Hana, seorang wanita sebatang kara yang tiba tiba diajak menikah oleh bos barunya.
"Tapi pak! Inikan masalah hati?"
"Saya tak suka ditolak."
"Dan saya tak suka dipaksa."
Akankah keduanya akan benar benar menikah?
Bagaimana kehidupan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zainuri I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluh Sembilan
Hai readers. Dukung aku yah. Karya ini aku ikutkan contest loh. Mohon like dan vote nya biar author tambah semangat. Thanks buat readers semuanya.
.....
"APAAAA?"
"Kenapa kalian semua mendadak tuli ha? Aku mau Hana bertemu dengna Berto" ulang Baron.
Puuuk
Tangan Pras memukul mulut Baron.
"Bukan tuli Ron, tapi terkejut. Gak usah pura pura gak tahu deh" jelas Pras.
Hana tak sadar tersenyum melihat tingkah adik kakak itu. David yang memperhatikan Hana heran mengapa istrinya tersenyum.
"Kasih Hana alasan mengapa aku harus menemui Paman Berto"
"Dia akan menjelaskan semuanya dan mengembalikan Farel padamu"
"Om gak sedang menipuku?"
"Untuk apa om menipumu. Kau juga ponakanku. Bahkan jika kau tak menikah dengan David sekalipun, om akan tetap sayang sama kamu" jelas David. Hana masih penasaran.
"Maksudmu Andi itu benar Farel Ron?" tanya Dela dan Baron mengangguk.
"Maafkan mama Na, harusnya mama gak marah marah kayak gitu sebelum tahu kejadian yang sebenarnya" sesal Dela dan memeluk Hana.
"Gpp ma. Aku ngerti kok kenapa mama marah. Aku tahu mama sayang sama mas David"
"Sekali lagi maaf ya sayang"
"Iya mama. Hana gpp kok Hana maklum"
"Sudah sudah maafannya. Kita kembali ke laptop" sela Pras dan Hana melepaskan pelukannya dari Dela. Mereka kembali ketempat masing masing.
"Papa juga minta maaf ya Na?" lanjut Pras lagi.
"Iya pa"
"Ye papa tadi nyuruh udahan sekarang malah gantian" ledek David.
"Tahu tuh mas Pras. Ni lagi bujuk Hana biar mau ketemu Berto eeeee malah acara idul fitri" sahut Baron.
"Lha kapan romadlon nya om?" tanya Hana ikut nimbrung.
"Ini pada ngomongin apa sih kok idul fitri sama romadlon? Aku belum ganti puasa lho?" Dela ikut ikutan.
Hahahahahaha
Semua tertawa dan suasana sudah mencair. Kini Hana dan Baron ingin ngobrol dengan santai tanpa melibatkan emosi.
"Mengembalikan Farel padaku? Apa tanpa syarat?" tanya Hana mengawali pembicaraan
"Setahuku begitu"
"Pa... apa mereka bisa dipercaya?" tanya Hana pada Pras.
"Kenapa kamu tanya itu ke papa yang?" tanya David
"Papamu kan tahu siapa mereka Vid. Lebih tahu dari mama" jelas Dela. David mengangguk mengerti.
"Setahu papa sih mereka bisa dipercaya ucapannya meskipun beringas" jawab Pras.
"Baiklah aku mau asal Farel tidak tahu soal ini"
"Mengapa sayang? Bukankah Farel juga berhak tahu?" tanya David.
"Farel tidak tahu soal ini dan biarkan tetap seperti ini. Lagi pula aku tak mau Farel membenci Paman Berto. Orang yang telah menbantunya bahkan menjadikannya anak" tutur Hana.
"Tetapi dia juga orang yang telah melenyapkan orangtuanya" timpal David.
"Mas.. aku sudah memutuskan untuk mencoba memaafkannya walau sulit. Dulu kupikir aku sudah ihlas dan hanya fokus mencari keberadaan Farel. Namun saat aku berjumpa Paman Berto untuk pertama kalinya setelah enam tahun, rasa sesak, benci, marah dan muak kembali lagi. Disitu aku sadar bahwa aku belum benar benar ihlas memaafkan paman Berto. Aku menumpahkan dalam tangis dan meyakinkan diriku sendiri bahwa memaafkan itu lebih indah dari pada membalas dendam" terang Hana membuat semua orang terenyuh terutama Baron.
Baron menghampiri Hana dan memeluknya. Hana menyambut pelukan Baron.
