*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].
SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.
[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]
⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.
*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*
✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Titik Di Mana Kematian Adalah Kemenangan. (Part 2.)
Faktanya, semenjak terjadinya reformasi politik oleh Raja Azer beserta jajarannya. Terdapat penyisihan kelompok-kelompok masyarakat yang berhak tetap berdiri di bangsa Barat ini, kini hanya meninggalkan 3 sekte, 10 organisasi, 7 fraksi politik dan 5 kelompok yang semuanya resmi sekaligus sah dalam naungan undang-undang bangsa Barat zaman Cahaya 093 alam Peri.
Adapun mereka yang membandel hendak mendirikan kembali suatu kelompok, akan segara diadili. Kecuali mereka turut serta bergabung bersama kelompok yang telah rerdaftar sah.
Oleh karena itu, beberapa eks anggota kelompok atau sebangsanya yang dibubarkan, mulai bergabung pada kelompok yang sah dalam negara.
Kendatipun sempat terjadinya baku hantam yang merenggut beberapa korban jiwa, masyarakat akhirnya patuh. Pengaruh terbesarnya bukan lain gegara sebuah maklumat mutlak dari sang Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer, bahwasanya, demi sebuah persatuan kebangsaan, segenap kelompok diperkecil dan dikokohkan dalam kesatuan negara.
Masyarakat terbuai oleh kata 'persatuan' dan karena kata 'persatuan' pula rakyat tertipu. Tapi tentu saja, sang Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer tak berniat menipu atau membohongi rakyatnya sendiri. Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer, hanyalah menyelamatkan masyarakat dari 'derita identitas sosial'.
“Saya, Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer. Membubarkan kelompok serta membasmi para anggota di dalamnya yang bukan lain lantaran mereka tendensius menyebarkan paham radikalisme, ekstremisme, terorisme, serta anarkisme. Sehingga, pembubaran mereka adalah kewajiban yang mulia. Dan setelahnya, dipastikan tidak akan ada lagi kerusuhan hanya karena berbeda nama kelompok.” Pernyataan dari Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya Raja Azer, yang tercetus saat wawancara perdana setelah segala kelompok berhasil diseleksi. Menjawab keresahan publik mengenai keputusannya.
”Apalah baiknya sebuah kelompok terbentuk, kalau hanya bisa meresahkan dan mengancam ketentraman masyarakat. Toh, dengan sebuah persatuan serta kanun kenegaraan telah menghimpun dan menentramkan masyarakat di dalamnya.“ Pernyataan kedua yang persuasif dari Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer. Ditujukan demi menguatkan argumentasi pernyataan pertamanya.
Dan ratusan tahun sesudah menyeleksi kelompok-kelompok tersebut, ucapan Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer, mulai terbukti jadi konkret. Kehidupan masyarakat menjadi lebih aman dan menjadi lebih dekat satu sama lainnya, tanpa terhalang lagi status kelompok yang dianutnya. Secara tegasnya, ialah, Yang Mulia, Yang Baik Hati dan seterusnya, Raja Azer telah menyelamatkan masyarakat dari ketidaktahuan.
Di siang hari yang cerah. Quin, Arista serta Gorah tengah berada di kota Atrakaj, di provinisi Barat, bangsa Barat.
Demi menuntaskan syarat dari Nerta, mereka bertiga rela bergabung dalam sekte Masli, dengan tujuan mencuri data rahasia penting sekte.
Popularitas sebagai patriot di provinsi Barat tentulah pemicu mereka mudah untuk bergabung tanpa banyak ujian serta syarat yang ditanggung, dan bukannya dicurigai hendak melakukan tindakan kriminal, mereka justru dielu-elukan serta dihormati oleh segenap anggota sekte.
Sekte Masli termasuk sekte ternama, sekte terkuat dan mayoritas ras Peri di bangsa Barat ini tergabung di dalamnya. Provinsi Barat dan Timur adalah wilayah yang mereka kuasai. Didirikan untuk melindungi masyarakat lemah dan menegakkan keadilan.
Di dalam sekte, sudah tersintesis oleh perguruan seni beladiri Energi dan ilmu kedigdayaan lainnya. Kendati tak bisa dibantah, kalau sekte Masli juga membimbing seluruh anggotanya mendalami politik.
Oleh karenanya, sekte Masli berpengaruh besar terhadap geopolitik bangsa Barat, dan karena campur tangan politik sekte Masli-lah yang menjadikan sekte tersebut digandrungi oleh hampir lini masyarakat bangsa Barat.
Cara berpolitiknya sederhana, namun berkesan. Mereka tak segan memberi pil gratis pada masyarakat, sekaligus bekerja cuma-cuma untuk rakyat. Singkat kata, sekte Masli condong membantu warga demi menarik simpatik.
