Caitlin Magnolia, seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Aaron Smith, vampire cerdas dan tampan pemilik perusahaan mebel tempat Caitlin bekerja. Aaron berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang vampire, namun seiring berjalannya waktu akhirnya Caitlin mengetahui bahwa Aaron merupakan sesosok vampire.
Perbedaan ras tak menyurutkan cinta di antara mereka, bahkan Aaron memberanikan diri untuk memperkenalkan Caitlin ke keluarga vampir-nya. Hal ini tentu saja menimbulkan goncangan pada hubungan mereka.
Keluarga besar vampir dari orangtua Aaron, dengan keras menentang hubungan mereka, bahkan Frank Smith, paman dari Aaron mengancam nyawa Caitlin jika Aaron tak memutuskan hubungan kisah asmaranya.
Lantas bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Kelanjutan kisahnya dapat kalian baca di novel The Hunter Bloods.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 29
Caitlin ingin sekali menjauhkan diri darinya, tapi tubuhnya membeku. Ia bahkan tak bisa beringsut.
“ Well, kurasa kita selesaikan saja sekarang. Kemudian aku bisa menelepon adik dan keponakanku untuk memberitahu mereka di mana mereka bisa menemukanmu," ucap Frank.
Lutut Caitlin gemetaran, dan ia khawatir bakal jatuh. Frank melangkah mundur dan mulai mengelilingi Caitlin, seakan-akan mencari sudut tempat ia akan memangsa Caitlin. Kemudian Frank mencondongkan tubuh, dan senyumnya yang mengerikan perlahan melebar, semakin lebar, hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi, terpapar jelas dan berkilauan.
Caitlin tak dapat menahan diri, ia mencoba lari. Namun semuanya sia-sia, lututnya benar-benar lemas. Kepanikan mulai menguasai diri Caitlin dan ia melesat ke arah pintu, namun dalam sekejap Frank sudah di depanku.
Caitlin tidak melihat apakah Frank menggunakan tangan atau kakinya, kejadian itu terjadi begitu cepat. Entakan keras menghantam dadanya, tubuh Caitlin melayang ke belakang, dan ia mendengar suara pecahan saat kepalanya menghantam cermin lemari.
Kacanya hancur berantakan, serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingnya. Caitlin kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit, ia tak bisa bernapas.
Perlahan-lahan Frank menghampiri Caitlin “Itulah akibatnya jika kau berani kabur dariku, rubah kecil,” ucapnya sembari mengamati tubuh Caitlin.
Kaca-kaca yang berserakan, suarnya kembali ramah. “Ternyata tempat ini cukup dramatis untuk sekenario sederhanaku yang kususun tadi malam saat mengetahui Aaron mengelabuhiku. Tempat yang sempurna bukan?"
Caitlin mengabaikan ucapannya, dengan tangan dan lutut ia mencoba merangkak ke pintu belakang. Frank langsung menghadangnya, kakinya yang kuat dan kokoh menginjak kaki Caitlin yang begitu mungil. Hingga Caitlin mendengar suara retakan dari kakinya sebelum merasakan sakit yang luar biasa.
Caitlin tak dapat menahan jerit kesakitannya, ia berteriak menggema seisi ruangangan. "Awww....."
Frank berbalik dan meraih kaki Caitlin, Frank kemudian berdiri menjulang diatas Caitlin, lalu tersenyum. “Sebutkan apa permintaan terakhirmu?” tanya Frank, sembari ibu jarinya menekan kaki Caitlin yang patah dan Caitlin kembali menjerit kesakitan.
“Apakah kau ingin Aaron menyaksikan kematianmu?”ujarnya.
“Tidak!” jawab Caitlin dengan suara parau. “Tidak, jangan Aaron..."
Lalu sesuatu mengantam wajah Caitlin. Frank melempar tubuh Caitlin kembali ke lemari kaca yang sudah pecah. Selain sakit di kakinya, Caitlin merasakan robekan tajam di kulit kepalanya, di tempat pecahan kaca itu menusukku.
Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutnya, Caitlin bisa merasakan cairan itu membasahi bagian bahu kausnya, mendengarnya menetes-netes dilantai kayu di bawahku.
Kepala Caitlin mulai terasa berat, dengan kekuatan terakhir yang Caitlin milikii, ia mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya, lalu kemudia matanya terpejam dan Caitlin pun tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Caitlin tak sadarkan diri, ia bermimpi melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap, dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap oleh pikirannya. Suara itu begitu indah, membahagiakan, sekaligus mengerikan, ganas, dan sarat akan kemarahan.
