NovelToon NovelToon
Delima

Delima

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Kenyataan Pahit

Adel

Apa yang Richard rasakan pasti sama dengan yang kurasakan saat ini. Terkejut. Shock. Tidak percaya.

Papa merestui hubunganku dan Richard, seperti yang kami berdua harapkan. Namun, Papa tidak bisa menikahkan kami. Kenapa?

Apa Papa segitu bencinya dengan Richard sampai menikahkan kami saja Ia tidak mau?

Apa lagi yang harus kami lakukan agar Papa mau menikahkan kami berdua?

"Tapi.... Kenapa Om?" Richard yang akhirnya bertanya untuk pertama kali. Aku masih terlalu terkejut dan belum bisa mengendalikan kesadaranku.

Papa kini menatapku dengan tajam. Arti pandangan matanya tidak bisa didefinisikan. Papa lalu menghela nafasnya lagi. Sepertinya apa yang akan Papa katakan amat sulit untuk diucapkan.

"Karena.... Papa dan Mama bukanlah orang tua kandung Adel."

Jegeeerrrrr.....

Bagai disambar petir rasanya aku mendengar berita ini....

Enggak mungkin....

Pasti apa yang Papa bilang bohong....

Tanpa kucegah, air mataku terus menetes. Membasahi pipiku.

Papa yang kusayangi dan amat kuhormati ternyata bukan Papa kandungku?

Mama yang menyebalkan namun ngangenin juga ternyata bukan Mama yang melahirkanku?

Bohong...

Semua ini pasti mimpi...

Kalau aku mencubit pipiku, aku akan terbangun dari mimpi buruk ini.

Tanganku terangkat dan mencubit pipiku sendiri Awww.... sakit. Berarti ini bukan mimpi. Ini kenyataan.

"Om dan Tante bukan orang tua kandung Adel?" Richard yang pertama membuka mulutnya. Aku tak sanggup melakukannya. Hanya air mata yang terus mengalir menunjukkan betapa shock dan sedihnya hatiku mengetahui berita ini.

"Iya. Delima bukan anak kandung kami. Saya, divonis tidak bisa memiliki anak. Saya dan istri saya akhirnya mengangkat Delima menjadi anak kami."

Aku terduduk lemas mendengar semuanya.

****

Hartono

Flashback

Keberhasilan dalam pekerjaanku, tidak berjalan lurus dengan kebahagiaan rumah tanggaku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai tak menyadari kalau sudah berusia 30 tahun namun belum diberi keturunan.

Aku dan Kiki istriku sudah menikah selama 8 tahun. Kami menikah setahun setelah aku menamatkan kuliahku.

Kiki awalnya adalah wanita karir. Ia akhirnya resign dari pekerjaannya sebagai seorang QC di salah satu Bank Swasta besar.

Pekerjaanku yang sering dipindah-tugaskan ke daerah menuntutnya untuk selalu menemani suami kemanapun kami pergi. Aku dan Kiki saling mencintai. Kiki adalah cinta pertama dan terakhir bagiku, begitupun sebaliknya. Kami pacaran sudah lama, sejak masih jaman kuliah.

Kami hidup berkecukupan dengan gajiku yang masih bisa menghidupi kami berdua. Namun kebahagiaan kami perlahan memudar. Ketika lebaran tiba dan kami kumpul dengan keluarga besar, baik keluargaku maupun keluarga Kiki. Selalu ada pertanyaan yang membuatku dan Kiki sedih.

"Kiki udah isi belum?"

"Kiki udah coba cek ke dokter kandungan belum?"

"Kiki memang belum mau punya anak dulu ya? Kok belum hamil juga?"

"Kiki kapan nih bawa buntutnya kalau ngumpul?"

Dan banyak pertanyaan lain yang membuat kami semakin tertekan. Awalnya kami tak mempermasalahkan, selama kami saling mencintai. Namun lama kelamaan pertanyaan itu seperti menghakimi.

Kiki mulai terpengaruh, kami juga mulai beda pendapat dan mulai berselisih paham. Kerikil kecil dalam rumah tanggaku pun lama kelamaan menjadi batu besar yang membuat kami terus bertengkar.

Sampai akhirnya aku dan Kiki memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan. Kami berdua melalui serangkaian pemeriksaan. Bukan cuma Kiki saja, aku juga diperiksa.

Aku berusaha menenangkan Kiki. Berkata kalau apapun yang terjadi aku masih akan mencintainya.

Bicara memang mudah, saat kenyataan yang terjadi ternyata diluar ekspektasi, aku pun down. Aku didiagnosis tidak bisa memiliki keturunan. Dengan kata lain, aku lah yang mandul.

