Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
❤ Adakalanya seorang wanita hanya diam ketika hatinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tidak ingin diganggu, tidak ingin bercerita dan tidak ingin membahas sebab sakit hatinya. Bukan karena egois, Ia hanya sedang ingin menepi dari gemuruh dalam hati yang membuat dadanya sesak. Ia hanya sedang ingin sendiri menyembuhkan lukanya sendiri.❤
Reyfan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, beberapa kali bahkan Ia sengaja membiarkan kendaraan lain mendahului. Ia sedang ingin bersantai, setelah kejadian tak terduga yang baru saja Ia saksikan.
Bukan keributan didalam restorant yang Ia pikirkan, tapi kejadian mengharukan beberapa saat yang lalu. Saat Aneesha tidak menolak pelukan Reza, bahkan memanggil Reza dengan sebutan Papa. Gadis itu tetap tanpa ekspresi, tidak ada airmata yang menetes di wajah cantiknya. Tapi justru itu yang membuat Reyfan penasaran. Mungkinkah Aneesha telah memaafkan Reza?
“Mau kuantar kemana?” tanya Reyfan setelah sekian menit Ia menyetir dalam diam, hanya keheningan menemani perjalannya. Dia tidak sendirian dalam mobil yang sedang melaju itu, tapi terasa sangat sunyi. Karena gadis disebelahnya duduk diam tanpa mengatakan apapun sejak masuk ke dalam mobil tadi.
“Nggak tau.” Aneesha menjawab singkat, pandangannya lurus kedepan, memandang jalanan yang ramai.
“Koq nggak tau?” Reyfan menatap Aneesha sekilas. Gadis itu memalingkan wajah, menatap keluar jendela.
“Emang Aku nggak tau.” jawab Aneesha lagi.
“Kalau Kamu nggak tau, kenapa tadi nggak ikut pulang saja sama Pak Salim?” Reyfan menatap Aneesha yang masih memalingkan wajah. Ia melepaskan tangan dari stir dan mulai mengacak rambutnya kesal.
Aneesha bergeming. Sepertinya memandangi deretan kendaraan yang sedang berhenti, lebih menarik dari pada menanggapi perkataan pria disampingnya. Mereka sedang berhenti karena lampu rambu lalu lintas berwarna merah.
“Kalo mau kesel, kesel aja! Luapin semua kekesalanmu, jangan ditahan gitu. Bikin yang liat ikut kesel.” Ucap Reyfan, kini Ia mulai menjalankan kembali mobilnya. Mengikuti kendaraan didepannya yang juga sedang melaju pelan.
“Brisik!” Ketus Aneesha.
“Ck, nyesel Aku menawarkan diri mau nganter Kamu.” Gerutunya kesal. Sambil menghela nafas.
“Jadi gini cewek kalau lagi ngambek?” Gerutunya lagi, seolah sedang bicara sendiri, karena gadis disampingnya tetap istiqomah dalam diam, enggan menanggapi.
“Aku nggak ngambek. Kalau Kamu nyesel, Kamu bisa turunin Aku sekarang juga. Aku juga bisa pulang sendiri.” Akhirnya hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Aneesha.
Reyfan menatap Aneesha sekilas, gadis itu sedang menyorotnya tajam. “Jangan aneh-aneh, ini dah malam.”
“Berhenti!” Pekik Aneesha.
“Sha, ini dah malam Kamu mau apa?” reyfan mulai panik.
“Berhenti nggak?” Aneesha kembali menyorot Reyfan tajam.
Reyfan mulai memelankan laju mobilnya, dan berhenti di bahu jalan yang tidak terlalu ramai.
“Nggak usah sok kuat. Pengen nangis, nangis aja. Pengen marah, marah aja. Kalau masih kurang mukul orangnya, tuh! Ada pohon diluar kalau mau buat pelampiasan.” Reyfan melepas seatbealt kemudian memiringkan badan, agar bisa berhadapan dengan Aneesha.
“Brisik banget, sih, Kak.” Aneesha sibuk mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Ia juga melepas seatbealt, tangannya bergerak ingin membuka pintu tapi tidak bisa karena terkunsi otomatis.
“Mau apa Kamu?” tanya Reyfan.
“Brisik banget, sih. Bukain!”