Tubuh Caitlin diseret naik, nyaris mencapai permukaan, oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tangannya yang terulur, namun Caitlin tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. Namun ia masih bisa mendengar suara indah yang memanggil namanya.
“Oh, tidak, Caitlin, tidak!” suara indah itu berseru putus asa.
Di belakang suara itu ada ratapan suara lainnya, keributan mengerikan yang berusaha Caitlin hindarkan ternyata terjadi. Tempat itu penuh ancaman, gelegar amarah yang mengerikan, dan lengkingan kesakitan, sekonyong-konyong pecah...
Namun Caitlin berusaha berkonsentrasi pada suara si indah yang tadi. “Caitlin, kumohon! Caitlin, dengar aku, kumohon, kumohon, Caitlin, kumohon!” ia memohon.
Caitlin ingin mengatakan 'ya' namun ia tak bisa mengucapkannya.
“Daddy, aku mohon tolonglah Caitlin!” seru suara indah itu dalam kesedihan mendalam.
“Caitlin, Caitlin, tidak,oh kumohon, tidak, tidak!” dan suara indah itu pun menangis tersedu-sedu.
Ingin rasanya Caitlin mencoba berbicara aku baik-baik saja, namun sekali lagi ia tidak bisa, semuanya senyap begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
RUMAH SAKIT
Caitlin merasakan kepalanya seperti ditekan, dan itu rasanya luar biasa sakit.
“Caitlin!” si pemilik suara indah itu kembali berseru.
“Caitlin kehilangan banyak darah, tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam,” ucap suara yang terdengar tenang namun tak asing bagi Caitlin. “Selain kaki, ada beberapa tulang rusuknya juga patah.”
"Oh ya Tuhan..." erang pemilik suara indah itu
Caitlin mencoba melawan rasa sakitnya, perlahan ia mulai membuka matanya. Ia melihat sekeliling ternyata ia sudah berada di rumah sakit.
“Aaron.” Caitlin mencoba berbicara pada Aaron, tapi suaranya terdengar sangat pelan dan berat.
“Caitlin, kau akan baik-baik saja. Kau bisa mendengarku, Caitlin?
"Sakit,” rengek Caitlin.
"Ia sayang, bersabarlah. Daddyku sudah menolongmu."
"Tapi tanganku masih terasa sakit," rengeknya kembali. "Tanganku seperti terbakar."
“Frank gadungan itu sempat menggigit tangan Caitlin.” Suara dr.Smith tak lagi tenang, melainkan cemas. "Daddy belum bisa mengeluarkan racunnya sebab di dunia medis tidak ada obat penawar racun vampir."
Aaron menghela napas ngeri.
“Aaron, kau harus melakukannya," ucap Sean.
"Ya, kau harus mengisap racunnya keluar. Lukannya sudah daddy bersihkan, jadi kau tinggal menghisap racunnya saja."
"Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya," ucap Aaron ragu.
“Itu keputusanmu, Aaron. Daddy sudah tak bisa lagi menolongnya. Aku harus menghentikan racunnya sebelum racun itu menjalar ke jantungnya."
Tanpa membuang waktu Aaron mencengkram tangan Caitlin, dan Caitlin kembali menjerit menahan rasa sakit. “Aaron!” jeritnya, ketika bibir Aaron yang dingin menekan kulitnya.
Awalnya rasa sakit itu semakin parah, Caitlin menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahannya.
"Tahanlah sebentar," ucap dr. Smith menahan rontaan Caitlin, ia memegangi kepala Caitlin.
Perlahan Caitlin merasakan tangannya mati rasa, sengatan terbakar tadi di tangannya pun mulai berkurang hingga tak lagi terasa, rasa sakit itu lenyap seketika.
"Istirahatlah sayang, aku akan di sini menjagamu," Aaron mencium kening Caitlin untuk menenangkannya.
Caitlin pun memejamkan matanya sembari menggenggam erat tangan Aaron. Berada di dekatnya terasa melayang-layang, semua sakitnya hilang. Kata terakhir yang Caitlin dengar sebelum ia tertidur. "Aku sangat mencintaimu,Caitlin."
YESS i Will😄😄😄
Catlin maksudnya 😄😄😄
akhirnya kebahagiaan itu menyertaimu cat pikir keri yak gimana nanti akhirnya pokoknya kawin dulu eh nikah🏃🏃🏃
hmmmm masuk perangkap Frank kan go Aaron selamatkan Catlin
harta, tahta dan rupa