Natasha Finding Love
_________________
"Saya masih single bukan karna susah move on. Saya masih single karna saya sedang menyiapkan diri untuk orang yang mengharapkan saya dalam doanya," ~ Natasha
"Kalau memang kamu jodohku, biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi bila tidak, semoga kita bahagia dengan jalan kita masing-masing," ~ Raka
Karena has rat sesaat, Natasha harus menanggung perbuatannya.
_________________
Novel ini adalah lanjutan dari novel
Pertama~ My Butler
Kedua~ Sekar & Raja Phinisi
Ketiga~ My Personal Tour Guide
_________________
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RenMk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Disini
Demi mendapatkan hatinya Raka, Sasa bertekad melakukan apapun. Hanya perkara mengetik, itu bukanlah hal yang sulit untuknya. Meskipun itu berlembar-lembar kertas, tentu saja tidak akan menjadi masalah untuknya.
Selesai menyuapi Raka, Sasa siap duduk di depan laptop yang ada di ruang kerja Raka. Dirinya mencari posisi paling nyaman dengan duduk berselonjor di sofa. Raka hanya bisa menahan senyuman memperhatikan semangat Sasa. Dibeberapa kesempatan Raka juga mengusap tengkuknya saat Sasa tiba-tiba tengkurap menampakan belahan dadanya.
“Mas Raka, ini laporannya memang mau dipakai secepatnya ya? Boleh gak kalau aku ngetiknya lanjut besok lagi? Udah jam 6... Mas Raka emang ga mau balik villa buat istirahat?” tanya Sasa meregangkan badannya. Sudah dari siang sampai petang dirinya berada di depan laptop. Matanya terasa perih. Badan pun juga pegal.
“Kalau kamu capek, biar aku suruh Gael aja buat lanjutin,” ucap Raka sambil membereskan meja kerjanya.
“Ah! Jangan, mas... Ini tinggal dikit kok. Hehee... Aku selesaiin selarang aja,” sambung Sasa merasa tidak enak.
“Kalau gitu nanti kalau udah selesai, kamu taruh aja laptopnya di atas meja itu. Aku ada perlu ke ruang sekretaris buat meeting sama beberapa staff,” ucap Raka beranjak berdiri dan mendekati dimana Sasa duduk. “Thank you ya, Sa.” Raka menengok layar laptop untuk mengecek sampai dimana Sasa mengetik.
“Iya, mas... bentar lagi aku selesai kok,” sambung Sasa tersenyum senang.
Meski jari-jari sudah terasa keriting, Sasa bertekad untuk menyelesaikannya petang ini juga. Dia tidak mau membuat Raka kecewa.
Klik!
“Akhirnya...! Selesai juga tugas dari mas Raka... Senangnya... hihiii...” terkekeh kecil meregangkan tangan dan punggung setelah mematikan laptop. “Udah jam 8. Mas Raka udah selesai belum ya dari rapatnya?” gumam Sasa sambil menggulung charger laptop. “Apa aku telpon mas Raka aja ya...? Ah! Mending aku call Gael. Mungkin aja dia tahu.”
Setelah beberapa panggilan, akhirnya Sasa bisa terhubung dengan Gael.
“Gael...”
“Nona Sasa? Ada yang bisa dibantu?”
“Em... Gael, mas Raka udah selesai meeting belom? Aku mau ajak dia dinner sama Al, Bondan dan mas Joy,” ucap Sasa sambil berjalan keluar dari office Raka. Suasana sudah cukup gelap. Hanya ada lampu-lampu kecil yang menerangi jalan.
“Dinner?... Memangnya pak Raka enggak kasih tahu nona ya kalau pak Raka datang ke Gala Dinner Asian Next Top Model?... Nona Sasa kan juga dapat undangan buat ke acara itu. Tadi sore pak Raka kirim pesan agar saya kirim kartu undangan ke villa nona. Memangnya nona Sasa ada dimana sekarang?”
“Apa? Undangan ke acara itu?” tanya Sasa balik. Niat hati menggagalkan agar Raka tidak pergi, rupanya tidak bisa terlaksana. Ternyata dirinya juga dapat undangan ke acara yang sama. Kalau dari awal aku tahu diundang, mending aku dateng bareng mas Raka! Mana aku belom make up lagi... Baju juga udah kucel gini... huft... gerutu Sasa dalam batin. “Gael, boleh minta tolong ga buat jemput aku di officenya mas Raka? Aku masih disini dari tadi siang.”
