Meizura terpaksa memenuhi permintaan ayahnya untuk menjadi gadis penebus hutang. Awalnya dia berpikir akan dijadikan wanita simpanan oleh Armano Davies. Akan tetapi siapa sangka, dirinya justru dinikahkan dengan putranya yakni William Davies, pria yang dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.
"K_kau masih hidup?" tanya Maizura tak percaya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyakinkan penglihatannya.
William Davies menatap Meizura tajam. Dia tak suka wanita yang cerewet. "Diam! Jangan banyak bertanya. Kau hanya gadis penebus hutang," kata William penuh penekanan.
Setelah menikah dengan William, hidup Meizura mulai berubah. Banyak hal yang terjadi hingga suatu saat Meizura mengetahui fakta lain yang di sembunyikan oleh suaminya. Bagaimana kelanjutannya? Simak kisah mereka di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Bertemu Eliana
Meizura terbangun tanpa melihat William ada di sampingnya. Sepertinya sejak semalam William tidak kembali ke hotel. Meizura merasa sedikit kecewa karena hal itu. Dia mengusap sebelah ranjangnya dengan sendu.
Saat Meizura melihat ponselnya, dia menerima satu pesan dari William. Pesan yang membuat wajah Meizura seketika memerah saat membacanya.
**Sayang, maaf aku tidak menemanimu tidur malam ini dan memelukmu, aku berjanji akan menggantinya dengan malam-malam lain, setelah semua urusanku selesai. Saat itu tiba, aku akan membiarkanmu memelukku sesuka hatimu. Segera pulanglah dan hati-hati di jalan.
Suamimu**
Ah, membaca pesan begini saja, Meizura merasa malu. Terlebih lagi William bicara seolah dia ini wanita mesum. Meizura meletakkan ponselnya lagi di atas nakas dan lalu dia memutuskan untuk langsung mandi. Saat Meizura keluar dari kamar mandi, dia sudah mendapati Nancy dan Maureen di sana.
"Selamat pagi, Nona. Tuan William pagi tadi sudah memerintahkan kami untuk membantu anda bersiap pulang. Tadinya Tuan William juga meminta kami membangunkan anda, tapi saat kami masuk, anda sudah berada di kamar mandi."
Meizura menggigit bibir bawahnya, saat mendengar penuturan Nancy. "Nancy, Maureen. Kemarin malam, apa suamiku memesankan kamar lain untuk kalian?"
"Asisten Elliot yang memesankan kamar untuk kami, Nyonya."
"Itu pasti sangat merepotkan kalian," ujar Meizura merasa bersalah.
"Tidak masalah, Nyonya. Itu sudah menjadi tugas kami."
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan hotel tepat pukul 10 pagi. Saat Meizura hendak masuk ke mobil, seseorang memanggil namanya.
"Meizura, kau di sini?"
Meizura menoleh dan langsung memeluk orang yang memanggilnya tadi dengan penuh kerinduan.
"Aku sangat merindukanmu, Mei."
"Aku juga merindukanmu, Eliana. Kenapa kau ada di sini?"
"Aku bertemu dengan klien. Mereka semua menanyakanmu. Aku langsung bilang saja, sekarang kau menjadi orang penting," ujar Eliana sambil tertawa. Meizura ikut tertawa mendengarnya.
"Eh, ngomong-ngomong sekarang kau mau kemana?"
"Tentu saja pulang."
"Ah, jika begitu, bagaimana jika kau bareng satu mobil denganku, biar mobilmu dibawa oleh orangku. Aku masih mau mengobrol denganmu."
"Apakah tidak apa-apa seperti itu?"
"Ya, tidak apa-apa," jawab Meizura. Dia memanggil Nancy dan meminta wanita itu untuk memanggilkan salah satu pengawalnya untuk membawa mobil Eliana.
Selama dalam perjalanan, Eliana terus berbicara dan menceritakan kesehariannya tanpa adanya Meizura di sana. Dia selalu mendramatisir keadaan untuk menarik simpati Meizura.
Sedikit banyak Meizura menanggapi cerita Eliana yang menggebu-gebu. Tanpa terasa mereka tiba di kota menjelang sore. Meizura tidak bisa berlama-lama karena dia harus pulang. Namun, saat tiba di rumah, Dia hanya mendapati kekecewaan karena William ternyata tidak pulang ke rumah.
"Sebenarnya kemana dia pergi? Apakah dia sedang bermain api di belakangku?"
Meizura tampak lesu menaiki tangga. Dia memutuskan untuk tidur saja karena dia tidak memiliki kegiatan apapun yang menyenangkan. Meizura sudah berganti baju, dia mengganti pakaian formalnya dengan piyama berbahan satin. Meizura langsung merebahkan tubuhnya dan tak lama dia terlelap.
Malam harinya, pintu kamar Meizura diketuk cukup kencang, tentu saja hal itu mengejutkan Meizura.
"Siapa?"
"Saya, Nyonya. Anda sudah ditunggu tuan untuk makan malam," ujar kepala pelayan.
"Hah, William kembali?"
"Iya, Nyonya."
"Baiklah, katakan pada Liam, aku akan segera turun."
Meizura bergegas ke kamar mandi. Dia mengikat rambutnya asal dan langsung membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.
Setelah itu, Meizura turun untuk menemui suaminya.
...****************...
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