Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
💔
💔
💔
💔
💔
Monica tidak terima kalau kali ini dia harus kalah lagi oleh Livia, dari dulu setiap pria yang disukai Monica selalu saja menolaknya dan justru menyukai Livia.
"Pak Gibran, Livia itu mau rujuk dengan mantan suaminya," seru Monica.
"Iya, Livia akan rujuk denganku."
Semuanya menoleh ke sumber suara, terlihat disana Damar sudah berdiri dengan percaya dirinya sementara Demir sudah masuk ke dalam mobilnya bersama pengasuhnya.
"Livia akan rujuk denganku karena aku tahu Livia masih sangat mencintaiku," seru Damar dengan percaya dirinya.
Livia melepaskan tangan Gibran dan perlahan menghampiri Damar, Livia berdiri di hadapan Damar dengan tatapan tajamnya.
"Kamu salah besar Damar, rasa cintaku sudah sejak lama hilang bersamaan dengan rasa sakit yang sudah kalian berikan kepadaku," seru Livia.
"Tapi Livia aku masih sangat mencintaimu, waktu itu aku khilaf."
"Tidak Damar, kesalahan kamu sangat fatal jangan pernah mengatas namakan khilaf dalam sebuah perselingkuhan karena pada dasarnya tidak ada khilaf dalam perselingkuhan apalagi sampai menghasilkan seorang anak."
"Kamu seharusnya sadar diri Livia, dulu Damar selingkuh sama aku karena kamu tidak bisa memberikan anak untuk Damar dan Damar memilih aku karena aku wanita yang bisa memberikannya anak," seru Monica.
"Diam kamu Monica!" bentak Damar.
Mata Livia mulai memerah menahan tangisannya, tapi Gibran kemudian menggenggam tangan Livia.
"Ayo Livia, kita pergi dari sini kamu tidak usah berurusan dengan para pengkhianat itu," seru Gibran.
Gibran pun membawa Livia pergi bersama dengan Gilsya dan masuk ke dalam mobil Gibran. Livia duduk di kursi depan dengan memangku Gilsya, tiba-tiba saja airmata Livia menetes dan Gilsya langsung menghapusnya.
"Bu Livia jangan menangis," seru Gilsya.
Livia tersenyum dan mengusap wajah Gilsya, Gibran menoleh ke arah Gilsya dan Livia.
"Terima kasih Mas tadi sudah menolong aku, dengan Mas tadi pura-pura bicara seperti itu mudah-mudahan Monica tidak akan mengganggu aku lagi," seru Livia.
Gibran langsung menghentikan laju mobilnya, membuat Livia dan Gilsya menatap ke arah Gibran bersamaan.
"Siapa bilang aku pura-pura, ucapan aku tadi serius."
"Hah..maksud Mas?"
"Aku serius memintamu untuk menjadi Ibu sambung Gilsya, Gilsya sangat menyayangimu begitu pun dengan dirimu yang sangat tulus menyayangi Gilsya aku rasa kamu adalah wanita yang cocok menjadi istri sekaligus Ibu buat Gilsya."
"Tapi Mas---"
"Kebahagiaan Gilsya adalah segalanya buatku, jadi aku akan melakukan segala cara untuk membahagiakan Gilsya."
"Jadi Mas ingin menjadikan aku istri karena Mas ingin membuat Gilsya bahagia? bukannya karena cinta?" seru Livia.
Gibran terdiam, memang untuk saat ini cinta itu belum hadir tapi bagi Gibran untuk saat ini cinta adalah nomor dua yang penting Gilsya bahagia mempunyai Mami yang sayang kepada Gilsya karena dengan seiring berjalannya waktu cinta akan hadir.
"Iya, untuk saat ini hanya kebahagiaan Gilsya yang aku utamakan tapi aku tidak akan lepas tanggung jawab kalau kamu mau menjadi istri dan Ibu sambung Gilsya, aku akan berusaha membahagiakan kalian berdua."
Livia terdiam, Livia tidak tahu harus menjawab apa. "Bolehkah aku memikirkannya terlebih dahulu?" tanya Livia.
"Ibu Livia jangan terlalu lama memikirkannya karena Gilsya ingin cepat-cepat melihat Ibu Livia menjadi Mami Gilsya," seru Gilsya.
"Iya Sayang."
"Aku beri kamu waktu tiga hari untuk berpikir, tidak lebih dari tiga hari."
Livia pun dengan terpaksa menganggukan kepalanya, sebenarnya sejak pagi Gibran itu merasa tidak enak badan dan kepalanya sedikit pusing tapi Gibran bersikap seolah-olah baik-baik saja karena tidak mau membuat Gilsya khawatir.