Beberapa hari aku mencoba menghindari Kiki. Aku merasa malu dan amat bersalah. Semua kesedihannya karena aku yang tak bisa memberikannya keturunan.

Rumah tangga kami mulai dingin. Aku seperti membangun tembok pemisah yang tinggi, menenggelamkanku dalam lumpur permasalahan tanpa meminta pertolongan siapapun.

Sampai akhirnya Kiki mengajakku berbicara. Berdua.

"Kalau memang hidup denganmu aku tak bisa memiliki anak, aku rela. Aku rela asalkan tetap sama kamu. Kita berdua bisa tetap saling mencintai meski tak ada anak diantara kita."

Perkataan Kiki membuatku tak kuasa menahan air mataku. Apa salahku sampai Tuhan tak mempercayaiku untuk dititipkan anak sama sekali?

Apa aku sebagai penegak hukum sudah berlaku tak adil terhadap para terdakwa? Apa ada uang haram dalam penghasilanku selama ini?

Aku memeluk Kiki. Aku pun tak mau kehilangan separuh jiwaku. Akhirnya aku dan Kiki memutuskan untuk menerima takdir kami.

Aku pun perlahan berubah, belajar menjadi penegak hukum yang baik dan benar. Walau hukum terkadang begitu tumpul ke atas dan tajam ke bawah, aku selalu mengusahakan agar yang salah bisa mendapat hukuman yang setimpal.

Aku sedang ditugaskan ke daerah Palembang. Bukan di Palembang kota, melainkan masih perbatasan dengan Lampung.

Kiki sebagai istri yang setia selalu menemaniku dimanapun tugasku berada. Selalu setia menemani dalam suka dan duka.

Ini tahun keduaku di Palembang. Sebentar lagi aku akan dipindahkan kembali ke Jakarta. Ada satu kasus rumit yang kutangani.

Ada seorang petani kopi yang tertangkap tangan membawa sabu-sabu di tangannya. Petani tersebut mengatakan kalau Ia hanya dititipi oleh seorang pemuda dan mengatakan akan mengambilnya kembali nanti.

Malang bagi petani kopi tersebut, Ia yang sedang menjual hasil panennya di kota malah tertangkap tangan dengan barang bukti di tangannya juga uang hasil menjual kopi.

Hasil test urine menunjukkan kalau petani tersebut negatif, tidak mengkonsumsi barang haram tersebut. Aku sudah menduganya kalau Ia memang salah tangkap.

Gamang. Kalau mau cari aman tinggal ikuti alur, beres. Namun hati huraniku berkata lain.

Hingga sebuah ketukan di pintu rumahku subuh hari itu mengagetkanku dan Kiki. Seorang perempuan yang masih sangat muda datang dengan bayi baru lahir di gendongannya.

Perempuan itu adalah istri dari petani kopi yang saat ini sedang di penjara.

"Perkenalkan Pak Jaksa, saya Yani. Saya istrinya Zakaria, petani yang ditangkap karena membawa sabu-sabu. Suami saya tidak bersalah, Pak. Tolong suami saya."

Aku menghela nafas berat. Ironi. Inilah yang dinamakan hukum tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Huft...

"Jujur, saya tidak bisa berbuat apa-apa, Bu. Barang bukti yang dimiliki Pak Zakaria menjadi bukti kuat saya mendakwa beliau." kataku dengan berat hati.

"Tolong, Pak. Tolong ringankan hukuman suami saya. Tolong.... Saya enggak bisa memberikan harta benda buat Bapak, tapi saya bisa memberikan bayi saya pada Bapak. Tolong, Pak." sambil menangis Ibu muda itu memohon padaku.

Seakan kontak batin, bayi dalam dekapannya pun menangis. Ikut merasakan kesedihan yang Mamanya rasakan.

"Anak saya ada 3, Pak. Bayi ini baru seminggu lalu saya lahirkan. Kalau memang suami saya di penjara, saya tak akan sanggup membiayainya. Saya titip anak saya, Pak. Besarkan dan sekolahkan dia. Semoga Ia jadi anak yang berguna dan bisa membahagiakan keluarga Bapak. Tolong, Pak." Ibu muda itu menangis sesegukan sambil menepuk-nepuk bayinya yang nangis. Tahu kalau Ia akan berpisah dengan ibu kandungnya.

Aku terdiam, sementara Kiki menatapku penuh arti. Bayi. Kami memang ingin memiliki seorang bayi. Tapi apakah aku tega memisahkan seorang anak dengan ibunya?

