TAHAP REVISI.
Pria idaman seluruh wanita adalah, kaya dan tampan. Seluruh kehebatan itu ada dalam diri seorang Davin sang Trillioner tampan dengan sejuta karisma. Pengusaha muda terkaya di Dunia. Tidak ada apapun yang tak bisa ia dapatkan dalam genggamannya. Tak hanya di luar, di dalampun pria ini sangat-sangat menakutkan.
Namun apa yang terjadi jika seorang Davin, dibuat resah dan kebingungan oleh seorang gadis sekolah menengah yang pertama kali ia temui dan langsung menarik perhatiannya. Seorang gadis dengan surai rambutnya yang panjang, terurai dengan indah di tengah kerumunan siswa yang sedang tawuran.
Peringatan : percayalah kalian tidak akan bisa berhenti memikirkan cerita ini setelah kalian membacanya. 😏
SEGALA BENTUK PLAGIAT DILARANG MENDEKAT💣💥
Ayok mampir 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 - Save you.
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave menatap sebuah gedung tinggi terbengkalai di hadapannya dengan wajah dingin. Jantungnya berdegup kencang, tak sabar untuk menghabisi orang yang berani menyentuh miliknya. Dave memasuki gedung tersebut diikuti oleh Kenzo, sedangkan pasukannya berjaga dari jauh.
"Kurasa dia hanya penculik kelas kakap yang dibayar oleh seseorang." Ujar Kenzo dengan nada datar.
"Tidak peduli dia siapa, aku akan menghabisinya sendiri." Jawab Dave dingin.
Setelah melewati banyak anak tangga, akhirnya Dave sampai ke rooftop, tempat yang diperintahkan penculik tersebut.
"Jangan!"
Mata Dave membulat melihat Vania terbaring di atas lantai berdebu, berusaha memberontak saat kedua pria tersebut berusaha untuk menyentuhnya lebih jauh. Matanya melihat jelas sudut bibir Vania mengeluarkan darah. Kakinya terdapat beberapa memar yang memerah, ditambah bajunya yang robek memperlihatkan dalamannya.
"KUBUNUH KALIAN!!"
Dave langsung berlari cepat, namun kalah cepat saat pria tersebut menyadarinya dan langsung mengeluarkan pisau dari kantongnya dan mengarahkannya ke leher Vania. Dave berhenti berlari saat melihat pisau tersebut menyentuh leher kekasihnya.
"Aihh, Tuan Davin kau datang terlalu cepat, baru saja kami ingin bersenang-senang." Ucap pria yang lain dan hanya dibalas tatapan tajam oleh Dave. Ia sadar jika posisi Dave terlalu dekat.
"Jangan bergerak sedikitpun atau kekasihmu ini akan mati dalam sekejab." Ucap pria itu sambil melangkah mundur mendekati tepian dinding rooftop yang memperlihatkan ketinggian gedung tersebut.
"Berikan ceknya! Lepaskan dia sekarang!" Ucap Dave dingin. Pria itu tersenyum senang melihat sebuah cek yang dikeluarkan oleh Kenzo.
Kenzo pun berjalan mendekat. Tanpa terduga, pria yang memegang Vania langsung berlari mendorong Vania ke belakang untuk mengambil cek yang dipegang oleh Kenzo.
"Uangku." Teriak pria tersebut.
"Aaaa.."
"Vania."
Tubuh Vania terdorong ke belakang dan jatuh dari pembatas dinding tersebut. Dave langsung bergerak cepat menggapai tangan Vania yang terulur.
"Ah, Dave." Ucap Vania dengan gemetaran. Sungguh, dia benar-benar takut sekarang. Tubuhnya menggelantung dan hanya Dave yang memegangnya. Ditambah tangan dan tubuhnya yang memang lemas, dikarenakan pukulan yang ia terima beberapa kali dari para pria itu. Ia bahkan tak berani melirik ke bawah.
"Jangan lihat ke bawah! Sayang lihat aku!" Ucap Dave lembut. Dave menggeram merasakan tangan Vania yang semakin licin dikarenakan keringat. Dave mencoba menariknya, namun ternyata tidak semudah yang ia bayangkan dengan hanya satu tangannya.
"Dave, seharusnya aku mendengarmu untuk tidak pergi. Aku menyusahkanmu dan aku begitu kekanakan." Ujar Vania dengan air mata yang tak bisa ia bendung. Rasanya ia ingin mengucapkan kata terakhirnya, sebelum ia jatuh dan meninggal.
"A...Aku takut." Ucap Vania gemetar.
"Sayang dengarkan aku, semua akan baik-baik saja." Hibur Dave. Vania menatap Dave lekat sedangkan Dave menatapnya lembut.
"Aku sudah tidak bisa menahannya." Ucap Vania menatap Dave sedih. jantungnya berdegup begitu kencang, saat ia akan menjemput ajalnya. Hatinya sesak melihat wajah Dave yang menatapnya begitu lembut.
