NovelToon NovelToon
Dia Buah Hatiku

Dia Buah Hatiku

Status: tamat
Genre:Single Mom / Chicklit / Tamat
Popularitas:35.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Andila

Dilarang boom like dan tabung bab, tolong baca bab nya satu per-satu tanpa dilompat yah 🙏

Sebuah tragedi membuat seorang wanita bernama Vania Garvita harus terpaksa berpisah dengan putra semata wayangnya, Alvaro Neandra.

Setelah menjalani hukuman selama beberapa tahun, Vania berhasil bebas dan langsung mendatangi putranya di panti asuhan.

Namun, Vania dikejutkan karena ternyata Varo tidak berada di tempat itu. Sampai akhirnya dia tahu jika putranya sudah diambil oleh sepasang suami istri beberapa tahun silam tanpa sepengetahuannya.

Apakah yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Vania? Dan siapakah yang telah mengambil putranya dari panti asuhan?

Yuk, ikuti kisah mereka yang penuh dengan perjuangan dan air mata!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Kerja Rodi.

Arsen yang sedang berada di dalam ruangan tersenyum lebar saat membaca pesan dari seseorang di ponselnya, membuat Morgan yang ada di ruangan itu juga mengernyit heran.

"Kenapa tuan tersenyum?" Morgan merasa penasaran, tetapi merasa tidak punya hak untuk bertanya.

"Kosongkan waktuku besok sampai sore," ucap Arsen setelah membaca pesan dari Brian.

Morgan tersentak kaget saat mendengar ucapan Arsen. "Maaf, Tuan. Besok siang Anda harus bertemu dengan tuan Abra untuk membahas masalah penjualan toko beliau, setelah itu Anda juga harus menyapa pemilik toko yang masuk dalam sepuluh penjualan teratas dalam bulan lalu." Dia menjelaskan dengan cepat agar Arsen tidak bisa memotong ucapannya.

Arsen diam sejenak untuk memikirkan ucapan Morgan. Bener juga, besok dia harus bertemu dengan para pemilik toko yang ada di malnya ini, sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah berhasil mencapai target penjualan.

"Kalau gitu kita mulai sore aja, suruh mereka menunggu," ucap Arsen. Dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Brian, tetapi dia juga tidak mau membuat para pemilik toko kecewa.

"Untuk sore Anda sudah ada jadwal lain, Tuan. Anda harus meninjau pembangunan-" Morgan tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat Arsen mengangkat tangan, sebagai pertanda bahwa dia harus menghentikan ucapannya.

"Kau saja yang datang ke sana, Morgan. Biar Vania yang menemaniku, apa gunanya ada dia," tukas Arsen.

Morgan terdiam. Benar juga, seharusnya Vania juga menemani Arsen. Namun, untuk saat ini wanita itu belum bisa dilepas begitu saja. Apalagi Vania sama sekali tidak punya pengalaman, bahkan wanita itu tidak tahu tentang administrasi.

"Tapi Tuan, nona Vania belum bisa menguasai pekerjaannya. Dia sama sekali tidak tahu-"

"Untuk itu kan, kau ada di sampingnya. Kalau dia sudah tahu, ngapain lagi kau ajarin," potong Arsen dengan cepat. Dia lalu menyuruh Morgan untuk keluar agar bisa kembali mengajari Vania, wanita itu harus bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan kerja saat ini.

Morgan menghela napas kasar saat sudah keluar dari ruangan Arsen. Dasar laki-laki itu, memangnya semua orang bisa cepat mempelajari sesuatu yang sama sekali tidak diketahui?

"Tuan Morgan, apa saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Vania saat melihat keberadaan Morgan. Kepalanya merasa pusing dengan isi dari berkas-berkas yang ada di hadapannya, ternyata semua ini tidak semudah yang dia bayangkan.

Morgan mengangguk. Dia lalu berjalan mendekati meja Vania untuk memberikan pengajaran pada wanita itu, apalagi tadi Arsen sudah memberi ultimatum padanya.

