NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Bayi laki-laki

“Bunda belikan air mineral dan camilan ringan untuk menemani kita menunggu giliran diperiksa.”

Almi datang mengagetkan Nadine yang sedang fokus dengan ponselnya.

“Iya, Bun. Terima kasih.”

Almi mendudukkan dirinya di sebelah Nadine. “Nanti ingin melakukan USG juga, Nad?”

“Aku mau, Bun, tapi aku juga masih was-was melihatnya.”

“Tidak apa-apa, kan Nadine bersama dengan Bunda.”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Tidak sakit, kan, Bun?”

“Tidak, Nad. Perutmu hanya dioleskan dengan gel sebelum alat USG menyentuh perutmu.” Bunda mengelus perut Nadine yang sudah membuncit.

Kehamilan Nadine sudah memasuki bulan ke-5. Sampai saat ini, dia merasa hidupnya jauh lebih baik, walau hatinya berkata rindu dengan Adinata. Tapi dia tetap diam dan menahan semuanya sendirian. Dia tidak ingin bertemu dengan Adinata lagi.

Nadine menatap perutnya dan memberikan elusan lembut di perutnya. “Nanti aku coba, ya, Ma. Aku sebenarnya ingin melihat perkembangan anakku.”

“Bunda juga ingin melihatnya, Nad.” Almi tertawa kecil. “Nad, bunda ingin bertanya sesuatu denganmu, tapi mungkin saja ini akan menyinggungmu.”

“Tidak apa-apa, Bun. Tanyakan saja.”

“Kamu benar-benar sudah resmi bercerai dengan Adinata, kan, Nad? Bukan apa-apa maksud bunda, Nad. Bunda hanya ingin mengetahuinya.”

Nadine tersenyum tipis. “Sudah, Bun. Nadine sudah resmi bercerai dari Adinata.”

“Kalian tidak mendatangi pengadilan?”

Nadine menggelengkan kepalanya. “Nadine meminta bantuan ke salah satu teman Nadine yang menjadi pengacara. Dia mengurusnya dan aku hanya tinggal memberi tanda tangan bersama dengan Adinata.”

“Syukurlah. Bunda hanya takut kalau Adinata mengetahui tentang anak yang kamu kandung dan dia akan mengambilnya dari kamu.”

Nadine terdiam. Ia sempat berpikir sampai kesitu, tapi ia mengabaikannya.

“Bun,” panggil Nadine.

Almi menolehkan kepalanya untuk menatap Nadine.

Nadine menghela napas sebelum berbicara. “Dokter kandungan Nadine adalah salah satu teman dekat Adinata.”

Almi terkejut mendengarkan ucapan Nadine. “Nadine, kenapa tidak berbicara dengan bunda? Bagaimana kalau Adinata mengetahuinya, Nad.”

Nadine menggenggam tangan Almi dengan erat. “Dia tidak akan membicarakannya dengan Adinata, Bun. Dia akan membantu aku untuk melindungi anakku dari Adinata. Dia mendukungku, Bun.”

“Dokter Xavier itu teman dekat Adinata? Berarti Dokter Arjuna juga mengetahuinya, kan?”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Dokter Arjuna adalah dokter pribadi Adinata dan aku, Bun. Dia juga mengetahui tentang masalah dan alasanku menjauh dari Adinata. Dia memilih untuk membantuku bersembunyi.”

“Kamu tidak mungkin terus mengandalkan mereka. Tidak selamanya mereka akan selalu berada di pihakmu. Suatu saat mereka akan mendatangi Adinata dan berbicara tentang anakmu.” Almi merasa sedih melihat Nadine.

Selama ini yang mengetahui tentang urusan Nadine adalah Andin. Dan Andin memilih untuk diam tanpa orang tuanya ketahui. Almi harus berbicara dengan Divaz.

“Kamu pindah ke tempat yang lebih jauh saja bagaimana, Nad? Bunda takut kalau Adinata datang. Bunda takut kalau kamu akan semakin diinjak harga dirimu oleh keluarga Adinata.”