"Percaya padaku, kau masih belum boleh pergi meninggalkanku." ucap Dave menatap kekasihnya lekat. Tangis Vania tak henti-hentinya turun.
Hingga tak terduga, Dave melepas satu tangannya lagi yang tadi ia gunakan untuk menahan tubuhnya di dinding pembatas.
Mata Vania membulat saat tubuh Dave ikut jatuh dari dinding tersebut sehingga kini mereka terjatuh dengan cepat ke bawah.
Vania menutup matanya erat saat tubuh Dave melingkupi tubuhnya dan tangan Dave melingkari kepalanya.
"Dave." Lirih Vania dengan mata tertutup sempurna.
Buk.
Vania merasakan tubuhnya berguncang beberapa kali di atas tubuh Dave. Apa ini rasanya jatuh dari ketinggian? Kenapa tidak sakit?
"Pendaratan sempurna."
"Tuan anda baik-baik saja?"
Mata Vania perlahan terbuka saat mendengar banyak suara di sekitarnya. Dengan mata yang masih berair dikarenakan air mata, Vania terkejut saat melihat beberapa pria dengan baju serba hitam khusus mengerumuninya dan Dave. Vania melirik Dave yang berada di bawahnya, masih terbaring di atas balon besar ini dengan wajah datar.
"DAVE." Vania langsung histeris memeluk Dave yang masih terbaring menatapnya dengan lekat. Ia pikir tidak akan bertemu dengan kekasihnya ini lagi. Lega, ia benar-benar lega melihat Dave di hadapannya saat ini.
"Hiks.. Aku.. Aku benar-benar membencinya. Hiks.. Pria bajingan itu, dia baru saja hampir membuat hiks nyawaku menghilang." Dave membalas memeluk tubuh Vania lembut, namun ia masih tak bisa tersenyum saat ini karna memikirkan kedua pria itu yang belum habis ditangannya.
Vania masih menangis histeris dipelukan Dave, sedangkan Dave mencoba duduk dari posisinya yang terbaring. Dalam pelukannya, Dave melihat bagaimana rok Vania yang dirobek hingga memperlihatkan pahanya, begitupun bajunya. Seorang bawahannya mendekat dan memberikan sebuah selimut kecil kepadanya.
"Sayang pakai ini!" Dave menerima selimut tersebut, lalu membelitnya di pinggang Vania untuk menutupi pahanya yang terekspos. Dave melepas jasnya, lalu memasangnya di pundak kekasihnya. Dave menatap air mata Vania yang kian turun dari kelopak matanya dengan wajah dingin.
"Shtt... Sudah okay. Kenapa kau sekarang sangat mudah menangis?" Dave memeluk Vania lagi dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Hiks.. Kau ini bodoh ha? Hiks.. Tentu saja karna aku takut tidak bisa melihatmu lagi." Jawab Vania marah dengan tangis yang tak kunjung reda.
Dave tersenyum senang mendengar jawaban Vania. Lihat kan, hanya Vania yang mampu meredam sisi iblis dalam diri Dave. Hanya jawaban sederhana kekasihnya, membuat ia tak bisa menahan senyumnya.
Bahkan para pasukannya dibuat terperangah melihat bosnya tersenyum begitu lebar dan begitu hangat.
"Seharusnya aku yang ketakutan karna tak bisa melihatmu lagi. Aku takut kehilanganmu baby." Ujar Dave dengan begitu lembut. Vania kembali menangis semakin keras mendengar perkataan manis Dave.
"Hiks.. Aku yang akan memberi pria bajingan itu pelajaran." Ujar Vania marah, lalu melepas pelukan Dave dan bangkit berdiri dengan raut kejam. Bahkan kini ia sudah berhenti menangis dengan begitu cepat.
"Sayang, aku yang akan membereskannya." Ucap Dave yang ikut bangkit berdiri. Para pasukan Dave hanya berdiri mematung melihat sepasang kekasih ini yang sekarang adu mulut.
"Tidak, aku yang akan membereskannya. Aku akan membuatnya menjadi makanan singa." Teriak Vania kesal. Para pria berbaju hitam tersebut bergidik ngeri melihat kekasih tuannya yang begitu mengerikan. Tak kalah dengan Tuan mereka sendiri.
"Sayang, dengarkan aku, dia pas..."
"TIDAK! Dia memukulku berulang kali saat aku terikat di tiang pondasi, lalu menyeretku ke rooftop dan hampir memperkosaku dan memaksa..."
"APA?" Vania berjengit kaget saat mendengar teriakan Dave yang begitu mengerikan. Vania menatap wajah Dave yang mengeras dengan tatapan tajam. Bahkan para pasukan Dave bergidik hanya karna merasakan aura membunuh di sekitar mereka.
