KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Dibawah rintik air hujan ia menangis sambil mengendarai sepeda motornya, ia benar-benar berada di fase denial.
"Mengapa aku berbeda? Mengapa engkau 'timpahkan' masalah yang berat seperti ini? Dari miliaran orang di dunia kenapa harus aku ? Aku juga ingin hidup seperti mereka bisa bahagia." gumamnya sepanjang perjalanan.
Ia mulai kehilangan harapan, mulai lelah dengan semua masalah yang tak kunjung selesai. Seakan Tuhan hanya diam, tak melakukan tugasnya sebagai sang penguasa keadilan.
"Mengapa semesta terasa hening ? Dimana Tuhan?"
Selama ini ia merasa sudah berusaha menjadi orang yang baik, dan mengikuti semua aturannya, ia juga sudah berdoa setiap hari nya, tapi selalu saja masalah terus menimpanya.
Ciiiiiiitttt..... BRRRRRAAAAAK....
Tanpa sengaja retno menabrak sebuah mobil yang berada di depannya, ia tidak melihat jika di depan ada lampu merah sehingga mobil di depannya berhenti.
"Awww." Retno terjatuh dari sepeda motornya, beruntung rento tak mengalami cidera parah, ia hanya mengalami benturan ringan dan lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Seketika orang-orang di sekitar berkerumun hendak menolongnya, tak terkecuali dengan pemilik mobil yang di tabrak oleh retno.
"Retno" ucap pemilik mobil tersebut yang tak lain adalah cakrawala.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya cakra dengan panik, ia mengulurkan tangannya, mencoba membantu retno untuk berdiri namun retno menolaknya, retno tak ingin cakra atau siapa pun yang hendak menolongnya menyentuh dirinya.
"Maaf tadi aku tak sengaja, nanti akan aku ganti biaya perbaikan mobil mas cakra." ucap retno, dengan menahan sakit akibat benturan ia mencoba bangkit.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku permisi dulu mas. Assalamualaikum." Dengan tertatih retno melangkahkan kakinya ke arah motornya yang telah di tepikan oleh orang di sekitar yang membantunya.
"Walaikumsalam" Ingin sekali rasanya cakra menuntun retno hingga ke tepi jalan namun suara klakson kendaraan di belakangnya membuatnya tak bisa membantu retno.
Tiiiiiin... tiiiiin...
Cakra bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
"Ah sial." Cakra tak dapat menepikan kendaraannya karena trafic jalanan saat itu sedang ramai dan juga tak ada tempat untuk memarkirkan kendaraannya.
Sementara itu retno juga kembali melanjutkan perjalanan, meski rintik hujan belum juga reda, kali ini retno mengendarai sepeda motornya dengan sangat hati-hati hingga dirinya sampai ke kediamannya dengan selamat.
Ibunda retno dan rangga sangat panik ketika melihat retno pulang di tengah hujan deras sehingga tubuhnya basah kuyup serta terdapat benjolan besar di jidatnya, mereka berdua juga melihat kondisi motor yang lecet serta pecah kaca spion.
"Kamu kenapa nduk?" Tanya ibunda retno.
" Kenapa kamu tidak neduh dulu? ini kan hujan deras!!!" Ibunda retno yang sangat cemas membrondongi retno dengan banyak pertanyaan.
Sementara rangga berlari ke dalam mengambil handuk dan kotak P3K untuk uminya.
"Bik... tolong cepat buatkan jahe hangat." Perintah ibunda retno kepada ARTnya.
Tak lama kemudian rangga datang dengan membawa handuk dan kotak P3K dan memberikannya kepada eyangnya.
''Ini eyang."
"Terima kasih ya."
"Kamu jatuh dari motor ya?" Ibunda retno langsung menutup tubuh retno dengan handuk tebal agar putrinya tidak kedinginan, kemudian ia membuka kotak P3K yang di berikan oleh rangga, namun retno langsung mengambilnya.
"Aku obatin sendiri saja bu, sambil aku ganti baju." Dengan tertatih retno berjalan menuju kamarnya.
"Aku bantu ya umi."
"Jangan!!!" Retno menepis tangan putra sulungnya yang hendak membantunya berjalan.
"Kamu main saja dengan adek." sambil menahan sakit di kakinya, Retno mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar meninggalkan ibu dan putra sulungnya.
"Hiks..." Didalam kamar retno kembali menumpahkan kesedihannya, sepengetahuannya virus HIV belum ada obatnya.
"Ya allah, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? hiks..."
Retno memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin dihadapi akibat penyakit ini, ia takut jika ia menularkan ke anak-anaknya atau pun orang terdekatnya.
Selain itu ia juga memikirkan stigma negatif dari masyarakat, sebagian orang masih beranggapan penyakit ini hanya diderita oleh orang-orang yang memiliki perilaku tidak bermoral, misalnya menggunakan narkoba suntik dan se*s bebas.
"Tidak... tidak boleh ada yang tahu jika aku mengidap penyakit ini." Retno menggelengkan kepalanya, ia akan menyimpan masalah ini rapat-rapat, ia tak ingin anak-anaknya terkena imbasnya.
Tok...tok...
"Bu, ada mas cakra mencari ibu." ucap ART retno dari balik pintu kamarnya.
Retno mengatur nafasnya agar suaranya terdengar normal.
"Katakan saja padanya aku sudah istirahat." Retno mengencangkan volume suaranya agar ARTnya mendengar ya lebih jelas.
"Baik bu." Asisten retno pun kembali ke ruang tamu menemui cakra.
"Maaf mas cakra, ibu sudah istirahat. Apa ada yang mau di sampaikan? nanti saya akan sampaikan."
"Sebentar"
Cakra mengambil kertas dan pulpen di dalam tasnya kemudian ia menuliskan surat untuk retno, di dalam surat tersebut ia menjelaskan detail dosis dan aturan pakai obat-obatan untuk retno.
"Tolong berikan ini padanya." Cakra memberikan obat-obatan yang diantaranya krim antiseptik, pereda nyeri hingga cairan pembersih luka, suplemen dan buah-buahan.
"Baik mas."
"Kamu tahu jika retno kecelakaan?" Sambil menggendong rama ibunda retno mendekat ke arah cakra.
"Ia bu tadi tidak sengaja retno menabrak mobil saya."
"Oalah, ternyata mobilmu yang di tabrak retno, bagaimana mobilmu?"
"Mobilku tidak apa-apa buk, saya justru khawatir dengan keadaan retno makanya saya kemari, tapi karena retno sudah istirahat ya biarkan saja ia istirahat besok saya akan kembali lagi untuk memeriksa kondisinya."
"Terima kasih ya nak cakra."
Sebelum pamit cakra meminta izin untuk membawa motor retno ke bengkel agar bisa segera di perbaiki, tentu saja ibunda retno mengizinkannya, ia bahkan sangat berterima kasih pada cakra yang sudah banyak membantunya.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini