Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28—PENYELIDIKAN KOTA
SRRRKK!
Lesatan cahaya ungu seketika memotong lengan kadal tersebut.
Mendapat serangan mendadak dari arah lain, Humanic Lizard secara refleks mengaum kesakitan sambil melompat mundur, menjauh cukup jauh dari Haruya.
Dari belakang Haruya, Serena melangkah pelan dengan anggun sambil memegangi tombak cahayanya.
"Tenang saja, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." kata Serena seraya menghentikan langkahnya.
"O-oh, baiklah." Walau terlihat sedikit tercengang pada awalnya, Haruya kembali bersikap tegap. Ia memasang senyum tipis sebelum kembali melirik lawannya.
"Ya. kalau begitu aku serahkan padamu," kata Haruya dengan posisi yang sudah siap menyerang kembali.
GRRAAHH!
Kadal tersebut mengambil ancang-ancang, merendahkan tubuhnya sebelum bersiap melesat.
WHOOSH!
Dalam sekejap, monster itu melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan ledakan sonik di belakangnya. Namun, alih-alih kembali menyerang Haruya, kali ini ia mengincar Serena.
Serena dengan cepat menggenggam tombaknya menggunakan kedua tangan sebelum mengayunkannya ke depan.
Slash!
Ketika cakar monster tersebut bertabrakan dengan tombak Serena, lengan kadal itu seketika terbelah oleh tebasan tombak cahaya itu.
Memanfaatkan lawannya masih melaju kencang di udara.
Serena langsung menundukkan tubuhnya sedikit, tetapi tetap memegang tombaknya dengan tinggi, mempertahankan posisinya tanpa sedikit pun terlihat panik.
Slash.
Serena mengayun tombaknya secara vertikal.
Dan pada detik itu juga, tubuh Humanic Lizard terbelah menjadi dua, dari ujung kepala hingga selangkangannya, ketika tertebas tombak tersebut.
Haruya terbelalak, tidak percaya dengan pemandangan yang baru saja terjadi di hadapannya.
Ia masih tidak percaya bahwa monster yang sebelumnya membuatnya begitu kerepotan kini berhasil dikalahkan hanya dengan sekali tebasan. Mungkin dua kali jika serangan pembuka Serena juga dihitung.
Serena kembali berdiri tegak dan menoleh ke arah jasad Humanic Lizard yang kini telah terbelah menjadi dua bagian. Tombak cahayanya pun kembali berubah menjadi tongkat yang biasa ia gunakan.
"Ya, sepertinya sudah selesai," kata Serena dengan lega sambil memberikan senyum tipis kepada Haruya sebagai tanda bahwa masalah mereka telah selesai.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya kembali ke kereta kuda. Untungnya, pedagang itu tidak meninggalkan mereka begitu saja.
Haruya pun memberikan satu koin emas sebagai bayaran. Ia juga berhasil menegosiasikan harga jasa menjadi lebih murah karena mereka telah menyelamatkan sang pedagang dari bahaya.
Karena merasa berutang atas keselamatan mereka, pedagang itu akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut.
Entah kenapa, sejak kejadian itu, sikap para anggota regu menjadi sedikit berbeda dari biasanya.
"Apa kau... benar-benar Great Mage? Aku cukup yakin seharusnya kau sudah berada di level yang jauh lebih tinggi dari ini," ucap Aliya, yang sepertinya masih terkejut melihat Serena mampu mengalahkan monster yang sebelumnya terasa mustahil untuk mereka kalahkan dengan begitu mudah.
"Ya, aku memang Great Mage. Kalau mau muji, puji gw lebih banyak lagi." Dengan santai, Serena membalas perkataan Aliya sambil membusungkan dadanya dengan wajah penuh kesombongan.
"Bagaimana bisa kau mengalahkannya secepat itu?" tanya Haruya sambil tetap tenang.
"Karena aku menyerang titik vitalnya," balas Serena sambil menurunkan kedua tangannya dari pinggang.
"Titik vital?"
"Magi Core. Setiap monster pasti memiliki inti di dalam tubuhnya, bisa dibilang itu jantung mereka." jelas Serena. "Ditambah lagi monster itu adalah monster yang terkutuk, jadinya... Ya, kelemahannya adalah sihir elemen cahaya."
"Begitu, ya." Haruya memegangi dagunya sementara kepalanya terlihat sedikit menunduk.
✦✦✦
Akhirnya, mereka tiba di kota Zien. Suasananya tidak jauh berbeda dari kota Kirin, tetapi kota ini terasa jauh lebih sepi. Bahkan, tempat ini terkesan tidak ramah.
Serena mencoba memaklumi hal itu karena, bagaimanapun juga, kota ini memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi.
"Jadi, ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Serena tanpa menghentikan langkahnya, sementara pandangannya tertuju pada Haruya yang berjalan di depannya bersama Arth.
"Kita akan menyelidikinya terlebih dahulu, karena kita juga tidak tahu di mana markas besar mereka," balas Haruya tanpa menoleh sedikit pun.
✦✦✦
Sementara itu, jauh dari kota Zien, Mao berada di penginapan Serena.
Di sana, ia tidak hanya berdiam diri.
Setelah mendapatkan buku dan beberapa alat tulis, Mao memutuskan untuk belajar membaca dan menulis.
Hanya bermodalkan beberapa materi yang diberikan Serena kemarin, ia dengan cepat mulai beradaptasi. Sepertinya, Mao hanya membutuhkan beberapa hari lagi untuk menguasai bahasanya sendiri dan menulis dengan lancar.