Meski sudah terlambat ke acara Gala Dinner, Sasa tetap menghampiri acara itu. Hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam, kini Sasa sudah siap dengan gaunnya.
“Nona Sasa, acaranya ada di ballroom itu. Saya cuma bisa antar nona sampai sini,” ucap Gael.
“Makasih ya, Gael. Kamu udah bantu aku banyak banget hari ini. Sampai jumpa besok. Good night buat kamu,” ucap Sasa memeluk Gael.
“Sama-sama... Enjoy your party, nona. Sampai jumpa besok,” Sambung Gael.
Rupanya ada banyak reporter yang hadir di acara Gala Dinner. Sebagai publik figure, Sasa menampilkan senyuman terbaiknya di depan kamera.
Meja yang Sasa duduki bukanlah meja deretan depan. Karena undangan yang dia dapat bukan kategori tamu VIP. Jadilah Sasa duduk di meja paling belakang.
Ada banyak artis dari negara-negara tetangga yang hadir di acara itu. Tentu saja penampilan mereka lebih gelamor dibanding Sasa yang persiapannya hanya beberapa menit.
Setelah duduk beberapa saat dan mencoba menikmati suasana, Sasa merasa acara itu tidak menarik baginya. Yang ada di pandangannya saat ini hanyalah mencari keberadaan Raka. Matanya berkelana menyisir setiap wajah para tamu laki-laki berbadan tinggi.
“Duduk dimana sih mas Raka?” bisik Sasa pelan.
Setelah beberapa menit, pandangan Sasa mulai tertuju kepada sosok laki-laki yang tangannya ditarik oleh salah satu kontenstan model yang sedang menunjukan kemampuannya.
“Good evening everyone! My name is Joly, from Philippine. Tonight I like to show my talent in dancing. So... I like to have Mr. Raka here to dance with me, in this stage. As I know from someone if Mr. Raka is really good in dancing,” ucapnya membuat pipi Sasa panas karena tidak suka. (Selamat malam semuanya! Nama saya Joly dari Filipina. Malam ini saya ingin menunjukan bakat saya dalam menari. Jadi... Saya senang memiliki pak Raka disini untuk berdansa dengan saya, di panggung ini. Seperti yang saya tahu dari seseorang, jika pak Raka sangat hebat dalam berdansa)
Baru melihat tangan kontestan melingkar di leher Raka, wajah Sasa nampak tertekuk dari segala arah. Apalagi bila melihat sorot mata keduanya dari layar lebar, Sasa semakin kesal. Senyuman yang saling dilempar... kedekatan tuubuh keduanya yang begitu rapat... hal itu membuat Sasa dibakar api cemburu.
Baru melihat beberapa menit Raka berdansa dengan perempuan lain, Sasa sudah tidak tahan. Dirinya memilih keluar dan meninggalkan acara dibanding harus duduk menyaksikan Raka terlihat inntiim dengan perempuan lain.
Tidak ada satu jam di acara Gala Dinner, kini Sasa sudah kembali ke villanya. Rupanya malam ini Al diajak Joy dan Bondan untuk tidur di villa yang ditempati kedua saudara laki-lakinya itu. Perasaan Sasa semakin sepi saja malam ini duduk sendirian di ruang tamu.
“Hallo... Room Service...?Bisa saya pesan Red wine untuk villa 069?... Yeah... 2 botol,” ucap Sasa sambil bermain kabel telpon. “Jangan lama-lama ya... Thank you...” Sasa memijit kepala untuk mengusir bayangan kemesraan Raka dengan Model itu.
Usahanya kali ini gagal total. Harapan untuk makan malam bersama Raka justru berakhir sendirian dengan 2 botol red wine di villanya.