“Gak!”
“Buka, Kak!”
“Gak, Neesha! Selama Kamu bersamaku, tidak akan kubiarkan Kamu berbuat yang aneh-aneh.” Reyfan menekankan setiap kata-katanya.
“Siapa yang mau aneh-aneh, Kak?”
“Lah, itu ngapain mau keluar?”
“Aku mau telpon, males kalau Kamu denger.” Aneesha menunjukkan layar ponselnya yang sudah dalam keadaan mencari nomer kontak.
“Disini aja! Aku juga nggak akan denger, kecuali kamu loudspeker,” Reyfan mengambil sesuatu dari dasboard.
Aneesha mencebikkan bibirnya, namun kemudian mulai mendial nomer seseorang. Reyfan melirik gadis disampingnya itu sekilas, kemudian membuka pintu mobil. Saat itu sambungan telepon Aneesha terhubung, karena Ia mendengar gadis itu mengucapkan salam.
“Kak Taraaa…..” Reyfan yang telah menurunkan kakinya hendak keluar dari mobil, menjadi sejenak urung. Tapi kemudian ia keluar dari mobil dan menutup pintu mobil, lalu bersandar disana. Reyfan mengeluarkan sebatang rokok dari kotak yang Ia ambil dari dashboard tadi, kemudian menyalakannya.
Asap terkepul saat Reyfan menghisap lalu menghembuskan rokok yang terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya. Pria dengan rambut mandarin itu menikmati isapan demi isapan rokok sambil sesekali melirik ke dalam mobil. Memeriksa gadis yang sedang menikmati pembicaraan di telepon dengan orang yang sangat Ia kenal.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, Reyfan kembali mengambil sebatang lagi lalu menyalakannya. Menikmati kembali sensasi asap dari tembakau yang terbakar kemudian masuk ke dalam paru-paru lalu dikeluarkan kembali. Sambil menatap pantulan wajah gadis di dalam mobil dari kaca spion, Ia menikmati rokoknya. Setelah menghabiskan batang kedua, Reyfan kembali masuk kedalam mobil. Aneesha sudah mengakhiri percakapan di telepon sejak beberapa menit yang lalu.
“Udah?” pertanyaan Reyfan hanya mendapat anggukan dari Aneesha.
“Nih!” Reyfan menyodorkan kotak berisi tissu kepada Aneesha. Yang menerimanya dengan heran.
“Apa-an?”
Reyfan menarik dagu Aneesha dengan tangan kiri dan mengarahkan wajah Aneesha agar menghadapnya. Sedang tangan kanannya digunakan untuk menghidupkan lampu dalam mobil agar dirinya bisa melihat dengan jelas wajah Aneesha.
“Kirain nangis.” ucap Reyfan datar setelah tidak mendapatkan airmata di wajah Aneesha, bahkan bekasnya pun tidak ada. Gadis itu tidak terlihat sedih malah bola matanya terlihat berbinar.
“Aku nggak secengeng itu kali!” Aneesha menepis tangan Reyfan yang sembarangan memegang wajahnya.
Reyfan tersenyum sinis, kemudian memasang seatbealtnya, “Pulang? Atau kemana?”
“Makan bakso.” jawab Aneesha singkat sambil memakai seatbealt juga.
"Mau makan bakso apa? dimana?" tanya Reyfan.
"Bakso kerikil campur semen kalo ada." menjawab Asal.
“Tara akan menjemputmu?” tanya Reyfan sambil memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil. Tidak menghiraukan perkataan Aneesha sebelumnya
“Nggak. Kak Tara lagi di Jogja.”
“Lalu kenapa tadi kamu menelponnya?” merasa heran dengan yang dilakukan Aneesha.
“Nggak pa-pa, pengen denger suaranya aja.”jawab Aneesha sambil tersenyum.
“Gila, suara Tara bisa merubah sikapmu? Punya kekuatan apa Dia?” Reyfan mulai menjalankan mobilnya, pelan-pelan menyatu dengan kendaraan lain yang saling beradu kecepatan di jalan raya.
“Udah diem! Jalan aja, temani Aku makan bakso! Atau kuaduin ke Papa” kata Aneesha sambil menepuk lengan Reyfan.