"Sip, aku selesai dengan ini," gumam Mao sambil mengusap dahinya menggunakan pergelangan tangannya.
Karena tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan saat ini, Mao memilih untuk menggambar.
Mungkin ia akan mencoba mempelajari anatomi manusia dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai model.
✦✦✦
Kembali pada regu Serena, mereka kini menyamarkan pakaian dan perlengkapan mereka agar terlihat seperti orang biasa yang tidak mencolok.
Mereka tidak perlu mengganti pakaian ataupun membuang perlengkapan yang dibawa. Dengan bantuan Serena, semuanya dapat disamarkan menggunakan Skill: Visual Manipulation.
Skill tersebut bekerja dengan memanipulasi penampilan sesuatu agar terlihat berbeda dari kenyataannya di mata orang lain.
"Kita berpencar saja. Saat matahari mulai tenggelam, kita akan berkumpul kembali di guild petualang untuk menginap," saran Serena.
"Tunggu, kalau kita menjauh darimu, apakah Skill ini akan tetap berdampak?" tanya Haruya sambil mengangkat alisnya.
"Tenang saja. Selama tidak aku matikan, semuanya aman," balas Serena dengan santai.
Akhirnya, mereka berempat berpencar menuju arah yang berbeda.
Arth menuju ke barat, Serena ke timur, Aliya ke selatan, dan Haruya ke utara.
Setelah beberapa menit melalui gang-gang kecil, Serena masih tidak mendapatkan informasi apapun.
"Kalau begini terus, yang ada aku malah nyasar." gumamnya tanpa menghentikan langkahnya.
Gang yang dilewati tidak terlalu sempit juga, mungkin lebarnya sekitar satu meter. Dan terkadang setiap belokan gang ada yang menuju tempat perjudian, markas bandit, atau mungkin distrik penjualan obat-obatan terlarang.
Meskipun hal kriminal sudah terlihat di depan matanya, Serena memilih mengabaikannya dan tidak menambah masalah lagi.
Akhirnya ia keluar dari jalur gang yang sangat panjang itu.
Di hadapannya, terlihat dua tentara Dinasti sedang menjaga sebuah pangkalan militer.
Desain rumah tersebut menggabungkan antara bangunan batu dengan tenda di bagian luar. Dan terdapat beberapa kuda yang terpisah dengan keretanya.
Pemandangan itu tidak terlalu membuatnya curiga karena tidak heran juga sebuah negara memiliki pangkalan militer di setiap kota.
Tapi, Serena merasakan adanya energi Curse Magi dari dalam bangunan tersebut.
Sepertinya sumbernya bukan dari batu magi, karena jika itu batu magi pas pelepasan energinya hanya melingkar di sekitar batu dan tidak menyebar seperti angin.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘦𝘬𝘴𝘱𝘦𝘳𝘪𝘮𝘦𝘯? 𝘈𝘵𝘢𝘶... 𝘚𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢.
Pikir Serena sambil menyembunyikan dirinya di balik tembok.
Karena tidak memiliki peluang masuk dan masih belum punya bukti yang sangat kuat untuk curiga, ia memutuskan untuk pergi dan mencari informasi lain lewat obrolan orang-orang.
✦✦✦
Beberapa jam berlalu, hanya ada tiga informasi berguna yang ia dapatkan dari pengintaiannya.
Regu mereka kembali berkumpul di guild petualang.
Mereka memutuskan untuk membahas informasi yang mereka dapatkan di kamar Haruya dan Arth.
"Ok, aku mulai pembahasan ini." ucap Haruya yang langsung membuka topik.
Anggota lain hanya mengangguk dan bersiap mendengarkan.
"Pada arah utara, tidak ada satupun bangunan atau tempat yang mencurigakan. Tapi... Aku mendengar beberapa obrolan seseorang mengenai sebuah ideologi yang kini sudah sangat dilarang." jelas Haruya.
"Ideologi terlarang? Maksudnya?" tanya Aliya yang duduk di kasur bersama Serena.
"Mungkin lebih tepatnya rezim, yang kudengar mereka bukan membahas komunisme, melainkan... Rezim Nazi." jawab Haruya sambil sedikit menundukkan tubuhnya dari kursi sementara wajahnya menatap lurus Aliya.
𝘕𝘢𝘻𝘪? 𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶... 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢? Pikir Serena sambil mengelus dagunya.
"Ditambah lagi, ada seseorang mengatakan kepadaku. 'Di tempat ini tidak ada warga yang jujur satupun, bahkan jika itu orang-orang dari Kekaisaran sekalipun.' begitu katanya." Haruya menghela napas sebelum melanjutkan kembali. "Dari ucapannya aku juga berpikir... Apakah dia berbohong?" Haruya menyilangkan kaki kanannya dan menegakkan tubuhnya kembali.
"Kupikir dia tidak bohong, dia mungkin hanya memberikan petunjuk atau apalah itu. Tapi yang pasti, aku juga merasakan ada hal aneh di kota ini." celetuk Arth yang sedang duduk santai di lantai.
"Hal aneh apa itu?" tanya Aliya, alis kanannya sedikit terangkat sementara kedua lengannya menyilang dengan anggun.
"Aku melihat sebuah bar, dan di dalam bar itu terdapat sebuah pintu yang menuju ruang bawah tanah. Entah kenapa, setiap orang yang memasukinya selalu berbicara dengan penjaganya menggunakan bahasa asing, maksudku... Apakah itu sebuah kode?" jelas Arth sambil mengerutkan dahinya.
Mendengar itu, anggota lain juga ikut berpikir 'apa yang sebenarnya terjadi di kota ini?' dan 'apa yang disembunyikan?'