Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Lo nggak benci dia?!" tanya Gilang sekali lagi.
"Lo harusnya tahu apa jawabannya." jawab Daffi.
"Sorry." ucap Raka lirih. "Gue memang nggak bisa benci dia. Tapi bukan karena kesalahan gue. Gue gak bisa benci dia entah karena apa gue sendiri juga nggak tahu." batin Raka sambil mengingat wajah cantik Zylva.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Zylva. Gadis itu masih membenci Raka. Tetapi juga ada rasa lain di hatinya selain rasa benci. Gejolak aneh yang selalu muncul ketika bertemu Raka. "Gak ada rasa lain. Lo hanya benci dia. Lo datang hanya untuk balas dendam. Bukan karena hal lain. Selesaiin itu. Lalu kembali ke Alaska." batin Zylva meyakinkan dirinya sendiri.
---
"Lo udah gila? Lo bakal nyebarin video editan itu?"
"Kak? Sejak kapan Lo goblok sih?" tanya Zylva.
"Baby..." geram Matthew sambil menatap tajam Zylva.
"Gue nggak akan sebar video editan itu. Tapi gue bakal sebar video yang asli." ucap Gibran sembari menunjukkan rekaman video Lucy yang sedang melakukan hal tidak senonoh di bar dengan pria yang berbeda-beda.
"Dulu hanya di sekolah. Sekarang satu negara harus tahu. Atau kalau perlu sebarin juga ke luar negeri." imbuh Zylva.
"Setelah itu dia bakal di keluarin dari sekolah." ucap Gibran.
"Dan efeknya, kemungkinan klien-klien Dirga bakal memutuskan kerja samanya. Tanpa kerja sama perusahaan mereka bakal bangkrut." sambung Zylva.
"Simpelnya sekali pukul dapat dua lalat." sahut Reygan sambil mengangguk kecil.
Zylva terlihat diam. Diamnya gadis itu memicu perhatian Matthew dan Varrel.
"Kenapa baby?" tanya Matthew.
"Ada masalah?" tanya Varrel.
"Tapi gimana kalau Lucy di buat malu lagi dan Raka malah disiksa sama orang tuanya?" tanya Zylva.
Seketika semua diam. Tatapan cowok-cowok yang ada disana mengarah kepadanya. Apa ini? Seorang Zylva memikirkan Raka yang akan disiksa?
"Kenapa kalian lihat gue kayak gitu?"
"Sejak kapan Lo mikirin dia?" tanya Matthew dengan nada dingin.
"Lo suka sama dia?" tanya Gibran terang-terangan.
"Jangan ngadi-ngadi Lo!" ucap Reygan sambil menoyor kepala adiknya.
"Gue nggak suka sama dia." jawab Zylva. Tetapi walaupun begitu ada sorot keraguan di dalam matanya.
"Dengar Baby. Dia boleh suka sama Lo. Tapi Lo jangan suka sama dia. Itu akan menghambat balas dendam Lo." ujar Varrel sambil menatap Zylva dengan tatapan yang teduh.
"Nggak. Gue nggak akan suka sama dia." jawab Zylva sambil menundukkan kepalanya.
"Setelah masalah Lucy dan Dirga selesai, persiapan target kedua." ujar Matthew. Kemudian beranjak pergi dari sana dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Udah malam, tidur!" perintah Varrel. Kemudian pergi ke kamarnya.
Di dalam kamarnya Zylva tidak bisa tidur. Dikepalanya terus terngiang pertanyaan dari Gibran beberapa saat yang lalu. "Lo suka sama dia?" pertanyaan itu yang terus berputar di pikirannya.
"Gak, gue gak boleh suka sama pembunuh keluarga gue sendiri." gumam Zylva.
Ingatannya berputar kembali mengingat hal yang ia dan Raka lakukan. Itu pertama kalinya dia pergi ke pasar malam atau taman hiburan setelah kepergian orang tuanya. Sialnya sekalipun tidak menunjukkan secara langsung, dia menikmati jalan-jalan kemarin. Matanya beralih menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kamarnya.
"Mama, papa.. Zylva takut.. Gimana kalau Zylva suka dia?" batin Zylva sambil melihat foto mama dan papanya.
*
Keesokan harinya sebelum berangkat sekolah di sebuah rumah besar yang bernuansa gelap. Seorang cowok dihentikan orang tuanya.
"Berhenti Raka!" ucap seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Raka. Sekali lihat saja pasti langsung tahu pria tersebut adalah papa dari Raka.
"Apa?"
