Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu Lagi
Selamat membaca
Jangan Vote, Komen dan Jempolnya (👍)
Semoga tidak mengecewakan
***
"Ayo dong, Tante, cepatan jalannya, masa kalah sama Tya masih kecil tapi cepet kalau jalan. Ih, malu dong sama Tya banyak lebihnya." Sorak ceria Tyana seraya menarik-narik tangan putih mulus Hana.
Hana berdecak. Risih. Bisa-bisanya ia menjadi ajudan seorang bocah kecil. Apa-apa harus mengiyakan dan menuruti kemauannya. The power of bocil.
"Bawel banget sih, gak usah sombong, orang sombong kuburannya sempit." Balas Hana malas berjalan gontai tidak bertenaga.
Keluar dari gerbang rumah, keduanya memutuskan untuk jalan kaki karena keinginan si bocil yang tidak bisa di ganggu gugat. Katanya sih jalan siang itu sehat untuk tubuh, anak kecil tahu apa sih, sok pinter, sok dewasa pula. Yang namanya jalan siang apalagi terik matahari menyengat pas lagi panas-panasnya bukan sehat namanya yang ada kulit putih mulusnya jadi gosong kayak areng. Realitanya.
"Tau ah, Tante Hana payah, pantesan jodohnya gak muncul-muncul."
Tuh kan bawa-bawa jodoh lagi. Ya Allah pertemukan lah hamba dengan jodohku. Batin Hana bergejolak. Ia lelah di bully dan hujat terus oleh bocil. Bisa tidak dia berhenti bilang jodoh. Hana sensitif kalau mendengar kata jodoh yang tidak kunjung datang. Kalau jodoh bisa di download, Hana akan unggah beberapa jodoh untuknya.
"Kalau ngomong pinter banget. Tapi jangan di hujat terus dong, Tantenya." Hana mencubit gemas hidung Tyana saking gemas ingin sekali dia mencabut hidung Tyana.
"Maaf, habis Tante enak kalau di hujat." Tyana seraya membuang muka dan terus menarik tangan Hana.
Hana gemas minta ampun dengan keponakannya, waktu hamil kakaknya ngidam apa coba, bisa tengil begini. "Bocah gendeung… "
Bukannya sadar, Tyana malah cecengiran tidak karuan, tahu tidak kalau tangan Hana sakit di tarik-tarik kayak tali tambang.
Sesampainya di area taman komplek, banyak para pedagang berjualan dan pengunjung pun banyak berhamburan. Di sana juga ada taman bermain anak dan sebagainya, taman ini sangat lengkap tidak kalah dengan taman kota.
"Wih ramai… " Tyana mengarahkan pandangannya ke segala arah. "Tante, aku mau main perosotan…" kata Tyana antusias menunjuk teman bermain yang penuh dengan anak-anak seusianya.
"Kamu gak beli makan dulu?" tanya Hana.
Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepala pelan tanda dia tidak ingin.
"Okay. Tante tunggu dan duduk di sini aja, ngawasin kamu." Sanggahnya memandang sekitar tampak ramai ada yang bercanda dengan keluarga ada pula sepasang kekasih sedang duduk mengobrol. Rasanya membuat Hana iri setengah mati.
"Tapi Tya pengen gulali." Ucap Tyana dengan penuh memelas.
"Ayo kita beli." Ajak Hana hendak mengeluarkan tangan pada Tyana.
Tyana menggeleng. "Tante deh yang beli, aku mau perosotan dulu di sana." Katanya sambil menunjuk tempat bermain di depannya.
Hana melipat kedua tangannya di depan dada. "Kamu nyuruh Tante?" Hana bingung dengan Tyana banyak maunya.
Gadis kecil itu mengerjap kemudian menunduk resah dan menatap Hana dengan sedikit hati-hati karena melihat tatapan Hana begitu tajam. "Sorry, maksud Tya, Tya minta tolong Tante belikan Tya gulali, ya?" Tyana mengoreksi ucapannya. Gadis kecil itu sadar kalau tadi memang salah dalam mengucapkannya. Dia Ingat ucapan nasehat Hana kalau ingin menyuruh sesuatu harus dengan kata 'tolong' bukan suruhan.
Hana menghela nafas. "Iya, Tante belikan. Tapi kamu jangan kemana-mana. Kalau ada orang asing…"
"Tya inget kok!" Potong Tyana tersenyum paham, agar Hana tidak perlu khawatir.
"Pinter. Tante beli dulu gulali yang kamu mau."
"Aye-aye captain."
Hana mengacak rambut Tyana gemas, dan melenggang menuju pedagang gulali yang tampak lumayan ramai. Ia harus rela mengantri. Menyebalkan.
***
Akhirnya ketemu lagi.
Bima memarkirkan motor maticnya di tempat yang sudah di sediakan. Ia membuka helm dan merapikan rambutnya sebentar melihat ke kaca spion memastikan kalau rambutnya sudah cukup rapi. Sedangkan Nabila yang memperhatikan hanya mengerut kening tidak mengerti akan tingkah Bima yang tidak biasanya.