“Dasar! Cewek jerapah! Bisa-bisanya dia ngajak mas Raka dansa?!” kesal Sasa setelah meneguk satu gelas red wine. “Dia gak lihat apa aku duduk di sana?!” Tuangan red wine kedua kembali habis. Sasa mulai tersenyum getir memandangir air red wine yang dia tuang ke gelas. “Siapa aku ini melarang-larang kamu agar ga deket-deket cewek lain...?” Kepala Sasa mulai sedikit berputar -putar bila mengingat kembali antara Raka dan model tadi. “Aghh......” Sasa meneguk habis tuangan red wine ketiga. “Suka-suka kalian! Aku ga peduli! Kamu jahat mas Raka...! Kamu bukan Raka yang kukenal dulu...” Sasa mulai mengacak rambutnya. Pikirannya membandingkan sikap Raka yang dulu dan sekarang. Kesan hangat dan penuh perhatian itu sudah tidak bisa dirasakan Sasa lagi. Yang ada saat ini hanya Raka yang dingin dan tidak peduli dengan dirinya.
_______
Di tempat lain, saat ini Raka tengah menelpon salah satu karyawan yang mengirim pesan kepadanya.
“Hallo...” ucap Raka.
“Good evening, pak Raka. Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau kasih informasi kalau satu jam yang lalu nona Natasha memesan 2 botol red wine lewat room service di villanya,” ucapnya membuat Raka menengok jam tangan.
“Ok. Thank you buat infonya,” sambung Raka.
Tanpa menunggu acara Gala Dinner selesai, Raka mulai meninggalkan acara itu. Dia memilih untuk menghampiri Sasa yang saat ini tengah berada di villa.
Raka cukup terkejut saat melihat pintu villa terbuka lebar pada tangan malam ini. Jarum jam sudah hampir menunjukan pukul 12 malam tapi lampu di villa Sasa masih menyala terang. Raka pandangi wajah Sasa yang sudah menempel di meja ruang tamu. Banyak tissue berserakan dan minuman beralkohol itu pun tumpah di lantai.
Cup! Raka mengecup pipi Sasa dengan lembut.
“Mikirin apa kamu...?” ucap Raka pelan. Dia pun mulai mengangkat tubuh Sasa dan membawa Sasa ke kamar utama.
“Kamu pasti capek.” Raka mengusap jari-jari tangan Sasa. Dia cukup kagum dengan usaha Sasa untuk mendekatinya. Raka mulai mengecup kening Sasa cukup lama. Bibir ranum itu pun dia keecup keecup dan diku lum secara lembut.
“Jangan banyak minum alkohol, Sa...” bisik Raka pelan. Tangannya terasa nyaman bermain di pipi halus Sasa.
Perlahan-lahan jari-jari Raka membuka setiap kancing gaun Sasa. Tubuh itu menggeliyat seolah menolak. Tapi Raka tetap melanjutkan aksinya. Hanya dalam hitungan detik kini tubuuhh polos dengan lekuk yang menggoda bisa memanjakan mata Raka. Raka mulai mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Dia lepas seluruh bajunya dan menaiki ranjang dimana Sasa berbaring.
“Sa....” Raka mengu lum berkali kali bibir manis itu sambil mengge seekkk kelakiannya yang sudah meminta untuk dimasukan. Raka terus mengu lum sambil mengarahkan miliknya untuk mencari lubang yang dibutuhkannya.
“Mmgghhh......” Sasa mengerjapkkan kelopak matanya.
Melihat kelopak mata Sasa yang bergerak gerak, tangan Raka segera mematikan lampu. Hanya ada desa han Sasa yang kini didengar Raka. Tangannya menja lar mera bai setiap lekuk tu buh Sasa yang sudah lemah. Dia tekan sedalam dalamnya sambil mendorong paa ha Sasa terbuka lebar. Sampai akhirnya cai ran itu menyem bur beberapa kali.
“Hiks...”
Raka mengusap pipi Sasa. Dia hapus air mata yang baru saja mengalir.
“Don’t cry, Sa... Aku disini.” Raka kembali mengu lum bibir Sasa. Satu kali permainan rasanya tidak cukup. Malam semakin panjang membuat Raka menumpahkan bi rahinya di kamar gelap itu berkali kali.
*****
Bersambung...
*****
Jangan terlalu mencolok di mata orang
Jaga jarak ke Raka sha, jual mahal sedikit tidak masalah
'maaf Sa aku g tau Gadis diajak kesini'
atau, 'udahlah Pa, Ma.. sekarang aku in relationship dg Sasa. Gadis cm masa lalu, gak perlu diungkit lagi. Tolong hargai Sasa'
ini cuma dag deg aja, hadeeeeeh