Alya Safitri gadis berusia 18 tahun itu kini harus menikah dengan laki-laki bernama Ardi Wijaya, laki-laki pilihan sang ibunda yang di gadang-gadang baik dan lemah lembut tutur katanya, mampu mengasihi dan menjaga Alya dengan sepenuh hati.
Alya menyangkal, namun rasa sakit yang ia terima dari ibu orang tercinta nya mendorong nuraninya untuk menerima tawaran ibunda nya. Meski tak ada rasa ia terpaksa mengambil langkah.
Dia mempertaruhkan hidup, cinta dan masa depan nya demi menjujung harga diri yang telah porak poranda.
Tak ayal bahwa terkadang sebuah ucapan memang lebih menyakitkan dari bilahan pisau tajam. Mampukah Alya menerima Ardi dalam kehidupan dan cinta nya? Atau Ardi hanya akan menjadi tameng balas dendam sakit hati nya?
Ini adalah novel pertama ngothor nganu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Alya membaringkan tubuhnya, dan membenamkan wajahnya didalam bantal. Hatinya masih saja dikuasai emosi, tapi bukan pada suaminya, melainkan pada wanita yg sedari tadi menganggapnya tidak ada dan malah mencoba menggoda suaminya. Tapi semua itu pasti Ardi lah yg akan kena imbasnya.
Cih, kenapa aku bisa sekesal ini
" Adek. " panggil Ardi, seraya mengusap rambut Alya yg menyembul keluar.
" Jangan pegang-pegang! aku lagi gamau dipegang sama Mas Ardi. " balas Alya tanpa mau mengubah posisi nya.
" Kok gitu sih sayang? Kenapa? Ayo sini cerita, jangan begitu dong."
Ardi mencoba membujuk Alya agar keluar dari persembunyian nya. Sedangkan Alya sudah beberapa kali mengusap cairan bening yang mengalir begitu saja. Namun nihil, Alya sama sekali tidak mau mendengarkan Ardi, disentuh saja ia menolak.
" Mas Ardi keluar aja sana! " ucapnya dengan suara bergetar menahan sesuatu yang membuat dadanya kian sesak.
Menyadari suara istrinya yang terdengar tak seperti biasa akhirnya Ardi mengangkat tubuh Alya secara paksa dan mendekapnya. Tapi Alya terus menolak, ia memukul mukul dada Ardi, padahal inilah yang sedari tadi ia inginkan dekapan orang yg tersayang. Ardi diam saja meski Alya terus meronta-ronta meminta lepas dari dirinya. Karena dia yakin ini pasti ada yang salah.
Ardi mengusap-usap punggung Alya sampai istrinya berhenti meronta meminta lepas dari dekapannya, dan lihat kini Alya mulai sedikit tenang, karena sungguh hanya itu obatnya.
" Ayo coba sekarang adek cerita, adek kenapa? " tanya Ardi dengan perlahan .
" Ngga tau, sudah sana Mas ngobrol saja terus sama dia! pergi sana ke kebun teh bareng dia!" Alya kembali memukul dan meronta.
Dia?
" Aku mau pulang saja, pasti disini banyakkan mantan-mantan Mas, termasuk wanita itu, " sambungnya.
Ardi tersenyum tipis, Adek cemburu? Begitu pikirnya.
" Ishh kenapa tidak menjawab!!! Benarkan dia itu mantan Mas, "
" Hey, hey dengerin Mas ya, dia itu Mir—"
" Tuhkan kamu menyebutkan namanya, ishhh pergi sana!!!!" tapi anehnya Alya malah memeluk Ardi lebih erat.
Lagi-lagi itu semua membuat bibir Ardi berkedut bahagia.
" Dia hanya adik kelas Mas dek, ngga lebih."
" Kamu bohong Mas, pasti kamu cuma pengen buat aku tenang kan jadi kamu ngomong gitu , iyakan? " suaranya kembali bergetar.
Beginikah menghadapi wanita yg sedang cemburu? Selalu membuat asumsinya sendiri, berpikir kemana mana yg malah membuat hatinya semakin sakit.
" Adek dengar yaaa... "
" Tidak mau!! "
" Adek dengar ... Mas tidak punya apa itu namanya mantan, cuma kamu, hanya kamu, dan cukup kamu dalam hidup dan cintaku, tidak ada yang lain dan memang yg lain tidak mampu masuk ke dalam hati dan pikiran ini, Mas juga tidak tahu kenapa bisa begitu, tapi yang jelas, kamu lah yang menjadi nomor satu, sekarang, esok dan selamanya, ingat itu! "
Seakan terhipnotis oleh kata-kata Ardi barusan Alya mendongak menatap wajah suaminya, mata dan hidung nya memerah, bahkan jejak basah itu masih ada.
" Benar? " tanyanya manja.
" Adek tidak perlu bertanya, karena adek sudah tau jawabannya. "
" Mas tidak berbohong kan? " tanyanya lagi, kini Ardi sudah membantu Alya untuk mengelap sisa-sisa air matanya.
" Kapan Mas berbohong sayang?"
Alya menggeleng imut, lalu kembali memeluk erat pinggang Ardi.
*********
Setelah melaksanakan sholat Ashar, Ardi dan Alya bersiap untuk pergi ke pantai, sesuai keinginan Alya tadi pagi dengan syarat tidak ada agenda memakai bikini.
Alya menggerai rambutnya, ia memakai kaos putih yang dipasangkan dengan kain khas Bali, tak lupa juga ia mengoles pewarna ke bibir mungilnya, membuat tampilannya selalu saja menawan dan sedap dipandang. Sedangkan Ardi memakai kaos hitam polos dan celana jeans selututnya, meski begitu sederhana Ardi selalu nampak manis dengan penampilannya.
" Adek sudah siap?" tanya Ardi seraya melingkarkan tangannya diperut Alya.
" Let's go to have fun baby." balas Alya dengan mengacungkan tangannya ke udara.
Kini mereka berdua sudah ada di mobil angkot, jurusan yg akan membawa mereka ke pantai tempat tujuan mereka kali ini.
Seperti dua remaja yang sedang dimabuk cinta mereka terus saling menautkan jari-jari mereka, tanpa peduli seisi penghuni angkot yg memandang ke arah mereka berdua, pokoknya yang lain ngontrak semua. Mungkin yg ada disitu akan menyangka kalo Alya adalah simpanan om-om, tapi emang ada ya om-om bawa simpanannya pake angkot?
Tak ada rasa gengsi di diri keduanya, malah mereka selalu menunjukkan wajah ceria serta senyum cerah pada semua orang, seakan memberitahu pada seluruh penduduk bumi, bahwa mereka begitu beruntung untuk saling memiliki.
Sesekali Alya menengok ke arah suaminya, lalu dengan malu-malu dia tersenyum membuat Ardi jadi salah tingkah.
Semua itu mereka lakukan hingga masuk ke area pantai. Mungkin yang melihat akan terasa aneh, tapi bagi mereka sesuatu ini sangat membahagiakan, mereka seperti anak sekolah yang baru saja jatuh cinta lalu saling mengungkapkan perasaan dan sepakat untuk pacaran.
Ardi membeli karcis terlebih dahulu untuk bisa masuk ke wisata tersebut sedangkan Alya menungguinya dibelakang dengan jarak berapa langkah darinya. Karena mengantri Ardi menengok ke belakang tepatnya ke arah Alya, saat mata mereka bertemu Ardi melambai lalu memberikan kiss bye, membuat Alya tersenyum senyum ditempatnya.
Hihi kaya abege lagi
Konon pantai ini sangat terkenal dengan panorama sunsetnya yang begitu eksotis membuat mata termanjakan oleh keindahannya, tak ayal banyak anak muda yg menjadikan pantai ini untuk destinasi wisata dan tempat nongkrong mereka.
Selain itu, ombaknya yang tenang membuat pantai ini aman untuk mereka yang memiliki hobi berenang.
" Mas fotoin aku dong."
" Yaudah adek berdiri disana ya Mas fotoin pake hp Mas." ujar Ardi seraya mengeluarkan ponselnya.