"Aku mau bicara sama kamu, Pa." Kiki menarik tanganku. Kami pun berbicara di kamar berdua.

"Pa, dia mau kasih bayinya, Pa. Bayi! Kapan lagi kita bisa punya bayi, Pa. Kita kan sudah dua tahun tidak pulang kampung. Kalau kita pulang dan membawa bayi, pasti saudara kita tak akan mencibir kita lagi, Pa. Kita terima aja ya." Kiki begitu antusias mengetahui kalau kami akan mendapat bayi dan terbebas dari cibiran orang lagi.

"Tapi, Ma. Bayinya masih merah. Baru seminggu. Apa kita tega memisahkan mereka berdua. Dan Papa enggak bisa menolong dengan meringankan hukuman suaminya."

"Iya, Papa memang tidak bisa meringankan hukuman suaminya karena barang buktinya cukup kuat. Tapi Papa bisa membantu membiayai bayinya. Ibu itu tidak akan bisa bekerja untuk membiayai anaknya yang lain jika Ia sibuk mengurus bayinya. Ayolah, Pa. Kita pasti bisa mengurus bayinya. Mama siap. Mama akan mengurusnya. Yang penting hidup kita bebas dari cibiran tentang anak lagi. Papa mau kan?" bujuk Kiki.

Huft... Kalau Kiki sudah meminta sesuatu sampai seperti ini, aku mana mungkin bisa menolaknya. "Baiklah. Kita akan mengadopsi anak tersebut."

Aku kembali ke ruang tamu dan menghampiri Bu Yani yang ternyata sudah menidurkan anaknya. Melihat kedatanganku Ia kembali menatapku penuh harap.

"Saya sudah diskusi dengan istri saya. Masalah hukuman suami Ibu, saya tidak bisa berbuat banyak. Saya mengikuti hukum perundang-undangan yang ada. Dan masalah bayi ibu.... Saya dan istri akan mengadopsinya."

Jawabanku membuat Bu Yani menghela nafas lega. "Alhamdulillah. Syukurlah. Setidaknya anak ini akan bernasib baik memiliki orang tua yang terhormat seperti Bapak dan Ibu." ujar Bu Yani sambil menangis tersedu-sedu.

"Tapi berhubung saya akan dipindah-tugaskan ke Bandung, maka saya akan membawa serta anak tersebut. Ibu tidak perlu memikirkan masalah pendidikan. Anak ini akan kami urus seperti anak kami sendiri."

"Iya, Pak.... Yang penting anak ini hidupnya lebih baik. Ia anak perempuan saya satu-satunya. Tolong sayangi dia seperti anak Bapak sendiri." pinta Bu Yani sambil memberikan bayi mungilnya padaku.

Inilah pertama kalinya aku menggendong seorang bayi di pelukanku. Bayi mungil yang amat cantik. Aku langsung jatuh cinta dengan bayi tersebut dalam pandangan pertama.

Kiki pun mendekat denganku dan ikut melihat bayi dalam gendonganku. "Cantik banget." puji Kiki.

"Kamu mau gendong?" tanyaku.

Kiki mengangguk. Aku memberikan bayi itu pada Kiki. Mata Kiki memanas, Ia pun tak kuasa menahan air matanya.

Aku tahu Kiki merasa senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Sedih karena tak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri, dan senang karena akhirnya bisa memiliki bayi yang akan Ia asuh.

"Saya menamainya Delima Larasati, agar Ia menjadi Delima yang cantik sesuai dengan namanya." ujar Ibu Yani sambil mencoba tersenyum tegar.

Dan Bu Yani pun meninggalkan Delima padaku dan Kiki. Pengadilan memutuskan memenjara Pak Zakaria selama 5 tahun.

Sebelum pindah ke Bandung, aku mengurus surat adopsi Delima dan memasukkannya dalam Kartu Keluargaku. Delima resmi menjadi putriku dan Kiki.

Kami membawanya pergi meninggalkan ibu kandungnya yang menangis tersedu sedan saat berpisah dengan putrinya. Aku sedih memisahkan dua orang ibu dan anak tersebut. Namun jika aku tidak membawa Delima, maka kehidupannya tak mungkin seenak sekarang.

Kiki berakting seperti habis melahirkan dan memamerkan Delima sebagai anak kandung kami. Keluargaku dan keluarganya tak lagi mencibir tentang kami lagi.

Flashback Off

Dan bayi mungil yang dulu begitu butuh perlindunganku kini akan menikah. Ia menemukan jodohnya. Rasanya aku tak rela harus berpisah dengannya.

