Suatu hari, dunia berubah. Gerbang-gerbang misterius mulai terbuka, melepaskan monster-monster yang mengancam untuk memusnahkan umat manusia. Kini, satu-satunya cara bertahan hidup adalah memburu dan membasmi mereka sebelum semuanya terlambat.
Di tengah kekacauan itu, ada seorang pria yang dikenal dengan julukan "Swordsman Mage Terlemah", Zeha. Tak disangka, ia memperoleh kekuatan dari sebuah kristal aneh, membawanya pada misi untuk mengumpulkan sepuluh Fragments of Eternal Power demi menjadi yang terkuat.
Salah satu kekuatan itu, High-Demonic Eyes-warisan dari Immortal Demon yang tersegel di dalam Demon Crystal, secara tak sengaja terbangun dan menyatu dengannya. Sejak saat itu, Zeha berjalan di antara cahaya dan kegelapan, memegang kekuatan para dewa sekaligus iblis.
Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia bersumpah akan menjadi penyihir terkuat, melindungi manusia, dan mengakhiri bencana yang melanda dunia.
+
+
Karya Fantasi-Aksi pertama!
Ayo buruan bacaaa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Aulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - AKADEMI CALLISTER
Sebelum itu, alangkah baiknya jika teman-teman sekalian meninggalkan jejak berupa like dan vote di chapter kali ini..
Biar apa? Biar author senang dan novel ini bisa maju..
Selamat Membaca...
•
•
•
Pats-!
Zeha membuka matanya dengan keadaan terkejut, bersamaan bangun dan dengan segera ia memutar kepalanya yang ke kiri dan ke kanan, berusaha mencerna situasi sekitar.
“Di mana ini?” Kening Zeha berkerut, mencoba memutar otak untuk mengenali tempat yang ia tempati.
Tak butuh waktu lama baginya untuk menebak tempat yang ia tempati, melihat ada banyak orang yang tengah terbaring di atas ranjang, sama sepertinya.
“Rumah sakit?”
“Eh? Anda ternyata sudah sadar...” Tiba-tiba seorang wanita datang menghampirinya. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, sepertinya wanita itu adalah seorang dokter.
Kedua mata Zeha memicing saat melihat sang dokter yang tengah tersenyum hangat kepadanya. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Sang dokter tersenyum. “Kau dibawa oleh beberapa orang prajurit dalam keadaan pingsan. Katanya kau terluka saat melakukan penyerangan. Tulang punggung dan empat tulang rusukmu patah. Seluruh tubuhmu dipenuhi memar, dan kepalamu retak.”
Detik itu juga, seluruh tubuh Zeha mematung, matanya membola dan rahangnya merosot ke bawah. Ia sudah mengira akan mendapatkan luka yang serius saat melawan werewolf, tapi tak menyangka kalau ternyata separah itu.
Saat melawan werewolf, ia tak begitu merasa sakit, mungkin karena terlalu fokus bertarung.
“Sudah berapa lama aku pingsan?” Zeha bertanya.
Sang dokter berpikir sebentar sembari menyentuh dagunya. “Hum, sekitar dua hari?”
Zeha terkejut lagi. “Apa?! Selama itu?”
Sang dokter tertawa kecil sembari mengibas-kibaskan tangan kanannya. “Jangan khawatir, sekarang kau sudah sembuh total. Aku juga sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi...”
Memang sedikit diluar nalar. Pada umumnya, orang biasa yang mengalami patah tulang akan sembuh dalam waktu satu bulan. Kalau para mage dan swordsman mage akan sembuh dalam waktu dua minggu.
“Tapi kau sembuh dalam waktu dua hari! Bukankah itu menakjubkan?” Sang dokter memasang wajah penuh semangat, disertai kedua matanya yang berbinar-binar. Zeha sampai bisa merasakan adanya cahaya yang bersinar dari wajah sang dokter.
Zeha tersenyum canggung. “Ah, begitu, kah?”
“Hm!” Ekspresi sang dokter masih sama cerahnya.
Zeha hanya bisa membalas dengan tawa canggung. Ia sendiri bingung kenapa sikap sang dokter padanya sangat ramah, maksudnya, terlalu responsif dan ekspresif, secara mereka baru pertama kali bertemu.
Sejujurnya, Zeha sedikit merasa tidak nyaman.
“Tapi omong-omong, kau sepertinya cukup akrab dengan Putra Mahkota, ya?” Sang dokter kembali membuka suara, membuat Zeha tersentak dan refleks menoleh.
