Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 (Malam Itu......)
Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari
❤️ Perhatikan, tulisan tercetak miring bisa jadi adalah mimpi, khayalan atau isi hati
.
.
.
.
Keyla Wijaya terlihat begitu antusias mempercantik diri. Sentuhan akhir di poles sesempurna mungkin. Senyum menyeringai kala menatap wajah cantik nya.
"Kali ini, aku lah yang akan merasakannya Bara Dirgantara. Di sini aku lah yang mencintai mu. Bukan mereka," tuturnya berat.
Keyla tertawa keras kesetanan. Sebelum tawa itu pudar, kala ingatan masa lalu. Yang ingin rasanya, gadis ini ulang kembali. Memperbaiki nya, hingga bisa memiliki sang Jenderal tinggi nan gagah perkasa itu. Menjadi nyonya muda Dirgantara yang selama ini ia impikan. Sayangnya, semua tak bisa berjalan sesuai rencana. Harapan yang ia genggam tak lebih dari sebuah harapan kosong.
Flashback on
Hotel mewah tempat penyelenggaraan pesta lajang untuk ke dua pengantin. Yang besok pagi akan melaksanakan pernikahan. Musik slow di putar menemani para tamu yang datang. Tidak terlihat satu pun orang yang di atas umur tiga puluhan. Yang hadir pada muda mudi. Rata-rata yang datang adalah pria dan wanita yang masih lajang atau belum memiliki status menikah. Wajah familiar yang berkeliaran tak jauh dari teman-teman dekat ke dua calon mempelai. Kaki panjang jenjang Keyla mendekati salah seorang waiters yang melayani para tamu.
"Isi ini pada gelas mempelai pria dan wanita. Arahkan mereka pada kamar 120 dan 113 untuk yang lelaki nya. Ini bayarannya." Bisik Keyla memberikan bungkusan serbuk dan uang tips.
Gadis berambut sebahu itu tersenyum cerah mendapatkan cek, yang jumlah nya sepuluh kali gaji nya dalam sebulan."Baik, nona!" Balasnya menerima pemberian Keyla. Sebelum melangkah menjauh.
Keyla melangkah pergi. Tujuan utamanya adalah masuk ke dalam kamar 113 menunggu pria Dirgantara itu masuk ke kamar. Sebentar lagi. Sebentar lagi Bara Dirgantara akan menikah dengan nya. Membatalkan pernikahan nya dan Nana Wijaya. Saudara tiri nya yang begitu ia benci.
Lima belas menit berselang. Aurora Wijaya memasuki aula pesta. Ke dua mata indahnya bergerak liar, mencari keberadaan sang kakak. Ia baru saja sampai dari Amerika. Langsung tancap gas mendatangi Hotel.
"Nona Wijaya?" tanya waiters berambut sebahu itu menghampiri Aurora.
"Ah? Iya, ada apa ya?" tanya Aurora dengan wajah bingung.
"Saya di minta oleh calon suami nona untuk membawa nona untuk memberikan minuman ini." Ujarnya menyodorkan jus jeruk. Meski ini pesta lajang bukan berarti ke dua belah pihak akan menyediakan minuman memabukkan. Karena besok ada hari bersejarah untuk ke duanya.
Dahi Aurora berlipat. Meski begitu, ia tetap menerimanya meneguk habis. Ia bingung dengan yang terjadi, namun hanya menurut saja. Ia berpikir toh, mungkin Bara Dirgantara ingin menjalin hubungan ipar yang baik dengan nya.
"Apakah anda melihat kakak ku?" Tanya Aurora kala memberikan gelas kosong pada sang waiters.
"Ya, tentu saja. Kakak nona menunggu di kamar atas," jawabnya mengulas senyum di akhir.
"Bisa antara kan saya ke padanya?"
"Baik. Mari ikuti saya nona Wijaya!" Ujarnya melangkah lebih dahulu.
Tak ada rasa curiga. Tubuh yang letih menempuh perjalanan jauh. Hingga sampai di Indonesia langsung menuju tempat pesta. Membuat Aurora sedikit eror. Seolah-olah percaya saja, di samping itu. Teman gadis berambut pendek itu telah membawa Bara Dirgantara memasuki kamar sebaliknya. Bukan 113, malah membawanya masuk ke kamar 120.
Sekali naik lift ke duanya hanya butuh waktu sepuluh menit kurang sampai di depan pintu. Dengan cepat, gadis itu membuka pintu hotel dengan kartu yang ia bawa. Aurora masuk begitu saja, senyum sang gadis mengembang.
"Asik! Aku pasti akan mendapatkan uang lebih banyak lagi dari wanita cantik itu!" ujarnya dengan senyum iblis. Sebelum melangkah pergi.
Langkah kakinya berhenti di tong sampah di tikungan menuju lift. Membuang asal gelas yang masih ia pegang. Membersihkan bukti.
Di kamar 120, Aurora Wijaya masuk perlahan. Lampu yang temaram. Membuat gadis remaja cantik itu merasa kesulitan. Tubuh nya terasa begitu tak nyaman. Gelayar aneh menyentuh titik sensitif nya.ia merasa perubahan padanya, dalam hitungan menit saja. Meski ia menepis dengan keadaan tubuh yang begitu letih. Lantaran perjalan jauh.
