Erin masuk ke dunia novel dan harus menerima takdirnya menggantikan posisi Mila. Mila ialah pemeran utama novel Milaerin yang memiliki nasib tragis dari penulisnya yang hanya bisa hidup sampai BAB 10.
Tapi dengan Erin yang kini memerankan Mila, apakah Erin bisa mencegah kematian Mila?
Lalu, apakah ia bisa mengubah alur novel Milaerin hingga tidak membuatnya meninggal dalam novel itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sepanjang koridor yang dilalui oleh Erin dan Arka, pikiran Erin terus melayang-layang.
'Ada apa dengan gue? Gue merasa bagai pengantin yang sedang dirangkul oleh suami gue terus gue berjalan di karpet merah.'
Erin memandang lurus kedepan seraya sesekali melihat beberapa mahasiswa yang memberikan ekspresi tidak jelas kepadanya.
Dalam pikirannya ia menganggap mahasiswa-mahasiswa itu adalah tamu tamu undangan yang datang ke pernikahannya dan sedang merasa iri atas pencapaian Erin menikah dengan lelaki tampan.
'Di dunia nyata gue selalu menjadi pihak yang menolong hingga akhirnya ternyata gua adalah pihak yang ditodong.
Sekarang di dunia ini, gua adalah orang paling beruntung memiliki seorang pria terbaik di sampingku dan rela mengorbankan segala yang ia miliki untuk gua'
Erin baru menyadari betapa beruntungnya, ia dibunuh oleh ke-6 sahabatnya dan akhirnya masuk ke dalam dunia novel menemukan sosok Arka.
'Dimana lagi coba guenya dapatin cowok seperti Arka? Makasih ya tante...' Erin bergumam lalu tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Arka.
Arka yang merasakan perubahan sikap Erin segera memandangi gadis itu dan ia begitu terpesona ketika Erin tersenyum kepadanya.
Arka membalas senyum Erin lalu keduanya terus berjalan untuk keluar dari kampus itu.
Hari itu Erin menghabiskan seluruh waktunya berada di kantor Arka sambil bermalas-malasan bermain HP di sofa ruang kerja Arka.
Beberapa karyawan keluar masuk dari tempat itu tapi Erin sama sekali tidak memperdulikannya. Ia membelakangi para karyawan itu dan terus memainkan hp-nya dengan malas sambil sesekali makan cemilan yang telah disiapkan untuknya.
Beberapa petinggi kampus yang masuk ke dalam kantor Arka terheran-heran melihat seorang gadis yang tidak memiliki sopan santun sama sekali, bermalas-malasan di ruang kerja pria nomor satu itu.
Tapi tak ada dari mereka yang berani menegur, apalagi melirik terlalu lama pada Erin.
Beberapa lainnya merasa sangat penasaran dengan sosok gadis yang sedang bermain HP itu. Tapi Erin duduk membelakangi Arka hingga tak ada yang bisa melihat wajahnya.
Saat jam makan siang tiba, seorang kurir membuat beberapa sekretaris Arka yang bertugas di luar ruangan Arka terkejut.
Sekretaris Arka memang terdiri dari beberapa orang, sementara Sinta ialah sekretaris utama Arka.
"Permisi mbak, saya datang untuk mengantar makanan." Kurir tersebut kemudian memperlihatkan ponselnya pada sang sekretaris "Ini adalah nama pemesan makanan."
"Maaf Pak, kami tidak mengenalnya." Jawab salah satu sekretaris.
"Tolong baca alamatnya, saya rasa saya tidak salah tempat." Ucap sang kurir yang memang sudah merasa aneh dengan pemesan makanan itu. Apalagi tadi ketika ia memasuki lift Ia memang tidak menemukan nomor lantainya pada tombol lift.
Untungnya seorang satpam ramah membantunya hingga ia memasuki lift khusus yang mengantarnya ke lantai dimana CEO perusahaan itu berada.
Baru saja para sekretaris itu akan mengusir kurir makanan tersebut ketika Arka keluar dari ruangannya.
"Biarkan dia masuk." Ucap Arka.
"Baik Pak" semua sekretaris serempak menjawab lalu kemudian sang kurir mengikuti Arka masuk ke dalam ruangan.
Erin yang disuruh masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan segera keluar dan melihat makanan yang sudah tersedia diatas meja.
"Woahhhh!" Ucapnya merasa kagum dengan masakan yang terlihat enak.
Sementara Arka yang melihat ekspresi istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ia tidak pernah berpikir kalau istrinya yang memiliki body yang bagus itu memiliki kebiasaan buruk dalam memilih makanan.
