NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 | Hadiah dari Orion

Luna mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku jubah dokternya. Ancaman Orion memang selalu berhasil membuat bulu kuduknya meremang, tetapi rasa lelah yang menumpuk di dadanya membuat Luna tidak ingin lagi didikte oleh siapapun. Ia lelah diintimidasi Xabiru, lelah diusik Julian, dan sekarang ia benar-benar muak dipojokkan oleh ancaman gila Orion di rooftop ini.

​Luna menatap lurus mata abu-abu di hadapannya dengan tatapan menantang, mengabaikan tatapan gila Orion yang menyala di sana.

​"Lakukan saja kalau kamu memang mau menghancurkan hidupmu sendiri, Orion," bisik Luna tajam dan dingin. "Niatmu mau melindungi saya atau cuma mau memuaskan ego gila kamu itu, hm?"

Tanpa menunggu jawaban, Luna memanfaatkan celah saat genggaman Orion sedikit mengendur karena terkejut. Ia menghentakkan tubuhnya ke samping, mendorong lengan Orion, dan melangkah lebar menerobos celah kosong untuk menuju pintu keluar rooftop.

​"Jam istirahat saya sudah habis. Saya harus kembali ke ruang praktik," ujar Luna tanpa menoleh sedikit pun dan mempercepat langkah kakinya.

Namun, melarikan diri dari seorang Orion Grimm adalah sebuah kekeliruan besar.

​Hanya dalam dua langkah, lengan tegap Orion merayap melingkari pinggang Luna dari belakang. Sebelum Luna sempat menjerit, Orion menarik tubuh kecil wanita itu dengan satu sentakan kuat, lalu duduk di atas bangku taman kayu yang ada di sudut rooftop.

​"Aah!" Luna tersentak kaget saat tubuhnya tertarik dan mendarat tepat di atas pangkuan Orion.

​Belum sempat Luna bangkit untuk berdiri, kedua lengan tegap Orion langsung mengunci pinggangnya erat-erat dari belakang. Pria itu mengurung Luna sepenuhnya dalam pelukan dominan yang tak memberikan celah sedikitpun untuk bergerak.

​"Lepasin saya, Orion! Kamu benar-benar gila!" pekik Luna panik sembari tangannya memukul-mukul lengan tegap Orion yang mengunci perutnya. Tubuhnya bergerak gelisah, mencoba meluncur turun dari pangkuan pria itu.

​"Bergerak sedikit lagi, Nanae..." bisik Orion rendah tepat di ceruk leher Luna, membenamkan wajahnya di sana dan menyerap aroma tubuh wanita itu yang selalu membuatnya ketagihan, "...dan aku tidak akan segan-segan menciummu sampai kamu kehabisan napas di sini."

Ancaman itu seketika membuat tubuh Luna membeku kaku di atas pangkuan Orion. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah dan rasa canggung yang luar biasa. Posisi mereka saat ini benar-benar terlalu intim dan berbahaya jika sampai ada staf RS Umum yang tak sengaja melihat.

​Orion terkekeh pelan, getaran rendah langsung terasa menembus punggung Luna. Tangan kirinya mengunci pinggang Luna, sementara jari-jari tangan kanannya yang panjang naik mengusap dagu Luna, memaksa wanita itu menoleh sedikit agar matanya menatap iris abu-abunya yang pekat.

​"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah membuat rasa bahayaku membara, hm?" bisik Orion, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan menuntut. "Aku tidak suka diabaikan, Nanae. Terutama olehmu."

​"Orion, tolong... ini tempat terbuka," cicit Luna, suaranya mulai gemetar karena menyadari betapa nekatnya pria yang sedang memangku dirinya saat ini. "Kalau ada yang lihat–"

​"Masa bodoh," pangkas Orion tak terbantahkan. Ia mencondongkan wajahnya, mendekatkan bibirnya yang hanya sejarak seujung kuku dari bibir Luna yang bergetar. "Aku cuma peduli pada jawabanmu. Sebutkan nama pria yang membuatmu sekacau ini, Rellunae. Siapa yang berani menyentuh milikku semalam?"

​"Bukan siapa-siapa, Orion..."

​"Jangan menguji kesabaranku, Nanae," geram Orion pelan, jemarinya di dagu Luna makin mencengkeram lembut namun penuh kuncian. "Jawab aku... atau aku tidak akan pernah melepaskanmu dari pangkuanku siang ini."

Napas Luna makin memburu. Posisinya yang terkunci rapat di pangkuan Orion di area terbuka seperti ini benar-benar membuatnya berada di ujung tanduk. Setiap detik yang berlalu terasa seperti bom waktu yang siap meledak jika ada staf RS yang tak sengaja naik ke rooftop.

​Melihat raut ragu dan ketakutan yang masih menghiasi wajah Luna, Orion justru menyunggingkan senyuman tipis. Senyuman manis yang terasa amat mengerikan.

Dengan santai, Orion meraih ponsel berdesain mahal dari dalam saku celananya menggunakan satu tangan, sementara tangan satunya tetap mengunci erat pinggang Luna di pangkuannya. Jemari panjangnya bergerak di layar lalu menekan sebuah nomor.

​"Orion, kamu mau apa?!" pekik Luna panik saat melihat layar ponsel pria itu.

​Orion tidak menjawab. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. Hanya dalam hitungan dua detik, suara pria asing yang berat dan dingin terdengar dari pengeras suara.

​"Selamat siang, Tuan Orion. Ada perintah?"

​"Cari tau siapa pria brengsek yang berani mengusik Rellunae kemarin malam," perintah Orion datar tanpa beban, iris abu-abunya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Luna. "Begitu ketemu... patahkan kedua kakinya. Buat dia tidak bisa menemui milikku lagi."

​"Baik, Tuan. Tim akan bergerak detik ini juga–"

​"TIDAK! JANGAN!"

Kepanikan murni seketika menghantam dada Luna. Tanpa berpikir panjang, Luna merampas ponsel di tangan Orion dan langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Jantungnya berdegup gila-gilaan, membayangkan betapa ngerinya jika bawahan keluarga Orion benar-benar bergerak melakukan aksi brutal.

​"Julian! Namanya Julian!" seru Luna pasrah dengan suara bergetar, air mata frustrasi mulai terkumpul di pelupuk matanya. "Dia mantan tunangan saya yang kemarin mendadak muncul dan menemui saya. Cuma dia, Orion! Tolong jangan lakukan hal gila pada siapapun!"

Keheningan seketika menyergap rooftop itu.​Orion mematung sejenak, mencerna nama yang baru saja diakui oleh wanita di pangkuannya. Tatapan godaan di mata abu-abunya menguap seketika, berganti dengan kilatan kelam yang teramat dingin dan sarat akan niat membunuh yang pekat.

​"Julian..." ulang Orion pelan, menyebut nama itu seperti racun di lidahnya. Suara beratnya berubah menjadi geraman halus yang begitu menakutkan.

Orion membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas bangku kayu. Ibu jarinya terangkat, mengusap lembut sudut mata Luna yang sedikit basah karena air mata frustrasi. Gerakannya begitu halus dan memuja, sangat bertolak belakang dengan aura kegelapan yang mendadak melingkupi tubuh tegapnya.

​"Bagus, Nanae..." bisik Orion rendah, merapatkan keningnya ke kening Luna hingga napas hangat mereka beradu. "Anak pintar. Lihat... lebih mudah kalau kamu jujur padaku sejak awal, kan?"

Luna menatap ponsel Orion yang tergeletak di bangku kayu dengan napas masih memburu. Suara dingin bawahan Orion yang langsung patuh tanpa ragu saat diperintah mematahkan kaki orang benar-benar membuat bulu kuduknya berdiri. Orion bukan sekadar pasien RSJ kaya biasa. Ada kekuasaan gelap dan berbahaya yang menyelimuti nama pria ini.

​"Orion..." cicit Luna sambil menatap dalam-dalam iris abu-abu di hadapannya. "Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa kamu punya bawahan yang bisa kamu perintah seenaknya untuk melukai orang lain?"

​Orion terkekeh pelan. Suara rendahnya bergetar di dadanya. Ibu jarinya membelai pelan bibir bawah Luna yang sedikit pucat. ​"Ini di luar jam praktik kita, Nanae," bisik Orion santai, sudut bibirnya terangkat miring. "Aku tidak diwajibkan untuk menjawabnya, kan? Apalagi saat kamu sedang duduk manis di pangkuanku."

​"Orion, saya serius!" gertak Luna gemetar.

​"Aku juga serius, Nanae," pangkas Orion lembut namun tak terbantahkan.

​Pria itu merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berbalut beludru hitam pekat. Tanpa menunggu persetujuan Luna, Orion membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah gelang rantai platina yang sangat elegan, dihiasi liontin berlian berbentuk bintang kecil yang berkilau indah diterpa sinar matahari.

​"Ini untukmu," gumam Orion sembari meraih pergelangan tangan halus Luna, hendak memasangkannya.

​Luna tersentak kaku. Begitu melihat kemewahan berlian yang tak masuk akal itu, ia membelalak dan bergegas menarik tangannya kembali. "Tidak! Saya tidak bisa menerima ini!"

​"Kenapa?" Kening Orion seketika berkerut rapat. Tatapan lembut di matanya berubah menajam.

​"Saya ini doktermu–maksud saya, hubungan kita tidak seharusnya seperti ini! Saya tidak bisa menerima barang semewah ini dari pasien saya sendiri!" Luna menggeleng tegas, berusaha mendorong kotak itu menjauh. "Bawa pulang hadiahmu!"

Penolakan mentah-mentah itu menjadi pemicu mendadak yang membakar kesabaran Orion.

Orion mencengkeram kedua pergelangan tangan Luna dalam satu genggaman besar yang kokoh, menguncinya tepat di atas dada bidangnya. Wajah Orion bergerak maju secepat kilat, memangkas jarak hingga hidung mereka saling bersentuhan. Aura dominan yang pekat dan berbahaya seketika mengintimidasi Luna sampai napas wanita itu tertahan.

​"Jangan pernah menolak apa pun yang kukasih padamu, Rellunae!" geram Orion rendah, matanya berkilat gila dan sarat akan amarah yang meletup-letup. "Aku tidak peduli kamu ini dokterku atau bukan! Saat aku memberimu sesuatu, tugasmu cuma satu: terima dan pakai!"

​"Orion, kamu menyakitiku..." ringis Luna saat genggaman di pergelangan tangannya makin mengetat.

​Mendengar ringisan itu, rahang Orion mengetat kaku. Ia tak melepaskan kunciannya, melainkan menarik pergelangan tangan kanan Luna mendekati bibirnya, lalu memasangkan gelang platina itu secara paksa ke pergelangan tangan halus sang dokter.

Cklik.

​Pengait gelang terkunci sempurna. Orion mendaratkan kecupan yang sangat dalam dan posesif tepat di atas punggung tangan Luna, menyalurkan rasa memiliki yang mutlak.

​"Gelang ini punya pelacak GPS khusus," bisik Orion tepat di depan bibir Luna, suaranya kembali tenang namun menyerap bulu kuduk.

"Jangan pernah berani melepasnya. Kalau sampai gelang ini lepas dari tanganmu..." Orion mengecup sudut bibir Luna dengan tekanan tegas, "...aku akan datang dan memasangkannya kembali dengan cara yang jauh lebih tidak menyenangkan."

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!