"Aku yang akan membunuhnya dengan cara paling kejam." Geram Dave. Vania berjalan mendekati Dave, lalu tangan kirinya menggenggam tangan kanan Dave yang terkepal, sedangkan tangan kanannya mengelus pipi dan rahangnya lembut. Vania mendekat, lalu mencium bibir Dave lembut agar kekasihnya kembali tenang.
"Pergilah iblis jangan merasuki kekasihku saat aku ada di depannya, kekasihku terlihat mengerikan saat marah!" Dave yang mendengarnya tak bisa menahan gejolak menggelitik diperutnya.
"Kenapa kau begitu menggemaskan?" Tanya Dave dengan wajah geram melihat wajah lucu Vania.
"Pulang yuk!" Vania membalas hanya dengan senyum manis, lalu menggenggam tangan Dave dan berjalan ke mobil bersama.
***
"Kau sudah membawanya ke markas?" Tanya Dave dengan suara sepelan mungkin. Kini ia berdiri di depan balkon, sambil melihat ke arah Vania yang tertidur pulas di atas ranjang.
"Sudah, tapi aku sudah menghilangkan seluruh kuku kaki mereka dan mengukir pohon dikaki mereka." Ucap Kenzo di ujung sana.
"Jangan sampai mati! Aku yang akan mencabut nyawa mereka." Ujar Dave dingin, lalu mematikan sambungan telfon secara sepihak.
Dave mendekati ranjang kembali, menatap kekasihnya yang tertidur pulas dengan selimut yang menyelimutinya. Dave menyingkap selimut tersebut dengan pelan, lalu melihat beberapa memar ditubuh Vania dengan begitu lekat. Ia menahan amarahnya semenjak mengobati Vania setelah mereka sampai. Mendengar kekasihnya mengerang kesakitan membuatnya semakin memberang memikirkan cara apa untuk membalas mereka.
"Aku pastikan mereka tak akan ada lagi di dunia ini." Ucap Dave sambil mengusap pipi lembut Vania.
"Dave." Dave melihat Vania yang mengigau namanya dengan begitu lembut. Matanya masih tertutup sempurna, namun tubuhnya mendekat ke arah Dave.
"Dingin." Ngigau Vania lagi. Dave ikut berbaring, lalu menyelimuti tubuh mereka dan memeluk Vania dalam dekapannya.
"I love you."
***
Dave memasuki markasnya dengan wajah dingin dan tajam. Tercium jelas bau anyir darah dan bunyi-bunyian alat yang menandakan tempat ini adalah saksi bisu beribu korban yang sudah menyambut dewa kematiannya.
ARGHH...
Terdengar jelas teriakan-teriakan pria yang tersiksa dengan begitu sadis. Dave tersenyum miring, saat melihat dua orang pria yang tergantung membentuk X. Terlihat banyak cucuran darah mengalir dari tubuh mereka.
"Sepertinya kau menyiksa nya terlalu berlebihan Kenzo." Ucap Dave dengan wajah tersenyum mengejek.
"Aku tak bisa menahan nya." Kata Kenzo dengan wajah santai.
"Tapi ini masih kurang." Kata Dave dengan wajah dinginnya.
"Informasi apa yang kau dapat?" Tanya Dave tanpa melihat ke arah Kenzo.
"Dia adalah peculik suruhan ibumu dan tunanganmu. Mereka menyuruh kedua orang ini untuk membunuh kekasihmu." Jawab Kenzo sambil merogoh kantung jasnya dan mengeluarkan kotak rokok serta pemantik.
"Mereka lagi. Ternyata mereka sudah bosan hidup." Kata Dave dengan seringai tajamnya.
"Dimana wanitamu? Kau meninggalkannya?" Tanya Kenzo sambil menghidupkan sebatang rokok yang bertengger di mulutnya.
"Dia di rumah tertidur." Jawab Dave singkat. Jangan heran jika kata-kata Kenzo terdengar kasar saat memanggil Vania dengan 'wanitamu'. Karena sejak awal, ia tidak suka kehadiran wanita itu yang sedikit demi sedikit mengubah kepribadian Dave.
"Aku tau kau tidak menyukai kekasihku, tetapi jangan sampai kau menyakitinya atau kau tau akibatnya." Ancam Dave yang kini menatap Kenzo tajam.
"Ya.. Ya.. Ya.. Aku tau." Jawab Kenzo santai.
"Aku kehilangan selera, siksa mereka sampai mati. Aku tak ingin Vania mencium bau darah di tubuhku saat aku pulang." Kata Dave, lalu melenggang pergi keluar dari ruangan tersebut. Kenzo hanya menatap kepergian Dave dengan wajah datar. Tak tau apa yang sedang pria ini pikirkan.
Bersambung....
Hay... hay... hay...
setelah ini gimana ya nasibnya Stacey? terlebih lagi gimana nasib ibu dave dan tunangannya itu??
Dave udah mulai tobat nggak nyentuh korbannya langsung. sedangkan kenzo semakin menggila. 🙄🙄
Jangan lupa like, share, dan komen.
bye.... 😘💕