NovelToon NovelToon
Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta

Status: tamat
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:905.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: CovieVy

Blurb:

Humaira ( Ala‐19 tahun) Gadis yang dijodohkan oleh sang ayah dengan putra sahabatnya.

Demi memenuhi permintaan terakhir sang ayah, akhirnya ia menerima perjodohan tersebut dengan ikhlas.

Ternyata, ketika dipertemukan dengan Ustadz Syauqi (Uqi—25 tahun) Ala langsung jatuh cinta dengan begitu saja.

Namun, berbeda dengan Uqi, ia telah memiliki pilihan lain. Namun, terpaksa menerima perjodohan, demi memenuhi permintaan terakhir sahabat ayahnya.

Saat telah resmi menjadi suami istri, jangankan mencintai Ala, memandang wajah Ala pun ia tak sudi.

Bagaimana kelanjutan rumah tangga paksa itu? Apakah Uqi akan mencintai Ala?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Ala menundukkan kepala, menghadapi amarah dan kekecewaan ibunya. Dia merasa sedih dan terpukul oleh kata-kata ibunya yang sungguh membuat luka tadinya perih, jadi semakin menganga.

"Ummi, Ala mengerti betapa kecewa dan marahnya Ummi. Ala sendiri, juga merasa juga kecewa terhadap diri sendiri. Tapi, Ala mohon, Ummi janganlah berbicara seperti itu. Ala masih anak Ummi dan almarhum Abi, kan? Meskipun Ala memilih untuk tidak lagi memenuhi permintaan Abi berpasangan dengan Uda Uqi, tetapi Allah berkata lain Ummi."

"Allah menunjukan kuasa-Nya membuat mata yang terus tertutup akan ketidaktahuan ini, terbuka dengan lebar. Jika bukan peristiwa ini, apakah Ummi rela jika Ala menua bersama laki-laki manipulatif seperti dia?"

"Jangankan Ummi yang tak mengenal dia dengan baik, Ala yang satu atap dengannya pun tidak mengetahui wataknya sama sekali."

"Harusnya, Ummi mendukung Ala. Karena, Ala tidak bodoh, Mi. Ummi lah yang mendidik Ala hingga sampai pada posisi ini."

Tangisan Ummi pecah. "Ala, Ummi juga memikirkan masa depan kamu. Akan ada banyak cemooh yang akan mengirimu jika kamu memilih mengakhiri pernikahan ini. Siapa tau, jika setelah kalian berpisah kamu hamil, bagaimana? Kasihan dengan anakmu. Dia pasti tetap menanyakan siapa ayahnya."

"Tabiat pria itu, jika istrinya memilih untuk pergi, maka dia tidak akan pernah untuk menahan dan meminta kembali. Jika anakmu nanti menanyakan ayahnya, tetapi dia tidak mau lagi meski sekedar untuk bertemu, bagaimana? Kasihan sekali dia?"

Air mata Ala kembali mengalir tanpa henti. Dia merasakan beban emosi yang begitu berat. Ia tidak ingin membuka aib yang telah disembunyikannya.

"Ummi, hanya satu hal lagi yang bisa Ala pastikan. Ala tak akan pernah mengandung anaknya. Tidak hanya itu, Ala tak akan pernah bisa bahagia bila bersuamikan dia. Sepertinya, Ala akan lebih tenang bila tak bersama dia. Ala berharap Ummi bisa memahami dan mendukung Ala." tangisnya.

Ummi merasa tak tega melihat putrinya menangis seperti itu. Perasaan Ummi luluh mendengar kesahan hati putri sulungnya ini. Ummi hening dalam beberapa waktu mencoba menahan emosinya dan merangkul Ala.

"Baik lah, Ala. Jika kamu memang sudah bulat dan kukuh untuk mengakhiri ini, Ummi tidak bisa lagi menahannya lagi. Bagaimana pun, kamu tetap lah putri kami yang kami cintai dengan segenap hati. Meski Ummi tidak sepenuhnya memahami keputusanmu ini, Ummi akan selalu mendukungmu. Ummi juga ingin melihatmu bahagia mendapatkan pasangan soleh yang bisa menjadi teman dunia dan akhirat. Namun, Ummi menghargai keputusanmu."

