NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Maya tidak menyentuh foto itu.

Ia hanya menatap dari tempat duduknya, seolah gambar pudar itu bisa menggigit jika ia terlalu dekat. Perempuan di foto itu memang mirip dengannya. Bukan mirip seperti kebetulan biasa, melainkan mirip yang membuat leher Maya meremang.

Garis mata.

Bentuk senyum.

Cara alisnya sedikit turun di ujung.

"Namanya siapa?" tanya Maya.

Pak Surya duduk kembali dengan gerakan lambat.

"Alya."

Nama itu asing, tapi entah kenapa membuat dada Maya bergetar.

"Dia siapa bagi Bapak?"

Pak Surya menatap foto itu. "Orang yang seharusnya menjadi istri saya."

Raka diam, tapi Maya bisa merasakan kewaspadaannya meningkat.

Pak Surya melanjutkan, "Kami berpisah karena keluarga. Aku berasal dari keluarga besar, dia dari keluarga biasa. Saat itu aku terlalu pengecut melawan ayahku. Ketika akhirnya aku mencarinya lagi, dia sudah hilang."

Maya mendengarkan dengan jantung cepat.

"Lalu?"

"Aku mendengar dia hamil."

Ruangan terasa menyempit.

Maya memegang perutnya sendiri tanpa sadar.

Raka berkata, "Pak Surya, kalau Anda ingin mengatakan sesuatu, katakan jelas."

Pak Surya mengangkat mata ke Maya.

"Bu Maya, berapa usia Anda?"

"Lima puluh."

"Siapa nama ibu kandung Anda?"

Maya menjawab otomatis, "Lestari."

Pak Surya tampak kecewa, tapi tidak sepenuhnya mundur.

"Apakah Anda punya foto masa muda beliau?"

"Ada di rumah lama saya."

"Boleh saya melihatnya?"

Maya menegang.

Raka langsung berkata, "Tidak hari ini."

Pak Surya mengangguk. "Saya mengerti. Maaf kalau ini membuat tidak nyaman."

Maya menatap foto itu lagi. "Bapak menduga saya..."

Kata itu tidak sanggup ia selesaikan.

Anak?

Putri?

Hidup Maya sudah cukup kacau. Ia baru belajar menerima bahwa ia menjadi istri Raka dan mengandung anak di usia lima puluh. Sekarang seorang konglomerat tua menunjukkan foto perempuan mirip dirinya dan bertanya tentang ibunya.

Pak Surya berkata pelan, "Saya tidak berani menyimpulkan. Tapi sejak malam pertama melihat Anda, saya tidak bisa tenang."

Raka bertanya, "Sabrina tahu?"

Pak Surya menatapnya.

"Belum."

Di luar pintu, tangan Sabrina mengepal.

Belum.

Berarti ayahnya memang menyembunyikan sesuatu.

Sabrina mundur pelan sebelum ada yang melihatnya. Napasnya cepat. Ia berjalan ke ujung lorong, masuk ke ruang tunggu kosong, lalu menutup pintu.

Tangannya gemetar saat mengambil ponsel.

Ia menelepon seseorang.

"Cari tahu semua tentang Maya Lestari. Ibu kandungnya, akta lahir, rumah lamanya, tetangga, semuanya."

Suara di seberang bertanya sesuatu.

Sabrina menutup mata.

"Dan hubungi Dimas. Katakan kalau dia ingin hidupnya tidak hancur, dia harus memberi semua dokumen ibunya."

Di ruang konsultasi, Maya akhirnya berkata, "Pak Surya, ibu saya meninggal sudah lama. Dia membesarkan saya dengan sangat sederhana. Saya tidak pernah mendengar nama Alya."

"Mungkin saya salah."

Namun suara Pak Surya tidak terdengar yakin.

Maya berdiri pelan.

"Saya perlu waktu."

Pak Surya ikut berdiri.

"Tentu. Saya tidak akan memaksa. Tapi jika suatu hari Anda bersedia melakukan tes DNA..."

Maya menahan napas.

Tes DNA.

Kata itu membuat dugaan yang tadi samar menjadi terlalu nyata.

Raka memegang pinggang Maya.

"Kita pulang."

Pak Surya tidak menahan.

Di mobil, Maya diam lama.

Raka tidak bertanya sampai mereka keluar dari area rumah sakit.

"Kamu ingin membicarakannya?"

"Tidak tahu."

"Takut?"

"Iya."

Maya menatap jari-jarinya. "Saya baru saja kehilangan gambaran tentang Dimas. Sekarang tiba-tiba mungkin saya juga tidak tahu siapa ayah saya."

Raka melihat wajahnya.

"Pak Surya belum tentu benar."

"Tapi kalau benar?"

"Maka kamu punya ayah biologis yang sangat terlambat."

Maya tertawa kecil, sedih. "Mas Raka selalu tajam."