"Kak!" panggil Aurora serak.
Ada apa dengan nya. Tubuh nya terasa begitu panas, tak terkontrol. Kepalanya terasa begitu pening. Di kamar mandi, kondisi pria Dirgantara itu tak kalah sama.
"Panas!" Keluh Bara mengusap lehernya dengan gerakan pelan.
Ia berdesis. Di luar kamar seolah-olah ada yang manggil nya. Bara melangkah keluar kamar, tidak melihat jelas siapa yang kini berdiri di dekat ranjang. Gadis berambut sepinggang itu berdiri membelakangi nya. Tubuh nya semakin panas ada hasrat yang meronta.
"Kakak?" Aurora berbalik kala rungu nya menangkap derap langkah kaki mendekatinya.
Bruk!
Cups
Tubuh keduanya terjerembab jatuh ke ranjang. Dengan posisi yang benar-benar intim. Bara Dirgantara tak peduli, jika ini adalah Nana Wijaya calon istri nya. Toh, besok mereka akan tetap menikah. Kecupan menjadi lumatan, darah ke dua nya berdesir. Tidak ada logika yang bermain saat ke dua manik mata di kuasai gairah napsu binantang. Yang butuh pemuasan dahaga. Kecupan erangan mengalun keras. Kala bibir tebal seksi pria Dirgantara ini mengecup jatuh pada leher jenjang Aurora. Aurora mengerang meremas pelan alas tempat tidur.
Tak ada yang sadar, kala gelora panas gelombang kenikmatan menguasai raga. Geraman dari kerongkongan Bara terdengar begitu buas. Penguasaan akan tubuh gadis sepuluh tahun lebih muda darinya itu mampu menghantarkan kepuasan.
Hingga malam terlarang terjadi begitu saja.
Tangan kekar Roy menarik tubuh Nana masuk kedalam dekapan dadanya. Takdir yang begitu lucu, mempermainkan dua belah pihak. Nana Wijaya tak butuh zat gila itu untuk melakukan hal gila dengan Roy. Ia memutuskan melepaskan keperawanan nya untuk kekasih nya. Meski terselip di hati kecil nya, rasa bersalah pada Bara Dirgantara kedepannya. Karena wanita yang akan di nikahi nya tak lah perawan lagi. Di mulai malam ini.
Flashback off
Keyla meremas kasar kertas di tangan nya. Malam itu, rencana jahatnya bukan hanya tak berjalan lancar. Di malam itu, ia di timpa kesialan. Saat itu, ia masih mengingat jelas. Sebelum memasuki kamar. Ia di tarik masuk ke dalam salah satu bilik. Di perkosa, oleh lelaki yang sangat ia kenal.
"Sialan! Jika bukan karena lelaki itu. Aku sudah pasti di altar bersama Bara. Sudah pasti memberikan banyak anak untuknya. Hanya aku dan dia yang hidup bahagia bersama. Dari awal Bara hanya di takdir kan menjadi milik ku. Bukan milik ke dua wanita ****** itu!" murkanya.
Bukankah takdir tau bagaimana cara bekerja yang benar. Tak akan memberikan seseorang yang tak pantas untuk bersama menyatu. Sekuat apapun orang itu mencoba merusak benang takdir. Karena takdir itu terikat bukan mengikat.
****
Aurora mengembang senyum. Lihatlah Bara Dirgantara menatapnya dengan tatapan kesal. Aurora melangkah cepat, ia harus meredakan amarah sang suami. Mereka sepakat keluar dari daerah militer. Pergi ke kota, melihat Aurora memakai baju yang di nilai seksi membuat pria ini memasang wajah bak singa jantan yang bisa menerkam siapa saja mata nakal yang mencoba melirik sang istri.
"Sayang! Kita beli baju panjang ya." Bujuk Aurora menyandarkan kepala nya di dada bidang Bara.
Tidak ada jawaban. Ah! Ternyata Bara Dirgantara benar-benar sangat marah. Aurora menengadah, merubah posisi nya. Berdiri di depan Bara mengalunglan ke dua tangan di leher Bara. Berjinjit cepat, menarik kebawah kepala Bara. Mencium bibir Bara. Menggoda sang suami agar tak lagi marah. Sayangnya, Bara tak bergerak mambalas cumbuan sang istri.
Aurora menyerah. Ia melepaskan kecupannya. Mengusap pelan bibirnya, menatap kesal Bara. Owh! Siapa yang marah sebenarnya? Kenapa wajah Aurora yang malah menyeramkan.
"Baiklah. Kalau tak mau beli baju panjang untuk ku. Maka aku beli baju seksi saja. Biar banyak uang tergoda padaku!" Kesal Aurora menghentak kan ke dua kakinya ketanah.
Ia berbalik cepat. Kala kaki nya melangkah, lengannya di tahan oleh Bara. Lucu! Sesalah-salah apapun wanita. Maka jauh lebih salah pria. Hukum alam.
"Jangan." Cegah Bara. Melingkarkan sebelah tangannya di perut datar Aurora. Menyandar dagu runcing nya di bahu Aurora. Wanita bermata almond bening itu tak dapat menahan lengkungan senyuman kemenangan.
TBC
Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari
kasian tp lucu 😅😅
konspirasi konspirasi