“Aku turunin Kamu disini Pak Reza juga nggak bakal tahu.”
“Eh, Kakak nggak denger tadi Papa bilang apa?”
“Rey, antar Aneesha kemana saja Dia mau! Dan pastikan Dia sampai rumah dengan selamat. Itu perintahnya, lupa?” Aneesha merasa punya kekuatan untuk mengerjai anak angkat Papanya itu.
“Sial!”
Dengan sedikit terpaksa Reyfan menuruti permintaan Aneesha, gadis itu mulai berisik mengoceh menunjukkan jalan yang harus dilewati Reyfan. Sesekali Ia memarahi Reyfan, karena sengaja melewatkan belokan yang ditunjuknya.
“Lulusan luar negri koq ikutin petunjuk arah aja nggak bisa.” Gerutu Aneesha saat Reyfan telah memarkirkan mobilnya didepan ebuah warung mieayam bakso yang terletak diantara deretan ruko.
“Aku disana sekolah bukan belajar ngikutin penunjuk arah yang cara nunjukinnya kacau.” membela diri sambil melepas jas kemudian melemparkannya asal ke kursi belakang.
Aneesha mencebikkan bibir sambil melepas seatbealt lalu membuka pintu,“Ck, alesan.”
“Kakak mau ngapain, sih?” Aneesha urung keluar dari mobil ketika melihat Reyfan melepas dasi dan mengacak rambutnya.
“Katanya mau makan bakso, gimana sih?” Reyfan menatap pantulan wajahnya dari kaca spion dalam, memastikan penampilannya sesuai yang Ia inginkan.
“Iya, Aku tau. Maksudku kenapa lepas jas, dan kenapa rambutnya pake diacak-acak gitu?” Aneesha berbicara dengan nada tinggi.
“Kita mau makan disana, kan? Kalau aku pake jas dan penampilan rapi gini, bisa jadi pusat perhatian nanti.” Reyfan membuka dua kancing kemejanya bagian atas, kemudian keluar dari mobil. Diikuti Aneesha yang juga keluar dari mobil.
Aneesha berjalan mendahului Reyfan masuk kedalam warung bakso. Seperti biasa Ia langsung memesan saat melewati penjual yang sedang sibuk meracik pesanan.
“Kakak mau makan apa?” tanya Aneesha pada Reyfan yang berdiri disampingnya sambil melipat lengan kemeja.
“Bakso aja, nggak pake mie, nggak pake tahu, nggak pake micin, garamnya dikit, kuahnya dikit tapi nggak dikit banget,” jawab Reyfan sedikit keras takut penjual tidak dengar karena suara musik yang diputar di warung bakso ini sedikit keras.
“Ck, Ribet banget pesennya.” gumam Aneesha. Reyfan sudah melangkah menuju ke kursi kosong.
“Bang Ali, dengar apa pesannya tadi?” Aneesha bertanya pada penjual sudah sangat akrab dengannya itu.
“Denger, dong, Sha. Bakso tanpa mie, tanpa tahu, tanpa micin, garam dikit, kuahnya sedengan. Gitu kan?” jawab Bang Ali tanpa melihat Aneesha, karena sedang fokus memasukkan mie kedalam panci rebus.
“Cocok, Bang Ali memang pinter. Aku biasa ya, Bang. Mie ayam bakso.”
“Beres, Sha. Berdua lagi nih?” canda Bang Ali masih tetap fokus pada kesibukannya.
“Iya Bang. Mau bawa rombongan takut warung ini nggak muat, bisa-bisa Bang Ali nggak jualan seminggu nanti.”
“Bisa aja Kamu, Sha.” Bang Ali tetap melanjutkan aktivitasnya sedangkan Aneesha sudah duduk di depan Reyfan.
“Permisi, Mbak Aneesha mau minum apa?” seorang pria yang merupakan karyawan warung datang dan membereskan beberapa mangkok kosong bekas pembeli yang masih tergeletak didepan Aneesha.
“Es jeruk ya, Mas. Kakak minum apa?”
“Es kopi ada?” karyawan warung tadi mengangguk kemudian pergi setelah mengelap meja agar pembeli merasa bersih dan nyaman.