Beberapa jam kemudian, Vania tampak menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku karena terus duduk di kursi kerja. Sudah lama sekali dia tidak duduk dalam waktu berjam-jam seperti ini, padahal dulu dia biasa melakukannya saat menjadi tukang jahit.

"Ya ampun, sudah jam delapan," gumam Vania dengan kaget saat melihat jam yang tergantung didinding. Pantas saja cacing-cacing yang ada dalam perutnya sudah berdendang ria, ternyata hari sudah malam.

Vania lalu melirik ke arah Morgan yang masih sangat fokus dengan laptop. Sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa laki-laki itu akan pulang, apalagi Arsen yang sejak tadi tidak keluar dari ruangan.

"Tuan Morgan," panggil Vania dengan pelan karena takut suaranya terdengar sampai ke dalam ruangan Arsen.

Morgan yang sedang memeriksa laporan keuangan mengalihkan pandangannya ke arah Vania. "Ya, Nona?" Dia bertanya dengan wajah datar.

"Em ... itu, kira-kira jam berapa kita pulang?" tanya Vania dengan ragu-ragu, apalagi saat melihat raut wajah Morgan.

"Kita pulang saat tuan Arsen juga pulang, Nona," jawab Morgan membuat kedua mata Vania membulat. "Karyawan lain sudah diperbolehkan pulang jam lima sore, kecuali yang bekerja pada sip malam. Apa Anda juga mau pulang?"

"Ti-tidak," jawab Vania dengan cepat dan kuat, kemudian dia langsung menutup mulutnya saat sadar jika suaranya melengking dahsyat, bahkan Morgan sempat tersentak saat mendengarnya. "Saya cuma bertanya saja kok." Dia tersenyum canggung, jangan sampai Morgan tahu jika dia ingin pulang sementara mereka belum.

Morgan terdiam, kemudian dia melirik ke arah ruangan Arsen saat mendengar pintu ruangan itu terbuka, begitu juga dengan Vania.

Jantung Vania berdegup kencang saat melihat Arsen berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan tajam. Jangan-jangan laki-laki itu mendengar ucapannya tadi?

"Kita pulang sekarang, Tuan?" tanya Morgan.

Arsen mengangguk. "Yah, aku mendengar tadi katanya ada yang minta pulang."

Glek.

Vania menelan salivenya dengan kasar. Benar, ternyata tadi Arsen mendengar ucapannya. Namun, dia kan hanya bertanya saja, bukan berarti mau pulang.

Mereka bertiga lalu pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam lift menuju lantai satu. Terlihat suasana mal masih cukup ramai karena memang jam masih menunjukkan pukul delapan malam, apalagi para anak muda yang sedang menikmati waktu malam mereka.

Sesampainya di apartemen, Arsen langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, sementara Morgan juga langsung pamit untuk pulang ke apartemennya sendiri.

Tinggallah Vania yang masih berdiri di ruang tamu. Dia bingung apakah harus masuk juga ke kamar Arsen atau tidak, lalu apakah malam ini dia juga akan menginap di tempat ini dan tidak pulang ke rumah orangtua Sonya?

"Kenapa kau diam di sana?"

Vania tersentak kaget saat mendengar ucapan Arsen. "Maaf, Tuan." Dia bergegas menghampiri laki-laki itu sambil membawa berkas-berkas dari kantor.

"Aku mau mandi," ucap Arsen saat Vania sudah berdiri di hadapannya.

Tanpa bertanya lagi, Vania langsung menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan perintah laki-laki itu.

"Cih, lambat," gerutu Arsen dengan tatapan kesal yang dilayangkan pada Vania.

Setelah selesai menyiapkan air dan pakaian ganti untuk Arsen, Vania segera keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur. Dia sudah merasa kelaparan dan harus mencari makanan sebelum perutnya sakit.

"Tapi, bagaimana dengan tuan Arsen?" gumam Vania. Tidak mungkin dia menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.

