Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - Target Garis Biru
Nyonya Sofia tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya dengan raut puas.
"Ibu mengerti, Max. Kamar sebelah memang berisik sekali sejak siang. Ibu senang kamu pulang cepat, jadi Nami tidak kesepian menghadapi para pekerja itu sendirian."
Kesepian?
Nami menjerit jengkel di dalam hati.
Kehadiran para pekerja bangunan di rumah ini justru merupakan penyelamat baginya agar otaknya tidak terus-menerus memutar ulang kejadian semalam.
Justru kepulangan Max yang terlalu dini seperti inilah yang menjelma menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan jantungnya.
"Kalau begitu, Max bersih-bersih dulu, ya. Kita makan malam bersama setelah ini," titah Sofia riang.
Max mengangguk pelan. Sebelum berbalik menuju lantai dua, pria itu sengaja berjalan melewati sofa Nami.
Langkahnya melambat, dan untuk sepersekian detik, aroma parfum maskulin berkelas milik Max menguar tajam, menyapa indra penciuman Nami dan sukses memicu sengatan listrik aneh di bawah kulit wanita itu.
Nami buru-buru membuang muka, merutuki tubuhnya yang mendadak berkhianat.
***
Satu jam kemudian, atmosfer di meja makan mewah itu terasa begitu kontras.
Sofia makan dengan santai sembari menceritakan rencana desain interior untuk kamar calon cucunya.
Sementara itu, Nami duduk dengan punggung tegap, mengunyah makanannya tanpa selera.
Di ujung meja, Max memimpin keheningan dengan wibawa alaminya.
Tepat saat Sofia berpamitan sebentar ke kamar mandi dibantu oleh seorang pelayan, Max meletakkan sendok dan garpunya dengan ketukan halus yang sengaja memecah keheningan.
Pria itu memberi isyarat pada kepala pelayan yang berdiri di sudut ruangan.
Tak lama, sang pelayan datang membawa nampan berisi sekotak buah stroberi merah segar yang berukuran besar dan segelas susu formula khusus di atas lepek kaca.
Hidangan itu diletakkan tepat di samping piring makan Nami.
Nami mengernyitkan alis, menatap buah dan susu itu dengan dahi berlipat. Setelah pelayan menjauh, ia memajukan tubuhnya dan berbisik ketus.
"Apa-apaan ini? Aku tidak suka dipaksa makan makanan tambahan di malam hari."
Max menyandarkan punggungnya di kursi, menautkan jemari kokohnya di atas meja sembari menatap Nami datar.
"Itu stroberi organik dan susu tinggi asam folat."
"Aku tahu! Aku ini dokter, Max, bukan orang awam," potong Nami sengit, suaranya tetap tertahan agar tidak terdengar sampai ke koridor luar.
"Pertanyaanku adalah, untuk apa kau menyiapkan ini?"
"Aku sudah cari tahu semuanya," jawab Max tenang, tanpa riak emosi sedikit pun di wajah tampannya.
"Asupan nutrisi mikro seperti asam folat dan antioksidan sangat krusial untuk meningkatkan probabilitas keberhasilan pembuahan. Ini demi efisiensi waktu kontrak kita, Namira. Aku tidak berniat membuang-buang waktu berbulan-bulan hanya untuk menunggu satu garis biru."
Rentetan kata yang meluncur begitu mudah dari bibir Max terasa seperti siraman air es yang mendadak membekukan rongga dada Nami.
Sebagai residen kardiologi, Nami tahu persis bagaimana rasanya jantung yang mengalami syok kardiogenik ringan—detak yang mendadak berhenti sedetik sebelum dihantam rasa ngilu yang pekat.
Dan detik ini, sensasi itu terasa begitu nyata. Rasa hangat yang sempat menggelitik hatinya sejak pagi tadi seketika mencelus, menguap tanpa sisa.
Nami mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, sepasang matanya menatap Max dengan binar pahit yang tersembunyi.
Benar kan, Nami? Dia sedetail ini bukan karena peduli padamu, batin Nami mengingatkan dirinya sendiri dengan kejam.
Dia hanya sedang merawat asetnya. Dia hanya memastikan rahim sewaan yang dia bayar mahal ini berfungsi dengan sangat baik demi ibunya.
"Baiklah," sahut Nami dengan senyum sinis yang dipaksakan.
Ia meraih garpu kecil, menusuk satu buah stroberi dengan kasar, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa asam manis buah itu terasa hambar di lidahnya.
"Mari kita selesaikan ini seefisien mungkin agar aku bisa segera pergi dari rumahmu."
Sepasang mata elang Max sempat menyipit tajam mendengar balasan dingin Nami.
Genggaman pria itu pada garpunya sempat mengeras sekilas, seolah ada riak tidak nyaman yang mendadak menggores egonya mendengar kata 'pergi' dari mulut Nami.
Namun, Max memilih diam saat melihat ibunya kembali ke ruang makan.
***
Malam semakin larut, dan kebisingan sisa renovasi di rumah itu akhirnya mereda sepenuhnya.
Setelah memastikan Nyonya Sofia meminum obat dosis malamnya dan tertidur lelap, Nami melangkah kembali menuju kamar utama dengan bahu yang merosot lelah.
Ia memegang gagang pintu kayu yang besar itu, menarik napas dalam-dalam untuk menyiapkan mentalnya sebelum menghadapi Max.
Namun, begitu pintu terbuka dan Nami melangkah masuk, pemandangan di dalam kamar sukses menghentikan aliran darahnya seketika.
Max sudah berada di sana, berdiri tegak di dekat sisi ranjang seolah memang sedang sengaja menunggunya.
Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna hitam.
Tubuh bagian atasnya dibiarkan polos tanpa selembar benang pun, sengaja memamerkan dada bidangnya yang tegap serta perut atletis berlekuk sempurna yang tersorot jelas di bawah temaram lampu tidur yang temaram.
Tidak ada kecanggungan sama sekali dari riak wajah pria itu, seolah bertelanjang dada di depan Nami sekarang adalah hak mutlaknya.
Nami tersentak hebat. Wajahnya seketika memanas sampai ke telinga.
Dengan panik, ia langsung berbalik badan membelakangi Max, tangannya kembali mencengkeram erat gagang pintu di hadapannya, berniat untuk kabur keluar demi menyelamatkan kewarasannya.
Namun, belum sempat jemari Nami memutar selot pintu, sebuah kehangatan yang masif mendadak mengepung punggungnya.
Max sudah melangkah cepat, mengikis jarak dalam keheningan hingga kini tubuh tegapnya yang hangat berada tepat di belakang Nami.
Tanpa peringatan, tangan kekar Max terjulur ke depan, menumpu kuat pada daun pintu tepat di sisi kepala Nami, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya dari belakang.
Nami mematung, menahan napas saat merasakan hawa panas dari dada bidang Max yang polos seolah merambat menembus kain baju tidur yang ia kenakan.
Hembusan napas hangat Max menerpa tengkuknya yang terekspos, sementara aroma parfum maskulin bercampur wangi tubuh alami pria itu seketika mengunci seluruh indra penciumannya, membuat persendian Nami mendadak lemas tak bertenaga.
Max menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di samping telinga Nami dengan suara bariton yang merendah, serak, dan sarat akan dominasi yang mutlak.
"Mau ke mana, Namira? Bukankah malam ini jadwal kita untuk melanjutkan... evaluasi proyek?"