Geraldine, seorang wanita yang mendapatkan julukan Pretty Devil dari pria bernama Roxy. Bukan tanpa alasan gelar itu disematkan, sebab sifatnya seperti iblis tapi wajahnya cantik, tega mencampakkan Roxy begitu saja setelah bercinta.
Namun, sekeras apa pun Geraldine melakukan usaha untuk menjauh dari Roxy, pada akhirnya ada saja cara mereka terikat dalam suatu situasi. Dan Roxy memanfaatkan moment tersebut untuk membalaskan dendam rasa sakit hatinya, dengan cara membuat Geraldine jatuh cinta, lalu balik mencampakkan wanita itu.
Tapi, mampukah Roxy membalaskan dendam tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Roxy tak pergi saat hari itu juga karena tidak mendapatkan tiket penerbangan. Esoknya baru berangkat ke Milan seorang diri karena ini adalah urusan pribadinya yang perlu diselesaikan dan pecahkan segera. Terlalu fokus ingin segera menginterogasi seseorang yang sudah lama ia tinggalkan, sampai membuatnya tidak tahu kalau Geraldine pergi menghilang, kalau bisa bagaikan ditelan bumi.
Pria bertubuh kekar dengan tato sebagai hiasan itu pun kini sudah memijakkan kaki di tanah kelahiran, Italia. Dia tidak berasal dari Finlandia asli, bisa sampai ke negara tempatnya tinggal sekarang pun karena dibawa oleh Tuan Dominique dan Giorgio yang membesarkan dan mendidik seperti anak sendiri. Bahkan dibantu untuk pindah kewarganegaraan.
Satu hal yang Roxy lupakan, dia butuh kendaraan untuk memudahkan mobilisasi selama berada di Milan. Ia pun mengetuk asal jendela mobil yang terparkir di tepi jalan dan sekiranya ada pemilik di dalamnya.
“Hei! Kau bisa memecahkan kacaku jika diketuk menggunakan cincinmu!” Roxy mendapatkan semburan berupa omelan dari pemilik mobil yang merasa terganggu.
Tapi, Roxy tetap datar dan santai. Yang penting berhasil membuat pemilik mobil itu menurunkan kaca. Ia pun sedikit membungkukkan tubuh supaya kepala bisa dilihat jelas.
“Aku pinjam mobilmu.” Roxy meminta tolong, tapi justru terkesan ingin merampas karena nada bicara yang dingin ditambah tatapan mata pria itu nampak tajam, apa lagi bibir juga tidak senyum. Tak ada ramah-ramahnya sedikit saja.
“Pinjam? Beli sendiri!” tolak pemilik mobil tersebut.
“Anggap saja sewa.” Roxy mengeluarkan dompet, menghitung banyaknya uang cash yang dimiliki. Dia keluarkan semua lembaran dari dalam sana. Mata si pemilik mobil juga ikut terarah pada euro yang sedang ditangannya.
“Dua ribu euro.” Roxy menyodorkan pada pemilik mobil tersebut yang ada tepat di depan matanya. “Sewaku untuk satu hari, jika lebih akan ku tambah setelah ku kembalikan padamu, bagaimana?”
Si pemilik mobil nampak tergiur, satu hari langsung dapat dua ribu euro? Itu sangat banyak dan lumayan. Apa lagi hanya menyewakan kendaraan miliknya. “Oke.” Dia mengambil uang tersebut.
Roxy tentu saja otomatis mengambil kunci yang masih tertancap di dalam supaya orang itu tak bisa kabur setelah mendapatkan uangnya. “Berikan nomor ponselmu, aku akan hubungi ketika urusan sudah selesai.” Dia menyodorkan ponsel.
Pemilik mobil pun memasukkan nomor yang bisa dihubungi, lalu mengembalikan benda tersebut pada pria yang tidak dikenal. “Mobilku jangan dibawa kabur!”
“Kendaraan butut seperti ini? Aku tidak tertarik untuk mencurinya.” Sudah dipinjami, masih sempat menghina pula. Ia menelepon nomor yang baru saja dimasukkan ke dalam ponselnya. “Itu aku, kau hubungi saja jika mobilmu tak kunjung ku kembalikan,” beritahunya ketika melihat ada layar yang hidup di dalam mobil.
Roxy pun membuka paksa pintu dan menarik si pemilik. “Keluar kau, sekarang!” Dia langsung ke dalam dan menghidupkan kendaraan tersebut. Lebih baik menyewa daripada membeli. Lagi pula tidak ada keinginan untuk tinggal lama, meskipun di negara kelahirannya.
Melaju secepat kilat, Roxy langsung menuju ke mansion kediaman seseorang yang sangat dikenal dan memiliki hubungan dengannya. Dia tidak lupa jalan menuju tempat yang sudah sangat lama tak pernah dikunjungi.
Roxy enggan masuk ke dalam. Dia cukup berhenti di depan gerbang dan turun bertemu penjaga mansion.
“Kalian mengenalku?” tanya Roxy dengan wajah datar.
Dua penjaga yang ditanya pun kompak menggelengkan kepala. “Tidak.”
Roxy tak menanggapi dengan decakan, justru mengeluarkan kartu identitas. “Abelard Roxy Alphonse.” Sengaja ditunjukkan supaya dua pria itu bisa membaca secara jelas.
“Anak Tuan Alphonse?” Penjaga itu seakan tahu siapa yang dimaksud.
“Ya.” Roxy memasukkan lagi kartu identitasnya ke dalam dompet.
“Ada apa Anda mencari kami?”
“Aku ingin meminta bantuan. Tolong panggilkan Alesha supaya keluar menemuiku di sana.” Roxy menunjuk sebuah pohon rindang.
“Maaf, bukannya tidak mau membantu. Tapi, Nona Alesha keluar sejak pagi.”
“Ke mana?”