"Will you marry me?"
Kalimat tersebut ditanyakan seorang anak konglomerat pada Reli di depan mantan kekasih dan sahabat yang sudah mengkhianatinya.
Siapa sangka kalau pertemuan tidak menyenangkan Aurelia Aurita Soejono dengan seorang anak konglomerat anti mainstream, berakhir dengan pernikahan kontrak.
Jarvis Zeza Jayantaka, seorang anak konglomerat yang baru saja kembali dari New Zealand harus menerima rasa sakit hati karena cercaan wanita yang dicintainya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuktikan siapa dirinya.
Sayangnya, tidak semudah itu. Posisi CEO yang seharusnya menjadi miliknya tengah diisi oleh mantan sahabat yang dulu juga pernah menghinanya.
Untuk mendapatkan posisi CEO itu, Jarvis meminta bantuan Reli, menikah kontrak dengannya selama 6 bulan. Pasalnya sang ayah mengajukan syarat tersebut jika dirinya ingin mendapatkan suara di Rapat Umum Pemegang Saham nanti.
Kira² gitulah kurlebnya.
Yok baca kalo minat, kalo ga minat yodah melipir aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACING ALASKA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. RENCANA RESEPSI PERNIKAHAN
Rencana pesta pernikahan yang diinginkan ayah Jarvis—Zeno, tentunya tidak bisa ditolak atau pun di bantah oleh Jarvis. Meski sejujurnya dia merasa enggan mengadakan sebuah pesta yang sia-sia pada akhirnya nanti.
Berbeda dengan Jarvis, Reli merasa senang mendengar rencana tersebut. Dia sama sekali tidak memedulikan jika setelah enam bulan berlalu pernikahannya dengan Jarvis akan berakhir, yang terpenting untuknya adalah merasakan sebuah pesta pernikahan kalangan konglomerat yang selama ini dia idam-idamkan. Untuknya itu merupakan suatu kebanggaan yang bisa dirinya perlihatkan pada teman-temannya.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Reli mengikuti Jarvis yang berjalan ke pintu keluar.
"Sudah aku bilang kan kalau aku harus pergi setelah makan siang," jawab Jarvis menoleh pada Reli. "Kenapa?"
Reli bingung harus menjawab apa. Dia hanya merasa bingung harus melakukan apa jika sendirian berada di rumah tersebut. Tapi itu bukan berarti dirinya merasa tidak nyaman di sana, dia hanya tidak tahu apa yang harus dia lakukan seorang diri.
"Aku ikut ya?" Tanya Reli dengan sedikit ragu. "Aku bingung harus ngapain di sini."
Jarvis berdecak mendengarnya. Permintaan Reli tersebut membuat pria itu menjadi merasa menyusahkan dirinya.
"Kamu bisa berkeliling ke tiap sudut rumah ini, atau tidur lagi seperti tadi. Ah iya, taman belakang ada kolam, kalau mau kamu bisa berenang,"
Jawaban Jarvis membuat Reli menjadi penasaran dengan tiap sudut rumah yang teramat sangat luas tersebut. Luasnya mencapai lebih dari 3.000 meter persegi.
Setelah membiarkan Jarvis pergi, Reli berkeliling rumah itu dan mengitari setiap sudutnya. Tidak lupa juga dirinya mengabadikan hal tersebut dengan kamera ponselnya.
Taman belakang rumah yang dibilang Jarvis membuat gadis itu benar-benar terpukau. Kolam renang yang luas dengan di tanami berbagai tanaman indah beraneka warna.
"Astaga, ini bagus banget," ucap Reli dan setelahnya berswafoto hingga dirinya merasa puas.
Sambil melihat-lihat hasil jepretannya, gadis itu kembali memasuki rumah dengan tatapan mengarah pada ponselnya. Baru saja beberapa foto dia kirimkan pada Angga, untuk memamerkannya pada adiknya itu.