"Kemana kamu kemarin lusa?"
Raka diam. Tidak mungkin dia memberitahu bahwa dia bersama Zylva. Papanya pasti akan murka ketika tahu dirinya ke pasar malam dengan musuhnya sendiri.
"Gak kemana-mana." jawab Raka berbohong.
"Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong Raka Alkairo Kavindra!"
"Siapa gadis itu? Sudah berani selingkuh dari Lucy?" tanya seorang wanita yang merupakan mamanya.
"Bukan siapa-siapa. Raka gak pernah selingkuh. Karena Raka gak merasa pacaran dengan Lucy." jawab Raka. Setelah mengatakan hal itu Raka beranjak pergi dari sana.
"RAKA!!" bentak papanya.
Cowok itu tidak menghiraukan panggilan papanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya menggali informasi lebih banyak lagi dari dirinya karena dirinya tidak terlalu pandai untuk berbohong.
"Dengar Raka! Tutupi sebisamu, tapi setelah saya tahu siapa gadis itu. Akan saya pastikan hidupnya menderita!" ucap mamanya.
Raka berhenti sebentar. Setelah mamanya menyelesaikan kalimatnya cowok itu melanjutkan langkahnya kembali. Dia mencoba masa bodoh dengan ancaman orang tuanya.
-
Tapi tidak bisa. Sepanjang jalan dari rumahnya hingga sekolah yang jaraknya lebih dari 100km ancaman mamanya tidak bisa lepas dari kepalanya. Entah mengapa terbesit rasa khawatir kepada Zylva.
"Lo pasti nggak waras." gumam Raka sambil menelungkupkan kepalanya di atas speedometer motornya.
Banyak siswa siswi yang memperhatikan Raka karena menurut mereka Raka bertingkah aneh hari ini.
"Kenapa Lo?" tanya Daffi tiba-tiba.
Raka mendongakkan kepalanya melihat sahabatnya tersebut.
"Lo ada masalah?" tanya Gilang.
"Nggak, gue nggak apa-apa." jawab Raka. Kemudian cowok itu menatap Gilang. "Lo masih marah sama gue?"
Gilang menggelengkan kepalanya. "Nggak. Gue nggak marah sama Lo." ucap Gilang.
"Tapi benci Zylva." sahut Raka.
Gilang diam sebentar. Kemudian mengatakan "Mungkin kemarin gue benci dia. Tapi gue gak bisa salahin dia sepenuhnya atas tindakannya. Kematian itu takdir. Kalau nggak di bunuh Zylva kemarin, mungkin Tuhan akan mencabut nyawa Cainsley dengan cara lain." ujar Gilang.
"Thanks. Dan maaf, gue nggak bisa lindungin dia." ucap Raka. "Gue terlalu pengecut." gumamnya.
Disaat yang sama Gibran sampai dan memarkirkan motornya tepat disamping Raka. "Lo bukan pengecut." ucap Gibran. Cowok itu membuka helmnya dan menatap Raka kemudian tersenyum ramah. "Kalau Lo pengecut, Lo nggak akan berani naruh hati Lo ke monster." sambungnya sambil menepuk pundak Raka.
"Maksudnya?" tanya Gilang tidak paham.
"Monster? Siapa?" tanya Daffi.
"Tuh tanya aja sama sahabat Lo. Paham pasti." jawab Gibran sambil menunjuk Raka menggunakan dagunya.
Daffi dan Gilang menatap Raka bersamaan meminta jawaban. Raka hanya menggeleng seolah-olah tidak paham. Tetapi nyatanya dia paham siapa yang dimaksud monster oleh Gibran barusan.
"Nggak usah pura-pura goblok." ucap Gibran.
Raka langsung menatap Gibran lagi.
"Raka Alkairo Kavindra. Kalau Lo berani jatuh hati kepada seorang monster, harusnya Lo tahu monster itu buas. Lo harus siap terluka jika berada di dekatnya." ucapnya lagi. Tapi nada bicara kali ini tidak seramah tadi. Nada bicaranya berubah menjadi dingin, ekspresinya pun juga datar.
Sesaat kemudian Gibran tersenyum hingga terlihat deretan giginya. "Good luck boy! Siap-siap mati okay!" Setelah mengatakan itu Gibran menghampiri Zylva yang baru saja datang dan merangkulnya pergi dari sana.
"Nggak mungkin kan gue suka dia?" batin Raka sambil menatap punggung Zylva dan Gibran yang mulai menjauh darinya.
...***...
...Bersambung......