Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Edric Bertemu Calon Mertua
"Aku harus pamit pada calon mertuaku juga, kan? Bagaimanapun juga, aku akan membawa anak gadisnya untuk bersamaku. Terlepas dari bagaimana sifatnya pernikahan ini, aku yakin kamu adalah anak perempuan yang berharga di mata orang tuamu. Jadi, aku juga harus menunjukkan tanggung jawabku bukan?"
Ada sebuah gelenyar aneh dalam dada Luna yang tiba-tiba tergerak. Entah apa maksud dosen killer-nya berkata demikian, namun jujur saja, itu juga yang pertama kali bagi Luna untuk bisa tersentuh oleh perkataan Edric.
Luna menyelipkan rambut pada telinganya, gadis itu hanya bisa tertunduk mendengar penuturan Edric. "Terserah Pak Edric saja, lah!"
Mereka berduapun segera masuk ke rumah sakit.
"Luna, aku tunggu kamu di ruang rawat Bapakmu! Nih, jaga-jaga bila ada kebutuhan yang harus bayar!" Edric mengambil beberapa lembar uang seratus ribu dan meminta Luna untuk menggenggam.
Luna menarik tangannya.
"Pak, nggak ah! Kan bu Dita bilang, aku tinggal bicara ke petugasnya kalau aku suruhan bu Dita. Pasti tidak akan bayar, kan?" tolak Luna. Entah mengapa ia merasa pemberian uang dari Edric sekarang bukanlah yang termasuk pada perjanjian, jadi ia tak berani menerima.
"Ya, anggap saja uang ini untuk kebutuhanmu. Bukan untuk bayar rumah sakit ini saja!" Edric memaksa Luna menerima uangnya.
"Nggak, ah!" Luna menarik tangannya, dan langsung nyelonong masuk ke dalam rumah sakit.
Edric menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ia melihat ada orang yang menolak saat ia beri uang.
Edric pun berjalan ke arah ruang rawat yang berada di gedung berbeda dengan ruang tempat Luna periksa kesehatan.
"Assalamualaikum," salam Edric sebelum ia masuk ruangan.
"Waalaikumsalam," sahut Lilis dan suaminya yang kebetulan saat itu sedang bangun.
"Eh, Tuan Edric? Masuklah, Tuan!"
Edric tersenyum, ia pun masuk ke dalam ruang rawat setelah melepas dan menyimpan sepatunya.
"Tumben Tuan Edric, ke sini sendiri. Mana nyonya Dita?" tanya Lilis.
"Saya tidak sedang bersama Dita, Bu. Saya kemari bersama Luna. Tapi Luna sedang di gedung utama, untuk periksa kesehatan." Edric menjelaskan.
"Ouh, gitu. Pak'e kenalkan, ini Tuan Edric. Yang akan mempersunting Luna." Raut wajah bu Lilis tiba-tiba berubah.
Pak Anwar mendadak diam sejenak, lalu ia mulai bersuara. "Apa anda sudah menpertimbangkan matang-matang sebelum membawa anak saya menjadi istri kedua anda?" Pak Anwar mulai mengintrogasi Edric.
"Saya tidak tau harus marah atau berterima kasih mendengar rencana tuan dan nyonya. Saya mengerti niat baik kalian, ingin saling menolong dengan kami yang kekurangan ekonomi. Tapi tolong, jangan buat anakku sengsara." Pria dengan berbagai selang yang menyokong hidupnya itu menunjukkan air wajah khawatirnya.
"Luna satu-satunya anak kami, Tuan. Sebenarnya kami tidak rela jika anak kami menikah karena paksaan. Tapi ia melakukannya dengan baik. Saya harap, meski Tuan tidak mencintak anak saya, jangan siksa dia. Bila dia melakukan kesalahan, cerita pada saya, agar saya yang memarahinya, jangan pukul dia. Ini semua gara-gara saya yang tak mampu membiayai hidup kita. Luna harus berkorban." Lilis kini menangis di depan Edric.
Pria tegap itu memeluk bahu Lilis dan mencoba menenangkan wanita paruh baya tersebut. Baginya, ini baru pertama kali memeluk dan menenangkan orang yang ia anggap sebagai ibu, selain ibu kandungnya.
"Maaf, Pak, Bu! Saya janji saya tidak akan kecewakan kalian."