulang, kamu pasti kewalahan menjaga Junior," sambung Fierce, padahal dia sudah memberikan penawaran pada Yuna agar menyewa baby sitter, tetapi wanita itu menolak, karena yakin bisa mengurus Junior dengan tangannya.
Namun, karena melihat kejadian ini, Fierce memutuskan akan mencari pengasuh untuk putranya. Karena meskipun ada banyak orang di rumah ini, mereka tetap memiliki kesibukan masing-masing.
Dan dia juga tidak bisa mengandalkan sang ibu yang sudah masuk usia senja.
"Sekarang aku sudah di sini, jadi angkat wajahmu dan katakan apa yang terjadi." Fierce berusaha untuk membujuk Yuna, agar menceritakan apa yang dialami wanita itu.
Hingga akhirnya Yuna pun mau menurut, dia mengangkat kepala dengan wajah yang basah oleh air mata. "Junior terus menangis, Fierce. Dia tidak mau bersamaku, dia terus menolakku." Ujar Yuna dengan bibir yang bergetar.
"Bukan begitu, Sayang. Dia hanya sedang manja, jadi kamu tidak perlu sesedih itu. Aku minta maaf karena harus lembur secara mendadak. Lain kali, aku akan mengerjakan pekerjaan di rumah saja, supaya bisa menemani kamu," balas Fierce, di saat-saat seperti ini hanya dukungan dari orang-orang terdekatlah yang Yuna butuhkan.
"Besok aku antar kamu menemui dokter Erika ya. Kita lakukan konsultasi dengannya," sambung Fierce, karena menurut beberapa informasi dari media baca, Fierce jadi tahu kalau sang istri sedang mengalami baby blues syndrome.
Yuna mengangguk pelan, lalu dia bangkit dengan bantuan Fierce. Tanpa segan Yuna langsung memeluk tubuh suaminya, dan dalam dekapan pria ini dia selalu merasakan kenyamanan yang utuh.
"Jangan khawatirkan apapun lagi. Tanamkan dalam dirimu, bahwa kamu bisa menjadi Ibu yang baik untuk Junior," kata Fierce lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan begitu dalam.