Bagaimana tidak, makanan yang dipesan Erin semuanya ialah junk food.
Sementara di luar ruangan, Sinta baru saja pulang dari restoran untuk membeli makanan bagi Arka.
Memang selama ini Sinta selalu pergi ke restoran untuk memastikan semua makanan yang dikonsumsi oleh Arka ialah makanan yang dibuat dengan bahan terbaik.
Jika pun ia tidak memiliki waktu untuk melakukannya, maka ia akan menyuruh seseorang untuk memastikannya.
Sinta baru saja akan memasuki ruangan Arka untuk mengantar makanan itu ketika salah satu sekretaris mencegahnya.
"Maaf Bu, tapi Pak Arka sudah memesan makanan tadi." Ucap sekretaris itu.
Sinta merasa kebingungan dan menatap bawahannya itu "Sudah memesan makanan?"
"Iya Bu, tadi seorang kurir mengantarnya masuk."
Sinta menghela nafasnya dan melihat makanan yang telah Ia bawa.
Pagi itu, ia memang tidak cepat datang ke kantor karena salah satu klien yang harus ia tangani di luar kantor.
Jadi ia sama sekali tidak tahu kalau Erin berada di ruangan Arka.
"Apa kau tahu makanan apa yang dipesan oleh Pak Arka?" Tanya Sinta lagi.
"Saya tidak tahu tapi melihat kurir yang datang membawanya menggunakan seragam dari restoran junk food."
"Junk food?" Sinta begitu terkejut karena Arka tidak pernah memakan makanan seperti itu.
"Iya Bu."
Mendengar itu Shinta segera mengetuk pintu ruangan Arka lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Ia begitu terkejut ketika melihat Arka sedang menikmati sepotong burger di tangannya.
Yang lebih mengejutkan lagi baginya ketika ia melihat Erin sedang makan bersama Arka.
'Bukankah Gadis itu seharusnya sudah ditendang? Mengapa dia masih berada disini?'
Shinta menahan keterkejutannya ia akan menyelidikinya nanti.
"Maaf Pak, saya membawa makan siang untuk bapak." Ucap Sinta berjalan mendekat ke arah Erin dan Arka.
"Apa yang kamu bawa?" Tanya Erin tanpa menoleh ke arah Sinta.
"Salad dan,,"
"Oh itu buat lo aja." Ucap Erin dengan nada malas.
"Tapi Bu, Pak Arka tidak biasa memakan makanan seperti yang ia makan saat ini. Ia selalu makan makanan yang sehat dan berasal dari bahan-bahan yang berkualitas." Kata Sinta.
Erin segera tersadar kalau apa yang ia pesan tadi semuanya ialah junk food. Makanan milenial yang tidak digemari oleh orang-orang kaya.
Erin segera melihat ke arah Arka yang sedang makan burger. Ia merasa bersalah tapi mulutnya tak bisa mengatakan apapun. Bagaimana mungkin ia mempermalukan dirinya sendiri di depan ular berbisa seperti Sinta?
"Kau boleh keluar." Ucap Arka dengan cuek.
"Tapi Pak, makanan yang Bapak makan itu tidak sehat, makanan seperti itu memang enak tetapi hanya menjadi sampah di perut."
"Lho ini benar-benar batu ya! Kan gua udah pernah bilang, kalau atasan lo ngomong lo Jangan ngeyel!" Erin berasa mendapat tambahan damage dari Arka untuk menyemprot ular berbisa itu.
"Baik Bu, saya permisi." Ucap Sinta menahan kekesalannya lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
'Hebat! Akhirnya ular berbisa itu mengerti juga kalau posisi gua jauh lebih tinggi daripada dia!' Eein merasa sangat bangga pada dirinya sendiri.
Sinta keluar dengan kesal dari ruangan Arka dan membuang makanan yang ia bawa ke dalam tempat sampah.
'Ada apa ini! Mengapa gadis itu belum ditendang juga dari keluarga maganta!?' Sinta merasa sangat panik.
Ketika ia gagal membunuh Erin maka ia berharap kalau keluarga maganta tidak akan percaya lagi pada gadis itu.
Tapi nyatanya semua berada di luar kendalinya.
'Sekarang aku harus mencari cara lain untuk menyingkirkan garis itu segera!' gumam Sinta dengan kesal karena sebuah rahasia besar yang ia miliki bisa dibongkar oleh Erin kapan saja gadis itu mau.