"Ayo… " Ajak Bima pada adiknya. Mereka berjalan bersebelahan melewati para pedagang makanan. Bima tadi melihat seseorang yang di kenalnya dan ingin menyapanya karena memang sudah lama dia tidak berjumpa dengannya, rasanya rindu melihat tampang polos, senyum dan cerianya yang menjadi daya tariknya saat pertama kali bertemu dengannya tidak sengaja.
"Loh, kita mau kemana?" tanya Nabila merasa ada yang salah. Bukannya kakaknya mencari makanan masa kecilnya alias cilok tapi kenapa Bima malah melewati semua pedagang dan anehnya kenapa berjalan menuju taman bermain.
"Kita menemui seseorang dulu!" Tukas Bima lalu menghampiri seorang gadis kecil sedang bermain perosotan.
Bima tersenyum. "Hey, cantik lama tidak berjumpa?" sapa Bima lembut.
Gadis kecil itu, menatapnya setelah turun dari perosotan dan menghampiri Bima dengan sumringah.
"Om Ganteng." Gadis kecil itu berhamburan mendekati Bima yang sekarang berjongkok menyamakan tinggi gadis kecil itu.
"Apa kabar, Tya?" tanya Bima menanyakan kabar gadis kecil itu. "Baik, Om apa kabar?" Balas Tyana, berbalik tanya.
"Sama Om juga baik. Kamu ke sini sama siapa?" Jawab Bima senang akan pertemuannya dengan Tyana.
"Tante aku, Om."
"Tante kamu kemana? Kayaknya dia hobi banget ninggalin kamu sendiri. Anak kecil gak baik kalau hanya sendirian." Desis Bima, setiap pertemuannya selalu saja di tinggal sendiri. Awal pertama melihat Tyana di jalan, kedua di cafe sekarang di taman dan lebih mirisnya selalu Tyana seorang diri. Bima heran kemana orang tuanya? Apa-apa Tantenya yang di sebut bukan Ibu dan Ayahnya.
Tyana tidak terima. "Bukan gitu, Om. Tyana nyuruh Tante buat belikan gulali. Tyana lebih milih main daripada sama Tante beli gulali." Sejenak Tyana berhenti, mengatur nafasnya. Bima menyadari kalau Tyana belum selesai bicara dan menunggu melanjutkannya. "Tuh lihat antriannya panjang gitu, Tya males kalau antrinya panjang kayak ular tangga." Lanjutnya Tyana panjang lebar.
Sekilas melihat ke arah antrian pedagang gulali cukup panjang. Dia ingin melihat bagaimana sosok dan rupa wajah Tantenya Tyana yang di kaguminya namun tidak begitu jelas karena membelakangi hingga Bima hanya bisa melihat punggung wanita dewasa itu. Sebagian antrian kebanyakan anak kecil. Bima pastikan bahwa wanita berpakaian dress itu pasti Tantenya gadis kecil tersebut.
Bima tersenyum gemas mendengarkan ocehan gadis kecil begitu lancar. Bima yakin sekali kalau Tyana akan menjadi anak yang cerdas kelak hingga dewasa nanti.
Sedang Nabila sejak tadi hanya diam masih melihat perhatian kakaknya dan begitu akrab dengan seorang anak kecil.
Deheman Nabila memecahkan keduanya. "Kak…" seru Nabila merasa di abaikan.
Bima hampir lupa kalau dia bersama dengan Nabila hingga melupakannya. Maaf saja karena Tyana telah mengalihkan semuanya.
"Kakak hampir lupa." Bima menepuk jidatnya. "Kenalin ini Tyana."
Adiknya berjongkok. "Hai, aku Nabila. Nama kamu siapa?" sapa Nabila ramah tamah.
"Aku Tyana, bisa di panggil Tya." Balasnya.
"Oh, senang kenal sama kamu Tya."
"Aku juga, Tante."
"Jangan panggil Tante, panggil aja kakak, Tante belum setua itu."
"Iya Kak Nabila."
"Nabila ini adiknya, Om."
"Tya kira pacarnya, Om, tapi syukur deh." Tyana lega dan tersenyum simpul membuat Bima bingung akan ucapan Tyana.
"Syukur, gimana?" Tanya Bima penasaran.
"Aku mau kenalin Om sama Tante aku. Kira aja jodoh. Om jomblo kan?"
Bima terkejut akan lontaran Tyana. Ada-ada saja anak kecil sudah tahu hal yang memang belum di mengerti oleh seumuran Tyana yang masih bocah.
"Wah, ide bagus tuh. Pas banget, Kak Bima jomblo loh." Sahut Nabila mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya.
Bima merasa asing dengan Nabila, biasanya tidak banyak bicara atau menyahuti obrolan tapi kali ini Nabila tampak bawel.
"Kamu Nabila kan?" tanya Bima dengan kebingungan akan pertanyaannya sendiri.
"Maksud kak?"
"Kamu buka Dila kan? Habis kamu bawel banget sih."
Nabila tertawa geli. "Kak Bi ada-ada aja. Kakak pikir aku Dila yang menjelma jadi Nabila. Drama banget sih."
Bima menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal lalu mengarah pandangan pada Tyana masih melihat inten pada Bima maupun Nabila.
Selama beberapa menit mereka mengobrol sambil menunggu kedatangan Tantenya Tyana.
***
Terima kasih
Maaf kalau pendek
🙏