Reyfan mengeluarkan kotak rokok dari saku celananya, mengambilnya sebatang lalu menyalakannya. Sedangkan Aneesha sudah sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang Ia lihat pada benda pipih itu. Tak butuh waktu lama, dua gelas minuman pesanan mereka sudah diantar ke meja.
“Mas, minta tambahan es batu, bisa?” tanya Reyfan kepada karyawan warung yang mengantar minumannya.
“Bisa, Mas. Sebentar ya.” karyawan tadi segera pergi, dan kembali dengan sebuah gelas berisi penuh esbatu.
“Makasih, ya, Mas.” ucap Reyfan, Ia kemudian meletakkan rokok yang tersisa setengah batang ke asbak yang memang disediakan oleh pemilik warung.
Reyfan menarik tangan kanan Aneesha yang sedang memegang ponsel, kemudian mengambil ponsel dan meletakkannya dimeja. Aneesha yang terkejut hendak menarik tangannya, tapi pegangan Reyfan di pergelangan tangannya terlalu erat.
“Kalau nggak diobatin, besok bisa bengkak. Kamu mau bilang apa sama om Fares dan tante Riani kalau besok tanganmu nggak bisa digerakkan karena bengkak?” Reyfan mengoleskan esbatu ke buku-buku jari Aneesha yang merah karena memukul Varen tadi.
“Gampang, tinggal bilang aja mukul orang.” jawab Aneesha ketus sambil menahan dinginnya esbatu yang menempel di tangannya.
“Heemm….. Terus habis itu ada perang dunia kelima antara Om Fares sama Pak Reza, kamu bisa menontonnya sambil tepuk tangan. Gitu maumu?” Reyfan masih terus mengoleskan esbatu ke tangan Aneesha, untuk mengurangi memarmya.
“Lho, tanganmu kenapa, Sha?” Bang Ali membelalakkan mata saat mengantar pesanan di meja yang bersebelahan dengan tempat Aneesha duduk.
“Biasa, Bang.” jawab Aneesha singkat.
“Kalau latihan mukul samsak itu tangan dibebat dulu biar nggak cedera.” ucap Bang Ali setelah meletakkan pesanan pelanggannya.
“Dia bukan mukul samsak, Bang. Tapi mukul anak orang.” Reyfan menimpali ucapan Bang Ali.
“owalah, berantem, to? Sama siapa Mas Ta-?” Bang Ali menjeda kalimatnya ketika melihat wajah pria yang sedang mengompres tangan Aneesha dengan esbatu.
“Eh, kirain Mas Tara. Bukan to? Maaf, ya, Mas. Hampir saja Saya salah sebut.” Bang Ali sedikit membungkuk untuk meminta maaf.
“Nggak pa-pa Bang, tenang saja. Sudah biasa orang salah sangka sama Saya.” jawab Reyfan bercanda.
Bang Ali kemudian undur diri, melanjutkan kesibukannya membuatkan pesanan yang sudah mengantri. Reyfan sudah selesai mengompres tangan Aneesha, lalu kembali menikmati rokoknya.
“Kamu suka makan disini, Sha? Sepertinya kalian cukup akrab.” Tanya Reyfan disela hisapan rokoknya.
“He’em, warung ini langganan Kami berempat. Enak, dan cocok untuk nongkrong, murah lagi.”
perbincangan mereka terjeda saat Bang Ali mengantar pesanan mereka. Reyfan mematikan rokok kemudian mengambil sendok dan garpu. Ia juga menuangkan kecap dan sambal ke dalam mangkok baksonya. Tanpa saus, karena dia tidak suka makan bakso pake saus.
“Oh, suka banget kamu sama mieayam bakso?” Tanya Reyfan mulai mengaduk baksonya.
“He’em, makan mie ayam bakso tuh perlu sebuah kebijaksanaan,” jawab Aneesha sambil menggerakkan tangannya yang sedikit terasa kaku.
“Maksudnya?”
“Iya, harus memutuskan, mau makan apanya dulu. Mienya, baksonya, ayamnya, kuahnya atau sawinya dulu. Gitu kak.” Aneesha lupa mengambil sendok dan garpu, karena biasa ada yang mengambilkannya. Sejenak Ia terpaku, lalu mengambil sendok dan garpu, ah.... rupanya Ia sudah rindu dengan perlakuan lembut Tara padanya.