Ala merasa lega mendengar kata-kata dukungan dari Ummi. Dia menyadari proses ini akan memakan waktu dan perjuangan. Akan tetapi, bila didukung oleh keluarga, tentu akan membuatnya jadi lebih kuat lagi.

Mereka berdua duduk dalam keheningan, saling merangkul, mencari kekuatan dan ketenangan di tengah keputusan yang sulit ini. Mereka tahu bahwa perjalanan yang akan dihadapi tidaklah mudah, tetapi mereka siap menghadapinya bersama-sama, sebagai keluarga yang saling mendukung dan mencintai.

Di dalam rumah sakit, ruang emergency, kedua orang tua Syauqi berjalan kembali ke arah Salma. Di sana, Salma tampak kacau dalam kesendiriannya. Ia terisak setelah mendengar informasi yang diberikan oleh dokter yang menangani orang pria yang dicintainya. Tidak hanya itu, sekujur tubuh yang mendapat benturan kini mulai terasa sakit dan kaku.

"Salma, apa benar kalian menikah secara diam-diam? Kenapa? Bukan kah banyak pria belum beristri yang bisa menjadi suamimu nanti? Kamu itu cerdas, Salma. Tapi kenapa? Kenapa kamu tega menghancurkan rumah tangga mereka?" tanya Ibu menatap Salma dengan raut yang tidak bisa diartikan.

"Maafkankan Salma, Ibu, Ayah. Kami telah saling mencintai semenjak dulu. Harusnya, kami lah yang kalian persatukan. Bukan dengan dia yang sama sekali tidak dikenal oleh Bang Syauqi." ucap Salma memasang wajah sendu.

"Tapi kenapa, Salma? Bahkan, pria lebih baik dari dia lebih banyak? Kenapa harus Syauqi?"

"Bagaimana pun kalian menolakku, aku tetap sudah menjadi istri Bang Syauqi, anak kalian. Meskipun hanya istri keduanya," ucap Salma mulai sesegukan.

Melihat Salma menangis seperti itu, Ayah memegang pundak Ibu memberi kode untuk menghentikan segala amarahnya. Ibu terlihat menghela napas panjangnya.

"Baik lah, jika kamu memang sekukuh itu memilih tetap bersamanya, maka, tetap lah bersamanya atas apa pun yang terjadi padanya. Karena, dia celaka gara-gara memilih untuk bersamamu. Tunjukan lah keistimewaanmu yang membuat anak kami begitu tergila-gila padamu." Ibu mengatakannya antara pasrah, tetapi tak rela.

"Ibu mengerti bahwa kita dalam situasi yang sulit, Salma. Tapi, kamu juga harus memahami bagaimana perasaan Ala! Kita sama-sama perempuan pasti memahami bagaimana perasaannya saat ini—"

"Justru karena Salma sangat tahu bagaimana rasanya orang yang kita cinta menikah dengan wanita lain, Bu. Salma tak rela, Bang Syauqi diambil wanita lain. Aku juga berat memilih untuk jadi yang kedua, Bu. Namun, dari pada aku tak pernah memilikinya untuk selamanya, biar lah orang mangatakan bahwa Salma ini menjadi perusak rumah tangga orang."

Ayah menaruh tangan di pundak Salma. "Salma, baik lah. Jika ini adalah keputusanmu dan keinginan Syauqi, kami tidak bisa berkata lagi. Hanya satu yang kami pinta, jangan pernah meninggalkan anak kami, atas apa pun yang kalian alami setelah ini. Karena, Ala pergi, itu karenamu."

Salma tertunduk, dan ada merasa sakit hati karena mereka selalu saja menyalahkannya. Ia menghembuskan napas berat. "Baik lah, Ayah, Ibu. Terima kasih sudah mau menerimaku. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Bang Syauqi. Karena aku mencintai Bang Syauqi dengan tulus."