Para anggota yang terdaftar sah, akan mendapat simbol keanggotaan yakni, berupa sebuah kalung emas dengan ukiran rusa. Rusa adalah hewan sakral bagi sekte Masli, simbol kehormatan serta kemurnian.
Sepekan lebih Quin, Arista serta Gorah dipingit dalam markas besar sekte Masli. Mereka tak boleh ke mana-mana dalam kurun waktu tujuh tahun. Dilakukan supaya mereka akrab dengan wilayah mereka serta familier pada para personal di dalamnya.
Markas besar sekte Masli dua kali lebih besar daripada stadion sepak bola. Bangunannya pun mewah dan megah, terbuat dari batu berlian dengan bertatahkan permata ungu, bertingkat 7 serta bersih nan wangi.
Selama sepekan itu mereka hanya diajak untuk menyimak segala kegiatan sekte dan membantu meramu pil di dapur. Terbilang seluruh kegiatan mereka normal tanpa kendala apapun.
Mereka melakukan pendekatan secara psikologis demi mengakses informasi secara mendetail. Membangun sebuah kepercayaan, lantas memanfaatkannya demi kelompok mereka sendiri; menjadi pengkhianat.
Mereka bahkan terpaksa menandatangani persetujuan perang. Meyakini perang wajib terjadi demi kebenaran yang dimiliki ras Peri.
Selama dalam 'Gedung Pingit' —demikianlah sekte Masli melabeli gedung demi mendidik anggota barunya— Quin, Arista dan Gorah dijejali ideologi, pemahaman hingga visi misi sekte Masli, dididik pula untuk pandai dalam menggaet hati pribadi luar. Secara keseluruhan seperti mendalami pendidikan psikologis.
Kala malam tiba, mereka berlatih beladiri fisik serta beladiri Energi. Pelatihan tersebut menghabiskan waktu hingga subuh dan di pagi harinya mereka kembali ke dapur meramu beberapa jenis pil. Siangnya mereka diberi kesempatan untuk makan, sekaligus bersosial dengan anggota sekte lainnya. Mereka diwajibkan akrab serta akur.
Bagi mereka yang bertengkar tanpa berakhir perdamaian, segera diberikan sanksi sangat berat, yaitu, dikeluarkan dari sekte dan tak dapat bergabung lagi.
”Untunglah kalian ikut bergabung. Sehingga kekuatan kita demi melindungi masyarakat semakin kuat. Sedangkan teman kalian yang si Dewa Kesetaraan memang angkuh dan manja ....“ Seorang pemuda datang ke hadapan Arista, Quin, serta Gorah. Berucap secara sarkasme serta berniat 'cari muka'. ”Jadi, kalian tak perlu risau, di sekte ini pun terdapat Dewa yang kami sakralkan.“
Mulanya Quin agak marah mendengar sahabatnya diledek, namun Gorah mendadak membalas, “Kami tidak percaya kepada Dewa Surgawi, kami lebih percaya pada kemampuan kami sendiri.”
Pemuda itu tersenyum santai dengan mengangguk sependapat. Pemuda yang bisa dikatakan senior di sekte ini, sekaligus pembimbing para junior.
Semenjak kedatangan Quin, Arista, serta Gorah ke dalam sekte Masli, beberapa anggota lainnya memang sempat meledek atau bahkan merendahkan Nerta. Tentu saja sahabat-sahabat Nerta paham, bahwasanya, ledekan anggota sekte itu bertujuan demi menarik simpatik sahabat-sahabat Nerta dan sekaligus mencurahkan unek-unek mereka gegara Nerta menolak setiap undangan dari sekte Masli.
Terlebih lagi, nama Dewa Kesetaraan yang terbilang sakral, sempat mereka rendahkan pula. Quin, Arista serta Gorah sedikitnya tahu, perihal politik kotor anggota seke Masli. Seperti halnya sang pemuda, ucapannya yang mengandung sarkasme, lalu ujungnya meminta maaf, dan berusaha mencuri hati lawan bicaranya. Sebisanya nampak dikasihani.
Atau beberapa anggota sekte lainnya yang memuji mereka secara berlebihan, menanamkan impresi terselubung; bahwasanya anggota sekte lebih baik daripada seorang sahabat yang bongak.
Sedangkan sisanya masa bodoh, pun biasa saja.
Kemudian, di sore harinya mereka akan kembali dididik pembalajaran teori serta praktik. Mulai dari pendidikan psikologis, hingga pendidikan militer. Seperti masuk pada jenjang kuliah.
Seluruh rutinitas itu terus berputar, dilaksanakan sebaik mungkin tanpa keluhan. Dari hari ke hari dari minggu ke minggu. Menggali setiap akses relasi kepercayaan, demi dapat dekat dengan pimpinan sekte.
Kehidupan mereka untuk sementara akan konstan serta konsisten seperti demikian.
______________________________________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)