“Apa maksud anda? Itu tidak benar.”
Kening sang dokter sedikit berkerut, dan kepalanya sedikit miring. “Eeh? Kesatria yang mengantarkanmu adalah bawahan langsung Pangeran. Mereka juga bilang kalau kau harus mendapatkan pengobatan terbaik. Karena itu aku yang turun tangan langsung untuk mengobatimu. Kalian sepertinya teman baik, ya!”
“Ah, jadi itu alasan kenapa dia sangat ramah padaku...” Zeha membatin. Sekali lagi ia menatap wajah sang dokter yang sangat cerah, matanya berbinar, seolah tengah mengharapkan sesuatu padanya.
Zeha mulai berpikir kalau dokter itu merupakan penggemar Putra Mahkota.
“Itu tidak benar. Dia menyelamatkanku saat aku hampir mati di dalam dungeon.”
Zeha tiba-tiba menunduk. Wajahnya pun berubah sendu, bersamaan mengingat kembali kejadian saat ia hampir mati di dalam dungeon. Werewolf itu bukanlah tandingannya untuk sekarang, dibandingkan dengan Putra Mahkota yang bisa mengalahkan werewolf itu dengan mudah.
“Aku gegabah. Aku jadi sombong hanya karena sudah mendapatkan kekuatan hebat.”
Kekuatan adalah segalanya. Orang-orang yang tidak memiliki sihir sama sekali, selalu diperlakukan dengan hina dan dikucilkan. Mereka selalu menjadi bahan perundungan. Zeha yang tiba-tiba mendapatkan kekuatan dari kristal aneh, menjadi terlalu bersemangat dan antusias.
“Aku bodoh karena sudah menganggap diriku kuat.”
Zeha yang belum pernah merasakan sihir sama sekali, menjadi terlalu bahagia saat keinginannya akhirnya terwujud. Bertahun-tahun ia mengubur rasa putus asanya, dan berjuang demi mencapai apa yang ia impikan. Dan, ketika semua itu menjadi nyata, Zeha menjadi terlalu percaya diri.
“Sial, memalukan sekali!” Kedua mata Zeha terpejam kuat, serta rahangnya mengeras. Ia benar-benar malu pada dirinya sendiri yang bersikap terlalu ceroboh dan percaya diri akan kekuatannya.
Jika dibandingkan dengan Xavier yang termasuk pada peringkat ke-8 dari sepuluh swordsman mage terkuat di kekaisaran, Zeha masih belum ada apa-apanya.
Zeha mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya. Ia sudah sepenuhnya menjernihkan pikiran, kemudian kembali memeriksa ke sekeliling.
Tadi, ia hanya memperhatikan sekilas, jadi tak begitu menyadarinya. Ada banyak orang yang terbaring dengan kondisi yang cukup parah. Mereka adalah para mage dan swordsman mage. Zeha bisa mengetahuinya melalui pendeteksi energi sihir milik Litch.
“Sepertinya pasien di sini lumayan banyak.”
Sang dokter yang sedari tadi tengah menulis di sebuah papan kecil yang dibawanya, pun ikut memperhatikan ke sekeliling. “Ah, itu semua adalah para swordsman mage yang menjadi bagian dari tim penyerangan.”
Zeha mengangguk mengerti.
“Kasus kali ini melibatkan seluruh swordsman mage yang ada di kekaisaran. Mereka yang masih minim pengalaman ditugaskan untuk bertarung melawan monster. Dan, tidak semua swordsman mage bisa langsung terbiasa berhadapan dengan para monster. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan rendah. Pada akhirnya, mereka berakhir di sini karena terluka saat bertarung.”
Zeha bisa memahaminya. Perasaan takut dan tidak berdaya dihadapan sebuah kekuatan yang besar. Sebesar apa pun tekad dan keberanian yang sudah kau kumpulkan, dihadapan kekuatan, itu semua tidak berarti.
“Kau benar.”
Berbeda dengan kesatria yang sudah dilatih untuk bertarung secara langsung, para mage dan swordsman mage tidak memiliki kemampuan bertarung secara nyata. Mereka yang berkompetisi di acara tahunan juga tidak menggunakan kekuatan mereka sepenuhnya.
Para kesatria dilatih untuk membunuh musuh, sedangkan para mage dan swordsman mage dilatih untuk mengembangkan skill dan mengalahkan lawan yang lebih kuat. Secara mental, kesatria lebih kuat dibandingkan mereka.