"Kamu sungguh hebat nak. Terbuat dari apa hatimu hingga kamu bisa berlapang dada terhadap orang yang telah membuatmu menderita?" tanya Baron terharu.
Hana melepaskan pelukan Baron dan menggenggam tangan Baron.
"Om.. aku bukan batu yang tak punya perasaan. Hatiku sama seperti punya om. Terbuat dari daging seperti yang lainnya. Aku hanya ingin mentauladani nabi Muhammad yang bahkan rela memberikan sorbannya kepada orang yang selalu menyakitinya. Beliau tidak dendam sama sekali. Bahkan kepada pamannya Abu Jahal yang selalu ingin menghancurkannya pun beliau tidak dendam. Apalagi saya yang hanya manusia biasa yang tak punya keistimewaan apapun. Pertanggung jawabanku terhadap Allah lebih besar daripada dendamku om. Aku hanya ingin hidup damai. Aku janji setelah semua rasa penasaranku tentang orangtuaku tuntas, aku akan melupakan kisah pilu ini dan melanjutkan hidupku. Mengukir kisah baru bersama keluarga kecilku" jelas Hana panjang kali lebar.
Mendengar penuturan Hana, David terharu. Dia memeluk Hana dari samping. Dela sampai meneteskan airmata dan memeluk suaminya. Pras pun sama terharunya. Baron mengusap punggung tangan Hana.
"Hatimu sungguh mulia nak. Aku yakin kamu akan hidup bahagia. Orang baik sepertimu pasti mendapat banyak cinta. Kamu bahkan mendapat cinta sepenuhnya dari suamimu dan mertuamu" Baron menyeka airmatanya yang hampir jatuh.
"Kamu benar Ron. Kami sangat menyayanginya. Kami beruntung David membawanya kedalam keluarga kita" tutur Pras tulus.
"Benar pa. Mama juga sangat bersyukur" lanjut Dela.
"David lebih bersyukur lagi" tambah David.
"Dan aku jauh lebih dan lebih bersyukur berada diantara kalian semua" jujur Hana.
Semua tersenyum dan berpelukan ala teletubbies dan akhirnya tertawa.
"Sudah melow nya. Aku lapar" ujar Hana.
"Hem kalau begitu kita makan dulu baru lanjut ceritanya" timpal Dela.
"Om masih punya hutang lho sama Hana. Jangan lupa ntar pas aku tagih. Hehehe" ingat Hana.
"Tenang saja, om gak akan lupa kok" kata Baron dan mengacungkan jempolnya.
Semua telah keluar untuk makan. Tinggal Hana dan David.
"Mas aku pengen makan sate madura" rengek Hana.
"Sekarang kamu kembali manja. Tadi padahal tegas banget" ledek David.
"Ya kan situasinya dah beda sayang" bela Hana.
"Ya udah. Biar dicarikan sama pak Ilyas ya?"
"Gak mau. Aku maunya makan langsung dari pembakarannya" pinta Hana.
"Hemmm ya udah kita cari kalau gitu. Mau langsung pulang atau balik ke sini?" tanya David.
"Emm pulang aja lah mas. Aku capek mau langsung istirahat"
"Kita pamit mama papa dulu"
David dan Hana menuju dapur untuk menemui Pras, Dela dan Baron.
"Sini sayang makan dulu" ajak Dela.
"Gak usah ma. Maaf bukannya nolak tapi aku lagi pengen makan sate madura. Heheehe"
"Kan bisa minta tolong pak Ilyas" saran Pras.
"Maunya langsung makan dari pembakaran pa" jawab David.
"Kamu ini ngidam kok aneh sih Na?" tanya Baron.
"Lha gak tahu lah om. Dedek mintanya gitu"
"Cucu oma pengen makan sate ya? Makan yang banyak ya biar sehat sampai lahir" ucap Dela mengelus perut rata Hana.
"Iya oma. Pasti aku makan banyak" jawab Hana menirukan suara anak kecil membuat semua tertawa.
"Om. Kita lanjut besok ya. Hana capek soalnya. Emm mana ponsel om"
Baron memberikan ponselnya pada Hana. Hana mengetikkan sesuatu pada ponsel Baron.
"Ini om. Aku dah save nomor aku. Besok om hubungi aja aku" kata Hana menyerahkan ponsel Baron dan diangguki oleh Baron plus jempol.
"Kita pergi dulu ya ma, pa, om" pamit Hana dan diikuti David.
......
NEXT
......
maaf komentarnya telat, sdh end ceritanya.
sy baru membacanya.