Kutatap matanya yang sendu. Mata yang amat kesepian. Entah karena Kiki tak terlalu dekat dengannya atau karena memang Ia hanya memiliki sedikit teman saja.

Lalu laki-laki yang sejak tadi berusaha meminta restu padaku. Anak tertua dari pengusaha kaya raya yang pernah tersandung narkoba.

Aku menghembuskan nafas lagi. Takdir dan jodoh selalu berputar di sekelilingku. Anak yang dulu aku dakwa kini meminta restu untuk menjadi menantu dari anak angkatku. Huft.....

Aku sengaja mengulur waktu agar lebih bisa mengenal bagaimana kepribadian anak ini. Ia jujur, aku bisa lihat dari bagaimana caranya menceritakan permasalahan keluarga dan isi hatinya tanpa ada yang disembunyikan sama sekali. Tak merasa malu. Ciri orang yang sudah ikhlas menerima kenyataan.

Kami pulang ke rumah dan disambut dengan Adel yang menunggu kedatangan kami dengan tidak sabar. Dalam sekali lihat aku bisa tahu, Adel terlihat cemas karena takut tidak direstui. Ia menginginkan pernikahan ini. Aku tak bisa menghalanginya. Perbuatan baik harus segera disegerakan.

"Baiklah kalau kamu memang ingin menikah dengan Richard. Papa merestui. Tapi Papa tidak bisa menikahkan kalian."

Ya, aku harus memberitahu semua pada Adel. Rahasia kelam hidupnya. Rahasia yang selama ini kukubur bersama Kiki istriku.

Kiki memelototiku. Ia tak mau aku membongkar semuanya. Ia tak mau rahasia kami terkuak yang akan membuatnya malu nanti.

Aku menatap mata Adel yang sejak tadi menangis. Aku menceritakan kisah tentang orang tuanya dan bagaimana kami mengadopsinya.

Tak tega melihatnya begitu terpukul, aku mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Putri kecilku begitu sedih hari ini, hatiku pun ikut bersedih.

"Papa tetap sayang sama Adel, meskipun Adel bukan putri kandung Papa, selamanya Adel tetap anak Papa. Papa sayang sama Adel. Kalau saja Papa adalah Papa kandung Adel, pasti Papa akan menjadi orang yang paling bahagia karena bisa menikahkan Adel sendiri. Sayangnya Papa tidak bisa." aku ikut meneteskan air mata, hanyut dengan kesedihan Adel anakku.

Adel melepaskan pelukanku. "Lalu aku harus mencari orang tuaku dimana Pa?"

"Di Palembang. Papa sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan mereka. Coba kamu mencari keberadaan mereka. Papa akan memberitahu kamu dimana alamat mereka. Carilah dan minta restu pada orang tua kandung kamu."

Adel memelukku lagi. "Papa... huaaaa..... Kenapa bukan Papa yang jadi Papaku? Huaaaa..... "

Hatiku sedih dan teriris mendengarnya. Mengetahui kalau aku begitu dicintai oleh anak yang bukan darah dagingku sendiri.

Aku membelai lembut rambut putriku. "Kamu selamanya anak Papa, Del. Selamanya."

*****

1
Elis Ayna
Baru balik lagi min ini di ganti gak sih ceritanya
Tika Gemoy
mewekkk lagii😭
Tika Gemoy
tiap kali baca ,masih nangis juga😭😭
Hani Hani
uda baca ini 5x tamat tapi ttp ngakak sm kelakuan richard🤣🤣
Ida Rodiah
Luar biasa
martini
luar biasa
Evi Yolanda
thor buat lah Ndut bucin secepatnya 🤣🤣🤣🤣
Evi Yolanda
jd gedek SM adel .. gendut mang siadel
Ning Fifi
👍👍👍
Ernawati💕
luar biasa
💐Tari Nyonya Sibuea💐
dsr jalang murahan🤮🤮
Ran Aulia
poor Babang Icad 😭😭😭
Ran Aulia
terima kasih kak, ceritanya bagus 🥰🥰🥰🥰
✨️ɛ.
lika liku perjalanan Kakanda dalam menaklukkan hati Neng Adel..
Ei_AldeguerGhazali
Jaksa dan terdakwa wkwk jadi ngakak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Ei_AldeguerGhazali
Ikut mesem aku del🤣
Ei_AldeguerGhazali
Beneran sengklek sih maya🤣
Ei_AldeguerGhazali
Bang icad udah beneran taubat mah ini🤣🤣👍🏻
Ei_AldeguerGhazali
Ngakak 🤣 bener bgt ya bang icad
Ei_AldeguerGhazali
Gercep bgt dah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!