"Kalau aku posting di instagram, mereka semua pasti akan langsung heboh," gumam Reli dengan wajah di penuhi senyuman karena merasa senang.
"Reli, di mana Vis?" Tanya Moza yang melihat Reli berjalan masuk dari pintu taman belakang.
"Ada urusan yang harus dikerjakannya," jawab Reli berjalan mendekati sang ibu mertua.
"Kamu pasti kesepian, kan?" Tanya Moza dengan tangan kanan memegang dagu Reli.
"Nggak juga, Mom," jawab Reli dengan jujur.
"Gimana kalau kita mulai persiapan untuk resepsi pernikahan kalian?" Ujar Moza tersenyum. "Ikutlah, kita harus membeli gaun pengantin dan yang lainnya."
Reli sangat antusias dengan ajakan Moza tersebut. Gadis itu sangat bersemangat mengunjungi sebuah butik untuk membeli gaun pengantin.
"Bagaimana kalau kita buat saja? Aku masih belum merasa ada yang pas untukmu," ujar Moza saat Reli mencoba gaun ketiganya.
"Nggak perlu, Mom. Aku suka gaun ini," jawab Reli.
"Ini terlalu biasa," ucap Moza memperhatikan gaun bermodel Empire Waist. "Kita buat yang model Ball Grown."
Reli hanya tersenyum pada keputusan Moza. Pada intinya, gadis itu memang ingin mengenakan gaun pengantin ala princess yang sering dirinya lihat saat seorang wanita dari kalangan atas menikah.
Perasaan Reli menjadi tidak sabar menantikan resepsi pernikahannya nanti. Dia ingin memperlihatkan pada teman-temannya kalau dirinya beruntung bisa menikah dengan anak konglomerat.
"Acaranya akan diadakan di hotel kita. Mana yang kamu suka, outdoor atau indoor?" Tanya Moza ketika mereka berdua berada di dalam mobil hendak pulang.
"Yang mana saja, Mom. Untukku sama saja," jawab Reli menyembunyikan keinginannya.
"Mengadakan pernikahan outdoor sepertinya sedang menjadi trend. Sebaiknya resepsinya kita adakan di taman pinggir kolam renang hotel saja," ujar Moza sambil melihat ponselnya karena sedang menghubungi pihak hotel J. T Marlow, hotel yang merupakan milik keluarga Jayantaka.
Reli semakin bahagia karena keputusan Moza merupakan hal yang diinginkannya. Rasanya dirinya ingin sekali berteriak pada semua orang karena terlalu senangnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Gadis itu langsung menerima panggilan telepon dari Jarvis.
"Ada di mana?" Tanya Jarvis di ujung telepon.
"Aku dan Mom dalam perjalanan pulang," jawab Reli. "Ada apa?"
Reli cukup heran kenapa Jarvis sampai meneleponnya seperti itu. Itu membuatnya jadi berpikir kalau pria itu pasti sedikit demi sedikit jadi menyukai dirinya.
Tiba-tiba ponsel Reli diambil oleh Moza sebelum sempat Jarvis mengatakan apa yang ingin disampaikannya.
"Ada apa Vis? Kamu sudah di rumah? Apa kamu nggak sabar nunggu istrimu pulang?" Ujar Moza menggoda anaknya. "Kami berdua baru saja ke butik untuk memesan gaun pengantin, jadi Reli pasti sangat lelah. Biarkan dia beristirahat dengan tidur malam ini."
Reli melirik Moza dan berusaha memperlihatkan ekspresi yang seolah-olah tidak mengerti dengan perkataannya.
Satu jam berlalu. Karena jalanan macet, mereka berdua baru sampai setelah satu jam lebih perjalanan. Hari juga sudah semakin malam, waktu pun telah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Mommy dari mana?" Adik Jarvis yang bernama Tyaga menoleh pada kehadiran ibunya dan Reli, ketika hendak berjalan menuju elevator di rumah tersebut.