“Ada-ada aja.” Ucap Reyfan.
“Makan bakso juga merupakan tantangan buatku. Apalagi jenis-jenis bakso yang banyak, kan harus milih dulu mau makan bakso yang mana?”
“Bakso tenis, bakso jumbo, bakso cinta, bakso granat, bakso setan, bakso mercon, bakso kerikil, bakso beranak.”
“Emang beneran ada bakso kerikil?”
“Ada, Kak. Di magelang ada, lebaran kemarin Aku beli, baksonya kecil-kecil kayak kerikil dan jumlahnya banyak. Aku hitung ada 30 butir lho.”
“kurang kerjaan banget ngitung jumlah bakso.” Reyfan makin penasaran karena gadis dihadapannya ini terasa tidak ada beban, atas kejadian yang baru saja dialaminya.
“ha ha ha…. yang kasihan itu bakso beranak, akhir-akhir ini ikutan digunjing gara-gara klepon.”
“Emang kenapa, karena banyak anaknya ada yang minta eskrim, ada yang minta disekolahin TK gitu?” Reyfan menirukan guyonan yutuber asal solob yang sering berseliweran di sosmed.
“Bukan itu, Kak. Kasihan Dia dibilang nggak syar’i. Gimana coba, anaknya banyak tapi nggak jelas siapa Bapaknya, ha ha ha’aem.” sebutir bakso masuk ke mulut Aneesha dengan cepat.
“Ngomong terus kapan makannya, Sha?” ucap Reyfan santai sambil mulai memakan baksonya, setelah menyuapkan sebutir bakso pada Aneesha tadi.
Aneesha diam sambil mengunyah bakso yang dengan terpaksa masuk ke mulutnya, kemudian mulai mengaduk mieayam bakso miliknya sendiri. Keduanya makan dalam diam, tidak ada obrolan sampai isi dalam masing-masing mangkok mereka tandas.
Setelah menyelesaikan makannya, Reyfan kembali mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Menurutnya setelah makan itu idealnya harus merokok, biar lebih nikmat.
“Kamu belum pernah liat orang merokok, ya?” tanya Reyfan saat sadar Aneesha sedang menatapnya serius.
Aneesha mengangguk, “Bukan belum pernah, hanya tidak biasa saja.”
“Om Fares tidak merokok? Tara? Teman-temanmu yang lain?” tanya Reyfan seolah tidak percaya jika para pria didekat Aneesha tidak merokok.
“Tidak ada yang merokok. Teman-temanku yang lain ada yang merokok, tapi kebanyakan mereka tidak merokok di depanku.” jawab Aneesha.
"Wah, Aku merasa jadi bad boy disini." ucap Reyfan masih terus menikmati rokoknya.
“Aku bayar dulu.” Aneesha berjalan kearah Bang Ali untuk membayar makanannya.
“lima puluh lima, Sha.” Ucap Bang Ali setelah Aneesha menanyakan jumlah total pesananya.
“Ini, Bang.” Reyfan menepis tangan Aneesha yang akan mengambil uang dari dompet. Ia memberikan selembar uang seratus ribu pada Bang Ali.
“Kembaliannya kasihkan sama Dia Bang.” Reyfan melenggang pergi meninggalkan Bang Ali yang sedang mengambilkan uang kembalian.
“Sombong banget, sih.” gerutu aneesha kesal.
“Siapa, sih?” tanya Bang Ali penasaran, karena dirinya baru melihat Reyfan untuk pertama kalinya.
“Kakakku, Bang.” jawab Aneesha.
“Masa? Nggak mirip” merasa tidak percaya dengan jawaban Aneesha.
“Kakak angkat, Bang..... Dah,ya, Bang” Aneesha kemudian berlalu dari hadapan Bang Ali.
“Oh… makasih, Sha.” teriak Bang Ali, yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Aneesha.
.
.
.
Bersambung........
Nggak ada bawang, takut dihujat lagi aku besok pagi. Ha ha ha....
Terima kasih yang sudah berbaik hati mempromosikan novel ini di akun sosmed kalian, aku terharu....
Terima kasih juga untuk KOMENTAR, LIKE, DAN RATE nya.
Love... kalian semua......
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