NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Seperti Saudara

Hari ketiga Lila di Tunas Mentari, Rayyan membuat aturan baru di kelas.

"Tidak boleh pegang tas Lila."

Seorang anak laki-laki bernama Dito menatapnya bingung. "Kenapa?"

"Karena dia tidak suka."

"Aku cuma mau lihat gambar kelincinya."

"Tanya dulu."

Dito mencibir. "Kamu guru?"

"Bukan. Aku kakaknya."

Kelas langsung ramai.

Bu Karin yang sedang menata buku berhenti. Naya, yang baru hendak meninggalkan kelas untuk bekerja, ikut membeku.

Lila duduk di kursi kecilnya, memegang krayon, mata besarnya menatap Rayyan.

Rayyan sendiri tampak tidak merasa mengatakan hal besar.

Dito mengerutkan hidung. "Dia bukan adikmu. Dia baru."

"Sekarang jadi adikku."

"Tidak bisa begitu."

"Bisa. Aku bilang bisa."

Bu Karin mendekat sebelum perdebatan menjadi perang kecil.

"Rayyan, kalau mau melindungi teman, bagus. Tapi jangan memutuskan hubungan orang sembarangan, ya."

Rayyan berpikir sebentar.

"Kalau begitu teman yang seperti adik."

Bu Karin tersenyum. "Itu lebih baik."

Naya menghela napas lega, tetapi dadanya tetap tidak tenang.

Kata kakak dari mulut Rayyan terdengar terlalu alami.

Sejak Lila masuk sekolah, dua anak itu seperti punya bahasa sendiri. Lila tidak bicara, tetapi Rayyan bisa menebak saat ia haus, takut, atau ingin menjauh. Jika Lila menatap pintu terlalu lama, Rayyan akan berkata, "Tante Naya pasti jemput." Jika Lila menutup telinga saat anak lain berisik, Rayyan akan mengajak kelas bermain "siapa paling diam".

Bu Karin sampai berkata kepada Naya, "Aneh, ya. Biasanya Rayyan aktif sekali. Tapi dengan Lila dia sabar."

Naya hanya tersenyum.

Aneh.

Terlalu aneh.

Saat ia keluar sekolah, Arkan sudah menunggu di dekat mobil hitam.

Naya berhenti.

"Bapak sering sekali muncul di sekolah untuk orang yang katanya sibuk."

"Ini sekolah anakku."

"Saya tidak bilang bukan."

Arkan berjalan di sampingnya menuju gerbang. "Bu Karin bilang Lila mulai merespons."

"Iya."

"Rayyan membantu."

"Saya tahu."

"Kamu tidak senang?"

Naya berhenti. "Saya senang Lila tidak takut. Tapi saya tidak mau dia terlalu bergantung pada Rayyan."

"Kenapa?"

Karena setiap kali mereka bersama, luka lama saya bergerak.

Karena saya takut berharap.

Karena kalau Rayyan ternyata tidak ada hubungannya dengan saya, saya akan kehilangan anak saya untuk ketiga kalinya di dalam kepala sendiri.

Naya menjawab, "Karena Rayyan punya keluarga sendiri."

Arkan menatapnya.

"Rania?"

Nama itu membuat wajah Naya menutup.

"Bukan urusan saya."

"Rania bilang kamu anak angkat keluarga Pradipta."

Naya tertawa kecil. "Dia bilang begitu?"

"Benar?"

"Tanya dia."

"Aku bertanya padamu."

Naya menatap Arkan. "Dan kalau saya jawab, Bapak akan percaya?"

Arkan diam.

Naya mengangguk pelan. "Itu masalahnya."

Ia berjalan melewati Arkan.

Arkan tidak mengejar. Ia mulai belajar bahwa setiap kali ia memaksa, Naya menjauh lebih jauh.

Tapi ia juga tidak berhenti mencari.

Siang itu Raka menyerahkan berkas baru.

"Pak, ada banyak kejanggalan. Naya Prameswari tercatat sebagai anak biologis Pradipta berdasarkan akta lama yang baru dibuat ulang ketika dia usia delapan belas. Tapi sebelum itu, tidak ada data jelas. Dia dibesarkan Nenek Sari di Cijeruk. Kasus tabrak lari terjadi tepat malam dia dijemput ke Jakarta."

Arkan membuka halaman berikutnya.

"Rania?"

"Rania Pradipta tidak punya SIM saat kecelakaan. Ada catatan tilang lama yang ditutup. Mobil yang dipakai malam itu terdaftar atas perusahaan keluarga."

"Korban?"

"Masih hidup, tetapi cacat kaki permanen. Keluarga korban menerima kompensasi besar dan mencabut banyak keberatan setelah vonis."

Arkan menatap foto korban.

"Cari CCTV asli."

"Sudah hilang dari berkas."

"Aku tidak tanya yang ada di berkas. Cari yang asli."

Raka mengangguk.

Di rumah Pradipta, Rania juga menerima kabar buruk.

Bu Mira masuk ke kamarnya dengan wajah tegang.

"Arkan menyuruh orang menyelidiki kasus lama."

Rania menjatuhkan lipstik.

"Dari mana Mama tahu?"

"Pak Hendra menelepon. Ada orang Wiratama menanyakan salinan berkas."

"Kenapa Pak Hendra bicara?"

"Karena dia takut. Orang Wiratama bukan orang yang bisa ditolak."

Rania berdiri, napasnya cepat. "Ini karena Naya. Dia pasti menghasut."

"Kamu yang membiarkan semuanya kacau."

"Mama menyalahkan aku?"

Bu Mira menatap putrinya. "Mama menyuruhmu hati-hati."

"Mama juga yang membiarkan anak perempuan itu hidup!"

Tamparan Bu Mira mendarat di pipi Rania.

Rania terdiam, menatap ibunya dengan mata lebar.

Bu Mira sendiri tampak kaget pada tangannya, tetapi ia tidak meminta maaf.

"Jangan pernah bicara keras tentang itu di rumah ini."

Rania memegang pipinya. Air matanya jatuh, kali ini sungguhan.

"Kalau Arkan tahu, aku habis. Rayyan akan diambil. Semua orang akan tahu aku bukan siapa-siapa."

Bu Mira menutup mata.

Ia ingin menenangkan Rania seperti dulu. Tapi untuk pertama kalinya, ia melihat bukan anak manis yang ia besarkan, melainkan wanita dewasa yang sejak empat tahun lalu hidup di atas tubuh kakaknya.

Tetap saja, ia memeluk Rania.

"Kita belum kalah."

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Pisahkan Naya dari anak-anak. Serang tempat yang paling lemah."

"Lila?"

"Bukan. Nenek Sari."

Rania mengangkat kepala.

Bu Mira berkata pelan, seolah sedang membicarakan urusan rumah tangga biasa.

"Naya bisa bertahan dihina. Tapi dia tidak akan bertahan kalau orang tua itu terancam."

Malamnya Naya menerima telepon dari rumah sakit.

"Bu Naya, mohon segera datang. Ada masalah administrasi perawatan Ibu Sari."

Naya yang sedang menyisir rambut Lila langsung berdiri.

"Masalah apa?"

"Ada pihak keluarga yang meminta pemindahan pasien."

Jantung Naya berhenti.

"Pihak keluarga siapa?"

"Katanya dari keluarga Pradipta."

Sisir jatuh ke lantai.

Lila menatapnya takut.

Naya memaksa tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak. Mama keluar sebentar."

Ia menelepon Yuni, meminta menjaga Lila. Lalu ia berlari ke lift.

Di rumah sakit, ia menemukan Bu Mira berdiri di depan ruang administrasi bersama Pak Damar.

Naya tidak menyapa.

Ia langsung berkata, "Jangan sentuh Nenek."

Bu Mira menatapnya dengan wajah sedih yang dipoles rapi.

"Naya, Mama hanya ingin membantu."

"Bantuan kalian selalu punya harga."

"Kamu sekarang tinggal di apartemen Wiratama, bekerja di perusahaan Arkan, membawa anak adopsi entah dari mana. Kamu pikir itu tidak berbahaya? Mama cuma ingin Nenek Sari dirawat di tempat yang lebih baik."

"Dengan memindahkan tanpa izin saya?"

"Kamu bukan keluarga kandungnya."

Kalimat itu menghantam.

Naya melangkah mendekat.

"Dia lebih keluarga daripada kalian semua."

Pak Damar mencoba menengahi. "Mbak Naya, Bu Mira hanya..."

"Diam."

Pak Damar terkejut.

Naya menatap Bu Mira.

"Kalau kalian mendekati Nenek sekali lagi, saya buka semua. Kecelakaan Rania. Surat pengakuan. Bayi saya. Cincin itu."

Bu Mira memucat.

"Kamu tidak punya bukti."

Naya mengeluarkan ponsel.

"Sekarang mungkin belum cukup. Tapi saya mulai punya."

Di layar, ada foto Lila.

Bu Mira menatap foto itu terlalu lama.

Terlalu lama untuk orang yang seharusnya tidak kenal.

Naya melihatnya.

Dan saat itu juga ia tahu.

Bu Mira tahu anak perempuan itu hidup.

Selama ini, mereka semua tahu.

Bu Mira menyadari tatapan Naya berubah.

Ia cepat mengangkat dagu. "Jangan menuduh tanpa dasar."

"Saya belum menuduh."

"Matamu sudah menuduh."

Naya mendekat satu langkah. Pak Damar refleks maju, tetapi Bu Mira mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti. Di ruang rawat sempit itu, suara mesin oksigen Nenek Sari terdengar seperti hitungan mundur.

"Kenapa Ibu menatap foto Lila seperti mengenal dia?" tanya Naya.

"Karena semua anak miskin yang terlantar terlihat sama."

Kalimat itu membuat Naya tersenyum. Bukan karena lucu, tetapi karena terlalu kejam untuk disembunyikan.

"Dulu Ibu juga bilang saya anak miskin yang beruntung diambil kembali keluarga Pradipta."

"Dan kamu membalas kami dengan mempermalukan keluarga."

"Keluarga yang mana? Yang menjual saya ke polisi?"

Bu Mira menatap pintu, memastikan tidak ada perawat mendengar.

"Pelankan suaramu."

"Takut nama Pradipta kotor di rumah sakit kelas tiga?"

Wajah Bu Mira menegang.

Naya mengangkat ponsel sedikit. "Saya simpan percakapan ini."

Bu Mira tertawa pendek. "Rekaman tanpa izin tidak selalu berguna di pengadilan."

"Tapi berguna untuk membuat orang bertanya."

Untuk pertama kalinya, Bu Mira tidak punya jawaban cepat.

Naya memasukkan ponsel ke saku.

Ia belum menang.

Tapi ia berhasil melihat satu celah: keluarga Pradipta tidak takut pada dosa.

Mereka takut pada suara.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!