Sang dokter lantas tersenyum, bersamaan menyatukan kedua telapak tangannya. “Baiklah! Kau bisa langsung kembali!”
“O-oh. Baiklah... Tapi sebelum itu, berapa kira-kira biaya yang akan aku bayar untuk pengobatan ini?”
Mengingat apa yang sang dokter katakan, kesatria Xavier menyuruh pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik padanya. Itu artinya, biaya pengobatan juga pasti jauh lebih mahal.
Di dalam hati, Zeha terus mengutuk Xavier yang selalu bertingkah sesuka hati, dan membuat uangnya lenyap dalam sekejap.
“Oh! Untuk masalah itu, kau tidak perlu khawatir!” Senyuman cerah yang tiba-tiba terpampang di wajah sang dokter sukses membuat Zeha kebingungan.
Sang dokter lalu berbalik, dan melangkah pergi sebelum melanjutkan kalimatnya, “Yang Mulia Putra Mahkota sudah membayar biaya pengobatannya!”
Di sama, Zeha sudah sepenuhnya membeku dengan mata membulat.
-
-
Akademi Callister.
“Sudah lama sekali, ya?”
Zeha sudah masuk ke halaman akademi, ia masih tetap terpesona melihat bangunan megah yang menjadi tempat ia bersekolah dulu. Dulu, ia merasa sangat bahagia karena bisa diterima di salah satu akademi terkemuka di kekaisaran.
Namun setelah satu tahun bersekolah, ia pun mulai menerima fakta menyedihkan tentang dirinya.
“Yah, itu juga sudah sangat lama berlalu.”
Zeha mencoba melupakan semua kenangan buruk itu, lalu melangkah masuk ke dalam. Yang pertama kali ia lewati adalah aula. Luasnya bukan main, hampir sama dengan luas ruangan bos dungeon.
Tidak seperti biasa, akademi yang dulunya dipenuhi oleh para murid, kini hanya terdapat beberapa orang saja. Itu pun bukan seorang murid akademi.
Zeha tak ingin membuang-buang waktu, lantas segera menghampiri resepsionis.
“Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?” Seorang wanita, mengenakan seragam putih seperti seorang kesatria, menyambut Zeha dengan senyuman ramah.
“Saya ingin menemui Kepala Akademi.”
“Apa anda sudah membuat janji dengan beliau sebelumnya?”
“Belum, tapi...” Zeha mengeluarkan sebuah lencana berbentuk lingkaran berwarna biru yang dilapisi oleh emas di sekelilingnya.
Sang resepsionis sontak terkejut, cepat-cepat ia membereskan meja kerjanya, lalu beranjak menghampiri Zeha.
“Silahkan ikuti saya.” Sang resepsionis memandu Zeha secara langsung menuju ruangan Klaus yang berada di lantai tiga. Mereka menggunakan alat teleportasi agar bisa sampai dengan cepat.
Sang resepsionis terus berjalan menelusuri lorong, hingga menemukan sebuah pintu berwarna perak yang memiliki pola ukiran seperti tanaman.
Sang resepsionis mengetuk pintu tiga kali sebelum membuka suara. “Master, ada tamu istimewa yang ingin menemui anda.”
Setelah tiga detik berlalu tanpa ada respon, sang resepsionis lantas membuka pintu dan mempersilahkan Zeha untuk masuk ke dalam.
Tanpa banyak berpikir, Zeha langsung melangkah masuk, kemudian sang resepsionis pun menutup pintunya.
*******
Zeha langsung disuguhi oleh sosok Klaus yang tengah duduk di kursi—sibuk memeriksa berbagai lembar kertas yang bertumpuk di atas meja.
Zeha sepenuhnya tertegun, sudah lama ia tidak melihat pribadi yang sudah ia anggap sebagai salah satu keluarganya itu. Sosok yang selalu membantunya disaat sulit. Ada perasaan haru sekaligus rindu.
Senyuman senang tak bisa ia tahan di wajahnya.
“Salam kepala Yang Mulia Grand Duke Sylstallone.”
Aktivitas Klaus seketika terhenti, matanya yang bergetar, bergerak secara perlahan ke arah sumber suara yang sudah sangat lama ia lupakan.
Wajahnya dipenuhi perasaan kaget dan tidak percaya.
“Kau...?!”
...****...
...Jangan lupa tinggalkan jejak guys......