"Kamu baru pulang?" Tanya Moza saat Tyaga berjalan menghampiri mereka berdua.
"Minggu depan pemilihan ketua OSIS baru, jadi banyak hal yang harus dipersiapkan," jawab Tyaga. "Siapa dia?"
"Jangan nggak sopan gitu! Dia ini kakak iparmu—Reli," jawab Moza.
"Halo, aku Reli. Jadi kamu adiknya Jarvis," Reli tersenyum sambil menyodorkan tangan kanannya hendak bersalaman.
"Dia sudah nikah?" Tanya Tyaga pada Moza, tidak memedulikan jabatan tangan yang disodorkan Reli. "Pasti nggak akan bertahan lama."
Setelah mengatakan hal tersebut Tyaga langsung bergegas pergi menaiki tangga. Reli hanya bisa terpaku melihat sikap Tyaga yang terkesan angkuh. Apalagi perkataannya itu, meski terdengar tajam tetapi yang dikatakannya memang benar.
"Ya ampun anak itu," kesal Moza. "Maaf ya, dia memang seperti itu. Tapi bukan berarti dia nggak suka sama kamu. Dia pasti hanya malu."
"Nggak, nggak masalah, Mom," ucap Reli.
Setelah berpamitan pada Moza, Reli menuju kamar di mana Jarvis sudah berada.
Ketika dia masuk kamar tersebut, Jarvis sudah tertidur di ranjang tempat tidur.
"Ya ampun, kenapa dia sudah tidur?" Gumam Reli heran melihat Jarvis.
Gadis itu membersihkan dirinya dan berencana untuk segera tidur juga. Diambilnya posisi berbaring di sofa dua seat yang ada di kamar tersebut.
"Setelah tidur di ranjang itu, rasanya jadi menderita tidur seperti ini," keluh Reli karena tidak bisa meluruskan kakinya di sofa yang ukurannya lebih kecil dari tubuhnya, dan terdapat sandaran tangan di sofa tersebut.
Gadis itu menggeram kesal sambil beranjak duduk karena tidak bisa tidur. Dilihatnya Jarvis yang terlelap di ranjang tempat tidur.
"Seharusnya aku yang tidur di situ!" Protes Reli dengan kesal.
Gadis itu memikirkan sesuatu saat melihat ukuran ranjang tempat tidur yang besar tersebut. Jarvis tertidur di salah satu sisi ranjang sehingga sisi lainnya terdapat lahan kosong. Itu membuatnya berpikir untuk tidur di sana.
Segera gadis itu berjalan mendekati ranjang tempat tidur dan mengambil guling lalu menaruhnya di tengah-tengah ranjang. Dengan perlahan Reli segera berbaring di space kosong.
Gadis itu menoleh ke arah Jarvis yang tertidur, "Awas saja kalau kamu macam-macam!!" Ancam Reli dengan ekspresi bersungguh-sungguh.
Tidak berapa lama dia langsung terlelap, dan menikmati tidurnya yang terasa nyaman sepanjang malam. Tubuhnya terasa sangat rileks dan rasanya semua rasa lelahnya hilangnya. Hingga suara sebuah alarm membuatnya terganggu.
"Berisik banget!! Matikan alarm itu!!" Kesal Reli tanpa membuka mata dan belum sepenuhnya bangun.
"Cepat minggir!!"
Seruan yang terdengar sangat dekat tersebut tiba-tiba menghentakkan jantung Reli dan membuatnya langsung membuka mata. Kesadarannya langsung terkumpul dengan mata yang mendelik saat menyadari posisinya saat ini.
"Sudah bangun, kan? Menyingkirlah!" Seru Jarvis lagi.
Reli menjadi merasa malu mengetahui kalau dirinya yang tertidur tanpa sadar memeluk pria itu, bahkan guling pembatas yang dibuatnya sudah terhempas ke lantai.
...@cacing_al.aska...
iya kalo jadi cerai sih 🤣
Reli keterlaluan bgt wkwkwk