Akhirnya Ayah menghela nafas panjang. "Baik lah, lebih baik kamu istirahat dulu. Apa pun yang sudah kalian lakukan, nasi telah menjadi bubur. Ini artinya kamu adalah menantu kami juga. Kita akan menunggu kabar mengenai Uqi. Semoga saja, dia bisa sembuh kembali."

Salma tersenyum tipis sedikit merasa lega mendengar kata-kata Ayah. "Terima kasih, Ayah. Aku juga berharap yang terbaik untuk Bang Syauqi. Semoga dia bisa pulih dan semua baik-baik saja."

Ibu menatap Salma nanar. "Semoga kamu benar-benar tulus mencintai anak kami.."

*

*

*

Satu minggu kemudian, setelah perasaan Ala cukup tenang, Ala memutuskan mendatangi Pengadilan Agama untuk mengajukan perceraian terhadap suaminya, Syauqi, dengan alasan tidak cocok lagi, lagi-lagi demi menjaga nama baik Syauqi.

Hal ini tentu membuat pengurus pendaftaran perceraian heran. "Usia pernikahan kalian belum cukup dua bulan, masa sudah merasa tidak cocok aja?"

"Maaf, Bu. Saya tidak bisa menjawabnya," ucap Ala merasa sedikit risih.

"Maaf, maksud saya bukan karena ingin mencampuri urusan keluarga kalian. Kenapa tidak melakukan mediasi dulu? Beri waktu untuk berbicara dari hati ke hati, siapa tau mendapat titik balik hingga perceraian bisa dihindari."

Ala menatap wanita berseragam itu. "Maaf, Bu. Saya tetap memilih untuk berpisah. Terima kasih." Ala menganggukan kepala membuat wanita itu menggelengkan kepala.

Sementara itu, di rumah sakit seseorang yang terbalut perban dan gips, dia telah lama tidur, kali ini menunjukan gerakan-gerakan kecil. Di sampingnya, Salma yang terlihat jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu menyadari itu.

"Bang? Bang?"

"Hmm ... Hmmm ... Hmmfff ...."

Salma berjalan dengan terpincang mencari dokter dan perawat mengabarkan suaminya bangun.

"Hmm, Humaira ... Humaira ... Maaf, Humaira ...."

1
Nini Tuti
katanya anak ustadz, tp koq berbakti kepada orang tua....
marta💎
ini beneran tamat y?
beneran gk ad kelanjutannya?
gantung bgt thor... ayo dong up lg.
Cici Syafikin
sukurinnnnn...
Cici Syafikin
aku benci sama uqi yang sudah melakukan malam pertama benci benci benci
Merlinda Ani Inda
baguslah kalau Ama sudah sadar
Sri Tati
Luar biasa
Putri Chaniago
Aulia apa Alya istrinya Rizky sepupu Rafatar adiknya Ala sih?
kalo y jgn deh satukan dg Syauqi
SicantikKinyisKinyis
Semangat Kak, jangan lupa mampir juga di karya aku yang berjudul Takdir Cinta Twins D
Susi Yanti
hanya sebagian daerah kecil Minang kabau yg perempuan melamar...sebagian besarnya sama laki2lah yg melamar perempuan..maaf ya saya orang Padang
ummu rekyhan
👍
ummu rekyhan
yaah begitulah...
ummu rekyhan
laah, yang bingung yang baca...
gimana itu...????
ummu rekyhan
gimana ini hukumnya, kok ....????
paham agama kan????
susi lawati
mulai nyesel nihhh pak ustadz
susi lawati
seru...
susi lawati
mampir Thor..
Anha Ruheni
jgn sampai Syifa meninggal yah otor
Erni Kusumawati
Thor please jg siksa Syifa dg penderitaan seperti ini.. saya sbg seorang ibu tdk tahan melihatnya kak.. biarkan karma itu hanya berjalan utk ibunya tp tdk utk anaknya...
Anaknya Syifa tdk tahu apa2 kak😭😭😭 kalo pun boleh memilih tentu Syifa tdk akan memelih utk dilahirkan dr rahim wanita itu😭😭😭
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!