" Yang candid gitu ya Mas, " pinta Alya, yg dijawab anggukan oleh suaminya.
Dan cekrek, cekrek, cekrek.
" Mas mau liat, " ucap Alya manja.
Ardi menyerahkan ponselnya ke arah Alya, lalu dengan cepat Alya membuka galeri foto Ardi yang sudah dipenuhi dengan pose unyu-unyu nya, Alya cekikikan sendiri melihat tingkah konyol nya dikamera.
" Cantik, " ucap Ardi sambil menyubit gemas pipi Alya.
" Tapi cantikkan aslinya, " sambungnya.
Dan dibalas juluran lidah oleh Alya.
" Gombal wleekk, "
Tiba-tiba ketika Ardi dan Alya sedang asyik bercengkerama, ada segerombolan turis lewat di depan mereka.
" Astaghfirullah, "
Ardi langsung berpaling muka. Alya ikut mengarahkan matanya pada apa yg membuat suaminya syok, begitu menyadari apa yg dilihat suaminya, sontak Alya memukul bahu Ardi sampai berbunyi keras.
Plakkkkk
" Mas Ar liat yah, ishhhh, " teriak Alya kesal.
" Sumpah dek mas ga liat apa-apa, " balas Ardi mengacungkan dua jarinya.
" Dikit sih, " gumamnya namun masih terdengar oleh telinga Alya.
" Iiihhhhh Mas Arrrr, "
Alya terus memukul-mukul badan Ardi, ia begitu kesal , dia saja tidak boleh pake bikini tapi suaminya ini malah melihat wanita lain memakai pakaian haram jaddah itu. Kurang ajar!
Dengan nafas terengah-engah akhirnya Alya berhenti memukuli suaminya, bukannya yang dipukuli yang merasa sakit, ini malah dirinya, seakan dia telah memukuli batu , batu durjana maksudnya.
" Nih minum es kelapa nya, kasian kan adek capek yah, " Ardi menyodorkan es kelapa yg telah dipesannya, lalu menyelipkan anak rambut Alya ke belakang telinga.
" Ampe keringetan gini si sayang, " ia beralih mengelap dahi Alya. Ardi sama sekali tidak marah atas tindakan istrinya, semua itu ia artikan bentuk kecemburuan Alya kepadanya, jadi Ardi bahagia-bahagia saja.
" Mas kok ngga marah si? " tanya Alya sambil menyedot es kelapanya.
Makhluk bernamakan wanita itu unik ya? Kalo marah salah, ngga marah ditanya. Tapi lelaki hebat akan selalu mencintai segala keunikan wanitanya.
" Kenapa mesti marah? Itukan bentuk cinta adek pada Mas, dan mengajarkan Mas untuk menjaga pandangan mata supaya tidak melihat yang lainnya, "
Meleleh boleh?
Wajah Alya yang semula tertekuk, kini berangsur merona.
" Mas sunsetnya, " ujar Alya seraya jari telunjuknya mengarah ke pemandangan eksotis didepan mereka.
Ardi mengikuti gerak jari Alya, dengan terkagum mereka berdiri dan berlari seakan ingin menggapai cahaya indah tersebut.
" Indah ya dek?" pertanyaan itu langsung dijawab anggukan oleh Alya.
" Namun keindahannya tak bisa menandingi keindahan dirimu, " sambungnya, membuat Alya menoleh kearahnya hingga mereka saling bertatap muka.
Alya mengulum senyum, kemudian dengan berjuta debaran didada, jantung yg terus memompa ia memberanikan diri berjinjit untuk menyapa bibir Ardi dengan bibir miliknya. Ardi menyambut sapaan itu dengan rona bahagia dipipinya, lalu perlahan ia angkat tubuh istri kecilnya agar sepadan dengan tinggi badannya. Dibawah lembayung yg berwarna jingga, ditemani deburan ombak yang terus menyapa karang, serta sepoi angin yang meliuk serta melambai, membawa ribuan angan yang terbang bebas diudara mereka semua ikut menyaksikan dua insan yang sedang berpagut mesra.
Kisahku indah bersamamu ❤️
********
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaaa ❤😇