Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rana
Rana (narasi)
Sejak malam pesta bukit itu aku tidak pernah melihat Macan lagi. Aku bahkan merasa kehilangan melihatnya di pos jaga waktu aku lewat. Beberapa hari kemudian aku dengar dia ditangkap, dan itu sudah sebulan lalu. Aku masih bekerja di dua tempat, tapi aku sangat khawatir pada nenekku. Beberapa hari ini dia pingsan dua kali. Dia rajin periksa, tapi dokter tidak pernah menemukan apa-apa, dan itu bikin aku makin cemas. Nenekku satu-satunya yang kupunya di dunia ini, aku bahkan tak sanggup membayangkan hidup tanpa dia.
Dinda sekarang tinggal bersama Kerempeng di rumah ibunya. Katanya dia sayang sekali pada calon mertuanya, orangnya baik. Dia sering mengajakku main ke sana, tapi sampai sekarang aku belum sempat karena memang tidak ada waktu.
Hari ini Dinda ulang tahun, dan aku sudah janji mampir sebentar ke rumahnya. Aku kerja di kedai Pak Mansur karena hari Sabtu memang ramai. Hampir tengah malam aku minta izin pulang lebih awal, dan Pak Mansur yang baik hati mengizinkan. Kuambil tas berisi hadiahku, sebuah gaun cantik yang kubelikan untuknya, lalu keluar dan mendaki bukit. Ya Tuhan, kenapa sih rumahnya harus sejauh ini, tepat di puncak bukit.
Begitu sampai di tikungan, aku sudah mendengar musik pertunjukan live yang diputar dengan volume maksimal.
Sampai di depan rumah, aku mencoba menelepon Dinda, tapi hanya berdering. Aku sudah mau pulang waktu salah satu pengecer yang menjaga rumah itu menyapaku.
"Hei, cantik, nyasar ya?" Dia menatapku lekat-lekat.
"Aku datang ke ulang tahun Dinda, istrinya Kerempeng."
"Oh, kalau gitu ayo, gue antar masuk." Aku mengangguk saja.
Dia jalan di depan dan masuk ke rumah itu, yang indah banget dan besar sekali, dalamnya mirip rumah mewah.
Kami sampai di area kolam renang, dan Dinda sudah melihatku dari jauh lalu berlari menghampiri.
"Sampai ketemu, Tuan Putri." Pengecer itu mengedip padaku, lalu kembali ke depan rumah. Aku mengangguk saja.
"Akhirnya, say, kukira kamu nggak jadi datang." Dia memelukku.
"Mana mungkin aku nggak datang. Selamat ulang tahun, sayang, semoga bahagia dan penuh berkah." Kupeluk dia.
"Makasih, sayang." Kuserahkan tasnya, dia membuka dan memandang kaget.
"Wah, bagus banget! Kamu memang tahu seleraku, aku suka, mau langsung kupakai di pesta bukit berikutnya. Sekarang ayo, aku suruh siapkan piring buat kamu."
Dia menarikku ke sebuah meja. Kupeluk ibunya, lalu dia memperkenalkanku pada seorang perempuan paruh baya yang sangat cantik yang duduk di meja itu.
"Say, ini ibu mertuaku," kata Dinda.
"Senang berkenalan, Bu, namaku Rana." Aku tersenyum padanya.
"Jangan panggil Ibu segala, panggil saja Lastri, anggap rumah sendiri." Dia kelihatan ramah sekali.
"Terima kasih banyak."
Dinda membawakan sepiring daging bakar untukku. Aku makan dan minum bir sambil melihat orang-orang berdansa. Aku melihat cewek berambut merah yang sama seperti di pesta bukit tadi ada di situ juga, jadi kutanya Dinda siapa dia.
"Say, itu siapa?"
"Itu Cantika. Dia rutin jenguk kakak iparku di penjara dan sudah merasa jadi pacar resminya. Kasihan, biarin aja dia merasa begitu. Si Teror itu nggak akan pernah jadi milik satu perempuan."
"Memang mereka sudah pacaran?"
"Ya nggak lah. Kayaknya dia cuma sesekali tidur sama Cantika, nggak ada yang serius. Tiap minggu dia memang ke sana, tapi aku dengar Kerempeng ngomong ke Jagung kalau minggu ini Cantika nggak usah datang, soalnya Macan bakal dikunjungi perempuan lain."
"Astaga, secakep apa pun dia, brengseknya juga setinggi itu."
Kami ngobrol berjam-jam mengejar ketinggalan gosip, dan si Cantika itu terus memelototiku. Ih, cewek nyebelin.
Aku pamit dan pulang. Aku sudah capek sekali dan ngantuk berat. Sampai rumah, aku menengok nenekku dan dia tidur dengan tenang. Setelah itu aku mandi cepat, pakai piama, lalu berbaring memikirkan hidup sampai tertidur.