"Lebih baik daripada memberimu harapan kosong."

Maya mengangguk.

"Saya ingin ke rumah lama."

Raka langsung menolak. "Tidak hari ini."

"Saya ingin melihat foto ibu."

"Kita minta Bima ambil."

"Tidak. Saya ingin ambil sendiri."

"Maya, dokter bilang jangan stres."

"Saya lebih stres kalau tidak tahu."

Raka menatapnya lama. Ia tahu ia akan kalah lagi.

"Baik. Tapi hanya sebentar."

Rumah lama Maya terasa berbeda setelah beberapa hari tidak ditempati. Pagar sudah diperbaiki oleh orang Raka. Kunci diganti. Ada kamera kecil di sudut yang dulu tidak ada. Namun aroma rumah itu masih sama: kayu tua, sabun lantai, dan kenangan.

Maya masuk ke kamar, membuka lemari, lalu mengeluarkan kotak foto.

Raka berdiri di pintu, membiarkannya mencari.

Maya menemukan foto ibunya saat muda.

Tangannya langsung gemetar.

Perempuan di foto itu bukan Alya dari foto Pak Surya. Wajahnya berbeda. Lembut, bulat, dengan senyum yang Maya kenal sejak kecil.

"Ini ibu saya," kata Maya.

Raka mendekat.

Ia melihat foto itu, lalu berkata, "Tidak mirip dengan foto Pak Surya."

Maya menghela napas, antara lega dan bingung.

"Berarti Pak Surya salah?"

Raka tidak langsung menjawab.

Di belakang foto, ada tulisan tangan ibunya.

Maya membaliknya.

`Untuk Maya kecilku. Maaf Ibu belum bisa mengatakan semuanya.`

Darah Maya terasa berhenti.

Raka membaca tulisan itu juga.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Maya membuka kotak lebih dalam. Ada amplop tua yang selama ini tidak pernah ia perhatikan karena terselip di bawah kain pembungkus foto. Amplop itu menguning, tanpa nama pengirim. Hanya ada tulisan: `Dibuka saat Maya sudah siap.`

Tangan Maya gemetar begitu kuat sampai Raka mengambil amplop itu.

"Kita buka di apartemen."

"Tidak." Maya menatapnya. "Sekarang."

Raka ragu.

Maya mengangguk.

Ia membuka amplop itu.

Di dalamnya ada selembar surat pendek dan gelang bayi kecil.

Maya membaca surat itu dengan suara bergetar.

`Maya bukan anak dari rahimku, tapi dia anak hatiku. Jika suatu hari masa lalunya datang mencari, jangan biarkan dia merasa dibuang. Dia dititipkan kepadaku oleh perempuan bernama Alya, yang datang dalam keadaan takut dan terluka.`

Maya tidak mampu melanjutkan.

Surat itu jatuh ke lantai.

Raka menangkap tubuhnya sebelum lututnya menyerah.

"Maya."

Maya menatapnya dengan wajah kosong.

"Ibu saya... bukan ibu kandung saya?"

Raka memeluknya hati-hati.

Di luar rumah, sebuah motor berhenti sebentar di ujung gang. Pengendaranya memotret rumah Maya, lalu mengirim foto kepada Sabrina.

Pesan terkirim:

`Dokumen lama ditemukan. Sepertinya dugaan Nona benar.`

Sabrina menyimpan ponsel itu di tas kecilnya. Matanya tidak lagi memandang jalan, melainkan sesuatu yang lebih jauh: meja warisan, ruang rapat keluarga, dan wajah Pak Surya ketika harus memilih antara cucu angkat yang selama ini ia dukung atau darah daging yang tiba-tiba kembali.

"Jangan sebut namaku di mana pun," katanya kepada sopir sekaligus orang suruhannya.

"Tentu, Nona."

"Cari tahu siapa saja yang pernah melihat surat itu. Bidan, tetangga lama, petugas kelurahan, siapa pun."

"Kalau ada yang masih hidup?"

Sabrina tersenyum tipis. "Orang tua biasanya takut. Beri uang kalau bisa. Kalau tidak bisa, beri alasan untuk diam."

Di rumah tua, Maya masih duduk di lantai. Ia tidak tahu ada orang lain yang bergerak lebih cepat darinya.

Maya hanya memegang surat itu dengan kedua tangan. Air matanya jatuh, tetapi kali ini bukan karena Dimas atau Hendra. Ini air mata untuk seorang ibu yang mungkin pernah mencarinya, dan untuk dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa hidupnya lebih asing daripada kemarin.

Raka berjongkok di sampingnya.

"Kita cari jawabannya pelan-pelan."

Maya mengangguk, tetapi hatinya sudah tahu.

Jawaban itu akan mengubah lebih banyak hal daripada yang sanggup ia bayangkan.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!