Gibran pun kembali melajukan mobilnya, Livia menoleh ke arah Gibran dan mengerutkan keningnya. "Mas sakit?"
"Ah, tidak."
"Tapi wajah Mas kelihatan pucat."
Gibran tidak menjawab dia hanya fokus mengemudikan mobilnya, dia tidak mau sampai kecelakaan dan membahayakan Livia dan puterinya. Gibran memaksakan diri walau kepalanya semakin terasa berdenyut.
"Mas, kita langsung ke rumah Mas saja tidak usah mengantarkan aku pulang nanti kalau sudah sampai rumah Mas, aku bisa naik taksi," seru Livia.
Livia tahu saat ini kondisi Gibran sedang tidak baik-baik saja.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian, rumah Mas dari sini sudah dekat sementara rumah kontrakan aku habis lampu merah itu harus putar arah lagi."
"Ya sudah."
Sesampainya di rumah Gibran, Gibran pun tidak langsung turun dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, wajahnya memucat dan keringat pun sudah membasahi wajah tampannya.
Dengan ragu-ragu, Livia mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Gibran.
"Astaga, Mas demam. Gilsya sayang ayo turun."
Gilsya dan Livia pun segera turun dari dalam mobil, Livia membuka pintu mobil untuk Gibran dan memapah Gibran untuk masuk ke dalam rumah.
Dengan susah payah, Livia memapah Gibran sampai ke lantai dua dimana kamar Gibran berada. Livia membantu Gibran merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, begitu pun Gilsya yang selalu mengikuti Papi dan Gurunya itu.
Livia membuka sepatu Gibran dan membuka jasnya, kemudian Livia melepaskan dasinya supaya Gibran nyaman.
"Gilsya, kamu tungguin Papi kamu dulu ya, Ibu mau buatkan bubur dulu."
"Siap Bu."
Livia pun segera menuju dapur dan membuatkan bubur untuk Gibran.
"Nyonya, biar saya saja yang buatkan bubur untuk Tuan," seru ART.
"Tidak usah Bi, aku bisa kok."
"Maaf Nyonya, apa Nyonya calonnya Tuan Gibran?"
"Bukan Bi, aku Gurunya Gilsya."
"Sayang sekali, padahal Nyonya sama Tuan sangat cocok cantik dan tampan. Lagipula Nyonya itu sama seperti Nyonya Alsya, baik dan lembut."
Livia pun tersenyum. "Bi, kalau boleh tahu Maminya Gilsya itu meninggal karena apa?" tanya Livia.
"Nyonya Alsya punya penyakit kelainan hati sejak bayi, bahkan Tuan Gibran yang sudah mendonorkan hatinya untuk Nyonya Alsya, awalnya Bibi juga sangat bahagia karena Bibi pikir setelah Nyonya mendapatkan donor hati, beliau akan sembuh tapi nyatanya Allah berkata lain, takdir cinta Nyonya sama Tuan sangat menyedihkan bahkan semenjak Nyonya meninggal, Tuan tidak pernah dekat dengan wanita manapun tapi sekarang Tuan sudah bawa Nyonya ke rumah jadi Bibi pikir Nyonya adalah calon Ibunya Non Gilsya."
Lagi-lagi Livia hanya tersenyum, tidak lama kemudian bubur yang Livia buat pun sudah selesai dan Livia segera membawanya ke kamar Gibran.
"Mas, Mas makan dulu buburnya ya biar aku suapin."
Gibran pun membuka mata dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, Gilsya dengan setia berada di samping Papinya.
Livia perlahan menyuapi Gibran, Gibran hanya bisa memperhatikan Livia dengan tatapan sayunya. Hanya beberapa suap saja Gibran pun meminta untuk Livia berhenti menyuapinya.
"Mas, tempat obatnya dimana?"
Gibran hanya menunjuk laci dan Livia segera mencari obat demam. "Mas, minum obat dulu."
Setelah minum obat, Gibran pun merebahkan tubuhnya tanpa Livia sadari ternyata Gilsya sudah terlelap di samping Papinya. Livia kembali menyentuh kening Gibran dan ternyata masih panas, Livia pun kembali ke dapur dan membawa air hangat untuk mengompres.
Dengan telaten Livia mengompres Gibran, Gibran sudah terlelap efek dari obat demam yang dia minum. Livia memperhatikan wajah Gibran dan Gilsya secara bergantian, senyuman Livia terbit.
Cukup lama Livia mengompres kening Gibran, hingga Livia pun mulai menguap dan tidak lama kemudian Livia pun tertidur di atas kursi du samping Gibran.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila