Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Cemburu Membawa Petaka
Ruang tamu mendadak sunyi.
Ranum masih menggenggam liontin kecil itu di kedua telapak tangannya.
Ia menarik napas pelan. Lalu tersenyum tipis.
"Itu bukan mantan pacarku, Kak Gracia." Suaranya tetap lembut. "Dia kakakku."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Gracia tampak sedikit terkejut.
Namun hanya sesaat.
Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis.
Sedangkan di balik perban yang menutupi kedua mata Ranum...
Pikirannya jauh lebih waspada.
Aku tahu...
Kedatangan Kak Gracia malam ini bukan hanya karena mengkhawatirkanku.
Justru pernyataan itu yang sejak tadi ingin ia sampaikan.
Ia sedang menunggu kesalahpahaman terjadi antara aku dan Brams.
Ranum mengepalkan pelan liontin di tangannya.
Aku harus berhati-hati.
Gracia bukan perempuan yang bisa dianggap sederhana.
Gracia kembali membuka suara.
"Kalau memang dia kakakmu..."
"Kenapa aku tidak pernah melihatnya berada di dekatmu?"
Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Setahuku..."
"Kakak laki-laki biasanya sangat menjaga adik perempuan satu-satunya."
"Apalagi kalau begitu disayang."
Nada bicaranya terdengar ringan.
Namun setiap kalimatnya seperti sengaja diarahkan untuk menimbulkan tanda tanya.
Di sisi lain...
Brams masih berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana.
Tatapannya datar.
Namun rahangnya perlahan mengeras.
Ia masih memilih diam.
Masih memberi kesempatan Ranum menjelaskan.
Ranum tersenyum kecil.
"Jangan menerka-nerka, Kak Gracia."
"Itu tidak baik."
Gracia hanya mengangkat sebelah alis.
Ranum melanjutkan.
"Kami memang tidak sedekat yang Kak Gracia bayangkan."
"Tapi..."
"Aku sangat menghormati kakakku."
"Beliau sudah menjagaku selama bertahun-tahun."
"Karena itu..."
"Aku menyimpan foto kami di dalam liontin ini."
"Kalau suatu hari aku merindukannya..."
"Aku tinggal membuka liontin ini. Bahkan memakainya."
Suasana kembali hening.
Gracia tidak segera menjawab. Tatapannya bergeser sekilas kepada Brams.
Berusaha membaca reaksi pria itu.
Namun...
Brams justru melangkah maju. "Cukup." Suaranya rendah. Namun tegas.
Tatapan Gracia beralih kepadanya.
"Pergilah kalau memang tidak ada urusan lain."
"Istriku harus beristirahat."
Tanpa menunggu jawaban... Brams berjalan melewati Gracia.
Lalu dengan tenang menggenggam pergelangan tangan perempuan itu.
Bukan kasar.
Namun cukup tegas untuk mengarahkannya menuju pintu utama.
"Brams..." Gracia berhenti melangkah. "Kau mengusirku?"
"Tidak." Jawaban Brams terdengar datar. "Aku hanya mengantarmu sampai pintu."
Klik.
Pintu utama dibukanya lebar.
Brams berdiri di sampingnya. "Hati-hati di jalan." Nada suaranya tetap sopan. Tetapi jelas terdengar sebagai penutup pembicaraan.
Gracia menatap Brams beberapa saat. Kemudian mengembuskan napas pelan. "Baik."
Ia melangkah keluar.
Brams segera menutup pintu tanpa menunggu lebih lama.
Klik.
Pintu kayu itu tertutup rapat.
Di luar rumah...
Gracia masih berdiri mematung. Tangannya perlahan menyentuh permukaan pintu yang baru saja ditutup.
Ujung jarinya mengusap pelan kayu berwarna cokelat itu. Seolah yang disentuhnya bukan pintu...
Melainkan sosok Brams sendiri.
Perlahan...
Seringai tipis terukir di sudut bibirnya. "Terima kasih..." Bisiknya lirih.