Vania lalu menyiapkan makanan untuk Arsen juga. Kebetulan dikulkas ada telur, jadi dia memutuskan untuk memasak omlete saja sebagai pengganjal perut.

Tidak berselang lama, masakan Vania sudah tersaji di atas meja. Lengkap dengan buah-buahan dan kopi untuk Arsen juga.

Kemudian Vania kembali ke kamar Arsen untuk memanggil laki-laki itu sebelum makanannya dingin.

"Saya sudah menyiapkan makanan untuk Anda, Tuan. Apa Anda bisa keluar sebentar?" ucap Vania sambil mengetuk pintu kamar Arsen. Tidak berselang lama keluarlah laki-laki itu dengan bertelanjang dada.

"Kau menyiapkan makanan untukku?" tanya Arsen dengan tajam.

Vania mengangguk dengan ragu. "I-iya, Tuan. Anda kan belum makan." Entah kenapa suasana berubah menjadi tegang.

"Apa kau sedang merayuku?"

"A-apa?"

Tbc.

1
Ria Lita
semangat thor 💪
Naufal hanifah
bagus cerita nya
N Wage
limit usaha...lini usaha mungkin maksudnya.
N Wage
feli jadi feni
beni jadi bima
SJR
assalamualaikum thor, mampir yuk, saling suportnya 🙏
Nani heri Upitarini
Luar biasa
nining
bagus ceritanya
nining
ceritanya menarik
Aghitsna Agis
thor cerita ini nga up lg, kalau nga ada kelanjutannya mau diskip nih
Abz
❤❤❤❤
Atik Hadiyahati
apa dendam arsen. kpd Belinda begitu dalem ya....
Aprisya
kenapa kamu harus berbohong pada brian, belinda,, karna arsen punya seribu cara untuk menghancurkan kamu, salah satunya ya lewat vania dan brian
Aprisya
sepandai pandainya mengubur bangkai, suatu saat akan tercium juga,, dan udah saatnya brian mengetahui semuanya tetang siapa sebenarnya brian,, ceritalan semua pada brian
sum mia
ya karena Arsen menemui Brian.... makanya mereka bisa ketemu .
dan Belinda sebaiknya kamu jujur sama Brian , daripada nanti Brian akan membencimu karena kebohongan mu .

lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
Aprisya
brian korban dari bapak angkat yang egonya tinggi,, udah tau anaknya orang kampung, kenapa harus dipertahankan, kembalikan brian pada ibunya dong
sum mia
duh Gusti.... kasihan Brian , dia selalu ditekan sama Ivan dituntut agar sempurna ,
helloooo..... Ivan apakah kau lupa bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta alam semesta ini .
harusnya kamu sadar tekanan yang kamu lakukan pada Brian akan membuat dia menjadi sosok pria yang dingin dan kaku .

lanjut terus kak.... semangat dan moga sehat slalu .
sum mia
yeeessss.... keren Vania ... bisa menekan Hilda hingga mau tak mau akhirnya mau nurut sama Vania . habisnya.... keluarga mantan gak ada adab , gak ada akhlak , gak ada hati , tega-teganya menjual cucu sendiri hanya demi harta . jadi ... siap-siaplah dengan kehancuran mu Bella dan Johan .

lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Aprisya
wahhh good job vania, semoga misi untuk menghancurkan keluarga mantan mertua berhasil,,
sum mia
Brian..... kalau kamu tanya sama mama kamu dia gak akan jujur sama kamu , dia pasti akan bilang kalu semua itu bohong dan kebetulan saja . karena dia gak mau kehilangan kamu .
Vania.... aku selalu mendukungmu , misi mu untuk menghancurkan keluarga suamimu pasti lah berhasil dengan dukungan dari Arsen ,
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Aprisya
itu foto saat kamu masih bayi bersama ayah dan ibu kamu brian,, dan vania semoga misi kamu untuk menghancurkan keluarga besar mantan mertuamu berhasil,, semangat ya vania
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!