“Nadine juga takut, Bun, tapi untuk sekarang, waktunya tidak memungkinkan untuk aku berpindah tempat. Mungkin aku akan menunggu anakku lahir dan membawanya hidup berdua denganku di kampung yang sangat jauh.”

“Atas nama Nyonya Nadine Ayunda.”

Nadine menggenggam tangan sang bunda. “Bunda mau temani Nadine masuk ke dalam atau menunggu di sini saja?”

“Bunda temani kamu masuk ke dalam.”

Nadine dan Almi melangkah bersama menghampiri seorang suster yang memanggil namanya untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

“Mari, Bu.”

Nadine dan Almi duduk di kursi yang berhadapan dengan Dokter Xavier.

Xavier merasa terkejut dengan tatapan tante Nadine yang menatapnya dengan sangat tajam. “Apa ada keluhan yang kamu rasakan selama memasuki usia kandungan 5 bulan, Nad?”

“Seperti ini hubungan seorang dokter dengan pasiennya. Langsung memanggil nama tanpa memberi embel-embel di depannya.” Almi berdecih.

Xavier meringis. “Nadine teman saya, Bu.”

“Nadine bukan teman kamu karena kamu teman Adinata, ya, Dokter!”

Xavier menatap Nadine dengan tatapan penjelasan.

“Bun, hargai Xavier, ya. Sampai sekarang saja dia masih menjaga rahasianya. Dia membantu Nadine dan memastikan kandungan Nadine setiap bulan.” Nadine mengelus tangan Almi yang mengepal.

Almi menganggukkan kepalanya. “Ya, Nad.”

“Saya bisa memastikan kalau saya tidak akan membicarakan kehamilan Nadine dengan Adinata, Bu.”

“Jangan membohongi saya, ya. Anak saya sudah menaruh harapan besar ke kamu. Awas saja kalau kamu sampai membohonginya.”

Xavier menganggukkan kepalanya. “Baik, Bu. Nadine, kamu ingin melakukan USG? Kalau iya, aku akan mempersiapkan alatnya untukmu.”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya, Xav. Aku ingin melihat perkembangan anakku.”

Xavier meminta sang perawat yang menjadi partner kerjanya untuk mempersiapkan alat untuk USG. Dia juga mengajak Nadine untuk berbaring ke brankar.

“Aku akan mengolesi perutmu dengan gel. Gelnya aman dan tidak mengganggu kenyamanan janinmu, mungkin kamu hanya sedikit merasa geli.”

Nadine menganggukkan kepalanya di posisi yang sudah berbaring. Dia berpikir, bagaimana jika Adinata melihat Xavier menggerakan alat USG di atas perutnya.

“Lihat, Nad. Janinmu berkembang dengan baik. Sudah terlihat wajah, mata dan jarinya. Di usia 5 bulan, janin mulai aktif melakukan gerakan dan mendengar suara.”

“Dia sudah bisa mendengarkan aku berbicara?”

“Sudah. Kamu bisa mengajaknya berbicara dan dia akan mendengarkannya. Mungkin dia akan memberi respon berupa tendangan kecil.”

Nadine menganggukkan kepalanya. Dia menatap layar monitor dengan seksama. “Laki-laki, ya.”

Xavier menganggukkan kepalanya. “Anakmu akan mewarisi tinggi badan ayahnya, Nad. Ukuran tubuhnya terlihat panjang.”

“Iya.” Nadine tidak memindahkan tatapannya. Dia masih menatap layar monitor yang menampilkan anaknya di dalam kandungan.

“Kamu bisa mendapatkan foto ini, ya, Nad. Aku akan mencetaknya untukmu.”

“Terima kasih atas kebaikanmu, Xavier.”

Xavier menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum tipis sambil melepas sarung tangannya. “Kamu hanya perlu memberi balasan dengan melahirkan anak laki-lakimu dengan sehat. Tunggu sebentar, ya aku tuliskan resep vitamin untukmu.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!