"Tapi..."
"Aku akan kembali lagi."
"Tunggu saja."
Tatapannya mengarah ke rumah megah di hadapannya.
Sorot matanya kini tidak lagi menyembunyikan ambisi.
Ia belum menyerah. Dan ia tidak berniat menyerah.
Dengan langkah tenang, Gracia berbalik meninggalkan kediaman Brams.
Dan di dalam ruangan tamu.
Brams mengembuskan napas pelan.
Tatapannya jatuh pada Ranum yang sedang berusaha memasang kembali liontin di lehernya.
Dengan kedua mata yang masih belum dapat melihat, beberapa kali pengait kalung itu terlepas dari jemarinya.
Brams berjalan mendekat. "Diam."
Ranum menghentikan gerakannya.
Tanpa banyak bicara, Brams mengambil liontin itu dari tangan Ranum.
Jari-jari mereka bersentuhan sesaat.
Hangat.
Ranum spontan menarik napas pelan.
Entah kenapa...
Sentuhan sederhana itu kembali membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Brams berdiri di belakang Ranum. Dengan cekatan, ia menyatukan pengait kecil kalung itu.
Klik.
Kalung kembali melingkar rapi di leher Ranum.
"Kau punya kakak laki-laki?" Suara Brams terdengar datar.
"Iya." Jawaban Ranum singkat.
"Kenapa aku tidak pernah tahu?"
Ranum tersenyum tipis. "Karena kau tidak pernah bertanya apa pun tentang keluargaku."
Kalimat itu membuat Brams terdiam.
Memang benar.
Sejak Ranum tinggal di rumah ini...
Ia tidak pernah sekali pun bertanya tentang keluarga perempuan itu.
Seolah masa lalu Ranum tidak pernah penting baginya.
Brams kembali menyentuh liontin kecil itu.
Lalu...
Klik.
Ia membuka penutupnya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto kecil.
Seorang pria tampan sedang tersenyum tipis.
Lengannya merangkul bahu Ranum yang saat itu tampak jauh lebih muda.
Tatapan Brams berhenti beberapa detik.
"Kau penasaran sampai ikut melihatnya juga?" Suara Ranum terdengar disertai senyum kecil.
Brams menutup kembali liontin itu. "Aku tidak penasaran."
"Tapi..."
"...aku juga menghormatinya."
Ranum sedikit memiringkan kepala.
"Karena ternyata..."
"...aku punya kakak ipar."
Ucapan itu membuat Ranum terkekeh pelan.
Brams kembali membungkukkan badan. Tanpa memberi aba-aba, ia mengangkat tubuh Ranum ke dalam gendongannya.
"Brams..."
"Aku masih bisa berjalan."
"Aku tahu."
"Tapi lebih cepat begini."
Ia melangkah menuju tangga.
Suasana kembali tenang. Namun beberapa anak tangga kemudian...
Brams kembali membuka suara. "Sepertinya aku mengenalnya, karena wajahnya terasa sangat familiar."
Ranum sedikit terkejut. "Apa?"
Tangannya refleks mencengkeram kemeja Brams.
"Siapa nama kakakmu?" Tanya Brams.
"Devan Rahardian." Jawab Ranum.
Langkah Brams langsung terhenti di tengah tangga.
"Apa?"
"Kau tidak salah menyebut nama?"
Ranum menggeleng pelan.
"Tentu tidak."
"Namanya Devan Rahardian."
"Usianya..."
Ranum berpikir beberapa detik.
"Kurang lebih seumuran denganmu."
Brams terkekeh pelan.
"Devan Rahardian."
"Ketua geng motor terbesar di ibu kota."
"Apa kau sedang bercanda, Ranum?"
Tubuh Ranum menegang.
"G-geng motor?"
"Ketua geng motor?"
"Iya. Dia temanku. Devan Rahardian."
Ranum langsung menggeleng.
"Tidak mungkin."
"Mungkin hanya namanya yang sama."
"Kak Devan mana mungkin menjadi ketua geng motor."
Brams kembali melangkah menaiki tangga.
"Aku yakin seratus persen."
"Dia orang yang sama."
"Aku bahkan masih menyimpan beberapa foto kami."
Ranum mendengus pelan.
"Kau lupa?"
"Aku belum bisa melihat, Brams."
"Oh." Brams mengangguk kecil. "Kalau begitu... tunggu sampai matamu sembuh."
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Brams masuk sambil masih menggendong Ranum.
Baru setelah meletakkannya di sofa dekat jendela besar, ia kembali bertanya.
"Tunggu."
"Kalau begitu..."
"Kau keturunan keluarga Rahardian?"
Ranum menggeleng.
"Bukan."
"Sama sekali bukan."
Brams menatapnya.
Ranum mulai bercerita.
"Ayah Kak Devan menikah dengan ibuku."
"Sejak saat itu kami menjadi saudara tiri."
Brams mengangguk pelan.
"Lalu kenapa selama ini dia tidak pernah datang mencarimu?"
Wajah Ranum perlahan berubah sendu.
"Karena..."
"Dulu Paman pernah bertengkar hebat dengan Kak Devan."
"Itu terjadi setelah Ibu meninggal."
"Aku tidak pernah tahu apa penyebabnya."
"Tapi setelah pertengkaran itu..."
"Kak Devan pergi meninggalkan desa."
"Ayahnya juga pergi ke luar negeri."
"Sejak saat itu..."
"Aku tinggal bersama Paman."
"Sedangkan biaya hidupku selalu dikirim oleh Ayah Kak Devan."
"Paman bilang..."
"Kak Devan tinggal bersama ayahnya di luar negeri."
"Karena itu kami tidak pernah bertemu lagi."
Ruangan kembali sunyi.
Ranum tersenyum kecil.
"Setelah mendengar ceritaku..."
"Aku rasa temanmu itu bukan Kak Devan."
"Dia pasti orang lain."
Brams justru menggeleng.
"Tidak."
"Aku pastikan seratus persen."
"Itu orang yang sama."
Ranum hanya mengembuskan napas pelan.
"Terserah."
Malam semakin larut.
Brams membantu membuka perban yang membalut mata Ranum sesuai petunjuk dokter.
Gerakannya sangat hati-hati.
Kemudian ia membersihkan area sekitar mata istrinya.
Mengoleskan salep perlahan.
Lalu membantu Ranum meminum obat.
Bahkan menyuapinya makan malam.
Tak satu pun pekerjaan itu ia serahkan kepada pelayan.
Setelah semuanya selesai...
Brams merapikan kembali kotak obat.
Klik.
Tutupnya tertutup rapat.
"Sudah berapa lama kau putus kontak dengan Devan?"
Suara Brams kembali memecah keheningan.
Ranum yang sejak tadi menatap lurus ke depan menggeleng pelan.
"Entahlah."
"Mungkin..."
"... Karena terlalu lama."
"Sampai aku sendiri lupa sudah berapa tahun kami tidak pernah bertemu."
Brams hanya mengangguk.
Sementara itu...
Ranum meraba sebuah kotak kayu kecil berisi berbagai tanaman herbal kering.
Kotak itu ia letakkan di atas pangkuannya.
Dengan perlahan ia mengambil satu per satu isinya.
Menghirup aromanya.
Memastikan setiap jenis daun dan bunga kering tidak tertukar.
Brams hanya memperhatikan.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan kecil jemari istrinya.
Lalu...
Tanpa peringatan...
Ia berkata pelan,
"Bagaimana kalau..."
"...besok Devan datang ke rumah ini."
"Menjengukmu."
Jemari Ranum yang sedang memegang sehelai daun herbal langsung membeku.
Napasnya tertahan.
Kepalanya perlahan menoleh ke arah suara Brams.
Meski kedua matanya masih belum mampu melihat apa pun...
Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang begitu jelas.
Bersambung...
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu